Tampilkan postingan dengan label Blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blog. Tampilkan semua postingan

8 Juli 2026

0

Rumah Ini Akan Ditinggali Lagi

Gimana rasanya mati 3 tahun dan akan dihidupkan lagi berkat rasa bosan di kantor?

Itu pertanyaan yang cocok untuk blog gue ini karena iya, dia mati 3 tahun lebih dan hari ini akan dihidupkan lagi. Bukan oleh Nabi Isa atau dilompati kucing, tapi karena rasa bosan di kantor plus saran dari ChatGPT.

Jadi...

Hai blog?

Akhirnya gue kembali lagi, akhirnya gue menulis lagi, akhirnya blog ini hidup lagi.

Akhirnya gue pulang.

Pulang dari mana, ya btw?

Kalau blog ini adalah sebuah rumah tinggal, mungkin 3 tahun ini bisa dibilang gue sibuk mampir ke rumah-rumah lain dan ngontrak beberapa waktu di sana. Gue mencicipi tinggal dan makan di rumah-rumah lain selama 3 tahun ini. Rumah yang gue kira bisa gue pakai untuk habisin waktu atau tinggal selamanya di sana, ternyata enggak juga. Ternyata gue bosan juga di sana dan berjalan kembali ke rumah awal gue.

Rumah lama ini ternyata masih sama, cuma sedikit kusam, berdebu, dan berantakan. Banyak benda yang bikin gue flashback dan inget hal-hal yang gue pernah lakukan disini. Yang sedikit berbeda adalah plang jalan rumahnya, sudah dipakai penipu-penipu mancanegara buat menjaring mangsa.

Gue pengen tinggal dan merawat rumah ini lagi. Pertanyaannya: akankah gue betah? Atau gue bosen dan pergi lagi?

Dengan kesibukan gue saat ini yang lebih banyak butuh 'kehadiran fisik' daripada pikiran, rasanya gue bisa tinggal di blog ini lagi, seenggaknya untuk sekarang. Di sela-sela pekerjaan, ternyata masih ada ruang buat pulang ke sini.

Gue juga merasa, gue harus menulis lagi. Semakin berumur gue semakin merasa bodoh. Orang bilang, menulis dan membaca membuat otak kita terus terasah untuk berpikir. Gue terima nasehat itu.

Tapi tunggu.. blog ini akan dihidupkan kembali berkat rasa bosan di kantor? Padahal dulu, pun blog ini ditinggal karena rasa bosan juga. Duh, kenapa alasannya sama?

Orang mungkin yakin rumah ini bakal gue tinggal lagi karena bosan. Bisa jadi.

Tapi untuk malam ini, lampunya sudah gue nyalain lagi.

Dan itu cukup.

Semoga di rumah pertama gue ini, gue betah stay untuk waktu yang lama. Pun kalau memang punya rumah baru ke depan, semoga rumah ini tetap terawat dan gue nggak lupa untuk kembali.

8 November 2019

6

Hampir Hilang di Thailand bagian 2: Hampir Sujud Syukur Gara-gara Paspor Indonesia

Bersambung...

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

Pikiran gue nyuruh lari. Jantung gue berdegup kencang seperti genderang mau perang (Ahmad Dani kali ah). Tapi kaki gue gak bisa digerakin, sama sekali. Akhirnya gue berdiri mematung dan pasrah membiarkan si ibu itu datang menghampiri. Apa pun yang ia lakukan, hamba serahkan semuanya hanya kepadaMu ya Allah ya Rabbi, Tuhan semesta alam.

"Trang tung tung tuk tuk tung lae lae?" Ibu itu nyerocos di depan gue. Jarak kami hanya satu langkah. Jarak yang tepat untuk si ibu membacok kepala gue yang kosong ini. "Trang tung tung mai?"

Gue membisu. Dahi mulai keriting. Keringat mengucur deras di dalam kaos yang gue pakai. "Tung tung tung krap to in to eng?" Ibu itu melanjutkan. Nada bicaranya seperti ia sedang bertanya, bukan ingin membunuh. Gue sedikit sadar. Jika ibu ini membunuh gue di tengah terminal, akan banyak orang yang membawa gue ke UGD dan melaporkan si ibu ke polisi.

Nggak mungkin ada pembunuh sebego ini, batin gue.

"Kin ken lew trung tung tung?" Ibu masih berucap.

Kalo emang si ibu ini nanya, gimana cara gue jawabnya? Orang pertanyaannya aja kaga paham.

Gue celingak celinguk berharap ada malaikat penolong untuk mentranslate apa yang ibu ini katakan, sayangnya nggak ada. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di terminal itu.

Si ibu memandangi gue dengan tatapan menagih jawaban dari pertanyaannya. Gue hanya bisa memandangi mukanya dengan raut muka memelas dan kebingungan. "Aku ki ra ngerti kowe ngomong opo ndes! Aku kon piye?!" teriak gue dalam hati.

Tiba-tiba gue inget paspor yang selalu gue bawa di tas selempang kecil. Gue ambil paspor dan angkat paspor itu tinggi-tinggi, persis wasit sepak bola pas ngeluarin kartu kuning. Bedanya, gue nggak pake peluit.
Bola mata si ibu mengikuti posisi paspor gue. Beberapa saat kemudian, ia tertawa kecil dan berkata, "oh...mai khon Thai! Hahaha."

"He-he-he," gue ikut tertawa, dipaksakan. Kenapa nggak dari tadi lo keluarin paspor, Farih?! Bego banget lo!

Disitu gue ngerti apa yang ibu itu katakan dan gue baru ingat kalimat tersebut, kalimat yang Ploy ajarkan ke gue sebelum gue mendarat di Thailand.

Mai = tidak / bukan.
Kon = orang.
Thai = Thailand.

Mai kon Thai = bukan orang Thailand! Ibu itu akhirnya ngerti gue bukan orang Thailand dan nggak paham apa yang dia katakan dari tadi.

"Dai dai, chan mai kon Thai na ka." gue menjawab dan membenarkan apa yang si ibu itu katakan. Gue langsung mengingat-ingat beberapa kalimat yang pernah gue pelajari dari teman-teman Thailand.

Raut muka si ibu berubah menjadi lebih ramah. Rasanya gue pengen sujud syukur di situ. Tapi sadar kalau sujud syukur di tengah terminal Thailand dengan kondisi sepanas itu, matahari tepat di atas ubun-ubun, akan terlihat aneh. Gue urungkan niat tersebut.

Si ibu berjalan ke salah satu loket yang berada di dekat kami berdua. Refleks, gue ikutin si ibu berjalan sambil masih mengangkat paspor tinggi-tinggi dan tangan kiri menarik tas koper warna hitam. Dari jauh, kami berdua terlihat seperti induk ayam dan satu anaknya yang lahir prematur.

"Mai kon Thai, mai kon Thai." ibu tersebut seperti ngasih tau orang-orang di sekitar loket kalau gue bukan orang Thailand.
Foto asli si Mbak penjaga loket
Gue menghentikan langkah ketika si ibu menghampiri mbak-mbak yang duduk di belakang loket. Beberapa orang di sekitar loket tersebut memandangi gue dengan tatapan heran, kasihan, sekaligus jijik. Orang-orang Thailand yang berkulit putih bersih ini mungkin berpikir, "udah item, dekil, jerawatan, ngangkat-ngangkat paspor begitu, gembel Indonesia stres ini ngapain sih di negara gue?"

Di tengah rasa canggung karena diliatin begitu, HP gue kembali berbunyi. Ploy menelpon lagi. "Hallo, where are you? Are you ok?" Suara Ploy khawatir di ujung sana.

