8 Juli 2026

0

Rumah Ini Akan Ditinggali Lagi

Gimana rasanya mati 3 tahun dan akan dihidupkan lagi berkat rasa bosan di kantor?

Itu pertanyaan yang cocok untuk blog gue ini karena iya, dia mati 3 tahun lebih dan hari ini akan dihidupkan lagi. Bukan oleh Nabi Isa atau dilompati kucing, tapi karena rasa bosan di kantor plus saran dari ChatGPT.

Jadi...

Hai blog?

Akhirnya gue kembali lagi, akhirnya gue menulis lagi, akhirnya blog ini hidup lagi.

Akhirnya gue pulang.

Pulang dari mana, ya btw?

Kalau blog ini adalah sebuah rumah tinggal, mungkin 3 tahun ini bisa dibilang gue sibuk mampir ke rumah-rumah lain dan ngontrak beberapa waktu di sana. Gue mencicipi tinggal dan makan di rumah-rumah lain selama 3 tahun ini. Rumah yang gue kira bisa gue pakai untuk habisin waktu atau tinggal selamanya di sana, ternyata enggak juga. Ternyata gue bosan juga di sana dan berjalan kembali ke rumah awal gue.

Rumah lama ini ternyata masih sama, cuma sedikit kusam, berdebu, dan berantakan. Banyak benda yang bikin gue flashback dan inget hal-hal yang gue pernah lakukan disini. Yang sedikit berbeda adalah plang jalan rumahnya, sudah dipakai penipu-penipu mancanegara buat menjaring mangsa.

Gue pengen tinggal dan merawat rumah ini lagi. Pertanyaannya: akankah gue betah? Atau gue bosen dan pergi lagi?

Dengan kesibukan gue saat ini yang lebih banyak butuh 'kehadiran fisik' daripada pikiran, rasanya gue bisa tinggal di blog ini lagi, seenggaknya untuk sekarang. Di sela-sela pekerjaan, ternyata masih ada ruang buat pulang ke sini.

Gue juga merasa, gue harus menulis lagi. Semakin berumur gue semakin merasa bodoh. Orang bilang, menulis dan membaca membuat otak kita terus terasah untuk berpikir. Gue terima nasehat itu.

Tapi tunggu.. blog ini akan dihidupkan kembali berkat rasa bosan di kantor? Padahal dulu, pun blog ini ditinggal karena rasa bosan juga. Duh, kenapa alasannya sama?

Orang mungkin yakin rumah ini bakal gue tinggal lagi karena bosan. Bisa jadi.

Tapi untuk malam ini, lampunya sudah gue nyalain lagi.

Dan itu cukup.

Semoga di rumah pertama gue ini, gue betah stay untuk waktu yang lama. Pun kalau memang punya rumah baru ke depan, semoga rumah ini tetap terawat dan gue nggak lupa untuk kembali.

27 September 2022

0

[Review Film] Miracle in Cell No. 7 - Nontonnya di Bioskop, Pikirannya di Rumah

Ada satu pertanyaan yang memiliki jawaban berbeda untuk setiap orang; siapa bapak terbaik di dunia?

Jawaban gue jelas bapak gue. Jawaban kalian, tetangga kalian, pasti beda.

Saat akan menonton film ini, gue sudah mewanti-wanti diri bahwa akan menangis dan harus siap dengan kacamata berembun. Dari sinopsis dan reviewnya aja, sudah jelas bahwa film garapan Hanung Bramantyo yang merupakan hasil remake film Korea ini akan memaksa emosi penonton pecah keluar dengan mengangkat isu hubungan anak dengan ayahnya.

Miracle in Cell No. 7 menceritakan kisah hubungan romantis ayah Dodo dan anak perempuannya, Kartika, yang diperankan oleh Vino G Bastian dan Graciella Abigail/Mawar De Jongh. Dodo merupakan seorang penjual balon baik hati dan memiliki keterbatasan mental. Ia seorang diri merawat putri cantiknya sejak ditinggal isterinya meninggal. Suatu hari, Dodo mendapat musibah berupa fitnah yang mengharuskannya masuk penjara dengan hukuman mati. Namun dengan segala upaya, Dodo hanya ingin selalu bersama Kartika, anaknya.

