Tampilkan postingan dengan label Lagi Bener. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lagi Bener. Tampilkan semua postingan

6 Januari 2020

11

Roller Coaster Itu Bernama 2019

Akhir tahun 2018, gue lewati dengan cara yang cantik: backpackeran ke Bali bareng temen-temen yang asik. Kembang api di Pantai Kuta malam itu bikin gue optimis, "2019 bakal sepenuhnya menyenangkan". Ternyata enggak. 2019 adalah roller coaster pendek penuh kejutan namun berhenti dengan baik. Gue selamat, dengan sedikit mual di dalam perut.

Setelah perayaan tahun baru di Bali selesai, gue pulang lagi ke kota perantauan, Semarang, dengan rasa bingung antara memilih investasi uang lewat proyek survey politik yang lagi ramai menjelang pemilu presiden atau investasi ilmu dengan pergi ke Kampung Inggris Pare Kediri di awal tahun 2019. Akhirnya, gue memilih pilihan kedua.

Yep, investasi ilmu dengan belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare adalah pilihan gue.

23 Januari tengah malam, gue berangkat sendirian ke Kediri dari Stasiun Semarang Tawang dengan modal punya temen yang ngajar disana. Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, jam 7 pagi gue sudah duduk manis di dalam warung yang letaknya persis di depan salah satu lembaga belajar bahasa Inggris, Smart ILC, menunggu teman yang sedang ngajar.

"Gue nggak tau kalo Smart udah pindah. Tadi gue kesasar." gue berkata ke temen gue dalam perjalanan kami menuju asrama yang nantinya gue tinggali selama di Pare. "Banyak yang udah berubah, ya. Tapi suasananya masih terasa sama." gue mengenang tempat yang kami berdua lewati karena dulu 2014 gue pernah belajar di Pare juga selama 2 bulan.

"Semua hal pasti berubah lah Rih seiring berjalannya waktu." jawab teman gue, Purdianto.

"Ini asramanya Rih." kami sampai di depan rumah sederhana dengan beberapa sepeda perempuan rapi berjejer di depannya. "Gimana? Lo siap tinggal disini?" tanya Purdianto.


"Iya, gue siap." gue menjawab singkat. Nggak sadar, jawaban itu adalah kalimat terakhir sebelum akhirnya roller coaster gue menyala dan berjalan sesuai lintasannya; naik turun, meliak-liuk sesuai aturan Yang Maha Agung. Ya, roller coaster itu bernama 2019.

---

Semua orang punya roller coasternya masing-masing. Tiketnya udah rapi dibagiin Tuhan satu per satu di awal tahun. Mungkin, lintasan kita terlihat lebih ngeri daripada lintasan orang lain atau sebaliknya. Tapi sebenarnya sama, sesuai porsi masing-masing dan jelas adil. Bagaimana perspektif kita aja soal hal itu.

Sayangnya, nggak semua orang bisa mikir jernih kayak gitu pas ada di roller coasternya. Termasuk gue.
beautifulrealizations.wordpress.com
Cuma Tuhan yang tau persis lintasan roller coaster kita seperti apa. Kita sama sekali nggak diberi bocoran bakal ada berapa lintasan naik, berapa lintasan menikung tajam, atau berapa lintasan naik pelan yang memberikan kita kesempatan untuk melihat keindahan dunia dari ketinggian. Tuhan cuma ingin kita duduk anteng, pasang sabuk pengaman, dan menikmati setiap naik-turun roller coaster kehidupan sambil pinter-pinter atur napas agar tetap bertahan hidup.

Gue sama sekali nggak nyangka 2019 akan menjadi roller coaster yang sangat bikin jantungan. Segala lintasan, rasanya ada di dalam situ. Mual, muntah, air mata, umpatan, doa-doa, semuanya tumpah selama roller coaster gue melaju. Bahkan gue sempat berpikir akan mati di bangku roller coaster 2019 ini karena kehabisan tenaga sebelum sampai garis finish.

Gue menjumpai berbagai lintasan yang semuanya mempunyai makna sendiri. Beberapa lintasan bahkan nggak pernah gue bayangkan sebelumnya bakal gue lewatin. Lintasan di roller coaster 2019 menuntut gue untuk menjadi lebih dewasa dan lebih mencintai diri sendiri. Lintasan di roller coaster 2019 mengajarkan gue untuk memaknai semua hal dengan lebih bijak atau gue kehilangan apa saja yang gue miliki. Gue hampir mati dengan itu semua. Terlalu berat.

Tapi, ternyata gue kuat. Ternyata gue bisa sampai dengan selamat.

Tuhan mempertemukan gue dengan sosok-sosok hebat selama di lintasan 2019. Kami berpapasan ketika lintasan roller coaster kami bertemu. Dari mereka, gue belajar banyak hal tentang kehidupan. Durasi papasan kami pun bermacam-macam. Ada yang sekejap, lama, bahkan ada juga yang membekas dan sepertinya selamanya punya tempat tersendiri di hati dan pikiran gue.