"I am ok, bro. I am at the terminal now." Jawab gue. Kemudian gue ceritakan kejadian ibu-ibu tadi dan Ploy meminta untuk ngomong dengan si ibu tersebut. Tanpa kata-kata, gue sodorin HP gue ke si ibu yang sedang berbicara dengan mbak-mbak loket.

Gue hanya memandangi si ibu ngobrol dengan Ploy. Paspor sudah gue turunkan. Koper hitam masih gue pegang erat.

Lumayan lama, si ibu memberikan HP gue kembali dan berbicara dengan mbak loket seperti memberti tau sesuatu. "Bro, get a pen, and write my phone number." Ploy menginstruksikan gue untuk mengambil bolpoin.

Gue heran, kenapa harus pake bolpoin? Gue tanya ke Ploy, "Can I write your phone number on my phone?".

"How about if your phone died? How about if your battery is running out? Think smart! You can't do anything if your phone is off." Ploy merepet. "It needs 5 until 7 hours to get my home. It will be a long journey today. And I am not sure if you can charge your iphone after this."

Perjalanan 7 jam? Di negara orang tanpa tau jalanannya bakal kayak apa? Gue pengen balik langsung ke Semarang rasanya waktu itu.

Akhirnya, gue pun menulis nomor HP Ploy di sebuah kertas lalu gue simpan di saku jaket jeans yang gue pakai.

Selesai berbicara dengan Ploy, ibu itu memberikan gue karcis van (semacam suttle bus atau travel di Indonesia). Gue nggak paham tulisannya apa, gue cuma mengeluarkan uang sesuai dengan angka yang tertera di karcis tersebut dan memberikannya ke si ibu. Dari semua tulisan di karcis, gue cuma bisa ngerti "300 baht". Tulisan lainnya terlihat seperti aksara Jawa typo di mata gue.

Karcis van
"You wait, wait here." si ibu menunjuk bangku kayu panjang di sebelah loket untuk gue duduk dan menunggu van yang akan membawa gue ke Buayai, Nakhon Ratchasima.

Ibu yang semula gue kira akan membunuh gue ini ternyata baik. Dari awal liat gue kebingungan di tengah terminal, dia cuma berniat menolong. Karena tampang gue yang keliatannya kayak orang lokal Thailand, makanya si ibu ngajak ngomong gue pake bahasa Thailand tadi.

"Thankyou so much for your help." Gue pengen peluk rasanya. Tapi si ibu keburu pergi dengan lambaian tangan dan cuma menjawab gue dengan senyuman.

Tas pinggang warna gelap lusuh yang si ibu pakai, menandakan kalo ibu itu di terminal buat kerja, cari uang. Gue cuma bisa mendoakan agar rejeki ibu itu lancar terus dan sehat selalu.

Gue memandangi punggung si ibu yang kian jauh meninggalkan gue dan meminta maaf dalam hati. Ada senyum getir yang nggak mampu gue sembunyikan.

Ibu baik banget sih. Andaikan kita bisa ngobrol, pasti kita jadi sohib.

Gue kemudian duduk dan menunggu van datang.

Ini baru sampai terminal. Perjalanan 7 jam menanti gue di depan mata. Gue deg-degan.

---

Bersambung ke bagian ketiga.

23 Oktober 2019

22

Hampir Hilang di Thailand bagian 1: Dikejar Ibu-ibu di Terminal Mo Chit Bangkok

Semenjak bisa ngomong bahasa Inggris, tingkat ke-pede-an gue solo traveling ke luar negeri meingkat. Gue selalu berpikir, "selow ae lah gue bisa minta tolong ntar disana”.


Sumber: iTravel Channel
Sampai akhirnya, Tuhan Maha Baik nyentil gue dan bilang, “baru bisa bahasa Inggris aja songong lu tong!”

Gue hampir hilang di Thailand.

Ceritanya gini...

Setelah check out dari Hotel Livotel Ladphrao Bangkok Senin pagi, gue memutuskan untuk pergi ke Distrik Bua Yai, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand buat ketemu temen online gue, namanya Ploy. Gue kenal Ploy lewat aplikasi HitMeUp. Iya, gue se-kesepian itu sampai main aplikasi begituan.
Rute Bangkok - Bua Yai
Aplikasi tuh nggak ada yang negatif. Semua tergantung pemakai, dipakai buat apa aplikasi itu, iya kan? Bisa aja lo main tinder buat dakwah dan menyebarkan agama islam. Kan bagus.

Ploy adalah temen online paling akrab gue so far. Dia punya pacar bule Jerman. Jadi bahasa Inggrisnya bagus dan aktif. Gue sering ngobrol dan diajari bahasa Thailand sama Ploy. Tapi karena kapasitas otak gue yang nggak seberapa, gue cuma ngerti "khop khun ka".
Ini Agum, waktu kita di lobi hotel.
"Lo serius mau kesana sendirian Rih?" tanya temen gue, Agum, di lobi hotel waktu kita nungguin grabcar bareng. Agum nunggu grabcar buat ke bandara dan pulang ke Indonesia, sedangkan gue nunggu grabcar buat ke terminal Mo Chit Bangkok, lalu lanjut naik suttle bus ke Bua Yai. "Nggak takut ilang?"

"Iya serius lah." Jawab gue singkat. "Kalo ilang, ntar gue halo-halo di pos satpam terdekat."

Beberapa menit kemudian grabcar yang gue pesan datang. Sebuah sedan Toyota Carmy. Drivernya seorang bapak-bapak bermuka sedikit garang. Gue cari tato mawar di kedua lengannya nggak ketemu. Lega.

Setelah memasukan tas-tas di bagasi, gue pun duduk di jok depan sebelah supir. Entah kenapa ya, gue selalu seneng duduk di sebelah supir kalau naik taksi online sendirian.

Aplikasi grab gue waktu itu
"To Mo Chit Terminal, sir. I wanna go to Bua Yai." Gue membuka kesunyian setelah beberapa saat mobil sedan itu meninggalkan hotel.

Si driver menjawab singkat, "krab."

Setelah itu hening lagi. Mobil melaju tenang menembus kepadatan jalanan Bangkok.

Gue berpikir, kok sepi banget? Nyalain musik enak kali ya.

"Sir, can you turn the music on? Dangdut maybe?" Gue sok akrab. Si om diem, memandang gue, dahinya mengkerut. "Dangdut sir, dangdut. Indonesia music."

Om supir masih diem dan memandang ke jalanan di depannya. Gue belum menyerah untuk akrab dengan si om. "You know Indonesia? Dance? Joget Om. Music, music!" Gue menunjuk-nunjuk music player di dashboard mobil dengan muka girang senyum lebar. Si om grabcar malah menggeser duduknya mepet ke jendela mobil, menjauhi gue. Kurang ajar.

Gue nyerah. Gue nggak berusaha lagi buat nyalain musik di dalam mobil. Tiba-tiba HP gue berbunyi. Ploy menelpon.

"Hallo?"

"Hey, where are you?!" Ploy ngegas di ujung sana. "Why don't you tell me? I worry about you!"

"I am on my way to Mo Chit Terminal now by grabcar. Don't worry. I am still alive." Gue coba menenangkan Ploy.

"Let me talk with the driver. Mo Chit Terminal is not small, Bro. You may be lost there!"

Astgafirullah mulutnya dijaga woy! Jangan doain gue ilang.

HP gue berikan ke om driver. Ploy dan driver berbincang dengan bahasa Thailand. Mendengarkannya membuat kepala gue pening. Kunang-kunang. Vertigo. Kemudian pingsang.

Enggak lah!
Gue nggak selemah itu.

Gue memperhatikan si om driver dari kursi penumpang dengan kepala berasap karena menerka-nerka, "mereka ngomongin apa ya? Jangan-jangan lagi ngomongin kejelekan gue."

Setelah selesai, om grabnya balikin HP ke gue. Ploy masih tersambung.