Dodo hanya ingin selalu bersama Kartika, anaknya. Kurang relate apa sama ayah-ayah kita di kampung sana hey?

Saat menonton film Miracle in Cell No. 7, gue malah berasa nonton film indie. Warna dan vibesnya yang disuguhkan selama 2,5 jam kental banget nuansa festival filmnya. Sound-sound yang dipilih di film ini juga jos banget menurut gue. Hanung berhasil narik keluar air mata gue dengan syair Al'Itiraf di dalam film. Gemetar dan rasanya pengen mudik, peluk nenek di kampung.

Di luar teknis film yang menurut gue ok banget, ada hal yang ramai dikritik netizen Indonesia, yaitu soal proses hukum yang dijalankan oleh ayah Dodo untuk memperjuangkan keadilan. Kata orang prosesnya nggak tepat dan nggak sesuai sama aturan di lapangan. Menurut gue, itu nggak masalah.

Ya, namanya juga film. Ada beberapa hal yang nggak perlu sesuai dengan dunia nyata.

Ayah Dodo dibantu oleh beberapa napi dalam sel dan kepala sipir (Denny Sumargo) berusaha untuk membuatnya bebas dan membuktikan kalau dia nggak bersalah. Alih-alih memilih hal itu, Dodo malah memilih tetap mendapat hukuman dan memastikan bahwa Kartika selamat. Di kacamata Kartika, ayahnya jahat karena nggak pengen ketemu dia lagi.

Persis apa yang dilakukan ayah kita, kan?

Ayah mati-matian melakukan apa pun untuk membuat anaknya aman dan bahagia. Meskipun kadang, dari point of view kita, yang ayah lakukan menyebalkan.

Di tengah-tengah film, gue jadi inget banyak hal yang bapak gue lakukan untuk kebahagiaan gue sejak kecil sampai sekarang. Air mata gue netes beberapa kali bukan karena filmnya. Melainkan karena pikiran gue di rumah, di momen-momen dimana gue mendapati bapak melakukan hal-hal untuk membahagiakan gue, tapi gue nggak menghargai hal itu karena gue nggak melihatnya langsung.

Gue sadar, terlalu banyak momen dimana gue melewatkan ucapan "terima kasih" atas usaha yang bapak lakukan.

Gue membayangkan andaikan hidup gue adalah sebuah film bioskop dan gue adalah penontonnya, gue pasti akan melihat banyak hal baik yang bapak lakukan, seperti apa yang dilakukan ayah Dodo ke Kartika tanpa dilihat oleh Kartikanya sendiri.

Hal-hal kecil yang bapak lakukan seperti memotong rambut gue dengan model-model lucu (paling favorit memotong poni gue selurus penggaris besi), menjahitkan gue pakaian dengan mesin jahit andalannya, membelikan alat musik tiup pianika merek Yamaha secara mendadak untuk kelas seni musik saat gue SD, tiba-tiba muncul di kepala saat gue menonton film ini.

Lagi-lagi gue gagal menahan air mata untuk nggak jatuh.

Vino G Bastian berhasil memerankan sosok ayah yang mencintai anaknya meskipun dengan segala kekurangan yang ia miliki. Sosok ayah Dodo juga berhasil membawa gue dan penonton lainnya melempar jauh pikiran masing-masing ke rumah dan membayangkan jika yang ada di layar bioskop itu adalah ayah kita yang sudah melakukan apa pun untuk anak-anaknya.

Film ini cocok ditonton bareng keluarga karena akan membuat kita bermuhasabah bersama. Film ini kurang etis ditonton bersama gebetan karena keluar dari bioskop, muka kalian pasti akan sedikit berantakan karena mata sembab.

Buat yang belum nonton, gih tonton! Ajak ayah kalian, pegang tangan ayah kalian saat nonton film ini. At least, dia tau kalau anaknya sayang sama dia.

-

Akhirnya gue nulis lagi setelah sekian lama. Thank you yang udah baca sampai selesai. Komen yuk, gimana pendapat kalian tentang film Miracle in Cell No. 7 ini atau cerita tentang pengalaman bersama ayah juga boleh!

Follow instagram gue di @farihikmaliyani dan mampir ke YouTube gue yaa!

