Tampilkan postingan dengan label 2016. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2016. Tampilkan semua postingan

21 Juli 2019

6

Nekat ke Karimunjawa Cuma Bawa 400 ribu!

Kamis tengah malam itu, di saat orang-orang tidur nyenyak, gue dan tujuh teman sedang bersiap untuk berangkat ke Karimunjawa hanya dengan modal nekat tanpa persiapan matang. Jam 1 dini hari kami berangkat dari Semarang menuju Pelabuhan Kartini Jepara dengan mengendarai empat motor matic. Dinginnya udara tengah malam kerasa sampai ubun-ubun. Brr!

Kami sampai di Pelabuhan Kartini Jepara jam 4 pagi untuk selanjutnya menyebrang ke Pulau Karimunjawa. Kapal Siginjai yang akan menyebrangkan kami berangkat jam 6 pagi. Ada waktu tunggu 2 jam, gue gunain untuk tidur di salah satu warung di pelabuhan.
Setelah membeli tiket kapal seharga Rp57.000,- untuk penumpang (update 2018: Rp72.000,-) dan Rp25.000,- untuk tarif motor (update 2018: Rp27.000,-), jam 6 pagi kami naik ke Kapal Siginjai kelas ekonomi.

Secerah itu cuy cuacanya!

Ini tiket gue waktu itu. Agak kesel sih, gue ditulisnya "laki-laki". Mau protes juga sia-sia.
Perjalanan menggunakan Kapal Siginjai yang memakan waktu 4-5 jam ini kami gunakan untuk berfoto di beberapa spot menarik di atas kapal dan berkenalan dengan bule.

Sekitar jam 10 siang kami menginjakkan kaki di Pulau Karimunjawa dan langsung lanjut mencari masjid untuk solat Jumat. Sementara temen-temen cowok gue solat Jumat, kita-kita 4 orang cewek mencari penginapan.

Banyak tawaran penginapan dari warga sekitar. Mereka menyewakan rumahnya untuk dijadikan penginapan dengan fasilitas seadanya tapi harganya juga murah banget! Akhirnya kami memilih menginap di rumah warga yang memang disewakan untuk turis dengan harga Rp80.000,- per kamar untuk satu malam. Kami menyewa dua kamar untuk dua malam. Satu kamar diisi 4 cowok dan satu kamar lain untuk 4 cewek. Jatuhnya, per-malam, satu orang kena tarif Rp20.000,00. Murah kan?!

Setelah mandi dan membersihkan diri dari debu-debu jahat Semarang-Jepara, kami mencari makan siang di pinggir jalan dengan harga 10.000-an dan menuju ke Bukit Joko Tuwo untuk menikmati sunset. Tarif memasuki Bukit Joko Tuwo hanya Rp10.000,00 waktu itu. Bukit Joko Tuwo ini punya beberapa spot untuk dikunjungi. Kita harus menaiki anak tangga untuk menuju ke spot-spotnya. Kami memilih spot paling dekat karena waktu yang mepet.


Sunset cantik dengan background pulau-pulau kecil di sekitar Karimunjawa. Surga dunia!
Keesokan harinya, pagi hari kami mencari persewaan peraahu dan alat snorkeling untuk bersnokel ria di pulau-pulau sekitar Karimunjawa. Setelah mencari dan menawar, akhirnya kami mendapatkan kapal plus alat snorkeling plus guide plus solar plus makan siang dengan harga Rp100.000,- per orang.

Kami mengunjungi beberapa pulau seperti Pulau Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Kecil, dan Tanjung Gelam. Di Pulau Menjangan Besar kami menikmati adrenalin dengan masuk ke kolam yang penuh dengan hiu di tempat penangkatan hiu. Seharusnya pengunjung harus membayar tiket masuk Rp40.000,- . Tapi karena gue berhasil sepik-sepik bapak syahbandar Karimunjawa, kami pun gratis masuk penangkaran hiu ini. Hahaha.

Terlihat tenang padahal deg-degan gais
Snorkeling di sekitaran Pulau Menjangan Kecil dan Tanjung Gelam adalah hal yang nggak bisa gue lupain. Airnya tenang, bersih, dan karangnya bagus-bagus. Dari atas perahu gue bisa melihat karang-karang di bawah air karena karang disini cuma ada di kedalaman setengah meter. Gue beruntung juga karena waktu itu buln Agustus air laut masih surut. Selama snorkeling pantat gue sering kena karang juga. Tapi buat kalian yang mau liburan kesini hati-hati ya. Jangan sampai ngerusak karang.