"Bro..." suara Ploy diujung sana. "The driver cannot speak English at all. Maybe just Yes or No. Take care. I've told him your direction in Mo Chit."

Mak tratap! Bakal sepi dong ini mobil sedan selama perjalanan ke terminal? Si Om-nya nggak bisa ngomong bahasa Inggris. Huhu.

Mobil sedan om grab masih melaju, membelah jalanan Kota Bangkok yang padat dan kadang macet di beberapa titik. Gue duduk diam sambil memandangi google maps yang sedari tadi gue buka. Perjalanan masih beberapa menit lagi. Taksi-taksi berwarna pink yang lalu lalang di luar jendela mobil menghibur gue di tengah kesunyian antara gue dan om grab. Imut banget taksinya woy.. Kasih pita di bagian atas, udah jadi mobil lamaran tuh. hehe. Sesaat, gue merasa kayak lagi marahan sama pacar di dalam mobil.

Laju mobil menjadi pelan ketika memasuki palang pos parkir. Gue sampai di Terminal Mo Chit. Setelah mengambil karcis parkir, mobil melaju lagi menuju sudut terminal yang ternyata luas banget.


Mirip di Indonesia, terminal Mo Mchit berisi loket-loket pembayaran bis atau pun suttle bus dengan tujuan masing-masing yang ditulis besar di setiap loket dengan huruf Thailand dan ada nomor di setiap loketnya.

Mobil yang gue tumpangi berhenti di salah satu sudut terminal. Gue pun membayar tarif grab sesuai yang tertera di aplikasi ditambah biaya parkir. Kalau nggak salah tarif parkirnya 10 baht (5 ribu rupiah).

Setelah selesai menurunkan tas-tas gue yang cuma 2 biji, gue mengucapkan "thankyou. Khop khun ka." ke si om driver.


Gue berada di depan loket bus yang penampakannya sama semua: loket berwarna dominan putih-orens dengan petugas berseragam di dalamnya dengan tulisan Thailand gede-gede. Itu bacanya apa ya Tuhaaan???

Panasnya Thailand bikin gue makin panik, "gue harus ke loket mana ya Tuhan???"

Gue berdiri sambil nenteng tas di bawah terik matahari jam 12 siang. Gue lingung dan bingung. Gerah juga. Apakah ini azab karena riya bisa bahasa Inggris?

Di tengah kelinglungan, gue melihat dari kejauhan ada seorang ibu-ibu yang agak subur badannya teriak-teriak ke arah gue dengan bahasa Thailand.

"Trang tung tung tung kap kap pung pung ... !!!"

Gue nggak ngerti.
Makin linglung.
Matahari terasa makin panas.

Ya Allah Gusti...

"Trung tung tung tang tang tung lew lew krap kun trung tung tung tung!!!" Ibu-ibu itu melambaikan tangan ke arah gue dan berlari mendekat. Iya gais, berlari ke arah gue dan teriak-teriak pakai bahasa Thailand. :(

Astagfirullahalazim.

Gue dikejar.

Gue cuma bisa diem mematung. Bingung harus ngapain.

"Trang tung tung tang tang tung khap khap nai lew krung tang tung tang tang tang tung tung !!!" Ibu itu semakin dekat dengan gue.

Gue mulai berpikir macem-macem.
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah seorang pembunuh?
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah isterinya om grab tadi yang dendam suaminya semobil sama gue?
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah gubernur Bangkok yang nggak ridho kotanya ini didatengi gue, backpacker gembel yang tidak turut serta memajukan perekonomian Bangkok?

ASTAGFIRULLAHALAZIM !!

Gue harus lari.

GUE HARUS LARI!

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

---

Bersambung ke bagian ke dua...

25 April 2019

24

Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Pembangunan tol trans Jawa, tol trans Sumatera, pembangunan di daerah perbatasan Kalimantan - Malaysia, pembangunan bandara di Papua, pembangunan puluhan waduk, pembangunan-pembangunan lain seantero Nusantara, dan kemarin opening ceremony Asian Games 2018 yang wah banget, bikin gue bergumam sendiri di bulan Agustus ini:

Indonesia sudah hebat ya, di ulang tahun 73 ini. Gue bangga.


Sumber: google
Wishnutama berhasil menyuguhkan pertunjukkan kelas internasional di Opening Ceremony Asian Games 2018 kemarin. Semua detail dari awal sampai akhir menurut gue juara. Termasuk bagian Jokowi muncul menggunakan motor Yamaha FZ1.

Namun, gumaman bangga gue itu nggak bertahan lebih dari 24 jam. Sehari setelah opening ceremony Asian Games, ketika di instagram banyak akun yang memposting kemeriahan opening ceremony Asian Games 2018, makhluk-makhluk seperti ini bermunculan :

Asal ngetolol-tololin pemimpin aja lo dasar sedotan pop ice!
Kesel gue. Kemunculan Presiden Jokowi dengan motornya itu bukannya diapresiasi karena susah bikin konsep karya yang kayak gitu apalagi bareng kepala negara, eh malah dinyinyir. Huhu, pengen nampol pakai knalpot rasanya.

Di bagian pembukaan ceremony kemarin, Jokowi muncul dengan motor Yamaha FZ1 dan ada beberapa atraksi menarik dengan motornya itu. Jokowi digambarkan dalam video pembukaan meliuk-liuk di jalanan dan yang paling wow ada adegan terbang dengan motor harga ratusan juta tersebut.

Gue sangat apresiasi banget konsep video Wishnutama yang berani menggandeng Jokowi dengan segala kesibukannya sebagai presiden dan melahirkan video Jokowi mengendarai motor paspampres yang epic ini. Namun, makhluk-makhluk yang ketika bayi minum susu basi kembali bermunculan:
Artis-artis film action penipu dong mba? :(
Terus lo pikir Angling Dharma terbang pakai elang itu bukan tipuan?! T_T
Boleh nampol nggak mas?
YA ITU JELAS BUKAN JOKOWI LAH MBLEGENDES!

Seorang Presiden Republik Indonesia masa harus terbang pakai motor, belak-belok di jalanan buat bikin video. Sedangkan selama ini makanan presiden aja dijaga ada koki khususnya, jalan-jalan ke mall dikawal. Masa iya dibiarin gitu aja naik motor sembarangan di jalanan? Mbok mikir!

Huhu mbanya dulu dikasih ASI nggak sih sama ibunya? :(
Si Dwayne Johnson yang badannya segede itu aja kalau main film action pakai stuntmant. Atau jangan-jangan mereka selama ini mikir kalau Chris Hemsworth di film Thor, Emma Watson di film Harry Potter, itu semua 100% real mereka? Tanpa stuntman di adegan-adegan 'berbahaya'?

BENSIN MANA BENSIN?!!

Kalau memang begitu pemikirannya, cuma ada 2 kemungkinan: sutradara film sukses bikin filmnya 100% nggak ketahuan bagian stuntmannya atau mereka benar-benar bodoh.

Gue juga heran mas. Tos dulu kita samaan!

Yap. Stuntman yang dipakai di adegang motor Jokowi adalah stuntman dari Thailand namanya Saddum. Alasannya apa pakai stuntman dari Thailand gue nggak tau. Gue sudah mencoba googling nyari kenapa pakai stuntman Thailand, belum nemu alasan yang jelasnya.

Nih fotonya Bang Saddum. Sumber: Tribunnews
Indonesia padahal punya free styler motor yang bisa jadi stuntman yang bisa dibilang juga lebih bagus. Sebut aja Wawan Tembong. Dia merupakan free styler motor gitu yang beberapa kali memenangkan kompetisi free style motor yang Saddum disana juga ikutan.

Berpositive thinking, mungkin ada alasan lain yang kita belum tau alasannya apa.