23 November 2021

0

Tempat Wisata Gratis di Jogja

Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?

Yup, itu adalah pepatah pegangan orang Indonesia kebanyakan, gue salah satunya. Sebisa mungkin mendapatkan sesuatu dengan harga yang murah, malah kalau bisa gratis, termasuk tempat wisata.

Siapa si yang nggak mau jalan-jalan gratis? Bisa refresh pikiran tanpa ngeluarin uang sepeser pun? Gue rasa semua orang mau.

Jogja adalah salah satu destinasi wisata favorit orang Indonesia dan terkenal dompet friendly, alias murah. Makanan di Jogja murah-murah, oleh-olehnya murah, dan tiket tempat wisatanya pun, murah! Tapi, tau nggak kalian? Di samping murah, Jogja juga punya beberapa destinasi wisata yang gratis. Sekali lagi, GRATIS!

Kalian nggak salah baca, beneran gratis dan gue sudah membuktikannya. So, here we go! 5 tempat wisata gratis di Jogja, versi Farih Ikmaliyani asek~ :

1. Masjid Gedhe Mataram Kotagede

Aduh, ini favorit gue banget! Gue udah kesini 2 kali dan selalu excited. Tempatnya luas, sepi, estetik, banyak spot foto, dan tentunya bersejarah.

Masjid Agung Kotagede Jogja. Foto oleh Farih Ikmaliyani

Masjid Gedhe adalah masjid peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun tahun 1640 M oleh Sultan Agung Mataram bersama rakyatnya yang kebanyakan beragama Hindu dan Budha. Nah, udah kebayang kan gimana kerennya ni masjid? Rumah ibadah orang islam, tapi yang bangun orang-orang Hindu dan Budha.

Ornamen-ornamen dan arsitektur Hindu-Budha melekat di setiap sudut masjid. Pintu masuknya aja berupa gapura kecil kayak yang biasa kita temui di pura-pura Bali. Pelatarannya pun masih didominasi bebatuan bata merah arsitektur Hindu-Budha. Di dalam masjid, kita bakal disuguhi arsitektur Jawa kuno hasil karya Sultan Agung Mataram dan diteruskan oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X.

gerbang depan masjid

Yang paling unik dari Masjid Gedhe Mataram ini adalah adanya kolam pemandian dan makam kuno di kompleks masjid. Jadi, kompleks masjid ini sangat luas. Sebelum masuk ke dalam masjid, kalian bisa belok ke kiri dan akan memasuki kawasan seperti tempat pemandian dan juga makam kuno di paling ujung. Semua orang bisa memasuki area makam kuno ini namun dilarang membawa kamera dan wajib mengenakan pakaian adat Jawa. Untuk perempuan yang sedang menstruasi, dilarang masuk dulu ya bestie~

tempat kolam pemandian. dulu dipakai raja-raja

plataran depan makam kuno. sebelah kiri warna putih, itu gerbang masuk makam

Masjid ini masih aktif digunakan warga sekitar dan tentu saja siapa pun boleh masuk dan beribadah, gratis.

2. Masjid Gedhe Kauman

Masih tentang masjid, destinasi gratis di Jogja selanjutnya adalah Masjid Gedhe Kauman. Masjid cantik yang terletak di sisi kanan Alun-Alun Utara ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama), dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M.

tampak depan Masjid Gedhe Kauman. foto oleh Farih Ikmaliyani

Gue sering banget ke Alun-alun Utara Jogja tapi cuma sekali mampir ke masjid ini, itu pun nggak sengaja karena berniat untuk solat.

Dari luar, masjid ini nampak seperti bangunan biasa yang dikelilingi tembok besar. Nggak menarik. Tapi setelah masuk gerbang dan sampai di pelatarannya, gue terpesona. Masjid dengan latar luas dan disain kuno terlihat semakin cantik di jam-jam golden hour waktu gue kesana. Di halaman masjid juga banyak berjejeran street food sederhana ala Jogja alias warung kucingan yang siap memberi kalian asupan selama menikmati bangunan kuno Masjid Kauman Jogja.

pelataran masjid

Arsitektur di dalam Masjid Gedhe Kauman masih sangat kental dengan disain kuno. Lampu-lampu gantung jadul dan tiang-tiang dari kayu, bikin betah lama-lama buat anteng di dalam masjid.

suasana di kota santri. eh, dalam masjid

Dibanding masjid Gedhe Mataram, Masjid Kauman ini emang nggak terlalu luas dan banyak spot foto. Tapi gue merasakan vibes yang Jogja banget ketika mengunjungi Masjid Kauman ini. Worth to visit, sekalian solat, ya kan?

