Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

27 September 2022

0

[Review Film] Miracle in Cell No. 7 - Nontonnya di Bioskop, Pikirannya di Rumah

Ada satu pertanyaan yang memiliki jawaban berbeda untuk setiap orang; siapa bapak terbaik di dunia?

Jawaban gue jelas bapak gue. Jawaban kalian, tetangga kalian, pasti beda.

Saat akan menonton film ini, gue sudah mewanti-wanti diri bahwa akan menangis dan harus siap dengan kacamata berembun. Dari sinopsis dan reviewnya aja, sudah jelas bahwa film garapan Hanung Bramantyo yang merupakan hasil remake film Korea ini akan memaksa emosi penonton pecah keluar dengan mengangkat isu hubungan anak dengan ayahnya.

Miracle in Cell No. 7 menceritakan kisah hubungan romantis ayah Dodo dan anak perempuannya, Kartika, yang diperankan oleh Vino G Bastian dan Graciella Abigail/Mawar De Jongh. Dodo merupakan seorang penjual balon baik hati dan memiliki keterbatasan mental. Ia seorang diri merawat putri cantiknya sejak ditinggal isterinya meninggal. Suatu hari, Dodo mendapat musibah berupa fitnah yang mengharuskannya masuk penjara dengan hukuman mati. Namun dengan segala upaya, Dodo hanya ingin selalu bersama Kartika, anaknya.

Dodo hanya ingin selalu bersama Kartika, anaknya. Kurang relate apa sama ayah-ayah kita di kampung sana hey?

Saat menonton film Miracle in Cell No. 7, gue malah berasa nonton film indie. Warna dan vibesnya yang disuguhkan selama 2,5 jam kental banget nuansa festival filmnya. Sound-sound yang dipilih di film ini juga jos banget menurut gue. Hanung berhasil narik keluar air mata gue dengan syair Al'Itiraf di dalam film. Gemetar dan rasanya pengen mudik, peluk nenek di kampung.

Di luar teknis film yang menurut gue ok banget, ada hal yang ramai dikritik netizen Indonesia, yaitu soal proses hukum yang dijalankan oleh ayah Dodo untuk memperjuangkan keadilan. Kata orang prosesnya nggak tepat dan nggak sesuai sama aturan di lapangan. Menurut gue, itu nggak masalah.

Ya, namanya juga film. Ada beberapa hal yang nggak perlu sesuai dengan dunia nyata.

Ayah Dodo dibantu oleh beberapa napi dalam sel dan kepala sipir (Denny Sumargo) berusaha untuk membuatnya bebas dan membuktikan kalau dia nggak bersalah. Alih-alih memilih hal itu, Dodo malah memilih tetap mendapat hukuman dan memastikan bahwa Kartika selamat. Di kacamata Kartika, ayahnya jahat karena nggak pengen ketemu dia lagi.

Persis apa yang dilakukan ayah kita, kan?

Ayah mati-matian melakukan apa pun untuk membuat anaknya aman dan bahagia. Meskipun kadang, dari point of view kita, yang ayah lakukan menyebalkan.

Di tengah-tengah film, gue jadi inget banyak hal yang bapak gue lakukan untuk kebahagiaan gue sejak kecil sampai sekarang. Air mata gue netes beberapa kali bukan karena filmnya. Melainkan karena pikiran gue di rumah, di momen-momen dimana gue mendapati bapak melakukan hal-hal untuk membahagiakan gue, tapi gue nggak menghargai hal itu karena gue nggak melihatnya langsung.

Gue sadar, terlalu banyak momen dimana gue melewatkan ucapan "terima kasih" atas usaha yang bapak lakukan.

Gue membayangkan andaikan hidup gue adalah sebuah film bioskop dan gue adalah penontonnya, gue pasti akan melihat banyak hal baik yang bapak lakukan, seperti apa yang dilakukan ayah Dodo ke Kartika tanpa dilihat oleh Kartikanya sendiri.

Hal-hal kecil yang bapak lakukan seperti memotong rambut gue dengan model-model lucu (paling favorit memotong poni gue selurus penggaris besi), menjahitkan gue pakaian dengan mesin jahit andalannya, membelikan alat musik tiup pianika merek Yamaha secara mendadak untuk kelas seni musik saat gue SD, tiba-tiba muncul di kepala saat gue menonton film ini.

Lagi-lagi gue gagal menahan air mata untuk nggak jatuh.

Vino G Bastian berhasil memerankan sosok ayah yang mencintai anaknya meskipun dengan segala kekurangan yang ia miliki. Sosok ayah Dodo juga berhasil membawa gue dan penonton lainnya melempar jauh pikiran masing-masing ke rumah dan membayangkan jika yang ada di layar bioskop itu adalah ayah kita yang sudah melakukan apa pun untuk anak-anaknya.

Film ini cocok ditonton bareng keluarga karena akan membuat kita bermuhasabah bersama. Film ini kurang etis ditonton bersama gebetan karena keluar dari bioskop, muka kalian pasti akan sedikit berantakan karena mata sembab.

Buat yang belum nonton, gih tonton! Ajak ayah kalian, pegang tangan ayah kalian saat nonton film ini. At least, dia tau kalau anaknya sayang sama dia.

-

Akhirnya gue nulis lagi setelah sekian lama. Thank you yang udah baca sampai selesai. Komen yuk, gimana pendapat kalian tentang film Miracle in Cell No. 7 ini atau cerita tentang pengalaman bersama ayah juga boleh!

Follow instagram gue di @farihikmaliyani dan mampir ke YouTube gue yaa!

25 April 2019

24

Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Pembangunan tol trans Jawa, tol trans Sumatera, pembangunan di daerah perbatasan Kalimantan - Malaysia, pembangunan bandara di Papua, pembangunan puluhan waduk, pembangunan-pembangunan lain seantero Nusantara, dan kemarin opening ceremony Asian Games 2018 yang wah banget, bikin gue bergumam sendiri di bulan Agustus ini:

Indonesia sudah hebat ya, di ulang tahun 73 ini. Gue bangga.


Sumber: google
Wishnutama berhasil menyuguhkan pertunjukkan kelas internasional di Opening Ceremony Asian Games 2018 kemarin. Semua detail dari awal sampai akhir menurut gue juara. Termasuk bagian Jokowi muncul menggunakan motor Yamaha FZ1.

Namun, gumaman bangga gue itu nggak bertahan lebih dari 24 jam. Sehari setelah opening ceremony Asian Games, ketika di instagram banyak akun yang memposting kemeriahan opening ceremony Asian Games 2018, makhluk-makhluk seperti ini bermunculan :

Asal ngetolol-tololin pemimpin aja lo dasar sedotan pop ice!
Kesel gue. Kemunculan Presiden Jokowi dengan motornya itu bukannya diapresiasi karena susah bikin konsep karya yang kayak gitu apalagi bareng kepala negara, eh malah dinyinyir. Huhu, pengen nampol pakai knalpot rasanya.

Di bagian pembukaan ceremony kemarin, Jokowi muncul dengan motor Yamaha FZ1 dan ada beberapa atraksi menarik dengan motornya itu. Jokowi digambarkan dalam video pembukaan meliuk-liuk di jalanan dan yang paling wow ada adegan terbang dengan motor harga ratusan juta tersebut.

Gue sangat apresiasi banget konsep video Wishnutama yang berani menggandeng Jokowi dengan segala kesibukannya sebagai presiden dan melahirkan video Jokowi mengendarai motor paspampres yang epic ini. Namun, makhluk-makhluk yang ketika bayi minum susu basi kembali bermunculan:
Artis-artis film action penipu dong mba? :(
Terus lo pikir Angling Dharma terbang pakai elang itu bukan tipuan?! T_T
Boleh nampol nggak mas?
YA ITU JELAS BUKAN JOKOWI LAH MBLEGENDES!

Seorang Presiden Republik Indonesia masa harus terbang pakai motor, belak-belok di jalanan buat bikin video. Sedangkan selama ini makanan presiden aja dijaga ada koki khususnya, jalan-jalan ke mall dikawal. Masa iya dibiarin gitu aja naik motor sembarangan di jalanan? Mbok mikir!

Huhu mbanya dulu dikasih ASI nggak sih sama ibunya? :(
Si Dwayne Johnson yang badannya segede itu aja kalau main film action pakai stuntmant. Atau jangan-jangan mereka selama ini mikir kalau Chris Hemsworth di film Thor, Emma Watson di film Harry Potter, itu semua 100% real mereka? Tanpa stuntman di adegan-adegan 'berbahaya'?

BENSIN MANA BENSIN?!!