Diluar dari itu semua, gue berharap banget masyarakat Indonesia berpikir jernih. Memang suhu politik Indonesia lagi panas-panasnya, tapi tolong itu jangan sampai bikin otak kira hangus dan akhirnya nggak bisa lagi buat mikir.

Jangan mendadak bodoh hanya karena benci terhadap sesuatu.

Jangan apa-apa disangkutpautkan dengan politik, pencitraan, dan tetek bengeknya. Capek adek bang, itu mulu yang dibahas.

Opening ceremony Asian Games 2018 yang sudah sedemikian rupa hebatnya, ayo kita apresiasi. Nggak gampang lho bikin karya seni sebagus itu. Dalam seni pertunjukan, film, atau yang lain, pasti disana ada hal-hal yang memang harus dilakukan untuk menunjang ke-epic-annya. Ya contohnya Jokowi pakai stuntman itu tadi.

Semoga para pembaca blog gue ini adalah orang-orang yang cerdas. Yang tau mana karya seni dan mana ranah politik. Yang kalau berkomentar nggak sembarangan. Yang selalu memiliki kejernihan hati dan pikiran ketika memandang sesuatu. Ceilehhh.

Dan kalian harus tau,

Jokowi itu presiden, bukan atlet Tong Setan.

Yang bisa dengan lincah mainin motor seenak jidat.

Sumber: http://taulaa.blogspot.com
Kalimat terakhir itu gue baca di twitter. Tweet dari Renne Nesa aka Makmum Masjid. Gue suka kalimatnya.

Sekali lagi gue ucapkan dirgahayu Indonesia yang ke-73. Semoga semakin dewasa menjadi sebuah negara. Opening ceremony Asian Games 2018 kemarin menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia bisa kok. Bisa berkarya sehebat itu.

Sekarang waktunya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, dukung semua atlet yang berlaga di Asian Games 2018 dan juga mendoakan saudara kita yang terkena bencana di Lombok sana. Nggak ada waktu buat nyinyir.

Thankyou!

Eh, subcribe channel youtube gue yuk! :)

25 November 2018

2

Tipe-tipe Close Friends di Instagram dan Isi Postingannya

Instagram adalah sosial media yang fiturnya paling banyak. Beberapa fitur khas aplikasi lain dicomot sama instagram. Bahkan dulu waktu instagram ngeluarin fitur barunya yaitu bisa telpon di direct message, banyak jokes bermunculan, misalnya: abis ini instagram bisa buat order gojek, abis ini instagram bisa buat maps nyari lokasi tujuan, dan macem-macem.

Salah satu fitur yang ditawarkan instagram adalah fitur 'close friends' list.

sumber: wccftech.com
Close friends adalah fitur yang memungkinkan kita untuk memilih orang-orang atau followers di instagram dan membagikan postingan hanya kepada mereka. Jadi cuma mereka yang kita masukin sebagai close friends-lah yang bisa lihat postingan kita, yang lain enggak.

Setiap orang pengguna instagram juga memiliki perbedaan dalam memasukan kriteria followersnya sebagai close friends. Misalnya gue.

Close friends list gue isinya 95% teman dekat cewek. Sisanya adalah teman-teman cowok yang gue rasa dekat banget dan gue pikir mereka nggak akan menghujat kalau lihat hal apa pun yang gue posting. Soalnya postingan di close friends gue memiliki kemungkinan besar untuk dihujat khalayak ramai. Misalnya postingan foto dan video selfie, quote-quote galau dan politik yang memancing emosi, dan pertanyaan-pertanyaan galau lainnya.

Beda lagi sama Joko. Joko ini punya rahasia yang nggak semua orang tau. Close friends dia isinya postingan tentang rahasianya itu dan cuma beberapa teman dekatnya yang bisa lihat.

Ada juga Jaenab. Dia ini baru jadian. Karena masih malu-malu kucing, setiap dia posting instagram stories sama pacar barunya ini, dia cuma posting di close friends list. Isinya ya...teman-teman dekat yang rata-rata cewek dan dekat banget sama dia. Katanya, "malu ah, belum lama pacarannya".

Ada lagi Maemunah si ukhti baru jadi. Close friends instagram dia isinya 100% hareem (cewek). Yang dia posting disana adalah foto atau video dia tanpa pakai hijab. Pas gue tanya, dia jawab, "biar cowok nggak lihat. Biar nggak dosa."

Ya...mungkin Maemunah ini belum tau ada teknologi canggih namanya 'screen capture'.

Di luar itu, close friends list instagram juga kadang gonta-ganti kayak gue. Nggak selamanya si A gue masukin di close friends list instagram. Kadang gue masukin sebentar karena gue pikir postingan gue nggak terlalu pribadi. Tapi teman-teman dekat gue selalu stay di list itu.

Itu sih beberapa jenis close friends list dan isi postingan anak-anak instagram yang gue tau. Kalau menurut kalian, gimana?

By the way, random banget ya postingan gue sekarang. Setelah hampir 3 bulan nggak nulis blog, bingung dan kikuk gimana cara nulis blog. Fix murtad dari dunia blogger ini mah.

4 Agustus 2018

26

Lo Ambisius Banget Sih Jadi Orang? Nggak Bagus Lho

Gue merasa mati. Bukan nggak napas lagi, bukan. Mati yang gue maksud adalah mati dalam berambisi.

Inget banget dulu tahun 2015, salah seorang teman gue bilang: "Lo ambisius banget sih jadi orang? Nggak bagus lho."

Bodohnya gue menelan ucapan itu dan akhirnya mengurangi kadar ambisius yang gue miliki. Dulu gue sangat aktif di kegiatan basket, bikin film pendek, teater, bisnis online shop tanpa kenal waktu, dan lain-lain. Akhirnya semua ikut berkurang intensitasnya karena gue nggak mau dikatain terlalu berambisi.

Sekarang baru nyesel. Hidup tanpa ambisi, rasanya seperti nggak hidup. Mati.

Inget banget dulu ketika SMA dan awal masuk kuliah, gue rajin bikin video atau pun berpergian mencari spot foto yang bagus untuk mengasah skill fotografi gue.

Mereka ini teman-teman yang dulu sama ambisinya bikin video. Jos kan?
Ketika ada waktu luang, gue mengajak teman untuk membuat video musik. Ada lagu asik, terus gue bikin deh videonya. Music video cover namanya.

Bahkan kalau lagi sendirian di rumah, gue sering bikin video stop motion. Beli kertas warna warni, gambar, gunting sana gunting sini, fotoin pakai tripod, jadi deh stop motion video.

Ada yang aneh nggak kira-kira?
Waktu itu yang ada di kepala gue cuma satu: mau bikin video, biar banyak yang suka. Karena ketika gue upload video dan banyak yang suka atau berkomentar positif, rasanya tuh segerrr banget. Macem es kelapa muda dikasih sirup marjan! Enak.

Itu yang bikin gue berambisi untuk terus bikin sesuatu atau nama lainnya konten.

Sekarang semua itu sudah nggak gue rasain lagi. Bahkan ambisi untuk segera lulus pun, nggak ada.

Apa gara-gara gue semakin tua juga ya? Hahaha.

Sekarang kalau gue scroll-scroll instagram, youtube, nontonin video jadul punya sendiri atau liat orang yang masih sangat berambisi bikin konten kreatif setiap hari, rasanya kangen...kangen pengen punya perasaan seperti itu lagi.

Kangen punya ambisi.

Hahaha.

Cuma bisa reuni. Reuni masa lalu dengan karya-karya yang walaupun jelek dan sekarang terlihat ketinggalan jaman dari segi kualitas, bisa bikin kenangan masa lalu muncul lagi dipikiran.

HIKS.

Dimana sih ambisi gue?