Roller coaster 2019 gue sudah berhenti dan siap nggak siap, gue harus menaiki roller coaster selanjutnya, 2020. Entah lintasan apa yang sudah disiapkan Tuhan di depan sana, gue harus memasang sabuk pengaman dengan baik sebelum mesin dinyalakan.

Untuk semua sosok yang berpapasan dengan gue di 2019, gue ucapkan terimakasih atas segala kesan yang ada.
Untuk semua waktu berbincang yang kalian luangkan ketika kita berpapasan di lintasan, gue mencintai hal itu.
Untuk sikap kekanakan yang masih melekat pada diri, gue meminta maaf.
Untuk janji-janji pertemuan di lintasan berikutnya, semoga Tuhan berpihak pada kita, entah kapan pun itu, dan semoga masih dengan rasa yang sama.

Tuhan, terimakasih untuk roller coaster 2019 yang menyenangkan ini.

Selamat Tahun Baru!
Selamat menyambut roller coaster baru juga untuk kita semua. Kencangkan sabuk pengaman, and let's go! \m/

11 Desember 2018

8

Life is Walking -Ploy-

Move on adalah seni bertahan hidup tingkat dewa. Nggak semua orang bisa melewati ini dengan sempurna. Beberapa berhasil dan bertahan hidup, sementara beberapa lainnya mati sia-sia ditelan drama.

Mengenai move on, gue bukan jagonya. Jelas. Nggak usah ketawa.

Maka dari itu, mengenai move on ini, gue dapat ceramah singkat dari teman di Thailand, namanya Ploy. Analogi yang dia kasih mampu bikin gue senyum-senyum sendiri dan bergumam, "iya juga ya. Hidup memang seperti itu."

Alasan kenapa gue tanya soal move on ke Ploy adalah simpel: dia berhasil move on dari mantan pacarnya yang pacaran selama 7 tahun. Mantannya ini bukan cowok miskin muka pas-pasan hoby karokean, bukan. Mantannya dari keluarga kaya di Thailand dan serius ngajak Ploy ke pelaminan. Nggak tanggung-tanggung, mereka putus setelah si cowok selingkuh di depan mata si Ploy dan nggak lama kemudian dia nikah dengan si selingkuhan. Padahal keluarga dan teman-teman mereka saling kenal dengan baik satu sama lain.

Gue bayangin jadi Ploy rasanya mau mimisan.

Setelah itu Ploy pacaran dengan bule-bule. Ada yang LDR, ada yang memang tinggal di Thailand. Sampai akhirnya, sekarang Ploy berstatus pacar bule Jerman.

"How could you move on from your ex?" Gue tanya lewat telfon siang itu. "It must be so hard, bro."

"Yes, it was".

Ploy cerita panjang lebar dan gue cuma menimpali "really? OMG! WTF! What!?" sesekali. Memang gue tidak semutu itu gais ketika mendengarkan curhatan orang.

Dan di akhir Ploy bilang, "bro, life is walking. Sometimes we find a house and fall in love with the owner of that house. If they love us too, they will allow us to stay for long time. If they don't love us, they will kick us out and let us sit in front of the house, like a dog."

sumber: www.flickr.com
Makjleb. Mau mimisan.

"I don't wanna be a dog. I don't wanna just sit in front of the house that closed for me. I have to keep walking."

Makjleb. Mimisan beneran.

Gue cuma diem. Buka google translate, bingung mau jawab apa.

"Don't be a dog bro. You have to keep walking. Maybe you will find a better house that you can stay in for long time."

"If the owner of the next house doesn't like us too?"

"Just keep walking until you find the fit one for you to stay forever." Ploy memberi jeda. Gue bernapas. Mimisan lagi. "Believe, someday we will find a fit house for us. But we don't know which one yet."

Gue mulai paham.

Ploy melanjutkan,"who knows about the next house? The next people? We don't know about the new people we will meet there."

"But, it isn't easy to walk and leave the house that we love, right?" Gue kepo.

"Yes. It is not easy. But what can we do if they close the door? Would you just sit in front of the door like a dog?"

...

"No, bro."

"So, just keep walking. That's what I did."

Gue tertegun. Ada keheningan di antara gue dan Ploy untuk beberapa saat.

Gue memecah keheningan, "you are strong bro. I can't imagine if I were you."

Saat itu juga gue kagum. Sebelumnya, gue nggak pernah ngerti kalau apa yang sudah dilalui Ploy sesulit ini.

Kemudian gue tanya lagi, "what if they change their mind? Would you go back to the previous house?"

Ploy tertawa.

7 Januari 2018

4

Talking About 2017


Setiap hal yang datang dan pergi pasti meninggalkan bekas. Termasuk tahun. Ya, tahun 2017 sudah pergi hampir seminggu. Tapi bekasnya masih tersisa disini, sampai sekarang.


Agak berat sebenarnya melepas tahun 2017 dan berlanjut ke tahun berikutnya. 2017 terlalu cantik buat gue. Tapi bukannya manusia memang dituntut untuk melajar berkenalan dan melupakan?

Hahaha, belum apa-apa sudah ngaco.