Kalau memang begitu pemikirannya, cuma ada 2 kemungkinan: sutradara film sukses bikin filmnya 100% nggak ketahuan bagian stuntmannya atau mereka benar-benar bodoh.

Gue juga heran mas. Tos dulu kita samaan!

Yap. Stuntman yang dipakai di adegang motor Jokowi adalah stuntman dari Thailand namanya Saddum. Alasannya apa pakai stuntman dari Thailand gue nggak tau. Gue sudah mencoba googling nyari kenapa pakai stuntman Thailand, belum nemu alasan yang jelasnya.

Nih fotonya Bang Saddum. Sumber: Tribunnews
Indonesia padahal punya free styler motor yang bisa jadi stuntman yang bisa dibilang juga lebih bagus. Sebut aja Wawan Tembong. Dia merupakan free styler motor gitu yang beberapa kali memenangkan kompetisi free style motor yang Saddum disana juga ikutan.

Berpositive thinking, mungkin ada alasan lain yang kita belum tau alasannya apa.

Diluar dari itu semua, gue berharap banget masyarakat Indonesia berpikir jernih. Memang suhu politik Indonesia lagi panas-panasnya, tapi tolong itu jangan sampai bikin otak kira hangus dan akhirnya nggak bisa lagi buat mikir.

Jangan mendadak bodoh hanya karena benci terhadap sesuatu.

Jangan apa-apa disangkutpautkan dengan politik, pencitraan, dan tetek bengeknya. Capek adek bang, itu mulu yang dibahas.

Opening ceremony Asian Games 2018 yang sudah sedemikian rupa hebatnya, ayo kita apresiasi. Nggak gampang lho bikin karya seni sebagus itu. Dalam seni pertunjukan, film, atau yang lain, pasti disana ada hal-hal yang memang harus dilakukan untuk menunjang ke-epic-annya. Ya contohnya Jokowi pakai stuntman itu tadi.

Semoga para pembaca blog gue ini adalah orang-orang yang cerdas. Yang tau mana karya seni dan mana ranah politik. Yang kalau berkomentar nggak sembarangan. Yang selalu memiliki kejernihan hati dan pikiran ketika memandang sesuatu. Ceilehhh.

Dan kalian harus tau,

Jokowi itu presiden, bukan atlet Tong Setan.

Yang bisa dengan lincah mainin motor seenak jidat.

Sumber: http://taulaa.blogspot.com
Kalimat terakhir itu gue baca di twitter. Tweet dari Renne Nesa aka Makmum Masjid. Gue suka kalimatnya.

Sekali lagi gue ucapkan dirgahayu Indonesia yang ke-73. Semoga semakin dewasa menjadi sebuah negara. Opening ceremony Asian Games 2018 kemarin menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia bisa kok. Bisa berkarya sehebat itu.

Sekarang waktunya kita sebagai warga negara Indonesia yang baik, dukung semua atlet yang berlaga di Asian Games 2018 dan juga mendoakan saudara kita yang terkena bencana di Lombok sana. Nggak ada waktu buat nyinyir.

Thankyou!

Eh, subcribe channel youtube gue yuk! :)

22 Mei 2018

5

[Review Film] Coco - Lee Unkrick, Bikin Nangis di Bulan Ramadan

Setelah menimbang-nimbang hal apa yang akan dilakukan untuk menghabiskan hari Minggu jenuh di bulan Ramadan ini, akhirnya pilihan gue jatuh pada menonton film Coco. Film tahun 2017 yang nggak sempat gue tonton di bioskop dan kata temen-temen gue film bagus ini gue kira film tentang cokelat-cokelat gitu. Ternyata bukan tentang cokelat sama sekali.

https://cinelatinofilmfestival.com.au/films/coco
Awalnya gue meremehkan film Coco. Nggak tertarik sama sekali. Gue pikir film ini sama kayak kebanyakan film animasi lain, bakal ngebosenin apalagi ada bumbu musikal di dalamnya. Tapi ternyata gue salah. Negative thinking gue ke film, salah lagi. Film ini bagus dan berhasil bikin gue nangis di siang Ramadan.

Film Coco menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Miguel yang tinggal di salah satu desa di Meksiko bersama keluarga besarnya yang bekerja sebagai pembuat sepatu. Keluarga Miguel sangat anti terhadap musik. Ini yang jadi masalah, karena Miguel menyukai musik dan ingin menjadi musisi.

Saking antinya terhadap musik, keluarga Miguel akan memarahi siapa pun yang bernyanyi atau pun membunyikan alat musik di sekitaran rumah Miguel. Ketidak suka-an keluarga Miguel terhadap musik bukan tanpa alasan. Penyebabnya adalah kakek buyut Miguel, dulu, meninggalkan keluarga karena ingin mengejar karir sebagai musisi. Dari situlah, keluarga Miguel beranggapan bahwa musik adalah hal yang buruk dan harus dihindari.


Miguel nggak setuju dengan kepercayaan keluarganya yang menganggap musik adalah hal yang buruk.

Yang namanya mimpi harus dicapai ye kan... Miguel tetap ingin menjadi seorang musisi yang hebat seperti idolanya, Ernesto de la Cruz. Miguel berusaha menggapai mimpinya itu dengan sembunyi-sembunyi dari keluarga dan sampai pada akhirnya, dalam perjalanannya menggapai mimpi menjadi musisi, Miguel malah mendapatkan pelajaran hidup bahwa keluarga adalah hal terpenting di hidupnya lebih dari apa pun.

Dalam perjalanan Miguel menggapai impian menjadi musisi, secara tidak sengaja dia dibawa ke alam baka, bertemu keluarga-keluarganya yang sudah meninggal. Petualangan pun dimulai disana.


Gue nangis di bagian akhir. Film ini bener-bener bisa membawa gue masuk ke dunia Miguel, berpetualang bareng Miguel, dan membuat gue sadar bahwa iya, keluarga adalah yang paling penting.

Predikat 'maco' gue luluh lantah di depan film animasi berlatar Meksiko ini. Kurang ajar.

Film Coco mengangkat tradisi Dia de Muertos, yaitu hari peringatan bagi orang-orang yang telah meninggal di Meksiko. Orang Meksiko percaya bahwa di hari peringatan itu, roh anggota keluarga yang sudah meninggal akan mengunjungi rumah mereka jika mereka masih mengingat tentang anggota keluarga yang telah meninggal tersebut.

Alur film Coco ini sederhana, nggak muter-muter. Cocok ditonton untuk semua usia dan semua level kecerdasan.

Lee Unkrick sebagai sutradara berhasil membuat film animasi petualangan yang penuh makna dengan alur sederhana dan benang merah cerita yang sederhana juga. Gue sebagai penonton merasa dibawa ke Meksiko selama 1 jam 49 menit. Musik gitarnya yang khas, budaya Meksiko yang tergambar di setiap scene-nya, dan beberapa pembawaan bahasa Meksiko turut andil bagian menjadi alasan.

Untuk ukuran film animasi dengan target penonton anak-anak dan dewasa, film Coco menurut gue sudah keren. Konflik dan klimaksnya dapet meskipun nggak ribet.

Pesan yang ingin disampaikan melalui film Coco ini gampang dicerna oleh penonton males mikir kayak gue gini.

Cuma satu hal yang menurut gue 'miss' dari film Coco adalah, di bagian endingnya. Ketika semua keluarga kumpul di rumah Miguel, tanpa diceritakan dengan jelas, tiba-tiba mereka punya kucing peliharaan. Padahal sebelumnya nggak punya. Mungkin yang dimaksud sutradara adalah kucing itu sebagai bentuk hidup penjaga roh nenek buyut Miguel di alam baka yang digambarkan sebagai singa terbang. Tapi mungkin untuk beberapa orang bakal bingung, kenapa kucing itu bisa kembali ke dunia manusia yang masih hidup karena nggak diperlihatkan sama sekali di dalam scene.

Over all film Coco bagus dan cocok ditonton kalian bareng ponakan-ponakan. Bagi yang belum nonton, gih buruan nonton. Lumayan buat isi waktu luang sambil menunggu bedug magrib. Yang sudah nonton, gimana pendapat kalian? Coba tulis di kolom komentar.

Btw, selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan. ^^

16 Januari 2018

11

Lima Film Keren 2017

Sebagai mahasiswa yang bersahabat dengan kemelaratan, jelas, gue jarang banget ke bioskop di tahun 2017. Nonton film di bioskop terasa sangat mahal ketika uang jajan habis buat ngeprint tugas akhir dan segala tetek-bengeknya. Tapi beberapa kali, entah karena sedang memiliki uang atau memaksakan diri terlihat memiliki uang, gue nonton film ke bioskop.