Ini beberapa video lama yang kemarin-kemarin gue tontonin lagi. Yang bikin gue akhirnya nulis tulisan ini juga.

Ini video music cover yang bikinnya fun banget. Ramai. Teman-teman gue sangat antusias ketika gue ajakin "eh ini lagu bagus nih. Bikin video yuk besok sore!" Atmosfer kebahagiaannya masih nempel erat di otak.

Ini behind the scenenya. Monmaap kalo mirip tukang pas foto.
Serius gue kangen.


Kalau ini video buat lomba sih dan akhirnya menang, alhamdulillah.

Waktu itu teman SMA, Anton, ngabarin kalau Acer lagi ngadain lomba video stop motion. Dia ngabarin gue karena tau gue hobi bikin stop motion. Akhirnya bikin dibantu dua teman dan voila! Jadi deh video ini.

Video ini gue bikin siang-siang di lapangan tenis. Gue sama sekali nggak merasa kepanasan. Yang ada cuma fun fun and fun.


Hahaha. Ini video yang memorable sih. Disaat siswa kelas 3 lain corat coret, gue masih rapi berpakaian OSIS putih abu-abu dengan kamera canon dikalungkan di leher sibuk merekam momen. Selama gue edit video ini, gue senyum-senyum sendiri inget betapa bahagianya hari kelulusan itu dan gue berpikir momen ini kudu gue dokumentasiin dengan baik nih. Dan ketika video ini jadi, teman-teman SMA gue memuji hasil videonya. Perasaan itu nggak bakal gue lupain.


Video stop motion yang gue bikin di kamar sendirian. Video ini gue bikin cuma gara-gara gue suka lagunya Afgan tanpa memperhitungkan timing yang pas buat pergerakan gambarnya. Jadilah...berantakan.

Itu sih beberapa video masa lalu ketika gue masih berambisi untuk selalu bikin dan bikin. Banyak video lain yang gue buat, ada di youtube gue kalau kalian mau nonton.

Gue juga dulu sering ke lapangan kompleks malem-malem bawa senter dan kamera buat bikin bulb. Teman setia gue bikin bulb si Izzun Abdussalam. Kalau lagi takut dikunciin Bapak karena pulang malem, gue bikin bulb di kamar biasanya.

Bulb yang dibikin di kamar
Gue bener-bener kangen masa-masa berambisi itu.

Sekarang gue benci kalimat Lo ambisius banget sih jadi orang? Nggak bagus lho.

Kalimat yang cuma bisa matiin semangat-semangat orang untuk 'hidup'.

Dimana ya, gue bisa temuin ambisi gue itu lagi? Ada yang tau?

"Ahh, skripsian dulu aja lah Rih"

2 Juni 2018

24

Apa Yang Dilakukan Blogger Ketika Kehabisan Ide Untuk Menulis?

Oke, sekarang malam Minggu dan ini jadwalnya gue menulis di blog. Tapi setelah 3 jam duduk loyo di depan layar laptop, ide 'mau nulis apa' belum muncul juga.

Gue heran dengan para blogger yang bisa rutin setiap minggu menghasilkan tulisan baru di blognya. Bahkan ada yang dalam seminggu memposting lebih dari 1 tulisan. Idenya dari mana? Dan, apa sih yang mereka lakukan biar selalu mendapat ide dalam menulis blog?

Sumber: https://www.garyvaynerchuk.com
Biasanya, kalau memang benar-benar mentok, nggak nemu ide mau nulis apa, gue bakal ngelakuin hal lain yang gue pikir bisa mendatangkan ide dalam menulis. Ini nggak efektif sebenarnya, karena gue banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal lain dulu baru benar-benar menulis di blog. Misalnya gue bakal...

Nonton Film

Ketika otak mentok nggak tau mau nulis apa di blog, gue biasanya merefreshing pikiran dengan menonton film-film secara random. Dengan cara ini, ide-ide sering muncul dari cerita film yang gue tonton atau kalau filmnya bagus, gue bakal review di blog. Lumayan kan, jadi bahan tulisan.

Tapi nonton film ini nggak cukup cuma 2 jam. Milih film apa yang mau ditonton aja memakan waktu setengah jam sendiri. Wasting time. Kalau nggak mau menghabiskan waktu dengan nonton film yang lama ini, biasanya gue...

Beli Es

Gue percaya, kehabisan ide saat menulis blog disebabkan salah satunya karena mood menulis gue lagi jelek. Nah, salah satu hal yang bisa memperbaiki mood gue dalam menulis adalah dengan meneguk kesegaran minuman favorit. Biasanya gue pergi keluar kos-kosan dan membeli es kopi atau Thai tea.

Ini es kopi atau Thai tea hayoo? Sumber: kompasiana
Kalau gue sedang mager menerjang panasnya Kota Semarang untuk membeli minuman segar namun juga nggak mampu bayar go-food, biasanya gue cuma...

Baca Blog Orang Lain

Berselancar di dunia maya dengan melakukan blogwalking. Gue akan mengunjungi blog-blog orang secara acak untuk membaca tulisannya. Gue akan membaca blog para teman sesama blogger yang mampir ke blog gue ini atau membuka blog-blog favorit.

Btw, baca juga: alasan-alasan gue kenapa membaca blog lo. 

Dengan membaca blog orang lain, pikiran gue sering menjadi lebih terbuka dan banyak menemukan ide-ide untuk menulis di blog gue sendiri. Cara ini sering ampuh untuk menemukan ide tulisan. Selain itu, dari blogwalking gue biasanya menemukan blog-blog bagus yang sebelumnya belum pernah gue kunjungi. Lumayan, tambah teman juga.

---

Itu tadi hal-hal yang gue lakuin ketika mau menulis blog tapi nggak punya ide. Nggak selamanya hal-hal itu membuahkan ide menulis juga, kok. Kayak hari ini misalnya. Gue sudah mencoba untuk menonton film, membaca blog orang lain, menimun minuman segar yang gue suka, tapi tetap aja nggak nemu ide tulisan. Malahan ide untuk menulis postingan ini muncul ketika gue melamun dan memikirkan:

Mau nulis apa ya?


Pertanyaan gue sendiri yang malah jadi bahan tulisan.

Kalau kalian, apa yang biasanya kalian lakuin untuk mendapatkan ide menulis di blog?

28 Mei 2018

16

Pengalaman Nonton Bioskop di Thailand

Salah satu alasan gue pengen traveling ke Thailand adalah karena gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand. Sederhana banget, kan?

Yang bikin gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand adalah 'ritual' sebelum filmnya dimulai. Disana, sebelum film dimulai, kita sebagai penonton harus berdiri dan memberi hormat kepada raja Thailand kurang lebih 20 menit. Selama itu, layar bioskop akan menampilkan gambar-gambar tentang Raja Thailand dan penonton diwajibkan untuk berdiri serta menyanyikan lagu penghormatan untuk sang raja.

Beda banget kan sama di Indonesia yang sebelum film mulai cuma duduk nontonin mbak-mbak lalu lalang nawarin paket hemat popcorn sama soda?

Ini yang bikin gue tertarik dan akhirnya keinginan gue nonton bioskop di Thailand itu terwujud sebulan yang lalu.

Gue berangkat ke Thailand sendirian. Gue nggak khawatir karena gue punya beberapa temen yang tinggal di Thailand dan bisa menemani gue nonton bioskop disana.

sumber: twitter.com/imtaiki
Di Thailand, gue stay beberapa hari di Nakhon Ratachima. Nakhon Ratachima ini biasanya disingkat jadi "Korat". Kayak Yogyakarta jadi "Jogja" gitu. Korat adalah sebuah kota di wilayah barat laut Thailand. Kota ini merupakan ibuka provinsi Nakhon Ratchasima dan distrik Nakhon Ratachima.