Cantik banget gak sih?!
Setelah puas dengan snorkeling di beberapa spot underwater dan menikmati sunbath di Tanjung Gelam dengan pasir putihnya, kami kembali ke Pulau Karimunjawa jam 4 sore. Kami langsung menuju ke Bukit Joko Tuwo lagi untuk mengunjungi spot yang lebih tinggi dari sebelumnya dan menikmati sunset. Spot ini namanya Bukit Cinta.

Landmark Karimunjawa yang terkenal itu uwuwu

Malamnya, kami menikmati seafood di Alun-alun Karimunjawa yang penuh dengan pilihan makanan. Sebagai pecinta seafood berkantong tipis, gue benar-benar excited. Banyak banget pilihan seafood dan harganya murah. Gue cuma menghabiskan uang sekitar Rp25.000,- untuk makan seafood disini.

Penjual seafood di Alun-alun Karimunjawa menjual ikan, udang, lobster, dan lain-lain dalam keadaan mentah bahkan masih hidup. Kami bisa memilih sendiri hasil laut apa yang ingin kami makan dan si penjual akan segera mengolahnya menjadi masakan yang enak sesuai keinginan. Jadi benar-benar segar seafood di Alun-Alun Karimunjawa ini.

Minggu pagi jam 5 kami harus segera menuju dermaga untuk kembali ke Jepara dengan Kapal Siginjai. Harga tiket kapal sama dengan ketika kami berangkat.

Minggu siang gue dan teman-teman sampai di Jepara dan langsung pulang menuju ke Semarang dengan membawa pengalaman traveling yang menyenangkan dan kulit yang menghitam. Gue nggak masalah. Karena menghitamnya kulit ini sebagai bukti bahwa gue sudah pernah dan menikmati shirt trip di Karimunjawa.

Untuk trip Karimunjawa ini gue cuma menghbiskan uang Rp430.000,- aja. Rp30.000,- gue pakai buat beli celana pantai di Alun-alun. Hehe.

Gue selalu punya rencana kembali lagi ke Karimunjawa meskipun belum tau kapan. See you again Karimunjawa!

27 Januari 2017

29

Lima Film Indonesia 2016

Film Indonesia sekarang ini lagi giat-giatnya berkembang. Lari mengejar banyak ketinggalan mulai dari teknis, cerita, dan pemainnya. Dan hasilnya pun keliatan setiap tahun. Film Indonesia mengalami banyak peningkatan. Mulai dari musnahnya oknum tetek nongol di film horor, sampai ketatnya distribusi film yang bikin film Indonesia nggak ada di ganol.

Tahun 2016, gue nggak banyak nonton film di bioskop. Nggak sebanyak tahun 2015. Faktornya jelas: anak kuliah, jarang ada waktu dan nggak ada duit. Tapi, ada beberapa film Indonesia yang gue tonton di 2016 dan unforgetable. Entah itu jelek, bagus, atau apa. Pokoknya masih nyangkut aja dipikiran.


Lima film Indonesia 2016 yang berkesan menurut gue adalah :

1. Hangout

Jelas ini adalah film yang nggak terlupakan. Yaiyalah orang baru kemarin. Film Hangout adalah film garapannya Raditya Dika yang dia bikin sendiri ceritanya, dia yang nyutradarain, dan dia juga yang main. Seperti biasanya. Dan menurut gue, caranya itu udah mulai membosankan. Membosankan dalam artian: gue pengen Radit ngeubah caranya dia bikin film. Kayak misalnya dia yang nulis dan sutradara, tapi dia nggak main. Atau sebaliknya. Pasti bakal beda.

Film Hangout, katanya, beda dari film komedinya Raditya Dika yang lain karena genrenya bukan romance. Doi kan kalo bikin film seringnya romance, cinta-cintaan lucu gitu. Emang sih beda. Komedi dikemas dengan cerita horor thriller-petualangan (gue nggak paham), bukan Raditya Dika banget. Bagus, beda dari sebelumnya. Tapi cara dia berkomedi masih "Raditya Dika" banget dan gue nggak suka endingnya, yang menurut gue kayak sinetron.

Secara keseluruhan, film Hangout masuk kategori keren, bagus. Tapi gue secara pribadi bosen dengan film Raditya Dika. Entah karena dia terlalu cepet bikinnya jadi setiap film ya mentok nilainya 8 terus. Nggak pernah 9 atau 5. Atau memang gue bosen sama "Raditya Dika" yang itu-itu aja.