Tahun 2017 mengajarkan gue banyak hal. Mengajarkan gue buat mengerti hidup yang lebih baik, mengajarkan untuk berdamai dengan diri sendiri ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, dan mengajarkan untuk memilih orang-orang yang tepat sebagai teman, bukan orang-orang yang hanya mencari untung tanpa mau rugi.

Harusnya semua hal itu bukan hanya gue temui di 2017, sih. Tapi itu yang signifikan gue rasain di 2017. Tahun drama.

Gue kehilangan kakek di tahun 2017. Yang paling gue ingat dari beliau adalah wejangannya tentang hidup. Beliau bilang, "kejar akhirat aja. Inshaallah dunia ngikutin." Sampai sekarang belum bisa 100% gue praktekin.

Gue kehilangan beberapa teman juga di tahun 2017. Awalnya sedih, bahkan sampai ganggu pikiran. Tapi lama-lama gue sadar, nggak semua yang hilang itu pantas untuk ditangisi. Beberapa hal bahkan lebih baik menjauh dari hidup kita. Apalagi ada teman yang bilang, "makin tua itu teman makin sedikit.". Gue setuju.

Ini hal drama banget sih. Sudah segede ini, sebentar lagi punya gelar sarjana, tapi masih marah-marahan sama teman sendiri. Bukan dengan mudah berdamai, malah sampai sekarang silaturahmi nggak sebaik sebelumnya.

Nggak dewasa.

Yang paling gue banggakan dari 2017 adalah gue bisa naik pesawat ke luar negeri! Hahaha. Norak. Tapi gue bangga. Meskipun nggak sepenuhnya pakai duit gue sendiri. Gue senang ketika bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah di Indonesia dan Thailand. Mereka datang dengan cerita masing-masing yang pada akhirnya membuat gue lebih dewasa.

Gue berterimakasih, 2017 berhasil membawa gue ke beberapa tempat untuk traveling. Itu memberikan gue semangat untuk makin banyak traveling. Dengan itu juga, gue bikin travel blog yang (recananya) bakal rutin gue tulis soal jalan-jalan.

Hmmm... Apalagi ya?

2017 is too hard to be told.
Dan untuk 2018, semoga gue bisa jatuh cinta ke lo ya, lebih dalam daripada tahun 2017.

Semoga semua hal makin baik untuk kita semua. Semoga semua jiwa makin mendewasa dan beruntung. Jangan lupa juga bahagia. Happy new year!

So,
Tahun 2017-mu gimana?

7 Agustus 2016

7

Gue Adalah Riley di Inside Out

Kenapa kebanyakan yang suka film animasi itu anak-anak?

Karena film animasi banyak berisi cerita-cerita fantasi khayalan yang imajinatif. Cocok sama dunia anak-anak yang penuh imajinasi. Sedangkan hidup gue, flat. Makan-tidur-kuliah-makan-tidur-nonton gosip Raffi Ahmad Ayu Tingting. Nggak menarik. Dunia gue nggak penuh imajinasi, makanya gue nggak suka sama film animasi.

Hingga suatu waktu...

Gue diajakin nonton film Inside Out. Awalnya gue menolak, namun karena gue butuh hiburan, akhirnya gue nonton Inside Out. Dan, BOOM! FILMNYA KEREN ABIS!

Keluar dari bioskop rasanya kayak ada yang meledak di diri gue dan gue bergumam sendiri "oh iya ya, bener juga."

Si pengendali emosi lagi megang setir di kepala Riley
Film Inside Out menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Riley dan dunianya yang sangat menyenangkan. Tapi yang disorot di film ini bukan tentang hidupnya Riley itu, melainkan isi kepala Riley.

Isi kepala Riley adalah lima karakter emosi yang mengendalikan mood Riley. Mereka adalah Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Sesuai namanya, Joy adalah si pembuat Riley bahagia, Anger yang bikin Riley marah, dan lainnya sesuai nama mereka.

Lima karakter itu ada juga di kepala orang lain seperti mama dan papa Riley. Diantara lima pengendali mood itu, setiap orang punya satu emosi yang dominan di kepalanya. Kayak misalnya Riley yang dominan dikendaliin sama Joy, hidupnya lebih banyak bahagia. Mama Riley yang banyak dikendaliin Sadness, hidupnya melo-drama-Korea .

Lima emosi itu juga mengatur memori ingatan di kepala Riley. Ingatan yang diinget digambarkan sebagai bola menyala warna-warni sesuai lima warna emosi di kenangan yang Riley. Kenangan sedih, bola memorinya berwarna biru. Kenangan ketakutan, bolanya warna ijo. Gitu. Dan, di kepala Riley bola yang paling banyak adalah warna kuning, Joy, memori kebahagiaan.

Gue jadi mikir, kalo gue adalah Riley, emosi apa yang dominan megang setir di kepala gue selama ini dan memori apa aja yang paling menyala di kepala gue. Gue kemudian flashback beberapa memori yang gue inget dari kecil sampe sekarang.

Memori warna merah, anger.

Anger itu mungkin dari kata "angry" ya, artinya marah. Ingatan saat gue emosi atau marah. Bisa dibilang gue jarang marah. Tapi ketika gue marah, gue nggak bisa ngendaliin. Kayak misalnya waktu kelas 3 SMP.