Rabu, 18 April 2018, gue pergi ke Terminal 21 Korat (nama salah satu mall) buat nonton film Quiet Place. Gue pergi kesana sekitar jam 8 malem berdua sama temen gue orang Thailand dan kita nonton film yang jam 9 malem.

Gue pergi ke bioskop dengan perasaan sumringah penuh berkah senyum mengembang dengan indahnya. Sedangkan temen gue cemberut ogah-ogahan. Katanya ini terlalu malem dan dia nggak begitu suka filmnya. Bodo amat.

Dan inilah pengalaman gue nonton bioskop di Thailand!

Sepi

Ini bisa dijumpai dimana aja sih, nggak cuma di Thailand. Tapi waktu itu gue ngerasa sepinya berlebihan. Bioskop SF ini gedenya minta ampun (komentar orang kampung). Staf dan penonton yang ada disana berjumlah kurang dari 20 gue liat waktu itu. Sempat gue agak nggak yakin mau nonton karena gue pikir bakal nggak fun. Jauh-jauh ke Thailand buat nonton bioskop malah sepi gini. Tapi kepalang tanggung, akhirnya gue tetep beli tiket dan gue pilih duduk di tengah. Siapa tau ternyata ntar ramai.

Pas masuk teater, gue kaget. Teaternya kosong dan gelap. Cuma ada kursi-kursi + layar. Nggak ada petugas di pintu keluar atau yang bawa-bawa senter ngarahin penonton duduk dimana. Nggak ada petugas yang berdiri di pintu keluar juga. Penonton juga belum ada yang masuk. Sama sekali nggak ada orang. Cuma ada gue dan temen gue.

Sekosong ini cuy.
Rasanya pengen pulang ke Indonesia waktu itu.

Akhirnya, yakin nggak yakin gue duduk. Gue masih berusaha positif thinking. Bakal banyak yang nonton nanti.

Jam Masuk Bioskop di Thailand Beda

Setelah mendapatkan tiket, gue harus menukarnya dengan kertas kecil. Agak bingung gue waktu itu. Gue yang selalu ngoleksi tiket bioskop, merasa sedikit kecewa karena nggak bisa nyimpen tiket dan masa iya cuma nyimpen kertas kecil yang ditulisin pakai bolpen begini?

Ini tiketnya. Untung habis beli langsung gue foto buat update di instastory. Jadi ada kenang-kenangan.
Setelah menukar dengan kertas kecil, nggak tau kenapa karena temen gue yang ngomong pakai bahasa Thailand, gue dapat cash back per tiketnya 20 baht.

Setelah itu, gue dan temen gue langsung mencari teater yang dituju dan menunggu di depan teater.

Jam 20.45, gue ajak temen gue masuk teater. Katanya belum boleh. Oke, gue nunggu lagi.

Jam 20.55, gue ajak temen gue lagi masuk teater. Katanya masih belum boleh.

Gue heran. Gue nggak mau telat. Filmnya jam 9, gue harus masuk bioskop sebelum jam 9 dong. Seperti di bioskop-bioskop Indonesia.

Ternyata jam 9 yang tertera di tiket adalah jam penonton masuk ke teater bioskop. Hm. Oke. Beda banget.

Ditinggal Sendirian, Mangap-mangap, dan Bego

Gue dan temen gue duduk anteng di bioskop menunggu film dimulai. Teater masih sepi. Nggak lama kemudian masuk satu rombongan keluarga yang duduk di kursi atas. Gue bersyukur. Nggak nonton sendirian.

Ini temen gue. Selama di bioskop nggak happy.
"I wanna go to toilet." Temen gue berdiri dan keluar menuju toilet. Gue duduk sendirian.

Sampai layar bioskop nampilin foto Raja Thailand. Musik yang ala-ala kerajaan juga mulai terdengar.

Gue harus ngapain nih?

Oke, calm down.

Gue lihat rombongan penonton di kursi belakang mulai berdiri dan bernyanyi dengan muka khidmat. Pandangan lurus ke depan. Gue celingukan sedikit panik.

Gue harus ngapain nih?

GUE HARUS NGAPAIN NIH?!

Akhirnya gue berdiri juga. Masih celingukan. Apa yang harus gue nyanyiin?! Di layar ada subtitle lagunya. Tapi pakai aksara Thailand yang di mata gue nggak jauh beda dari aksara Jawa tapi lebih keriting. Woy tolong!

OH TUHAN...

GUE HARUS NGAPAIN NEEEH?!

MANGAP-MANGAP DOANG GITU???

Ini momen yang gue cari tapi malah gue cengok begini. Bangsat.

Setelah 20 menit, akhirnya 'ritual' pun selesai. Fiuhhh. Lega. Temen gue masih belum dateng. Nggak jadi lega. Gue merasa dizolimi. Gue merasa gue dikerjain dan ditinggal sama dia.

Gue langsung kepikiran bakal tidur di mall ini.

Nggak. Gue nggak boleh nyerah sama keadaan. Gue harus berusaha. Akhirnya gue keluar teater, mencari keberadaan temen gue, dan menemukan dia lagi celingak-celinguk mondar mandir di lorong bioskop.

"I can't find our theater door. All the doors here are same."

Temen gue muter-muter nyari pintu masuk teater dari toilet. Pintunya emang sama semua sih tiap teaternya dan nggak ada petugasnya sama sekali disana. Pantesan temen gue tersesat.

---

Itu pengalaman gue nonton bioskop di Thailand. Benar-benar mengajarkan gue arti sebuah kemandirian yang hakiki di bioskop. Petugas nggak selalu ada di setiap sudut bioskop.

Walaupun gue nggak terlalu having fun, tapi pengalaman ini bakal unforgertable banget.

Nonton lagi yuk, ke Thailand!

13 Mei 2018

16

Tipe-tipe Pengguna Instagram Berdasarkan Akun Yang Difollow Dan Konten Yang Ditonton

Instagram adalah media sosial yang paling sering gue gunakan akhir-akhir ini dan paling populer. Menurut gue, wajar kalau instagram jadi sosial media paling populer ngalahin snapchat, facebook, twitter, bahkan primbon.com. Instagram fiturnya lebih lengkap dan tampilannya simpel. Jadi enak makenya.

sumber: https://socialpromo.pl/uslugi/

Hampir setiap hari main instagram, bikin gue bisa membaca dan mengelompokkan tipe-tipe pengguna instagram berdasarkan akun yang mereka follow dan konten apa yang sering mereka tonton.

Gue coba jelasin ke kalian wahai netijen yang budiman tentang tipe-tipe pengguna instagram berdasarkan akun yang mereka follow dan postingan yang mereka tonton. Perhatikan baik-baik.

Remaja Siap Berkeluarga

Pengguna instagram tipe ini didominasi kaum hawa, meskipun ada beberapa kaum adam yang nyelip di dalamnya. Mereka umumnya adalah remaja-remaja usia nyerah skripsi maunya nikah aja tapi pasangan belum punya.

Tipe ini gampang banget ditemui di akun-akun instagram milik artis yang sudah berkeluarga, apalagi jika si artis sudah memiliki anak. Yap, tipe pengguna instagram jenis ini suka ngeliatin postingan-postingan romantis pasangan artis dan kelucuan anak si artis kemudian menyukai postingan sang artis atau meninggalkan komentar gemas seperti di bawah ini :

Siap berkeluarga, meskipun dengan suami orang.

Gemes sih...

Nggak kuat ya?

Pemuja Makanan

Tipe pengguna instagram jenis ini kasihan, menurut gue. Mereka adalah kaum-kaum yang berencana diet namun gagal karena selalu nggak kuat nontonin video makanan tapi endingnya juga nggak bisa makan.

