Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

31 Mei 2017

14

Mei Kali Ini

Yap, gue selingkuh lagi. Gue ninggalin blog lagi. Meskipun kali ini gue selingkuh karena ngurusin tugas kuliah mahasiswa akhir, gue tetep merasa bersalah dan layak untuk diceraikan.

Lebay njir...

Bulan Mei udah tinggal sehari lagi. Nggak kerasa. Kurang gede dan tahan lama soalnya. Beli obat pembesar dan obat kuat dulu, gih.

Apaan njir...

Bulan ini, angka di umur gue bertambah. Makin tua.

Iya, Mei adalah bulan ulang tahun gue. Dulu, setiap memasuki bulan Mei, gue bahagia banget. Ekspektasi gue udah macem-macem. Dapet banyak hadiah lah, dapet surprise lah, sosmed ramai banjir ucapan, dan lain-lain yang bikin gue selalu seneng ketika memasuki bulan Mei. Berasa orang spesial satu hari.

Postcard dari temen gue di Thailand

Tapi itu semua berubah semenjak gue jadi mahasiswa. Setelah kuliah, gue merasa ulang tahun adalah hal yang mengerikan. Umur gue bakal bertambah, beban hidup gue makin banyak, makin banyak hal serius yang harus gue lewati, dan...makin tua makin nggak bisa main-main.

Mei, bukan bulan favorit gue lagi.

Ekspektasi gue pun semakin surut. Gue nggak berharap hadiah, surprise, atau bahkan ucapan-ucapan banyak orang lewat sosmed. Semakin tua gue semakin sadar. Ulang tahun bukan melulu soal itu. Ulang tahun adalah saat dimana gue sadar untuk istirahat sebentar dari hidup, menyadari apa aja yang udah gue lewatin dan memikirkan apa yang selanjutnya bakal gue lakuin di hidup ini, di umur yang baru ini.

Nggak munafik, gue butuh ucapan "selamat ulang tahun". Tapi bukan dari banyak orang lagi. Gue butuh itu dari keluarga dan teman terdekat gue.

Setiap ulang tahun, orang tua gue selalu ngucapin dengan doa-doa mereka. Mereka telpon atau sebatas mengirimi gue pesan. Itu udah lebih dari cukup.

4 Mei kemarin, pagi-pagi, ibu gue ngirim whatsapp. "Nduk, selamat ulang tahun nggih." dan ditambahi doa-doa manis di belakangnya. Pesan singkat itu sukses bikin gue senyum getir rindu rumah.

Siang-sore-malem. Ucapan "selamat ulang tahun" makin menumpuk di smartphone gue. Tapi, gue masih setia buka-tutup smartphone karena menunggu satu orang yang belum ngucapin. Bapak gue.

Hingga tanggal berganti, bapak gue belum ngucapin. Baru setelah hampir satu minggu berselang, muncul notification di whatsapp; "selamat ulang tahun nduk. maaf bapak lupa ulangtahunmu."

Dan baru setelah itu, gue merasa ulang tahun gue sempurna. Bukan masalah ucapannya. Tapi masalah, akhirnya bapak gue inget hari lahir gue.

Keluarga, sahabat-sahabat gue. I am so happy to have them. Mereka membuat ulang tahun gue ini sesederhana hari biasanya tapi penuh arti. Mereka membuat gue sadar bahwa, ulang tahun adalah hal manis yang akan menjadi manis jika gue melewatinya bareng mereka yang sayang sama gue dengan tulus.

Sembari gue berbahagia, dalam hati kecil gue, gue nggak bisa bohong bahwa gue takut untuk memulai lembar-lembar baru di angka yang baru ini.

Ini berarti gue makin tua. Ini berarti life goals gue harus makin banyak yang tercapai. Ini berarti gue harus ngerasa malu kalau masih ngerepotin orang tua.

Gue pengen travelling. Gue pengen independen dari segi ekonomi. Gue pengen lebih kenal Farih. Gue pengen lebih mengenal banyak hal. Gue pengen cepet lulus. Gue pengen buktiin ke orang tua gue bahwa "ini lho anakmu Pak Buk." Ah... oke. Hari ini adalah hari terakhir di bulan Mei 2017. Gue harus udah mulai jalan di dalam rencana-rencana hidup gue di umur yang baru, bukan cuma sekedar "gue pengen".

Thanks buat orang tua, sahabar-sahabat, dan semua orang yang tulus memberikan sebagian hatinya buat gue. Gue harap, gue bisa menggunakan perasaan ini untuk menjalani hidup yang lebih baik di umur yang sekarang.

Oh iya. Dan syukur, bulan Mei ini juga, untuk pertama kalinya gue naik pesawat, keluar negeri, sendirian. I will tell this amazing story soon guys. HAHA. Keep reading this blog!

Anyway, thanks for the gifts. Gue sangat butuh jam alarm di kamar kos ini.

1 Januari 2016

22

Say Hi to 2016!