Waktu itu, saat jam istirahat, gue lagi duduk-duduk santai di depan kelas. Kemudian, temen gue, Ida, bercandain gue dengan menarik gue ke belakang yang mengakibatkan gue jatoh. Pantatnya doang sih kena lantai. Tapi nggak tau kenapa gue marah banget. Terus tanpa ngomong apapun gue tarik Ida ke dalem kelas, gue remas kerah seragamnya si Ida, abis itu gue dorong atau tonjok dia (gue lupa) di depan kelas dan diliatin temen-temen yang ada di dalem kelas. Terus gue pergi gitu aja.

HAHAHA. Awkward.

Memori warna ijo, jijik.

Jijik. Apa ya? Entah apa ini jijik atau takut, tapi gue punya pengalaman nggak-sengaja-megang-kaki-tokek-di atas-pohon.

Jadi gue waktu SD pernah manjat pohon kersen buat ngambilin buahnya. Gue manjat dan ada temen gue yang nunggu di bawah. Saat lagi enak metikin buah di atas pohon, nggak sengaja tangan gue megang sesuatu yang hangat, empuk, dan agak kasar. Setelah gue liat, ternyata gue megang sebuah kaki warna biru motif orens. Pas gue sadar itu kaki tokek, gue langsung loncat dari atas pohon langsung ke bawah. Nggak peduli patah kaki atau landing di kepala temen.

Sampe di bawah gue liat ke atas dan bener. Itu tokek gede banget dan ganti warna jadi cokelat keiteman. Gue langsung ambil sepeda dan gowes ngebut ke rumah. Temen gue heran karena gue shock nggak ngomong apa-apa. Sampe rumah gue masuk kamar dan selimutan. Badan gue gemeter dua sampe tiga hari kalo inget kaki tokek yang gue pegang itu. Sampe sekarang masih kebayang warna kakinya.

Memori warna ungu, fear, takut.

Waktu itu gue kelas 1 SMP. Pelajaran fisika, gue duduk di kursi terdepan. Temen gue, kalo nggak salah Intan namanya, punya HP baru. Nokia flip warna putih-merah dan ada musiknya. Jaman dulu HP ada MP3nya udah mewah banget anjir. Hahaha.

Gue pinjem HP temen gue itu buat dengerin lagu lewat speaker, tanpa headset. Tiba-tiba guru fisika dateng. Semua langsung panik duduk di bangkunya masing-masing, karena guru itu terkenal killer. Namanya Bu Isdiana. Seketika kelas menjadi hening, hanya langkah kaki Bu Isdiana yang terdengar beradu dengan lantai kelas. Kemudian, muncul suara kampret bin sialan:

"kau membuat ku berantakan... kau membuat ku tak karuan... kau membuat ku tak berdaya, kau menolakku, acuhkan diriku..."

Kampret! HPNYA INTAN MASIH NYALA, D'MASIVE MASIH BERDENDANG, DAN ITU ADA DI LACI MEJA GUE!

Takut banget rasanya pas Bu Isdiana menghamipiri meja gue dan mengambil HP yang lagi asik bersyara itu. Tanpa ngomong apa-apa, beliau masukin HP mewah nan malang itu ke saku bajunya. Setelah itu gue dimarahin Bu Isdiana di kantor guru, di depan para guru yang lagi makan siang.

Memori warna biru, sadness.

Mungkin warna ini yang terbanyak di kepala gue. Gimana enggak? Nonton film Kabhi Khushi Kabhi Gham berulang-ulang aja mata gue masih berkaca-kaca. #TomboyStyleFailed

Mungkin memori sedih yang bisa gue ceritain adalah ketika gue kehilangan kelinci gue pas SD.

Jadi waktu itu, gue dikasih kelinci sama saudara, namanya Mbak Giyarsih. Dua kelinci putih itu belum sempet gue namain. Mereka tinggal di kotak kardus di teras rumah. Setiap hari gue kasih makan wortel, sayur, kadang juga janji manis. Setiap berangkat sekolah gue selalu menyapa dua makhluk itu dengan tatapan "hai, aku sekolah dulu ya. Nanti siang kita main lagi.". Begitu setiap hari hingga suatu siang, gue berasa disamber petir padahal nggak ujan. Berasa diputusin padahal nggak punya pacar.

Gue pulang sekolah dengan muka ceria bersiap main sama kelinci-kelinci putih lucu. Alangkah kagetnya ketika rumah gue rame, tanpa bendera kuning, tanpa tratak seng, tanpa penerima tamu. Tetangga-tetangga gue ngumpul di rumah dan pada bawa piring.

Salah satu tetangga menghampiri gue yang lagi bingung dengan keramaian itu.

"Mbak ini lho, sate kelinci kamu enak. Cobain nih!"

Kelinciku? KELINCIKU? K E L I N C I K U ???

Ternyata mereka menyate dua kelinci imutku. Kedua orang tua gue adalah pelopor utama hajatan batiniah ini. Mereka bilang, kelinci gue menuh-menuhin tempat, bau juga eeknya, mending disate aja.