Tapi, jaman now, nonton film nggak harus ke bioskop kan? hehe.

Gue ingat, di awal tahun 2017 gue bikin tulisan tentang filmIndonesia 2016 yang paling berkesan. Sekarang masuk 2018, rasanya kurang enak kalau gue nggak bikin tulisan tentang film berkesan di 2017. Tapi kali ini nggak cuma film Indonesia yang bakal gue tulis, film luar juga. So, here they are!


Pengabdi Setan

Film garapan Om Joko yang satu ini emang juara sih. Selain mendapat prestasi dimana-mana, film ini juga sudah melalang buana ke luar negeri dengan judul internasionalnya 'Satan Slave'. Film horor tanpa tetek beterbangan ini istiqomah bergenre horor, bukan horor setengah bokep.

Banyak temen bilang kalau film Pengabdi Setan bagus tapi endingnya jelek. Sedangkan gue malah suka endingnya. Ending kentang-nggak jelas-nggak nyambung-ngeselin gitu, malah bikin greget.
Pengabdi Setan adalah film reboot dari film jadul horor terbaik tanah air dengan judul yang sama. Joko Anwar berhasil membawa penonton ke apa yang dia rasakan saat dulu menonton Pengabdi Setan versi tahun 1980.

Btw, gue sudah mereview film Pengabdi Setan ini di sini. Jadi, langsung klik aja buat baca.

Kartini

Setelah film R.A Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016), Kartini tampil lagi di layar lebar tahun 2017 dengan judul Kartini. Kali ini pemeran utamanya adalah Dian Sastriwardoyo. Gue nonton film ini di bioskop waktu itu karena tertarik dengan trailernya.

Film garapan Hanung Bramantyo ini menceritakan tentang kehidupan sang pahlawan dari bagaimana ia dibesarkan, berjuang melawan adat yang menurutnya itu salah, dan akhirnya harus menyerah pada nasib.

Hasil riset bapak sutradara bertahun-tahun hingga harus ke Belanda segala, terbayar. Film Kartini ini menurut gue lengkap dan cara penyampaiannya juga enak. Penokohan, latar, segala macamnya itu, dibuat kongkret menggambarkan situasi Kartini sebenarnya.

Jujur, gue suka film ini salah satunya karena film ini dibanjiri oleh aktor-aktor top Indonesia: Christine Hakim, Acha Septriasa, Dian Sastrowardoyo, dan idolaqu Reza Rahadian. Tambah lagi ada Djenar Maesa Ayu ikutan main. Beeeeeh! Greget banget! Berasa nonton reuni aktor.

Kalau kalian pecinta film genre biografi gini, kudu nonton film ini deh. Nggak nyesel.

Bad Genius

Gue sebenarnya bukan pecinta film Thailand. Tapi film ini beda dari film-film Thailand lain dan bikin gue jatuh cinta!

Ide dan alur cerita film Bad Genius unik. Film garapan Nattawut Poonpiriya ini mengangkat cerita tentang aksi curang sejumlah murid SMA saat ujian masuk kuliah skala internasional yang terorganisasi dengan baik. Otaknya adalah Lynn, siswi yang sangat cerdas tapi kurang mampu secara ekonomi. Karena diiming-imingi uang yang besar, akhirnya Lynn mengiyakan tawaran Pat dan Grace untuk memberi contekan. Awalnya kongkalikong contekan itu berskala kecil, lama-lama membesar.

Film yang bergenre thriller ini mampu meraup untung lebih dari 100 juta baht dalam 2 minggu penayangannya. Rekor baru di dunia film Thailand. Banyak penghargaan internasional yang diborong film dengan alur twist ini, salah satunya New York Asian Film Festival.WEW.

Yang bikin gue suka sama film ini selain ide dan alurnya adalah cerita di film itu sendiri. Gue nggak kepikiran ngasih contekan teman pas ujian seberkelas itu, gengs. Kalau gue, nyontek jawaban ujian masih dengan cara tradisional: nengok kanan nengok kiri. Nggak kepikiran secerdas Lynn.

Film Bad Genius ini amat sangat di luar ekspektasi pokoknya. Bagus banget! Kapan-kapan gue mau ngomongin film ini di satu postingan sendiri ah...

IT

Film sejuta umat seantero dunia ini beberapa bulan lalu menggemparkan jagad. Dimana-mana orang banyak ngomongin film IT. Instagram, facebook, twitter, ramai film IT. Sampai sekarang badut dan goyangan khasnya masih hits.

Film yang diangkat dari novel Stephen King ini disutradarai oleh Andy Muschietti dan diproduseri oleh Roy Lee, Dan Lin, Seth Grahame-Smith, David Katzenberg dan Barbara Muschietti. Gue nonton film ini karena dibahas dimana-mana dan reviewnya positif, sih. Film dengan anggaran $35 juta ini mampu menembus pendapatan $698,060,882. Gila.

Film yang mengangkat latar tahun 1988 ini menceritakan kisah Bill Denbrough yang kehilangan adik laki-lakinya Georgie saat si adik bermain perahu kertas di waktu hujan. Nggak jelas si adik ini hilangnya kemana dan masih hidup atau nggak. Kejadian anak hilang di Kota Derry sudah berkali-kali terjadi. Bill dan 4 temannya gemas dengan kejadian ini dan akhirnya mencari apa penyebab sebenarnya kasus hilangnya anak-anak di kota mereka. Ternyata pelakunya tidak lain tidak bukan adalah badut nggak lucu bernama Pennywise.

Di luar banyak yang ngomong gara-gara film ini pamor badut menurun dan anak-anak jadi takut sama badut, film ini cocok ditonton buat kalian yang suka film horor. Nggak terlalu nyeremin sih kalau menurut gue, tapi ceritanya bagus. Nggak ketebak. Gue suka.

Blue is the Warmest Color

Sebagai bonus, gue masukin disini film tahun 2013 tapi gue tonton di tahun 2017, Blue is the Warmest Color. Film Perancis bergenre romance yang super keren bin ajaib. Butuh waktu 2 hari buat gue menonton film lesbian berdurasi 3 jam ini. Hahaha.

Judul Perancisnya La Vie d'Adèle (artinya kehidupan Adele). Adele adalah nama pemain utama di film ini. Diperankan oleh Adèle Exarchopoulos, Adele sukses bikin gue jatuh hati sama perannya. Lawan mainnya juga cakep, namanya Emma, diperankan oleh Léa Seydoux.

seksi banget ini posenya
Film Blue is the Warmest Color menceritakan kisah pencarian jati diri seorang siswa bernama Adele dan akhirnya hatinya jatuh ke seorang perempuan berambut biru bernama Emma. Mereka menjalani hidup berdua dengan baik-baik saja hingga nggak jelas apa penyebabnya, keduanya mulai berubah. Sikap dan perilakunya berubah sedikit demi sedikit. Puncaknya, Adele selingkuh dan Emma nggak bisa terima itu. Sinetron banget ya kayaknya. Tapi film ini beneran keren. Ada maksud tersirat yang diceritakan. Apalagi kalau kalian memperhatikan perubahan warna rambut Emma.

Bagian yang gue suka dari film ini adalah ketika Adele menari asik dengan lagu soundtrack film tersebut: I Follow Rivers. Gue jatuh cinta!

Menurut gue ide film Blue is the Warmest Color biasa aja, tapi penyampaiannya yang wow. Kesan yang gue terima setelah nonton film ini mirip yang gue rasain setelah nonton film HER. Apa yang mau disampaikan film pemenang Canes Festival ini nggak gampang dipahami, tapi tersirat. Keren lah pokoknya.

So, itu dia lima film yang gue tonton di 2017 dan berkesan. Kalau kalian, film yang berkesan di 2017 apa aja?

Btw, gue jarang blogwalking akhir-akhir ini karena masih KKN di desa terpencil yang cari sinyal susah. :(

16 Oktober 2017

12

[Review Film] Pengabdi Setan - Joko Anwar

Sekali lagi, ngomongin film horor Indonesia sama dengan ngomongin film bokep. Gue selalu pesimis dan punya stereotipe negatif kalau lihat poster film horor Indonesia di bioskop.

"Halah. Paling juga isinya suster keramas atau suster mandi wajib."

Akhirnya gue nggak pernah mau nonton film horor Indonesia lagi.

Tapi stereotipe itu tanggal 3 Oktober kemarin terpatahkan. Setelah sekian lama nggak nonton film horor Indonesia (kayaknya yang terakhir film Badoet deh), akhirnya gue nonton juga dan literally impressed with that movie. Yap, film Pengabdi Setan, karya Joko Anwar.