2. Ada Apa Dengan Cinta 2

Film bombastis yang bikin Gereja Ayam dipenuhi pengunjung tiap hari. Film yang berhasil bikin banyak orang baper. Film yang berhasil bikin parodi "kamu jahat" bejibun di instagram.

Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah film yang amat sangat ditunggu-tunggu setelah sequel pertamanya tahun 2002. Dari AADC 1 ke AADC 2 doang butuh waktu 14 tahun. Dari Cinta Fitri belum nongol sampe udah tamat. Dari yang dulunya nonton AADC masih sekolah sekarang udah punya anak. Gila lama banget kan 14 tahun, makanya pas AADC2 keluar heboh banget Indonesia.

Menurut gue, AADC2 itu terlalu maksain. Maksain karena AADC pertama adalah film yang sekali kelar, nggak pake sequel. Tapi gara-gara banyak yang kangen AADC2 terutama Rangga-nya dan banyak yang haus akan film happy ending, akhirnya AADC2 dibikin dan finally happy ending.

Gue suka cara Riri Riza menyampaikan cinta lama bersemi kembali di Ada Apa Dengan Cinta 2. Nggak mainstream. Tapi gue benci Rangga. Seenaknya masuk lagi di kehidupan Cinta dan mengambil hati Cinta lagi. Nggak enak sob jadi Trian. Nyeseknya bakal bertahun-tahun itu pasti.

3. My Stupid Boss

Jujur, gue nonton film ini nggak enjoy banget. Gue waktu itu nonton rame-rame bareng temen kampus. Ramenya mereka pas nonton kali bikin mood anjlok. Jadi nggak kebawa di dalam film itu. Setiap "kelucuan" yang ada di My Stupid Boss rasanya garing.

Di luar feel yang gue rasain saat nonton My Stupid boss, gue salut sama Ade Gimbal sebagai penata artistiknya. Kalo diperhatiin, warna gambar film My Stupid Boss itu hijau-merah-kuning. Kostum, setting, dan color gradingnya dibikin seirama. Selama gue nonton My Stupid Boss, gue merasakan suasana natal. Merah-ijo. Hahaha. Keren. Jarang ada film Indonesia yang berani ambil tema tegas gitu buat pewarnaan gambarnya.

Kemarin gue sempet nonton film My Stupid Boss lagi di rumah dengan mood yang lebih baik dan ternyata lucu abis. Upi sukses bikin filmnya sempurna. Film yang digarap Indonesia-Malaysia.

4. Nay

Kalo film yang satu ini udah jelas ya, amat sangat bikin gue jatuh cinta. Gue jabarin di satu postingan penuh. Silakan baca lagi atau silakan baca kalo kalian belum baca.

5. Prenjak

Mungkin banyak yang nggak tau film keren yang satu ini karena memang film Prenjak nggak beredar bebas di bioskop.

Film Prenjak adalah film pendek garapan anak Jogja yang sekolah film di IKJ, Wregas Bhanuteja dan sempat diputar di Cannes Film Festival 2016 di Perancis. Film Prenjak juga mendapat penghargaan piala citra sebagai film pendek terbaik.

Film ini jelas keren banget. Gue nonton di pemutaran film pendek di Semarang waktu itu. Wregas mengangkat cerita kuno asli Jogja tentang wanita penjual korek api dengan harga yang sangat mahal. Film ini sangat berani menurut gue, karena jarang ada film Indonesia yang mengekspose bagian tubuh manusia. Makanya film ini nggak mungkin beredar bebas gitu aja.

Wregas berhasil mengangkat isu kehidupan sulit yang saat ini dialami banyak masyarakat Indonesia dengan caranya yang nggak gamblang. Tersirat. Cakep. Dekat sama masyarakat.

Gue suka film-film garapannya Wregas. Meskipun dia kuliah di Jakarta, dia tetep mengangkat cerita Jogja sebagai premisnya. Kayak di film pendeknya yang berjudul Lemantun. Film tanpa klimaks secara visual tapi klimaks di feeling. Tai banget udah ini film. Hahaha.

Oke. Kelar. Menurut gue postingan ini terlalu panjang meskipun udah sebisa mungkin kalimatnya gue bikin singkat padat.

Yap. Itu adalah lima film Indonesia di 2016 yang masih nyantel di ingatan gue. Kalo kalian, coba dong sebutin lima film di 2016 yang masih nyantel filmnya sampe sekarang?

Terakhir, gue berharap La La Land nggak maksain bikin sequel juga. Mentang-mentang sad ending, dibikin happy ending. Kan nggk lucu juga kalo ada sequel La La Land ntar judulnya Tinky Winky Land, Dipsy Land, dan Po Land.

Teman