Gue masuk rumah, duduk di sofa, dan cuma bisa diem. Gue bingung harus gimana. Kelinci yang gue anggep lucu, yang bikin gue semangat sekolah, dibunuh dan dimakan gitu aja, tanpa persetujuan gue sebagai pemiliknya yang tiap hari ngasih makan. Gue lupa waktu itu nangis atau cuma berkaca-kaca.

Memori warna kuning, joy, kebahagiaan.

Untuk manusia seumuran gue, jelas kebahagiaan banyak gue alamin. Apalagi yang berasal dari dunia cinta-cintaan, sayang-sayangan, gebet-gebetan. Liat doi dari kejauhan aja rasanya deg-deg ser nggak karuan bahagianya minta ampun. Apalagi disapa doi. Duh, apakah bahagia remaja sereceh itu?

Salah satu kenangan bahagia gue adalah ketika gue jadi top scorer pertandingan bola basket antar SMA se-Karisidenan Pekalongan. Meskipun tim gue kalah, gue seneng banget bisa point banyak apalagi dengan tembakan jarak jauh. Selama gue basket, itu adalah pertandingan paling beruntung gue karena biasanya gue nggak bisa shoot jarak jauh. Gue juga sempet dipuji pelatih basket yang nggak pernah muji gue. It made me fly higher. HAHAHA.

---

Gue salut sama Pete Docter yang bisa-bisanya kepikiran ide film "isi kepala manusia". Film yang general, yang semua orang bisa ngerasain ada di posisi Riley.

Sama seperti Riley yang selalu bahagia, akhirnya dia muak dan nangis sedih sejadi-jadinya. Gue nggak cuma butuh Joy. Gue juga butuh Sadness, Anger, Disgust, dan Fear buat nyeimbangin emosi. Gue nggak bisa bayangin, kalo hidup gue cuma diisi Joy dan kebahagiaan, hidup gue bakal sedatar apa. Gue bersyukur hidup gue seimbang. Gue sering ketawa lepas, tapi nggak lupa buat nangis sampe sesenggukan.

Gue butuh sedih buat ngerasain arti kebahagiaan, sama seperti Riley. Tanpa Sadness, Joy nggak ada artinya.

Buat yang baca, share juga ya, memori apa aja yang kalian inget, yang paling menyala di kepala kalian.

PS: ketika gue ngetik cerita memori sadness, gue jadi sedih lagi. Masih keinget jelas, kotak kardus kelinci yang tiap hari gue lewatin sebelum berangkat sekolah.

2 April 2016

12

Janji Kecil-kecilan Kepada Waktu

Hello, it's me...
Eh, bukan ding.
Hello from the other side...
Ini apa lagi???

Jadi, hello...April. Datangnya cepet amat? Buru-buru Neng? Ngejar angkot?

Nggak kerasa udah bulan April 2016 aja. Berarti udah ada 91 hari gue lewatin di 2016 ini. Dan sialnya, 91 hari itu gue lewatin dengan gitu-gitu aja, nggak ada yang mengesankan, nggak ada yang istimewa, nggak ada perubahan yang terlihat di diri gue dari hari pertama sampai ke-91 ini.

Ah. Kampret.

Dalam 91 hari, biji cabe bisa berubah jadi pohon cabe, telor bisa berubah jadi ayam, dan benih padi bisa berubah jadi nasi. Gue? Dari 'gini' tetep jadi 'gini'.

Sebegitu kerennya waktu hingga bisa mengubah telur ayam yang nggak bisa apa-apa menjadi ayam hidup dan bisa jalan kemana-mana.


Jika diibaratkan waktu adalah kereta, gue cuma seorang penumpang yang diam terpaku ketika keretanya lewat. Bukannya ikut naik dan bergerak, tapi gue malah diem mandangi sang kereta lewat gitu aja. Dan pada akhirnya, gue ketinggalan kereta.

Gue sering iri sama orang-orang yang bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Mereka yang bisa ngendaliin waktu, mereka yang bisa ikut berjalan beriringan dengan waktu, mereka yang bisa ngikutin arus waktu tanpa berhenti sedikit atau pun terlindas oleh waktu. Biasanya, orang-orang yang gini bakal berubah sejalan dengan waktu.

Kapan ya gue bisa kayak mereka?

Contohnya Kevin Anggara. Siapa sih dia di 2013? Cuma seorang anak SMA culun, cupu, yang hobinya nulis blog dan main rubik. Sekarang? He is a best coming actor in Indonesian Box Office Movie Awards! Ooow!

Kevin Anggara bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Nggak genap 3 tahun, dia bisa merubah dirinya yang hanya seorang anak SMA cupu jadi aktor di film Ngenest dan lanjut mendapat penghargaan itu. Gue selama 3 tahun? Cuma berubah dari yang bukan mahasiswa jadi mahasiswa. Gitu doang. Nggak terlalu keren.

Atau yang lebih keliatan, Sakayuv. Pengguna instagram pelosok mana yang nggak tau anak absurd Jogja satu ini? Cukup dikasih waktu satu tahun, selama 2015, Sakayuv bisa merubah dirinya yang awalnya hanya anak hiperbola Jogja jadi anak SMA kekinian yang diendorse banyak olshop dan terkenal banget jadi bintang iklan di media sosial banyak produk.