Awalnya gue sama sekali nggak tertarik dengan judul film Pengabdi Setan. Gue pikir alay, nggak kekinian, nggak jaman now, terus paling isinya tetek-tetek nggak jelas. Cuma nama 'Joko Anwar' yang bikin gue agak penasaran. Film pendek horor Grave Torture (Silent Terror) menjadi film yang bikin gue jatuh cinta sama si om lulusan Teknik Penerbangan ITB ini dan membuat image "sutradara film horor" secara nggak sadar nempel di kepala gue. Tiap denger nama "Joko Anwar", ingetnya setan.

Masa iya Joko Anwar bikin film horor ada teteknya? Nggak mungkin. Pasti ini film bagus.
Pikir gue.

Ditambah lagi temen gue bilang, "Rih, lo harus nonton Pengabdi Setan! Harus! Filmnya keren banget!"


Film Pengabdi Setan (2017) adalah film re-make (Joko Anwar lebih suka bilang 'reboot') dengan judul yang sama di tahun 1980. Film Pengabdi Setan tahun 1980 garapan almarhum Sisworo Gautama Putra sukses menjadi film horor terbaik di masa itu dan berhasil menembus pasar film Internasional. Nggak heran sih, karena Sisworo Gautama Putra menurut gue emang spesialis film horor. Lebih dari 12 judul film horor sukses disutradarainya. Termasuk beberapa film Suzana.

Film Pengabdi Setan tahun 2017 dan 1980 memiliki premis yang sama: seorang ibu meninggal kemudian arwahnya datang kembali meneror rumah dan keluarganya untuk satu tujuan. Makanya tagline film ini "Ibu datang lagi".

Pengabdi Setan 2017 menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengalami krisis ekonomi setelah sang ibu (Ayu Laksmi) jatuh sakit kemudian meninggal. Keempat anak yang ditinggalkan yaitu Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nassar Anuz), dan anak terakhir Ian (M. Adhiyat). Ibu sebelum sakit adalah seorang penyanyi terkenal di tahun 1980an dengan lagu hitsnya berjudul Kelam Malam. Setelah ibu meninggal, banyak kejadian aneh dan misterius yang terjadi pada keluarga ini. Sampai pada akhirnya mereka menyadari bahwa hal-hal aneh yang terjadi di rumah mereka berhubungan dengan rahasia sang ibu semasa hidup.

Meskipun memiliki premis yang sama, Joko Anwar membuat banyak perbedaan dalam film ini secara teknis dan penyampaian cerita. Misalnya; Pengabdi Setan 1980 tidak menceritakan hubungan anak dengan ibu sebelum meninggal. Scene awal langsung pemakaman sang ibu. Sedangkan 2017 diceritakan dulu bagaimana kondisi sang ibu ketika hidup dan bagaimana hubungannya dengan anak-anaknya.

Untuk teknis, jelas Pengabdi Setan 2017 lebih bagus daripada 1980. Teknologi sudah makin canggih, men. Gue paling suka scene ketika Hendra (Dimas Aditya) wajahnya terseret di atas aspal. Kayak asli. *spoiler*

Menonton film Pengabdi Setan, 107 menit mata gue dimanjakan dengan gambar, warna, dan nuansa kuno yang berhasil Joko Anwar bangun. Kesan tahun 1980an sukses digambarkan dengan baik didukung oleh pernak-pernik seperti jam dinding tua, sumur, telpon rumah, dan motor butut milik Tony. Rumah kosong di Pengalengan, Bandung peninggalan jaman Belanda juga berhasil menjadi ikon utama yang menunjukan kalau cerita di film ini memang terjadi 37 tahun yang lalu. Rumah kuno ini dan segala interiornya bikin gue lupa kalau lagi nonton film Indonesia. Artistiknya gue acungin jempol 4.

Gue bukan orang yang gampang takut dan teriak-teriak ketakutan kalau nonton film horor. Tapi Pengabdi Setan sukses bikin gue deg-degan di bagian awal. Jujur sebelum nonton, gue sudah punya mindset kalau film ini bakal ngeri. Bayangin aja, yang jadi setan ibunya, cuy. Kurang ajar. Sutradara durhaka. Dan beberapa aktifitas yang dekat denga kehidupan gue bikin gue makin masuk ke dalam film. Pemakaman, pocong, kuburan ala Indonesia, tahlilan, sumur tua, semua itu ada di kehidupan asli gue.

Menembus 2 juta lebih penonton hanya dalam 13 hari tayang, Pengabdi Setan masih punya beberapa 'miss'. Beberapa adegan banyak yang nggak nyambung. Aksen bahasa yang digunakan para pemain juga terkesan maksain. Bahasa yang digunakan Bondi dan Rini, nggak cocok. Bapak (Bront Palarae) yang diperankan aktor Malaysia juga kaku dalam berdialog.

Karakter para tokoh kurang kuat digambarkan. Tokoh yang berhasil dibangun cuma Ian, si anak bontot tuna rungu yang menggemaskan dan memberi sentuhan komedi di film ini.

Adegan yang bener-bener bikin gue bingung adalah ketika bapak bilang nggak mau tidur tiba-tiba muncul di layar doi sudah tidur pules aja. Itu...nggak nyambung.

Mulai masuk ending, kengerian film ini mulai berkurang. Setannya dan cara setan itu muncul jadi standar. Klimaksnya malah menurut gue di bagian munculnya Fachry Albar, scene paling terakhir. Beberapa penonton di sekitar gue bilang "apaan banget itu (scene Fachry) nggak nyambung. Bikin jelek." Tapi menurut gue malah itu yang bikin "anjir ini film kampret! Keren!".

But, over all, gue suka film Pengabdi Setan ini. Plotnya, sinematiknya, konsep ceritanya, joss. Untuk kelas film horor Indonesia, Pengabdi Setan ini bisa dibilang keren banget, bisa disejajarkan dengan film The Conjuring lah. Dan yang paling penting, Joko Anwar berhasil bikin gue nggak negative thinking lagi sama film horor Indonesia.

Film Badoet dan Pengabdi Setan, gue rasa bakal jadi titik balik dan titik sadarnya produser atau sutradara film horor Indonesia bahwa: bikin film horor nggak harus ada sentuhan bokepnya.

Gue bakal terus menunggu karya-karya cerdas sutradara film horor Indonesia macem Pengabdi Setan ini. Joss!!

Anyway, gue mulai nulis ini sejak setelah nonton film Pengabdi Setan dan baru hari ini terposting. Sedih. :')

19 Juni 2017

11

[Review Film] The Mummy - Alex Kurtzman


Nonton film di bioskop adalah hal yang akhir-akhir ini sulit untuk gue realisasikan. Sibuk dan nggak ada duit adalah alasan utamanya. Rencana nonton film Fast and Furious 8 sampai film Ziarah, gagal semua. Mungkin baru bisa gue tonton setelah filmnya duet jadi "Fast and Furious Berziarah".

Kemarin, gue dan Sofi, main ke Java Mall dengan niat awal beli Thai tea Dum-dum. Thai tea yang hits banget di Semarang. Setelah beli Thai tea, kita berdua iseng ke bioskopnya, Cinemaxx. Bioskop ini masih baru, belum ada sebulan, makanya kita kepo. Niat awal cuma liat-liat, kita malah kepincut sama dua poster film disana: Zombie Fighters, film Thailand yang masih coming soon dan film The Mummy yang sedang tayang di bioskop.


Tanpa basa-basi, kita nonton film The Mummy. Dadakan. Karena jamnya mepet, kita dapet seat sisa, seat paling depan. Meskipun bola mata serasa nempel ke layar bioskop dan tulang belulang pegel semua, gue tetap berusaha menikmati muka ganteng Tom Cruise di depan mata.

The Mummy adalah film kedua yang disutradarai oleh Alex Kurtzman setelah film People Like Us (2012) dan istimewanya adalah: Alex Kurtzman jadi sutradara, sekaligus penulis (bukan utama), sekaligus produser di film The Mummy ini! BOOM!!

Nama Alex Kurtzman memang sering kedengeran di dunia film. Tapi dia lebih sering jadi penulis skenario atau produser, bukan sutradara. Film The Island (2005) dan Now You See Me 2 (2016) adalah beberapa film yang dia garap. Gue langsung inget, film The Island adalah film sci-fi yang pertama kali gue tonton dan bikin gue jatuh cinta sama film sci-fi sampai sekarang. Ternyata doi yang nulis.