Selamat siang! \=D/
Eh, udah 2016 aja. Cepet banget sih kamu datengnya? 2015-nya kemana? Udah pergi? Hmm.

sumber

Beberapa orang tadi malam ngerayain malam tahun baru dengan hepi-hepi di keramaian. Liat kembang api, niup terompet, atau sesimpel masak-masak bareng orang terdekat. Gue nggak gitu.

Tahun ini gue memilih di rumah anteng bareng keluarga. Karena gue pikir, nggak adil kalo beberapa tahun kemarin malam tahun baru gue selalu di luar sama temen-temen tapi nggak pernah sama keluarga.

Anyway, 2015 adalah tahun yang 'buruk' sekaligus tahun yang memberikan banyak pelajaran. Di tahun 2015, ada banyak masalah yang membatasi gue berkarya dan main-main. Tapi juga tahun dimana blog gue ini hidup kembali, setelah sekian lama mati.

Ada pelajaran di setiap masalah, right? Thanks 2015, you give me so much lesson.

Hari ini, lembar pertama dari 366 halaman kosong. Banyak harapan gue yang semoga bisa terkabul di tahun yang baru ini. Salah satunya adalah gue segera menjalankan usaha real offline (karena selama ini gue hanya memiliki usaha online) yang udah gue perhitungkan tetek bengeknya dari lama. Yeay!

Dan tentunya resolusi untuk blog; semoga gue lebih sering nulis, tulisan semakin bagus, draf-drafnya nggak makin numpuk, dan blog sederhana ini semakin rame. Terimakasih untuk kalian yang nyediain waktu dan kuotanya untuk baca tulisan di blog ini. Hehehe. Kalian keren!

Gue juga berencana ngeseriusin akun youtube gue dengan lebih sering upload video.

Yang pasti gue berharap, tahun 2016 menjadi tahun yang sangat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, makin mendekatkan gue dengan keluarga, impian, dan cita-cita.

Amiiin.

Kita semua pernah menjadi kembang api di tahun baru seseorang.
Terbang,
melayang,
menyala,
meredup,
kemudian selesai.

Kampret.

Tulisan itu nggak sengaja kebaca dari line barusan.

10 Oktober 2015

29

Tenda Kemah di Dalam Rumah

Saat ini masih jamannya naik gunung. Share foto di puncak gunung ke sosmed. Fenomena ini nggak lepas dari film 5cm. Film yang mengisahkan tentang pendakian Gunung Mahameru ini sukses membuat penontonnya iri dan berkeinginan untuk naik gunung, bagaimana pun caranya.

Gue sendiri bukan anak gunung, bukan pendaki gunung, nggak pernah naik gunung, gue juga bukan juru kunci gunung. Tapi jujur, gue pengen naik gunung, biar punya foto keren kayak yang temen-temen yang lain, foto ala-ala mdpl gitu berbackground tenda perkemahan. Tapi melihat kenyataan bahwa tidur di kamar ber-AC aja meriang, gue pasrah sama keadaan.

---

Aqsha, adek gue yang paling kecil kemaren ngerengek. Tiba-tiba dia masuk rumah kemudian nangis minta dibikinin kemah-kemahan (tenda kemah) di rumah. Orang tua awalnya nolak permintaan itu. Bukan nggak sayang, tapi mau mendirikan tenda dimana? Lahan rumah pas-pasan, teras rumah aja mepet sama jalan. Nggak ada lahan kosong di rumah gue. Aqsha nangis makin kenceng.

Karena nggak mau terserang penyakit budeg mendadak, orang tua akhirnya mengabulkan permintaan nggak masuk akal itu. Kita bikin tenda kemah di dalem rumah.

Bener. Di dalem rumah.

Dengan usaha semaksimal mungkin, akhirnya tenda bisa berdiri di dalem rumah. Di ruang tengah lantai 2. Di depan TV persis. Kursi, meja, segala macem yang ada di ruangan itu dipepetin ke tembok biar ada space yang cukup buat si tenda.

Hasilnya begini :
Lagi santai kemah sambil wifian

Ukuran tenda itu cukup buat tidur 5 sampai 7 orang. Tenda itu biasa dipake buat istirahat atau pun tenda sementara saat naik haji. Kebayang nggak gedenya?

Gue jadi inget foto temen-temen gue yang abis naik gunung beberapa waktu yang lalu. Gue menemukan sebuah kemiripan.

Foto di depan tenda
Foto di depan tenda

Nggak beda jauh kan? Cuma beda di tampang sang model di dalam foto aja. Yang atas ekspresi bahagia, yang bawah maksain bahagia. Emang gitu, mau gimana lagi.

Eng ing eng!!

Gue menemukan alternatif buat anak-kampung-kena-AC-meriang biar bisa berfoto ala-ala anak gunung tanpa harus ke gunung!

Bikin tenda di dalam rumah.

Yaps. Nggak perlu naik gunung kok, kalo cuma buat foto-foto doang.

Untuk membuktikan bahwa tenda yang ada di belakang gue itu real beneran tenda berdiri, gue udah videoin detail tendanya dan ngeupload videonya ke channel youtube gue. Tonton aja bentar. Jangan lupa subcribe juga yak. muehehe.

Teman