Selama setahun, Sakayuv bisa menggunakan kemampuan beraktingnya dengan baik. Dia bikin-bikin video kocak dan yang bisa bikin ketawa kejang banyak orang, termasuk gue. Sedangkan guenya sendiri? Selama setahun, boro-boro diendorse olshop, dikomentarin sama -peninggi dan pelangsing- aja syukur.

Gue juga iri sama temen-temen gue yang produktif menghasilkan karya. Sedangkan selama ini gue kurang produktif. Ikut produksi film pun cuma satu, itu pun bukan film dari cerita gue. Punya blog ya gini-gini aja. Gue pengen yang lebih. Gue pengen bikin film yang gue sutradarai sendiri. Gue pengen blog gue ini menang salah satu lomba blog gitu kek. Misalnya.

Atau cuma gue yang merasa sehaus ini tentang perbaikan hidup?

Kalian gimana?

Gue pernah cerita soal ini ke satu temen.
Gue: eh, kok setahun Sakayuv bisa berubah drastis gitu hidupnya, sedangkan gue gini-gini aja ya?
Temen: lo nggak bisa samain hidup lo sama dia.
Gue: kenapa nggak bisa? Kan gue sama dia sama-sama makan nasi, sama-sama 1 hari itu 24 jam.
Temen: jalan hidup kalian nggak sama. Lagian jangan terlalu ambisius dan iri sama hidup orang lain lah.

Gue telan kalimat-kalimat temen gue itu, tapi gue muntahin lagi sebagian. Gue rasa temen gue ini nggak punya semangat hidup. Gue nggak setuju sama kalimatnya "jangan ambisius dan jangan iri sama hidup orang lain.". Tanpa ambisi, buat apa kita hidup? Tanpa iri dengan hidup orang lain, gimana kita bisa berubah ke arah yang lebih baik?

Entahlah. Lagi-lagi tulisan gue berakhir absurd dan meninggalkan kepusingan di dalam kepala berbi dan princess. Hahaha.

Intinya, gue pengen waktu yang selanjutnya gue jalani lebih bermanfaat dan membuat perubahan nyata di hidup gue. Perubahan ke arah lebih baik dan terlihat. Gue nggak mau waktu gue terlalui gitu aja, tanpa bekas-bekas yang nyata.

Gue janji sama waktu, gue akan berjalan dengan dia beriringan. Gue janji sama waktu, gue akan nyamain langkah detiknya bareng langkah hidup gue. Gue janji sama waktu, gue nggak bakal nyia-nyiain dia.

Oke. Mungkin gue bisa memulai janji kecil-kecilan itu besok pagi, atau malam ini aja? Nulis postingan setelah sebulan nggak nulis, adalah salah satu bentuk perbaikan hidup juga, bukan?

20 Januari 2016

15

Manusia Dunia Maya

Weekend, weekday, gue nggak bisa bedain. Jadwal hidup sekarang berantakan. Dulu, gue selalu ingat apa yang harus gue kerjain di weekend ini. Sekarang, gue nggak tau mau ngapain. Pengennya tidur mulu. Apalagi ditambah sekarang libur semester. Behhh, tidur aja tiduuur.

Well...

Banyak tulisan yang udah terbang-terbang di kepala berontak minta dituangin ke blog sejak berhari-hari yang lalu. Tapi sialnya, gue males nulis dan tulisan itu rata-rata bertema galau. Gue nggak mau blog ceria ini berubah jadi blog sedih yang tiap orang liat headernya aja langsung nangis di bawah shower. Gue nggak mau.

Awal tahun yang buruk.
Resolusi mau rajin ngeblog udah diawali beginian.
Fak.

Oke. Malam Minggu ini, gue paksain buat nulis tulisan ceria. Sesuatu yang gue usahain nggak galau.

---

Sumber

Gue adalah manusia yang sering banget dikacangin di grup line. Entah itu grup kelas, grup UKM, bahkan grupnya Kresnoadi. Gue ngerasa nggak nyambung dengan pembicaraan anak-anak yang selalu muncul di grup itu dan tiap gue muncul, suasana grup berasa kayak,

"Ah udah ah, ngantuk nih ngantuk. Tidur aja yuk. Bye!"
"Yah ada si Farih. Skip aja skip!"
"Sayang, aku telat datang bulan, nih."

Kan, sakit.

Mungkin, gue bukan tipe manusia dunia maya yang asik di grup sosial media seperti itu. Makanya gue nggak bisa masuk ke dunia mereka. Mereka yang lebih asik asik di facebook, grup chat, youtube, bahkan primbon sekalipun dibandingkan di dunia nyata, adalah manusia dunia maya.

Setelah gue amati, gue mulai paham tentang si manusia dunia maya ini.

Manusia dunia maya biasanya pasif di dunia nyata. Mereka berisik di dunia maya tapi diem di dunia nyata. Seperti beberapa teman kelas gue. Di grup berisik, tapi pas ketemu diem kayak lagi nahan boker sebulan. Ada lagi, pendiem banget orangnya tapi ketika gue cek blognya, keren banget sumpah anjir. Pinter badai dia ngerangkai kata-kata. Blognya keren.