Film The Mummy bercerita tentang Putri Mesir kuno yang hidup ribuan tahun lalu, Princess Ahmanet (Sofia Boutella, aktris Algeria), yang dikubur hidup-hidup setelah mencoba membunuh ayahnya karena berusaha mendapatkan tahta kerajaan. Kemudian, kuburan Princess Ahmanet ditemukan oleh Nick Morton (Tom Cruise), Annabelle Wallis (Jenny Hasley), dan Sgt. Vail (Jake Johnson) pada jaman modern sekarang ini dan menyebabkan mummy Princess Ahmanet bangkit kembali.

Seperti standar film mummy pada umumnya, mummy Princess Ahmanet bangkit dari kematiannya dan belajar giat untuk mengikuti tes SBMPTN. Eh ngaco. Maap. Mummy Princess Ahmanet bangkit membawa dendam kepada umat manusia dan berusaha menguasai dunia. Nick Morton dkk merasa bertanggung jawab atas bangkitnya mummy seksi ini dan berusaha 'menidurkan'nya lagi.

Film berbudget mencapai $125 juta ini merupkan film reboot The Mummy tahun 1999 dari Universal Monsters. Universal Monsters Universe series adalah genre atau pengelompokan film dari Universal Studio yang mengangkat tema horor, setan-setanan, mosnster-monsteran, dan science fiction.


Gue lupa-lupa inget sih sama film The Mummy 1999, tapi ceritanya mirip-mirip gitu. Mengesampingkan jerawat di pipi Tom Cruise yang terlihat jelas di depan mata, secara keseluruhan film ini bagus banget. Berkali-kali gue teriak-teriak sendiri waktu nonton karena saking menegangkannya. Bagian paling menegangkan adalah saat pesawat jatuh. Beberapa detik audio-visualnya bikin ada space kosong di jantung gue. haha. Spoiler.

Meskipun film bergenre mummy kayak gini ceritanya gampang ditebak, tapi alur dan gambar-gambar hasil DOP-nya Ben Seresin ini bikin penonton selalu tegang dan berpikir "abis ini apa nih? abis ini apa ya?".


Ngereview atau ngomongin film kelas hollywood emang susah. Hampir semuanya 100% sempurna. Intinya film The Mummy (2017) visualnya keren meskipun ceritanya membosankan. Beberapa kali scene no sound bikin jantung mencelos terus shock terus sound on lagi. Keren. Visual film The Mummy ini bisa bikin penonton (seenggaknya gue) nggak ngerasa bosen sama film tentang mummy yang "oh paling endingnya begitu".

Note: postingan ini harusnya bisa gue post seminggu yang lalu. Karena kurang dikit tapi gue nggak ngelarin, jadi baru bisa dipost hari ini. PARAH.

27 Januari 2017

29

Lima Film Indonesia 2016

Film Indonesia sekarang ini lagi giat-giatnya berkembang. Lari mengejar banyak ketinggalan mulai dari teknis, cerita, dan pemainnya. Dan hasilnya pun keliatan setiap tahun. Film Indonesia mengalami banyak peningkatan. Mulai dari musnahnya oknum tetek nongol di film horor, sampai ketatnya distribusi film yang bikin film Indonesia nggak ada di ganol.

Tahun 2016, gue nggak banyak nonton film di bioskop. Nggak sebanyak tahun 2015. Faktornya jelas: anak kuliah, jarang ada waktu dan nggak ada duit. Tapi, ada beberapa film Indonesia yang gue tonton di 2016 dan unforgetable. Entah itu jelek, bagus, atau apa. Pokoknya masih nyangkut aja dipikiran.


Lima film Indonesia 2016 yang berkesan menurut gue adalah :

1. Hangout

Jelas ini adalah film yang nggak terlupakan. Yaiyalah orang baru kemarin. Film Hangout adalah film garapannya Raditya Dika yang dia bikin sendiri ceritanya, dia yang nyutradarain, dan dia juga yang main. Seperti biasanya. Dan menurut gue, caranya itu udah mulai membosankan. Membosankan dalam artian: gue pengen Radit ngeubah caranya dia bikin film. Kayak misalnya dia yang nulis dan sutradara, tapi dia nggak main. Atau sebaliknya. Pasti bakal beda.

Film Hangout, katanya, beda dari film komedinya Raditya Dika yang lain karena genrenya bukan romance. Doi kan kalo bikin film seringnya romance, cinta-cintaan lucu gitu. Emang sih beda. Komedi dikemas dengan cerita horor thriller-petualangan (gue nggak paham), bukan Raditya Dika banget. Bagus, beda dari sebelumnya. Tapi cara dia berkomedi masih "Raditya Dika" banget dan gue nggak suka endingnya, yang menurut gue kayak sinetron.

Secara keseluruhan, film Hangout masuk kategori keren, bagus. Tapi gue secara pribadi bosen dengan film Raditya Dika. Entah karena dia terlalu cepet bikinnya jadi setiap film ya mentok nilainya 8 terus. Nggak pernah 9 atau 5. Atau memang gue bosen sama "Raditya Dika" yang itu-itu aja.

2. Ada Apa Dengan Cinta 2

Film bombastis yang bikin Gereja Ayam dipenuhi pengunjung tiap hari. Film yang berhasil bikin banyak orang baper. Film yang berhasil bikin parodi "kamu jahat" bejibun di instagram.

Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah film yang amat sangat ditunggu-tunggu setelah sequel pertamanya tahun 2002. Dari AADC 1 ke AADC 2 doang butuh waktu 14 tahun. Dari Cinta Fitri belum nongol sampe udah tamat. Dari yang dulunya nonton AADC masih sekolah sekarang udah punya anak. Gila lama banget kan 14 tahun, makanya pas AADC2 keluar heboh banget Indonesia.

Menurut gue, AADC2 itu terlalu maksain. Maksain karena AADC pertama adalah film yang sekali kelar, nggak pake sequel. Tapi gara-gara banyak yang kangen AADC2 terutama Rangga-nya dan banyak yang haus akan film happy ending, akhirnya AADC2 dibikin dan finally happy ending.

Gue suka cara Riri Riza menyampaikan cinta lama bersemi kembali di Ada Apa Dengan Cinta 2. Nggak mainstream. Tapi gue benci Rangga. Seenaknya masuk lagi di kehidupan Cinta dan mengambil hati Cinta lagi. Nggak enak sob jadi Trian. Nyeseknya bakal bertahun-tahun itu pasti.

3. My Stupid Boss

Jujur, gue nonton film ini nggak enjoy banget. Gue waktu itu nonton rame-rame bareng temen kampus. Ramenya mereka pas nonton kali bikin mood anjlok. Jadi nggak kebawa di dalam film itu. Setiap "kelucuan" yang ada di My Stupid Boss rasanya garing.

Di luar feel yang gue rasain saat nonton My Stupid boss, gue salut sama Ade Gimbal sebagai penata artistiknya. Kalo diperhatiin, warna gambar film My Stupid Boss itu hijau-merah-kuning. Kostum, setting, dan color gradingnya dibikin seirama. Selama gue nonton My Stupid Boss, gue merasakan suasana natal. Merah-ijo. Hahaha. Keren. Jarang ada film Indonesia yang berani ambil tema tegas gitu buat pewarnaan gambarnya.

Kemarin gue sempet nonton film My Stupid Boss lagi di rumah dengan mood yang lebih baik dan ternyata lucu abis. Upi sukses bikin filmnya sempurna. Film yang digarap Indonesia-Malaysia.

4. Nay

Kalo film yang satu ini udah jelas ya, amat sangat bikin gue jatuh cinta. Gue jabarin di satu postingan penuh. Silakan baca lagi atau silakan baca kalo kalian belum baca.

5. Prenjak

Mungkin banyak yang nggak tau film keren yang satu ini karena memang film Prenjak nggak beredar bebas di bioskop.

Film Prenjak adalah film pendek garapan anak Jogja yang sekolah film di IKJ, Wregas Bhanuteja dan sempat diputar di Cannes Film Festival 2016 di Perancis. Film Prenjak juga mendapat penghargaan piala citra sebagai film pendek terbaik.

Film ini jelas keren banget. Gue nonton di pemutaran film pendek di Semarang waktu itu. Wregas mengangkat cerita kuno asli Jogja tentang wanita penjual korek api dengan harga yang sangat mahal. Film ini sangat berani menurut gue, karena jarang ada film Indonesia yang mengekspose bagian tubuh manusia. Makanya film ini nggak mungkin beredar bebas gitu aja.

Wregas berhasil mengangkat isu kehidupan sulit yang saat ini dialami banyak masyarakat Indonesia dengan caranya yang nggak gamblang. Tersirat. Cakep. Dekat sama masyarakat.