3. Malioboro & Titik Nol Kilometer

Berbeda dengan Masjid Gedhe Kauman, nggak kehitung berapa kali gue ke Malioboro dan Titik Nol Kilometer Jogja. Sering banget woy!


suasana Jalan Malioboro beserta senimannya

Ikon Kota Jogja ini udah sangat terkenal. Tempat ini gak pernah sepi didatengin pengunjung, selalu ramai. Malioboro dan Titik Nol Kilometer sebenernya hanya jalanan biasa yang terdapat banyak penjual makanan dan oleh-oleh khas Jogja, serta diramaikan dengan adanya beberapa seniman lokal yang pentas di sepanjang Jalan Malioboro. Kalian bisa nemuin pedagang batik, makanan, hingga aksesoris-aksesoris lucu di sepanjang jalan Malioboro. Seniman jalanan yang bertalenta pun ramai berkumpul di jalan ini sehingga membuat suasana semakin hangat.

Titik Nol Kilometer adalah ujung dari jalan Malioboro yang berupa perempatan jalan. Di sekitar Titik Nol Kilometer ini, banyak terdapat bangunan kuno khas Eropa yang seperti membawa kita pergi kesana.

kawasan Nol Kilometer Jogja

Suasana di Malioboro dan Titik Nol Kilometer yang Jogja buanget ini mungkin yang jadi magnet wisatawan untuk selalu menghabiskan malam di sini. Jangan lupa untuk berfoto di samping plang nama Jalan Malioboro, ya! xD

4. Tugu Jogja

Lokasi yang sering gue lewatin tapi nggak pernah gue kunjungin, alias gue nggak pernah sengaja berhenti di Tugu Jogja untuk berfoto atau menghabiskan waktu disana. Gue masih ingat, dulu ada mitos jika foto bersama kekasih di Tugu Jogja, pasti hubungan nggak awet. Haha, entah.

sumber: suara.com

Tugu Jogja adalah sebuah monumen yang sering dipakai sebagai simbol Yogyakarta. Terletak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo, tugu Jogja memiliki nilai simbolis yang merupakan garis yang bersifat magis yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi.

Tugu Jogja dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Konon pada saat itu, Tugu Jogja digunakan oleh Sultan untuk patokannya bertapa menghadap puncak Gunung Merapi.

Saat gempa bumi besar yang terjadi pada 10 Juni 1867, Tugu Jogja ini pernah runtuh dan dibangun kembali oleh pemerintah Hindia-Belanda. Beberapa bagian diubah pada saat renovasi, namun warna putih khas tugu ini tetap dipertahankan.

Jujur, gue selalu ingin menepi ketika lewat Tugu Jogja ini. Suasananya nyaman banget, banyak lampu temaram di sekitar Tugu dan juga coffeeshop. Karena lokasinya di tengah jalan, orang bebas buat berkunjung dan gratis tentunya. Someday deh, gue mampir dan foto!

5. Pantai Seruni di Gunung Kidul

Oke, ini lokasi wisata gratis terakhir versi gue (untuk sekarang); Pantai di Gunung Kidul Yogyakarta.

Udah tau kan, kalau Jogja punya buanyak pantai pasir putih bersih dengan air sebening kristal? Yap, muka gebetan lo kalah beningnya.