Menurut gue, itu dikarenakan orang-orang dunia maya lebih nyaman berkomunikasi dengan menggunakan tulisan daripada lisan. Mereka nggak pede buat ngomong secara lisan, tapi fasih jika lewat tulisan.

Kehadiran mereka juga lebih ditanggapi di dunia maya daripada nyata. Ya kembali lagi, karena cara komunikasi mereka di dunia maya lebih bagus daripada ketika di dunia nyata.

Manusia dunia maya (biasanya) memiliki sedikit teman di dunia nyata. Karena mereka kurang bisa berkomunikasi dengan baik secara langsung tadi, mereka akhirnya memiliki sedikit teman di dunia nyata dan menemukan teman-temannya di dunia maya.

Atau bisa juga, sedikit teman di dunia nyata yang bikin mereka akhirnya mencari teman di dunia maya. Seperti misalnya, orang bekerja sebagai kasir warnet. Berjam-jam duduk doang di kotak kecil dan mau nggak mau, dia cuma bisa berkomunikasi lewat komputer yang ada di depannya. Tanpa harus berinteraksi dengan banyak orang secara langsung kecuali pelanggan mau bayar.

Nggak jarang, manusia dunia maya sering mendapat julukan "freak" di dunia nyata. Karena mereka dianggap aneh. Aneh dalam cara mereka bergaul, berkomunikasi secara langsung tentunya.

Manusia dunia maya memiliki imajinasi yang besar. Manusia dunia maya biasa berekspektasi tentang kehidupan mereka selanjutnya.

Contohnya ketika manusia dunia maya nemuin kekasih mereka di dunia maya juga. Mereka belum pernah saling tatap mata secara langsung, tapi udah saling cinta. Tanpa imajinasi yang begitu indah, darimana mereka akan saling cinta?

Kemudian mereka berimajinasi.
Jika suatu hari aku bertemu dia, aku mau tampil rapi ah. Kemeja warna biru itu kayaknya bagus deh dipakai pas ketemu dia nanti.

Dan ketika mereka dalam kesepian, membayangkan.
Andai gue sama dia deket, hari ini pasti kita gak bosen di rumah masing-masing.

---

Kadang gue pengen jadi manusia dunia maya. Bahagia mereka sederhana. Laptop, internet, dan pelengkapnya secangkir kopi.

Bahkan ketika pacar bilang "nanti malem webcaman yuk." rasanya seneng banget.

Dan ketika patah hati, manusia dunia maya hanya tinggal mematikan laptopnya dan kembali beraktivitas di dunia nyata sesibuk mungkin.

Nggak sesusah manusia dunia nyata. Ketika dia ada masalah atau patah hati disini, segencar-gencarnya dia berselancar di dunia maya, pada akhirnya dia tetap harus balik ke dunia nyata dan itu sakit.

Gue sendiri menyimpulkan bahwa gue ini manusia dunia nyata. Karena, pertama jelas banget: gue sering diskip di grup secara kasat mata dan kedua: gue nggak bisa segampang matiin laptop buat ngelupain masalah.

-ini lo nulis apaan sih Rih, nggak jelas banget dah, kayak hidup lo! Random mulu aja tulisan lo!

Hmmm.
Nggak tau. Gue tiba-tiba aja kepikiran masalah manusia dunia maya ini dan kenapa ujung-ujungnya tetap galau ya?

Bangke.

Menurut kalian gimana sih? Ada pendapat lain mungkin mengenai manusia dunia maya?

-yaelah malah diskusi!

PS: Percayalah. Gue udah mulai nulis postingan ini sejak malem Minggu kemarin dan baru gue selesaiin malem ini, malem Kamis. Good.

1 Januari 2016

22

Say Hi to 2016!

Selamat siang! \=D/
Eh, udah 2016 aja. Cepet banget sih kamu datengnya? 2015-nya kemana? Udah pergi? Hmm.

sumber

Beberapa orang tadi malam ngerayain malam tahun baru dengan hepi-hepi di keramaian. Liat kembang api, niup terompet, atau sesimpel masak-masak bareng orang terdekat. Gue nggak gitu.

Tahun ini gue memilih di rumah anteng bareng keluarga. Karena gue pikir, nggak adil kalo beberapa tahun kemarin malam tahun baru gue selalu di luar sama temen-temen tapi nggak pernah sama keluarga.

Anyway, 2015 adalah tahun yang 'buruk' sekaligus tahun yang memberikan banyak pelajaran. Di tahun 2015, ada banyak masalah yang membatasi gue berkarya dan main-main. Tapi juga tahun dimana blog gue ini hidup kembali, setelah sekian lama mati.

Ada pelajaran di setiap masalah, right? Thanks 2015, you give me so much lesson.

Hari ini, lembar pertama dari 366 halaman kosong. Banyak harapan gue yang semoga bisa terkabul di tahun yang baru ini. Salah satunya adalah gue segera menjalankan usaha real offline (karena selama ini gue hanya memiliki usaha online) yang udah gue perhitungkan tetek bengeknya dari lama. Yeay!