Gue suka film-film garapannya Wregas. Meskipun dia kuliah di Jakarta, dia tetep mengangkat cerita Jogja sebagai premisnya. Kayak di film pendeknya yang berjudul Lemantun. Film tanpa klimaks secara visual tapi klimaks di feeling. Tai banget udah ini film. Hahaha.

Oke. Kelar. Menurut gue postingan ini terlalu panjang meskipun udah sebisa mungkin kalimatnya gue bikin singkat padat.

Yap. Itu adalah lima film Indonesia di 2016 yang masih nyantel di ingatan gue. Kalo kalian, coba dong sebutin lima film di 2016 yang masih nyantel filmnya sampe sekarang?

Terakhir, gue berharap La La Land nggak maksain bikin sequel juga. Mentang-mentang sad ending, dibikin happy ending. Kan nggk lucu juga kalo ada sequel La La Land ntar judulnya Tinky Winky Land, Dipsy Land, dan Po Land.

8 Januari 2017

26

Cewek Tomboy Nggak Boleh Nangis di Bioskop

Pas rambut gue cepak.
"Laki amat lu Rih! Panjangin dikit kek biar kayak cewek."
Pas rambut gue panjang.
"Gondrong amat rambut lu Rih! Kayak abang-abang ojek aja."

Akhirnya gue botak.

Enggak, sih. Enggak botak juga. TAPI KESEL! Salah mulu gue jadi cewek di mata temen-temen.

Lo tau nggak, jadi cewek tomboy itu susah, banyak aturannya. Gue nggak tau siapa yang bikin aturan tersebut, tapi aturan itu ada dan banyak yang meng-iman-i serta mengamalkan aturan tersebut.

Contohnya: cewek tomboy nggak boleh nangis di bioskop.


Jadi waktu itu gue nonton film The Fault in Our Stars saat bulan puasa bareng dua temen gue, Muti dan Tacik. Katanya, sekalian ngabuburit. Gue nggak tau kenapa waktu itu kami bertiga lebih milih nonton film daripada ngaji di masjid.

Kita bertiga nggak ada yang tau film The Fault in Our Stars isinya gimana. Asal nonton doang. Yang kita tau hanyalah: The Fault in Our Stars adalah film luar negeri dan bergenre romance, bukan kuliner. Pas scene adegan ena-ena si Hazel sama Augustus di ranjang, kita bertiga kaget. Kok ada adegan begini??? Reflek, kita saling tatap kemudian jatuh cinta.

Pale lu jatuh cinta!

Kita bertiga bingung. Puasa kami batal apa enggak ya? Nonton adegan ena-ena gini di sore Ramadhan?

Di tengah bingung puasa kami batal atau enggak, kita tetep nonton. Ya kali keluar bioskop terus bilang ke mbak-mbaknya yang jaga, "kita nggak bisa lanjut nonton film porno ini mbak. Nggak bisa!"

Banyak adegan yang menyayat hati di film itu. Gue nggak tau, tapi buat gue adegan Hazel, Augustus, dan Isaac ngelemparin telur ke rumah orang itu nyentuh banget. Adegan itu kayak bilang, "ini lho bahagia kita sesederhana ini.". Gue senyum getir pas nonton bagian itu. HAHA. Padahal bukan adegan sedih tapi gue sedih.

Ya elah Rih.

Gue nangis ketika Augustus harus meninggal. Gue nggak bisa lagi nahan air mata, akhirnya netes juga.

"Rih, lu nangis?" Tacik tiba-tiba nanya.
"Ah, enggak." Gue berusaha nutupin.
"Lu nangis tau! Ih cemen banget sih cewek tomboy masa nangis gara-gara nonton film. Cih!"
"Nggak kok. Gue sedih aja magribnya masih lama."

Makin batal dah gue puasa. Nonton adegan ranjang + bohong.

Terus waktu itu, gue, Sofi, Jay, Resty, Baren, dan Zafar pergi ke bioskop buat nonton Ada Apa Dengan Cinta 2. Perjalanan dari daerah kampus ke bioskop lumayan jauh. 30 menit menggunakan motor. Gue boncengan sama Jay. Kita berdua ditugaskan untuk beli tiket dulu karena yang lain bisanya nyusul. Oke, amanah diterima.

Gue dan Jay ngantri beli tiket. Antriannya panjang bener sampe ke depan bioskop.

Gue: Jay lu bawa duit berapa?
Jay: 60 ribu doang Rih. Lu berapa?
Gue: Sama. Ini gimana caranya 120 ribu buat beli tiket bioskop 6 orang?

Akhirnya kita ngehubungin Sofi, ngomong kalo duit kita kurang. Kata Sofi: lu ngantri aja dulu, gue udah mau sampe ntar pake duit gue beli tiketnya.

Oke. Kita berdua tetep istiqomah ngantri.


Sampe gue dan Jay ada di urutan antrian nomer 2 dari depan, Sofi belum sampe bioskop juga. Mampus. Agar tidak malu mau-beli-6-tiket-bioskop-bawa-duit-120-ribu doang, akhirnya kita berdua melipir keluar dari antrean dan beli tiket beneran ketika yang lain udah dateng.

Akhirnya nonton AADC2 di barisan paling depan. Iya karena tinggal itu doang yang ada. Iya, depan layar persis. Sampe lubang hidungnya Rangga nyolok banget di mata saking deketnya.

Gue nangis deres ketika Cinta pada akhirnya memilih meninggalkan pacarnya, untuk cinta lamanya yang kembali muncul, Rangga. Itu tuh kayak nggak adil banget nggak sih buat si pacar baru? Mungkin di hati sang pacar, "hellooo selama ini lo kemana aja? Gue yang jaga Cinta dan lo dateng ngambil Cinta gitu aja!"

Saat lagi berbaper ria, Resty, yang duduk di sebelah gue nyeletuk, "lo nangis Rih? Ini nggak sedih banget gilak filmnya. Cengeng banget sih lu katanya tomboy?"

"Enggak Res. Sedih aja ini mata gue kecolok lobang idungnya Rangga."

Kalian pikir cewek tomboy nggak punya kelenjar air mata apa gimana?

Gue pernah mendengar kalimat ini, entah dari siapa: 'cewek tomboy itu hatinya lebih lembut daripada cewek yang menye-menye alias feminin'. Dan yap, itu bener, menurut gue.

Gue bisa nangis cuma gara-gara denger lagu Indonesia Raya saat Indonesia vs Thailand. Gue bisa nangis cuma gara-gara liat nenek-nenek jam 6 pagi lewat depan kosan keberatan gendung rumput sekarung penuh. Gue bisa nangis cuma gara-gara ada penjual mainan anak di pinggir jalan yang nggak mau disuruh ambil kembaliannya.

Tapi semua itu seringnya gue tahan pake cengengesan.

Yang paling susah adalah ketika nonton film bareng gebetan yang dia naksir gara-gara gue adalah cewek tomboy.

"Lo nangis?"
"Enggak lah anjir."
"Dih katanya tomboy, cengeng amat."
Terus dia ketawa, ngacak-acak poni yang telah tertata rapi. Uhh.

Cowok bajingan emang.

Nahan air mata di bioskop itu susah woy!

7 Agustus 2016

7

Gue Adalah Riley di Inside Out

Kenapa kebanyakan yang suka film animasi itu anak-anak?

Karena film animasi banyak berisi cerita-cerita fantasi khayalan yang imajinatif. Cocok sama dunia anak-anak yang penuh imajinasi. Sedangkan hidup gue, flat. Makan-tidur-kuliah-makan-tidur-nonton gosip Raffi Ahmad Ayu Tingting. Nggak menarik. Dunia gue nggak penuh imajinasi, makanya gue nggak suka sama film animasi.

Hingga suatu waktu...

Gue diajakin nonton film Inside Out. Awalnya gue menolak, namun karena gue butuh hiburan, akhirnya gue nonton Inside Out. Dan, BOOM! FILMNYA KEREN ABIS!

Keluar dari bioskop rasanya kayak ada yang meledak di diri gue dan gue bergumam sendiri "oh iya ya, bener juga."

Si pengendali emosi lagi megang setir di kepala Riley
Film Inside Out menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Riley dan dunianya yang sangat menyenangkan. Tapi yang disorot di film ini bukan tentang hidupnya Riley itu, melainkan isi kepala Riley.

Isi kepala Riley adalah lima karakter emosi yang mengendalikan mood Riley. Mereka adalah Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Sesuai namanya, Joy adalah si pembuat Riley bahagia, Anger yang bikin Riley marah, dan lainnya sesuai nama mereka.