Tahun 2013 gue baru tau kalau Jogja punya pantai pasir putih yang cakep-cakep. Banyak pilihan pantai pasir putih di Selatan Jogja ini. Mulai yang berbayar sampai yang gratis alias belum dikomersilkan oleh pejabat setempat.

pasir aslinya lebih cantik dari foto ini

Pantai Seruni adalah salah satu pantai yang masih alami dan masuknya gratis. Gue kesini 1 bulan lalu, saat PPKM. Beberapa pantai terkenal ditutup dan Pantai Seruni ini adalah salah satu pantai yang masih bisa dikunjungi.

chill ye ngga? padahal besoknya kerja

Beberapa vila terlihat mulai dibangun di sekitar pantai ini. Baliho-baliho rancangan pembangunan pantai juga berjejer sepanjang jalan menuju pantai Seruni. Jalannya masih jelek karena memang belum terbangun dengan baik.

Gue sampai di pantai Seruni sekitar jam 5 pagi. Hanya ada 2 tenda camping dan 3 warung berjejer di pantai. Sampai tengah hari, suasana pantai masih sepi, hanya ada beberapa kelompok pengunjung yang datang. Suasananya enak banget dan chill. Gue suka pantai pasir putih yang sepi gini.

ngopi di pinggir pantai yang sepi, kapan lagi?

Pasir putih, karang di tepi pantai, dan beningnya air laut, membuat gue betah berlama-lama di Pantai Seruni.

Kalau kalian nggak pengen ke Pantai Seruni, kalian bisa telusuri panta-pantai di selatan Jogja ini. Banyak pantai yang cantik dan masih belum terekspose.

4 Oktober 2021

2

[Review] Face Care Nggak Lengket Dari Scarlett

Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menyikapi pandemi covid-19. Ada yang menganggap ini waktu yang tepat untuk family time di rumah, ada yang menjadikan pandemi ini ajang memanjakan sifat introvertnya dengan anteng di kamar aja sendirian, dan ada juga yang waktu pandemi ini jadi rajin nabung alias berhemat. Sedangkan buat gue yang sebelum pandemi sering jalan-jalan, pandemi jadi waktu yang cocok untuk merawat kulit wajah secara total. Mumpung banyak di rumah dan nggak kena polusi, ngerawat kulit jadi lebih efektif.

Kebetulan, minggu lalu gue mendapat kiriman face care dari Scarlett Whitening.

Sebelum ini, gue sudah pakai produk skincare dari Scarlett. Gue naksir dengan baunya dan karena gue pakai secara teratur, kulit gue makin cerah. Jadi, gue seneng banget ketika dikirimin face-carenya ini. Nggak sabar buat coba!

Akhirnya gue nyobain dan gini pengalamannya..

Paket yang dikirim Scarlett ada 2; brightening facial wash dan acne serum. Dengan box yang segede gitu, gue pikir bakal dapet lebih dari 2 produk.

Brightening Facial Wash

sumber: website Scarlett

Si jangkung cantik yang harganya cuma IDR 75.000 ini sukses bikin gue tertarik buat ngepoin isinya. Gimana enggak? Dari luar keliatan kalau di dalam botol facial wash itu terdapat banyak kelopak bunga mawar pink. Dengan melihat dari luar, otomatis bau bunga mawar tergambar di kepala gue, padahal facial wash ini baunya nggak terlalu wangi.

Di dalam Scarlett Whitening Facial Wash terdapat kandungan Rose Petals, makanya tampak seperti ada kelopak mawar di dalamnya. Gue nggak tau itu kelopak asli atau bukan, tapi mirip banget dan bisa dipegang! Selain mengandung kandungan rose petals, facial wash ini juga mengandung Aloe Vera, Glutathione, dan Vitamin E yang digadang mampu membantu mencerahkan kulit wajah dan mengontrol minyak berlebih juga. 

Gue pakai facial wash ini untuk cuci muka sebelum tidur dan kalau habis bepergian dari luar. Gue punya beberapa facial wash alias sabun muka, tapi Scarlett Brightening Facial Wash adalah salah satu yang nggak lengket saat diaplikasi di wajah dan nggak bikin kulit wajah kering setelah pakai. Nyaman banget buat daily.

Acne Serum

Jujurly, kulit wajah gue masuk ke dalam tipe kulit wajah yang ribet; berminyak, kering, sensitif, dan gampang jerawatan. Kebayang kan lo seribet apa gue dalam memilih skincare? Perlu solat istikharoh untuk memilih skincare yang tepat dan efisien.