Berdasarkan kejadian lapangan yang banyak gue temui, tipe pengguna instagram jenis ini biasanya berselancar di instagram malam hari, di jam-jam krusial yang harusnya mereka nggak boleh makan jadinya laper gara-gara video makanan yang kelihatannya enak. Biasanya mereka nggak ngefollow akun makanan tersebut dan menanamkan motto, "jangan follow nanti pengen, jangan follow nanti pengen." Tapi ujung-ujungnya nge-search akun makanan dan ditontonin juga gambar makanannya.

Fotografer Pemula

Pengguna instagram tipe ini biasanya didominasi oleh adek-adek yang lagi kenal kamera dan getol banget pengen tau hal-hal tentang fotografi. Mereka biasanya ngefollow selebgram yang fotonya keren dan follow fotografer-fotografer di instagram yang feednya menarik.

Tipe ini menurut gue paling adem ya. Nggak ganggu pengguna instagram lain dan kegiatannya positif. Mereka cuma menikmati foto fotografer panutan, kemudian mempelajari hasil foto si panutan, dan mengaplikasikannya ke foto-foto mereka. Biasanya sih gitu.

Lagi Hijrah

Ini adalah tipe pengguna instagram yang ngagetin buat gue. Pengguna instagram jenis ini biasanya mengganti nama akun mereka menjadi yang lebih agamis dan menghapus foto-foto aib di instagram. Beberapa kali gue dibuat heran dengan akun-akun yang namanya asing buat gue, "ini siapa yak? Perasaan gue nggak pernah follow akun ini." Setelah scroll down, oalah akunnya si ini toh.

Tipe ini biasanya memfollow akun-akun dakwah, tokoh agama, dan quote-quote motivasi hidup yang agamis. Nggak jarang mereka juga suka merepost postingan-postingan tentang agama di instagramnya yang dicopy dari akun-akun panutan.

Big Fan

Tipe jenis ini adalah para pengguna instagram yang menggilai idolanya. Mereka follow, ngelike postingan, dan nontonin sang idola live di instagram. Apa pun yang sang idola upload, pasti dilike sama pengguna instagram jenis ini.

Mereka adalah jamaah dengan shaf paling depan jika sang idola update, merekalah orang pertama yang tau. Bagi mereka, salah satu bukti cinta kepada idola adalah dengan memfollow semua akun sosial media milik sang idola. Contohnya mereka ini, para penggemar Dina Ike Lestari :

big fan of @dinaikelestari.

Pengguna instagram jenis ini adalah yang paling disukai oleh pemilik konter pulsa. Mereka dengan mudah, rido, dan ikhlas menghabiskan kuota hanya untuk sang idola.

Pemuja Lambe-lambean

Pengguna instagram jenis ini adalah bibit-bibit netijen yang maha benar dengan segala komentarnya karena mereka merasa merekalah yang paling tau mengenai suatu berita karena follow akun-akun gosip. Mereka memfollow akun-akun nyinyir, gosip, berita tentang artis-artis, dan tak jarang pula ikut nimbrung di dalam lautan komentar nyinyir pengguna instgram yang lain.

Berita perselingkuhan artis, artis pacaran diam-diam, atau apalah itu, mereka akan mengetahui terlebih dahulu ketimbang teman-temannya yang lain yang nggak follow akun-akun lambe.

Mereka ini adalah kaum-kaum haus akan berita.

Tipe ini biasanya berdalih "biar update", makanya mereka follow akun lambe-lambean.

Dalam dunia nyata, tipe pengguna instagram jenis ini sangat mudah dikenali. Ketika ada satu perkumpulan, misalnya sedang ngomongin perceraian Sule, pengguna instagram jenis ini akan segera muncul dengan kalimat saktinya :

"Ah lo telat. Gue udah liat berita itu di apdetan lambe turah kemarin."

Gitu.

Oke. Itu tipe-tipe pengguna instagram versi gue. Lo masuk tipe pengguna instagram yang apa?

16 Januari 2018

11

Lima Film Keren 2017

Sebagai mahasiswa yang bersahabat dengan kemelaratan, jelas, gue jarang banget ke bioskop di tahun 2017. Nonton film di bioskop terasa sangat mahal ketika uang jajan habis buat ngeprint tugas akhir dan segala tetek-bengeknya. Tapi beberapa kali, entah karena sedang memiliki uang atau memaksakan diri terlihat memiliki uang, gue nonton film ke bioskop.

Tapi, jaman now, nonton film nggak harus ke bioskop kan? hehe.

Gue ingat, di awal tahun 2017 gue bikin tulisan tentang filmIndonesia 2016 yang paling berkesan. Sekarang masuk 2018, rasanya kurang enak kalau gue nggak bikin tulisan tentang film berkesan di 2017. Tapi kali ini nggak cuma film Indonesia yang bakal gue tulis, film luar juga. So, here they are!


Pengabdi Setan

Film garapan Om Joko yang satu ini emang juara sih. Selain mendapat prestasi dimana-mana, film ini juga sudah melalang buana ke luar negeri dengan judul internasionalnya 'Satan Slave'. Film horor tanpa tetek beterbangan ini istiqomah bergenre horor, bukan horor setengah bokep.

Banyak temen bilang kalau film Pengabdi Setan bagus tapi endingnya jelek. Sedangkan gue malah suka endingnya. Ending kentang-nggak jelas-nggak nyambung-ngeselin gitu, malah bikin greget.
Pengabdi Setan adalah film reboot dari film jadul horor terbaik tanah air dengan judul yang sama. Joko Anwar berhasil membawa penonton ke apa yang dia rasakan saat dulu menonton Pengabdi Setan versi tahun 1980.

Btw, gue sudah mereview film Pengabdi Setan ini di sini. Jadi, langsung klik aja buat baca.

Kartini

Setelah film R.A Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016), Kartini tampil lagi di layar lebar tahun 2017 dengan judul Kartini. Kali ini pemeran utamanya adalah Dian Sastriwardoyo. Gue nonton film ini di bioskop waktu itu karena tertarik dengan trailernya.

Film garapan Hanung Bramantyo ini menceritakan tentang kehidupan sang pahlawan dari bagaimana ia dibesarkan, berjuang melawan adat yang menurutnya itu salah, dan akhirnya harus menyerah pada nasib.

Hasil riset bapak sutradara bertahun-tahun hingga harus ke Belanda segala, terbayar. Film Kartini ini menurut gue lengkap dan cara penyampaiannya juga enak. Penokohan, latar, segala macamnya itu, dibuat kongkret menggambarkan situasi Kartini sebenarnya.

Jujur, gue suka film ini salah satunya karena film ini dibanjiri oleh aktor-aktor top Indonesia: Christine Hakim, Acha Septriasa, Dian Sastrowardoyo, dan idolaqu Reza Rahadian. Tambah lagi ada Djenar Maesa Ayu ikutan main. Beeeeeh! Greget banget! Berasa nonton reuni aktor.

Kalau kalian pecinta film genre biografi gini, kudu nonton film ini deh. Nggak nyesel.

Bad Genius

Gue sebenarnya bukan pecinta film Thailand. Tapi film ini beda dari film-film Thailand lain dan bikin gue jatuh cinta!

Ide dan alur cerita film Bad Genius unik. Film garapan Nattawut Poonpiriya ini mengangkat cerita tentang aksi curang sejumlah murid SMA saat ujian masuk kuliah skala internasional yang terorganisasi dengan baik. Otaknya adalah Lynn, siswi yang sangat cerdas tapi kurang mampu secara ekonomi. Karena diiming-imingi uang yang besar, akhirnya Lynn mengiyakan tawaran Pat dan Grace untuk memberi contekan. Awalnya kongkalikong contekan itu berskala kecil, lama-lama membesar.