Lima karakter itu ada juga di kepala orang lain seperti mama dan papa Riley. Diantara lima pengendali mood itu, setiap orang punya satu emosi yang dominan di kepalanya. Kayak misalnya Riley yang dominan dikendaliin sama Joy, hidupnya lebih banyak bahagia. Mama Riley yang banyak dikendaliin Sadness, hidupnya melo-drama-Korea .

Lima emosi itu juga mengatur memori ingatan di kepala Riley. Ingatan yang diinget digambarkan sebagai bola menyala warna-warni sesuai lima warna emosi di kenangan yang Riley. Kenangan sedih, bola memorinya berwarna biru. Kenangan ketakutan, bolanya warna ijo. Gitu. Dan, di kepala Riley bola yang paling banyak adalah warna kuning, Joy, memori kebahagiaan.

Gue jadi mikir, kalo gue adalah Riley, emosi apa yang dominan megang setir di kepala gue selama ini dan memori apa aja yang paling menyala di kepala gue. Gue kemudian flashback beberapa memori yang gue inget dari kecil sampe sekarang.

Memori warna merah, anger.

Anger itu mungkin dari kata "angry" ya, artinya marah. Ingatan saat gue emosi atau marah. Bisa dibilang gue jarang marah. Tapi ketika gue marah, gue nggak bisa ngendaliin. Kayak misalnya waktu kelas 3 SMP.

Waktu itu, saat jam istirahat, gue lagi duduk-duduk santai di depan kelas. Kemudian, temen gue, Ida, bercandain gue dengan menarik gue ke belakang yang mengakibatkan gue jatoh. Pantatnya doang sih kena lantai. Tapi nggak tau kenapa gue marah banget. Terus tanpa ngomong apapun gue tarik Ida ke dalem kelas, gue remas kerah seragamnya si Ida, abis itu gue dorong atau tonjok dia (gue lupa) di depan kelas dan diliatin temen-temen yang ada di dalem kelas. Terus gue pergi gitu aja.

HAHAHA. Awkward.

Memori warna ijo, jijik.

Jijik. Apa ya? Entah apa ini jijik atau takut, tapi gue punya pengalaman nggak-sengaja-megang-kaki-tokek-di atas-pohon.

Jadi gue waktu SD pernah manjat pohon kersen buat ngambilin buahnya. Gue manjat dan ada temen gue yang nunggu di bawah. Saat lagi enak metikin buah di atas pohon, nggak sengaja tangan gue megang sesuatu yang hangat, empuk, dan agak kasar. Setelah gue liat, ternyata gue megang sebuah kaki warna biru motif orens. Pas gue sadar itu kaki tokek, gue langsung loncat dari atas pohon langsung ke bawah. Nggak peduli patah kaki atau landing di kepala temen.

Sampe di bawah gue liat ke atas dan bener. Itu tokek gede banget dan ganti warna jadi cokelat keiteman. Gue langsung ambil sepeda dan gowes ngebut ke rumah. Temen gue heran karena gue shock nggak ngomong apa-apa. Sampe rumah gue masuk kamar dan selimutan. Badan gue gemeter dua sampe tiga hari kalo inget kaki tokek yang gue pegang itu. Sampe sekarang masih kebayang warna kakinya.

Memori warna ungu, fear, takut.

Waktu itu gue kelas 1 SMP. Pelajaran fisika, gue duduk di kursi terdepan. Temen gue, kalo nggak salah Intan namanya, punya HP baru. Nokia flip warna putih-merah dan ada musiknya. Jaman dulu HP ada MP3nya udah mewah banget anjir. Hahaha.

Gue pinjem HP temen gue itu buat dengerin lagu lewat speaker, tanpa headset. Tiba-tiba guru fisika dateng. Semua langsung panik duduk di bangkunya masing-masing, karena guru itu terkenal killer. Namanya Bu Isdiana. Seketika kelas menjadi hening, hanya langkah kaki Bu Isdiana yang terdengar beradu dengan lantai kelas. Kemudian, muncul suara kampret bin sialan:

"kau membuat ku berantakan... kau membuat ku tak karuan... kau membuat ku tak berdaya, kau menolakku, acuhkan diriku..."

Kampret! HPNYA INTAN MASIH NYALA, D'MASIVE MASIH BERDENDANG, DAN ITU ADA DI LACI MEJA GUE!

Takut banget rasanya pas Bu Isdiana menghamipiri meja gue dan mengambil HP yang lagi asik bersyara itu. Tanpa ngomong apa-apa, beliau masukin HP mewah nan malang itu ke saku bajunya. Setelah itu gue dimarahin Bu Isdiana di kantor guru, di depan para guru yang lagi makan siang.

Memori warna biru, sadness.

Mungkin warna ini yang terbanyak di kepala gue. Gimana enggak? Nonton film Kabhi Khushi Kabhi Gham berulang-ulang aja mata gue masih berkaca-kaca. #TomboyStyleFailed

Mungkin memori sedih yang bisa gue ceritain adalah ketika gue kehilangan kelinci gue pas SD.

Jadi waktu itu, gue dikasih kelinci sama saudara, namanya Mbak Giyarsih. Dua kelinci putih itu belum sempet gue namain. Mereka tinggal di kotak kardus di teras rumah. Setiap hari gue kasih makan wortel, sayur, kadang juga janji manis. Setiap berangkat sekolah gue selalu menyapa dua makhluk itu dengan tatapan "hai, aku sekolah dulu ya. Nanti siang kita main lagi.". Begitu setiap hari hingga suatu siang, gue berasa disamber petir padahal nggak ujan. Berasa diputusin padahal nggak punya pacar.

Gue pulang sekolah dengan muka ceria bersiap main sama kelinci-kelinci putih lucu. Alangkah kagetnya ketika rumah gue rame, tanpa bendera kuning, tanpa tratak seng, tanpa penerima tamu. Tetangga-tetangga gue ngumpul di rumah dan pada bawa piring.

Salah satu tetangga menghampiri gue yang lagi bingung dengan keramaian itu.

"Mbak ini lho, sate kelinci kamu enak. Cobain nih!"

Kelinciku? KELINCIKU? K E L I N C I K U ???

Ternyata mereka menyate dua kelinci imutku. Kedua orang tua gue adalah pelopor utama hajatan batiniah ini. Mereka bilang, kelinci gue menuh-menuhin tempat, bau juga eeknya, mending disate aja.

Gue masuk rumah, duduk di sofa, dan cuma bisa diem. Gue bingung harus gimana. Kelinci yang gue anggep lucu, yang bikin gue semangat sekolah, dibunuh dan dimakan gitu aja, tanpa persetujuan gue sebagai pemiliknya yang tiap hari ngasih makan. Gue lupa waktu itu nangis atau cuma berkaca-kaca.

Memori warna kuning, joy, kebahagiaan.

Untuk manusia seumuran gue, jelas kebahagiaan banyak gue alamin. Apalagi yang berasal dari dunia cinta-cintaan, sayang-sayangan, gebet-gebetan. Liat doi dari kejauhan aja rasanya deg-deg ser nggak karuan bahagianya minta ampun. Apalagi disapa doi. Duh, apakah bahagia remaja sereceh itu?

Salah satu kenangan bahagia gue adalah ketika gue jadi top scorer pertandingan bola basket antar SMA se-Karisidenan Pekalongan. Meskipun tim gue kalah, gue seneng banget bisa point banyak apalagi dengan tembakan jarak jauh. Selama gue basket, itu adalah pertandingan paling beruntung gue karena biasanya gue nggak bisa shoot jarak jauh. Gue juga sempet dipuji pelatih basket yang nggak pernah muji gue. It made me fly higher. HAHAHA.

---

Gue salut sama Pete Docter yang bisa-bisanya kepikiran ide film "isi kepala manusia". Film yang general, yang semua orang bisa ngerasain ada di posisi Riley.

Sama seperti Riley yang selalu bahagia, akhirnya dia muak dan nangis sedih sejadi-jadinya. Gue nggak cuma butuh Joy. Gue juga butuh Sadness, Anger, Disgust, dan Fear buat nyeimbangin emosi. Gue nggak bisa bayangin, kalo hidup gue cuma diisi Joy dan kebahagiaan, hidup gue bakal sedatar apa. Gue bersyukur hidup gue seimbang. Gue sering ketawa lepas, tapi nggak lupa buat nangis sampe sesenggukan.

Gue butuh sedih buat ngerasain arti kebahagiaan, sama seperti Riley. Tanpa Sadness, Joy nggak ada artinya.

Buat yang baca, share juga ya, memori apa aja yang kalian inget, yang paling menyala di kepala kalian.