Dapet kiriman acne serum Scarlett, awalnya gue ragu untuk coba. "Gimana kalau abis nyobain ini muka gue makin ancur??" Gue post di story instagram kiriman Sacrlett ini dan temen gue langsung berkomentar minta acne serumnya buat dia aja kalau gue nggak mau pakai. Ternyata dia cocok dan suka dengan acne serum ini. Mendapat komentar seperti itu, gue malah jadinya yakin buat nyobain.

Gue pakai acne serum seharga IDR 75.000 ini nggak tiap hari. Gue pakai pas ngerasa muka lagi capek banget aja dan muncul bruntusan. Gue work from home, jadi kerjaan cuma di dalem rumah, ngadep laptop sampai magrib. Muka sering nggak kena sinar matahari apalagi polusi.

Acne serum Scarlett ini nggak lengket pas gue coba pegang teksturnya. Baunya juga nggak yang menyengat gitu. Waktu diaplikasiin di wajah, langsung meresap dan kering. Cepet banget. Gue pikir awalnya serum ini bakal seperti serum-serum wajah lain yang bikin wajah lengket, taunya enggak.

Gue pakai skincare udah dari jaman SMP. Krim malam adalah yang paling males gue pakai karena lengket dan bikin ga nyaman tidur, nggak bisa nempelin wajah ke bantal. Tapi anehnya, acne serum Scarlett ini meresap banget saking meresapnya nggak nempel di bantal ketika gue tidur. Gokil. Bantal aman, wajah pun menawan.

Hasil

Setelah beberapa minggu pakai 2 skincare dari Scarlett Whitening ini, muka gue menjadi lebih baik. Gue merasa lebih bersih dan minyak sedikit tekontrol. Bekas jerawat yang tadinya terpampang jelas, sedikit memudar.

No filter, cahaya paripurna pagi hari, iphone 6s, ga pakai skincare apa-apa pas foto.
Yang paling gue suka dari 2 produk face care-nya Scarlett Whitening ini adalah; nggak terjadi efek dakjal aneh-aneh ketika gue stop pemakaian. Ya biasa aja gitu, nggak yang tiba-tiba jerawat bermunculan alias ketergantungan. Cuma paling kalau gue nggak pakai acne serum ini sebelum tidur, bangun-bangun wajah berminyak dan nggak nyaman ketika pakai.

Overall, face care dari Scarlett ini recommended buat kalian yang lagi pengen coba face care ringan nggak lebay dari segi bau dan teksturnya. Harganya yang total cuma 150.000 juga menurut gue oke untuk nyobain skin care ini cocok di wajah kalian atau enggak. Nggak usah khawatir, face care ini sudah terdaftar di BPOM, jadi aman.

Anyway, balik lagi ke paragraf awal, selama pandemi ini, kalian lebih sering ngapain?

11 Juli 2021

2

Bakso di Kereta Api Isinya Cuma 3 Biji

Gue suka naik kereta eksekutif malam. Selain suasananya boboable, naik kereta malam di tengah pandemi sangat leluasa karena 2 kursi cuma diisi satu orang. Jadi gue sendirian dan kursi sebelah kosong. Makin bebas tidur dan melakukan aktivitas apa pun. Termasuk makan tanpa takut risih sama orang di sebelah.

Kemarin, 3 Juli 2021, gue pulang ke Pekalongan dengan menggunakan kereta Sembrani eksekutif yang berangkat dari Stasiun Gambir jam 7 malam. Karena nawaitunya untuk tidur di kereta, jadi outfit yang gue pakai pun boboable: celana jeans longgar + hoodie tebel + sepatu dengan kaos kaki tinggi biar nggak dingin.

Baru jalan beberapa menit, gue sudah ngantuk. Setelah kursi gue senderin, gue pun mulai memejamkan mata dan tidur. Dua jam berselang, gue bangun dan laper. Kebetulan, ada 2 karyawan (pramugari) kereta api yang lewat dan menawarkan makanan. Di antara makanan-makanan yang mereka coba tawarkan, bakso kuah berhasil mencuri perhatian gue.

"Enak nih kayaknya malem-malem gini. Dingin, makan bakso panas." batin gue.

"Mau dong baksonya satu. Berapa?"