Dan tentunya resolusi untuk blog; semoga gue lebih sering nulis, tulisan semakin bagus, draf-drafnya nggak makin numpuk, dan blog sederhana ini semakin rame. Terimakasih untuk kalian yang nyediain waktu dan kuotanya untuk baca tulisan di blog ini. Hehehe. Kalian keren!

Gue juga berencana ngeseriusin akun youtube gue dengan lebih sering upload video.

Yang pasti gue berharap, tahun 2016 menjadi tahun yang sangat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, makin mendekatkan gue dengan keluarga, impian, dan cita-cita.

Amiiin.

Kita semua pernah menjadi kembang api di tahun baru seseorang.
Terbang,
melayang,
menyala,
meredup,
kemudian selesai.

Kampret.

Tulisan itu nggak sengaja kebaca dari line barusan.

25 September 2015

29

Makin Tua, Hidup Makin Nggak Asik


Makin tua, hidup makin nggak asik. Itu adalah kalimat kampret paling bener dan paling gue benci, seumur hidup. Gue pengen mengelak, tapi kalimat itu nggak salah.

Dulu, pas masih kecil, Idul Adha adalah salah satu hal yang ditunggu-tunggu. Seneng banget rasanya bisa godain, nanyain kabar, say hi, dan ngasih makan kambing-sapi di depan rumah yang dicancang buat disembelih keesokan harinya. Bahkan kegiatan sesadis dan sesepele -menyembelih hewan kurban- aja rasanya asik dan nggak mau ketinggalan. Atau paling absurd lagi: bercandain temen pake jokes 'kayak kambing'.

Jokesnya gini : misalnya gue punya temen namanya Tejo.

Gue : (deketin kambing) Tejo kayak??
Kambing : Embek...
Sekomplek : Hahahahaha...

Krik krik...
Garing.
Tapi percayalah, guyonan itu lucu pada waktu dulu.

Beda banget sama sekarang. Tahun ini, tepatnya kemarin, saat Hari Raya Idul Adha gue cuma diem di kamar kos, sendirian. Cuma ditemenin tv yang nayangin film animasi Upin Ipin. Semakin miris ketika gue sadar akan satu hal : Upin Ipin hidupnya rame, asik. Cerah ceria setiap hari. Mereka masih kecil, mereka hidup bodo-amat yang penting seneng-seneng sama temen, yang mereka tau adalah main, main, dan seneng. Udah.

Gue bisa aja pulang kampung, ngerayain Idul Adha di rumah bareng keluarga. Tapi hari Jumat masih tetep ada kuliah, jadi nggak bisa pulang kampung dulu. Dan ada perkataan temen gue yang bikin gue sadar akan hal "Makin tua, hidup makin nggak asik".

Gue : Gue pengen pulang ah. Pengen liat kambing disembelih.
Temen : Yaelah alay banget ngeliat kambing disembelih sampe pulang kampung segala.
Gue : ...

Makin tua, hidup makin terbatas. Makin tua, makin banyak aturan. Makin tua, hal sepele yang nyenengin dikatain alay.

---

Gue sedang duduk di kereta api kelas ekonomi sore ini. Bau keringat penumpang di sebelah jadi parfum pengharum. Berisiknya obrolan penumpang sebelah jadi latar belakang musik mengiringi perginya matahari ke ufuk barat. Nggak banyak yang bisa dilakuin. Kegiatan yang paling lumayan hanya menjadi saksi matahari tenggelam dan menulis isi pikiran di blog ini. Suntuk.

Diantara berisiknya suara di dalam kereta, terdengar lagu anak-anak dinyanyikan. Suara khas anak-anak. Dua anak. Keras, percaya diri, lantang. Tidak peduli dengan yang lain. Setelah lagu Naik Kereta Api selesai, mereka tertawa lepas. Kemudian lanjut ke lagu-lagu yang lain tanpa ada jeda.

Seketika itu juga kalimat pertama dari tulisan ini menggema lagi.

Makin tua, hidup makin nggak asik.

Gue pengen kayak mereka. Bernyanyi sesuka hati, bahagia naik kereta, tertawa lepas melihat pantai utara pulau Jawa. Gue pengen kayak mereka.

Tapi coba kalo gue nyanyi-nyanyi sendiri kenceng dengan suara false di kereta kayak gini? Bukannya bahagia malah dikeroyok massa. Dibilang ganggu kenyamanan penumpang lain atau paling ringan; mendapat tatapan sinis penumpang lain.

Gue masih terus memandang matahari yang mulai tenggelam dari balik jendela kereta. Lagu anak-anak itu masih terus dinyanyikan. Sekarang malah semakin kencang. Seakan nggak peduli dengan wajah-wajah lelah orang dewasa di sekitarnya, wajah-wajah rindu masa bahagia waktu kecil, anak-anak itu terus bernyanyi.

Btw, Selamat Ngerayain Idul Adha, ya.

Picture : https://horrorpediadotcom.files.wordpress.com

Teman