Film yang bergenre thriller ini mampu meraup untung lebih dari 100 juta baht dalam 2 minggu penayangannya. Rekor baru di dunia film Thailand. Banyak penghargaan internasional yang diborong film dengan alur twist ini, salah satunya New York Asian Film Festival.WEW.

Yang bikin gue suka sama film ini selain ide dan alurnya adalah cerita di film itu sendiri. Gue nggak kepikiran ngasih contekan teman pas ujian seberkelas itu, gengs. Kalau gue, nyontek jawaban ujian masih dengan cara tradisional: nengok kanan nengok kiri. Nggak kepikiran secerdas Lynn.

Film Bad Genius ini amat sangat di luar ekspektasi pokoknya. Bagus banget! Kapan-kapan gue mau ngomongin film ini di satu postingan sendiri ah...

IT

Film sejuta umat seantero dunia ini beberapa bulan lalu menggemparkan jagad. Dimana-mana orang banyak ngomongin film IT. Instagram, facebook, twitter, ramai film IT. Sampai sekarang badut dan goyangan khasnya masih hits.

Film yang diangkat dari novel Stephen King ini disutradarai oleh Andy Muschietti dan diproduseri oleh Roy Lee, Dan Lin, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg dan Barbara Muschietti. Gue nonton film ini karena dibahas dimana-mana dan reviewnya positif, sih. Film dengan anggaran $35 juta ini mampu menembus pendapatan $698,060,882. Gila.

Film yang mengangkat latar tahun 1988 ini menceritakan kisah Bill Denbrough yang kehilangan adik laki-lakinya Georgie saat si adik bermain perahu kertas di waktu hujan. Nggak jelas si adik ini hilangnya kemana dan masih hidup atau nggak. Kejadian anak hilang di Kota Derry sudah berkali-kali terjadi. Bill dan 4 temannya gemas dengan kejadian ini dan akhirnya mencari apa penyebab sebenarnya kasus hilangnya anak-anak di kota mereka. Ternyata pelakunya tidak lain tidak bukan adalah badut nggak lucu bernama Pennywise.

Di luar banyak yang ngomong gara-gara film ini pamor badut menurun dan anak-anak jadi takut sama badut, film ini cocok ditonton buat kalian yang suka film horor. Nggak terlalu nyeremin sih kalau menurut gue, tapi ceritanya bagus. Nggak ketebak. Gue suka.

Blue is the Warmest Color

Sebagai bonus, gue masukin disini film tahun 2013 tapi gue tonton di tahun 2017, Blue is the Warmest Color. Film Perancis bergenre romance yang super keren bin ajaib. Butuh waktu 2 hari buat gue menonton film lesbian berdurasi 3 jam ini. Hahaha.

Judul Perancisnya La Vie d'Adèle (artinya kehidupan Adele). Adele adalah nama pemain utama di film ini. Diperankan oleh Adèle Exarchopoulos, Adele sukses bikin gue jatuh hati sama perannya. Lawan mainnya juga cakep, namanya Emma, diperankan oleh Léa Seydoux.

seksi banget ini posenya
Film Blue is the Warmest Color menceritakan kisah pencarian jati diri seorang siswa bernama Adele dan akhirnya hatinya jatuh ke seorang perempuan berambut biru bernama Emma. Mereka menjalani hidup berdua dengan baik-baik saja hingga nggak jelas apa penyebabnya, keduanya mulai berubah. Sikap dan perilakunya berubah sedikit demi sedikit. Puncaknya, Adele selingkuh dan Emma nggak bisa terima itu. Sinetron banget ya kayaknya. Tapi film ini beneran keren. Ada maksud tersirat yang diceritakan. Apalagi kalau kalian memperhatikan perubahan warna rambut Emma.

Bagian yang gue suka dari film ini adalah ketika Adele menari asik dengan lagu soundtrack film tersebut: I Follow Rivers. Gue jatuh cinta!

Menurut gue ide film Blue is the Warmest Color biasa aja, tapi penyampaiannya yang wow. Kesan yang gue terima setelah nonton film ini mirip yang gue rasain setelah nonton film HER. Apa yang mau disampaikan film pemenang Canes Festival ini nggak gampang dipahami, tapi tersirat. Keren lah pokoknya.

So, itu dia lima film yang gue tonton di 2017 dan berkesan. Kalau kalian, film yang berkesan di 2017 apa aja?

Btw, gue jarang blogwalking akhir-akhir ini karena masih KKN di desa terpencil yang cari sinyal susah. :(

17 Desember 2017

12

Rindu Diri yang Dulu

Setuju atau tidak, hujan sering membuyarkan lamunan, menerbangkan percakapan, dan kadang menghadirkan kenangan. Setidaknya, itu yang gue rasakan kemarin, saat hujan deras di kantin kampus.

Pemancingnya adalah Anissa Dewi atau biasa gue panggil Depe, teman kampus yang sering memancing percakapan berat.

Obrolan tentang agama dari berapa jumlah sebenarnya isteri Nabi hingga "skripsimu sampai mana?", menghiasi sela-sela suara hujan jatuh di atas atap seng kantin siang itu. Yang paling kurang ajar adalah ketika muncul ucapan, "jujur ya, kamu itu berubah lho, Rih."

Pinterest
Romantis. Seketika itu gue merasa sebagai Ardina Rasti di FTV Pacarku Tukang Parkir Fotokopian.

Depe bilang gitu bukan tanpa alasan. Dia kenal gue dari pertama kali ospek. Dari awal, dia kenal gue sebagai orang yang independen. Maksudnya, gue adalah orang yang bisa kemana-mana sendiri, bisa berteman dengan siapa pun tanpa mengelompok, dan tidak membatasi diri menghabiskan waktu bersama siapa pun. Dan menurut dia, gue udah nggak kayak gitu lagi sekarang.

Gue juga merasakan hal itu. Gue sudah berubah, menjadi Power Ranger Pink.

Ehe.
Nggak lucu.
Maap.

Menurut gue ini wajar. Setiap orang berubah. Yang mengubahnya adalah lingkungan dan pengalaman.

Pinterest
Setiap detik kita dibentuk, tanpa kita sadari. Ke arah mana kita dibentuk, kita nggak sadar. Kita terus berjalan dengan arah yang diarahan keadaan. Kita baru sadar saat kita berhenti dan menoleh ke belakang. Menoleh ke arah 'kita yang dulu.'

Dan sekarang, gue sedang berhenti untuk menoleh ke belakang. Ada gue yang dulu, berdiri disana, jauh di belakang dengan arah yang tidak lagi sama. Melambaikan tangan dan berkata, "Apa kabar? Masih ingat saya?".

Kemudian dengan samar gue melihat teman-teman lama yang lain juga disana. Mereka mengajak bermain perosotan di TK kampung sebelah, mencari keong di sawah, menonton DVD bajakan bersama, merayakan ulang tahun bersama. Tapi sayang, gue sudah tidak dapat melihat dengan jelas, siapa teman-teman lama itu, karena terlalu jauh.

Hahaha. Lucu. Sudah sejauh ini gue berubah.

Gue ngerti, hidup ini nggak mengizinkan untuk gue putar balik dan menemui gue yang dulu itu. Gue harus tetap jalan ke depan dengan keadaan-keadaan yang sekarang. Ya, setidaknya, ini adalah pengalaman gue yang bisa mengubah arah hidup dan bagaimana gue dibentuk.

Bangsat, jadi ngelantur. Rindu memang sering kurang ajar, sih. Termasuk rindu diri yang dulu.

"Iya Dep. Gue juga tau. Sekarang gue lagi nyoba buat belajar dari pengalaman dan berusaha seperti gue yang dulu itu." Gue jawab sekenanya kalimat Depe. Meskipun gue tau itu nggak bisa.

Teman