"Dua puluh lima ribu," jawab si pramugari. Kaget. Gue pikir harganya 15 ribu-an. Akhirnya gue pun membeli bakso itu. Si Mbak mencatat pesanan gue kemudian berjalan ke gerbong makan. "Tunggu sebentar ya, nanti kami antarkan pesanan ibu."


Selang beberapa menit, sebuah cup bertuliskan "Bakso Enak" mirip wadah pop mie sudah di depan mata. Saat gue terima, cup bakso "Bakso Enak" itu tertutup rapat. Ada sambel-kecap-saus dan sendok yang diberikan terpisah di dalam plastik. Kuahnya panas, terlihat dari asap yang keluar secara intens dari dalam cup. Gue penasaran, apakah rasanya benar-benar enak seperti tulisan yang di cupnya tersebut?

Gue aduk-aduk isi cup itu sambil menghitung berapa biji bakso yang ada di dalam sana. Guys, menghitung jumlah biji bakso yang akan kita makan ini penting untuk menentukan berapa lama waktu untuk menghabiskannya. Adukan pertama, hasil hitung jumlah baksonya 3 biji + 1 tahu kulit mini. Nggak percaya, gue aduk lagi, dan hasilnya masih sama: 3 biji bakso kecil + 1 tahu kulit mini

Sepi bet ni cup isinya cuma 3 biji bakso + 1 tahu kulit yang nggak gede-gede amat?!

Tambahan mie kuning di dalamnya, belum cukup membuat cup bakso ini terlihat penuh.

Buat traveler low budget alias bokek kayak gue ini, 25.000 rupiah untuk seporsi bakso, harusnya bisa lebih banyak isinya.

Sudah dibeli, masa tidak dimakan? Ya, akhirnya gue makan bakso harga 25 ribu yang berisi 3 biji ini.

Setelah gue tiup-tiup, kuahnya gue cicipin. Asin, rasanya kayak kuah Indomie ayam bawang, pas buat gue yang emang suka asin dan nggak berekspektasi tinggi soal makanan. Tapi untuk kalian yang emang ngerti makanan, kuah bakso "Bakso Enak" ini bakal dinilai biasa aja. Cita-rasanya kurang. Terlalu sederhana, asin doang. Minimalis banget konsep kuahnya.

Untuk baksonya, meskipun kecil tapi lumayan kerasa dagingnya nggak cuma tepung doang. Baksonya nggak pelit urat, tapi juga nggak banyak-banyak amat. Ya.. tergolong niatlah untuk menjadi sebuah bakso.



Tahunya sendiri agak nggak niat ya, Bun. Terlalu kecil dan lemes. Kayak nggak semangat jadi tahu. Sekali caplok, tahu mini itu pun hilang di dalam mulut gue. Rasa tahunya standar banget kayak tahu pada umumnya.

Mie kuning yang ada di antara bakso dan tahu, rasanya biasa banget. Sedikit hambar, mirip mie kuning yang dijual abang gerobak bakso komplek.

Gue pecinta kecap dan nggak suka pedeas. Tapi untuk kali ini gue sedang nggak pengen menambah rasa manis dan pengen ngerasain sensasi pedes dikit di dalam bakso. Jadi gue tambahi sambel sebanyak sekitar 3 tetes. Gue pikir sedikit rasa pedas akan menambah cita rasa hangat di perut gue.

Karena gue lapar dan merasa kedinginan, bakso 25 ribu itu pun gue habiskan tanpa waktu lama. Lumayan, menghangatkan badan.

Oh iya, ini adalah kali pertama gue beli bakso di dalam kereta. Sebelumnya, menu yang sering gue nikmati di kereta api adalah nasi sapi lada hitam.

So far, bakso 'Bakso Enak' KAI ini nilainya: biasa aja, buat gue. Tapi cukup buat penghangat badan dan memenuhi mulut dengan rasa asin. Kuahnya enak, bikin gue ngerasa kayak lagi menikmati Indomie kuah ayam bawang.

Biar kayak blogger-blogger review yang lain, gue kasih nilai 'Bakso Enak' ini 6 dari skala 10.

Itu cerita gue menikmati bakso kereta api pertama kali. Kalian pernah makan bakso ini juga nggak? menurut kalian gimana rasanya?

Teman