PS: ketika gue ngetik cerita memori sadness, gue jadi sedih lagi. Masih keinget jelas, kotak kardus kelinci yang tiap hari gue lewatin sebelum berangkat sekolah.

17 April 2016

11

[Review Film] Nay - Djenar Maesa Ayu, edass!

Kami, para komunitas film sering ngadain pemutaran-pemutaran film. Biasanya film indie dan pendek. Beberapa waktu lalu, di grup komunitas film gue ada notif ajakan dateng ke pemutaran film di Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus). Gue, sebagai mahasiswa santai banyak nganggur, jelas langsung berangkat.


Awalnya gue nggak tau film yang gue mau tonton ini film apa, bahkan terkesan underestimate setelah liat poster filmnya. Poster dengan warna dasar kuning ngejreng dan ada gambar satu mobilnya ini bikin gue mikir, "ini cover film apa rambu lalu lintas?".

Yaudahlah yaa. Kalau pun ini film memang tentang kisah cinta antara rambu lalu lintas dengan polisi tidur, gue tetep nonton kok. Sebagai mahasiswa banyak nganggur, kisah cinta antara rambu lalu lintas dengan polisi tidur adalah kisah cinta yang penting dan patut diperhatikan.

Akhirnya gue sampai di Udinus bareng kedua temen gue. Kemudian gue duduk anteng di dalam ruang pemutaran dan masih dalam keadaan underestimate sama film berposter kuning itu. Namun ketika filmnya mulai dan berjalan, boom! Gue kebawa alur cerita film, terpesona sama setiap scenenya, gambarnya juga cakep, dan fix, gue jatuh cinta sama film ini!


Film berdurasi sekitar 80 menit, cuma ada satu pemain di film, latar tempat cuma di dalam mobil doang, dan latar waktu cuma malam hari aja.

Lo bayangin deh film begitu.

Gila kan? Ada film durasinya sejam lebih yang pemainnya satu orang itu-itu aja, tempatnya cuma di dalam mobil, dan bisa bikin gue jatuh cinta.

Adalah film Nay, karya Djenar Maesa Ayu.


Film Nay adalah film yang rilis tanggal 19 November 2015 dan ditulis sekaligus disutradarai oleh Djenar Maesa Ayu. Film yang mengangkat isu perempuan, identitas, dan seks ini diadaptasi oleh novel berjudul Nayla karya Djenar Maesa Ayu juga.

Film Nay menceritakan seorang wanita bernama Nayla atau Nay (Sha Ine Febriyanti) yang memiliki masalah hidup berhubungan dengan identitasnya sebagai wanita. Masa lalu Nay buruk. Ayah kandung Nay meninggalkan ibunya ketika dia belum lahir. Dan pacar ibunya memperkosa Nay ketika dia masih kecil. Bahkan ibu Nay tidak membela anaknya justru membuat posisi pacarnya aman.

Kini, Nay adalah seorang bintang baru yang sedang hamil di luar nikah dan pacarnya, Ben, tidak bertanggung jawab karena lebih mementingkan ibunya. Masalahnya semakin rumit ketika seorang produser memberitahu jika Nay terpilih menjadi pemeran utama. Nay semakin bingung, menggugurkan kandungan atau merawat anaknya dengan baik. Ia merasa ini semua akibat dari kesalahan ibu brengseknya.

Dalam rumitnya masalah, Nay mendapat banyak pelajaran dan mengerti sifat-sifat asli orang-orang yang di sekitarnya. Pram, laki-laki yang naksir padanya, ternyata menolak Nay ketika dia sudah hamil. Kemudian Ayu, produser Nay yang ternyata hanya mementingkan karir.


Menurut gue, film Nay adalah film yang cerdas. Film ini mampu membuat penontonnya nggak bosan padahal latar tempat cuma di dalam mobil dan cerdasnya lagi, film ini mampu membawa penontonnya pergi ke masa lalu Nay hanya dengan cerita-cerita yang diutarakan Nay. Film ini juga sukses membuat penonton terbawa emosi oleh si tokoh yang hanya duduk di mobil.

Gila gila.

Untuk masalah teknis seperti fotografi, suara, dan artistik, film Nay udah keren menurut gue. Cahaya-cahaya malam, warna kuning khas jalanan malam hari, bokeh-bokeh lampu mobil bikin film ini makin greget. Ya nggak salah sih. Kru film ini juga keren-keren. Penata kameranya mas Ipung Rachmat Syaiful yang juga garap film Habibie Ainun dan Janji Joni, artistiknya mbak Vida Sylvia yang ada di film 5cm dan Supernova, penata suaranya mas Khikmawan Santosa yang juga garap film The Raid.

Kekurangan film ini paling di masalah pemasaran. Film sebagus ini harusnya lebih tenar dan daripada film-film lain yang cuma mengandalkan artis-artis sensasional main di dalamnya buat mendongkrak popularitas film.

Film Nay ini nggak lama nangkring di bioskop, mungkin juga karena masalah sensor yang nggak nerima film  banyak kata-kata kotor kayak film ini. Jadi nggak heran, sekarang film ini populer sebagai film indie yang sampai sekarang masih muter terus di pemutaran dan festival-festival film Indonesia.

Buat kalian yang mungkin di daerahnya ada pemutaran film Nay, nonton deh. Keren filmnya. Gue yang sebelumnya nggak tau apa itu feminisme jadi sedikit banyak tau dari film anti-mainstream-keren ini.

 Tontonlah film Nay ini. Gue udah membuktikan kalau film ini bukan film tentang kisah percintaan antara rambu lalu lintas dan polisis tidur, kok. Malah keren. Kalau kata temen gue, film Nay edass!

21 November 2015

10

[Review Film] Badoet - Awi Suryadi, keren!


Nonton film adalah salah satu obat yang sangat ampuh untuk menghilangkan badmood. Ramainya bioskop, suasana ketika sudah duduk di dalam bioskop, dan alur cerita film mampu bikin pikiran kita melayang ke dunia lain dan bikin mood membaik dalam hitungan menit.

Kemarin gue lagi badmood, ada sedikit masalah. Iseng gue cek aplikasi Cinema21 dan nemuin film Badoet udah tayang. Nggak ambil pusing, gue yang emang sedang sangat menunggu film ini langsung berangkat ke bioskop bareng temen yang kebetulan sedang nganggur berat.

Sampe bioskop, film Badoet udah berjalan 10 menit. Nggak masalah, tetep gass.

 

Film Badoet adalah film horor Indonesia yang memakai karakter badut sebagai tokoh hantu utamanya. Badut yang seharusnya lucu dibuat sedemikian seram di film ini. Hidung yang biasanya bulat merah besar, jadi cacat kepotong. Senyum lebar yang harusnya lucu, jadi serem. Menurut gue, Awi Suryadi sukses bikin badut jadi amat sangat serem disini. Kenangan mantan aja kalah seremnya.

Film yang disutradarai Awi Suryadi ini dibintangi oleh Daniel Topan, Ratu Felisha, Christoffer Nelwan, Marcel Chandrawinata, Aurelie Moeremans, Tiara Westlake, dan Ronny P. Tjandra. Mungkin banyak nama yang kurang familir di telinga pecinta film Indonesia, tapi itu nggak bikin film yang berlatar rumah susun sederhana ini kehilangan kekerenannya.

Film Badoet menceritakan tentang kehidupan di rumah susun yang awalnya hangat dan penuh kekeluargaan berubah menjadi penuh teror sadis. Anak-anak yang awalnya bermain ceria satu per satu tewas bunuh diri. Teror ini diawali dari penemuan kotak musik oleh anak kecil bernama Vino. Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurelie Moeremans), tetangganya Vino penasaran dan mencari tahu penyebab kematian anak-anak itu apa.



Dengan bantuan Nikki (Tiara Westlake), teman Donald yang indigo, akhirnya mereka bisa tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah susun itu. Teror itu berasal dari mana, apa penyebabnya, dan gimana cara mengatasinya. Sukses nggak Donald cs? Donald itu siapanya pemilik McD?

Secara keseluruhan film ini keren-abis! Meskipun telat 10 menit, 70 menit sisanya bisa bikin gue penasaran, deg-degan, geregetan pengen nikah. Sutradara asal Lampung ini mampu bikin setiap menit di film penuh arti. Nggak ada scene yang sia-sia apalagi scene bokep-bokep nggak jelas. 100% adegan di film ini yahud. No pantat, no belahan tetek, no setan keramas. Halal.

Sosok badutnya sendiri sangat sedikit tampil di dalam film. Sebagai pemeran utama, gue rasa badut kurang hits. Dia muncul sebentar-sebentar doang. Tapi teror-terornya itu, beh...nggak usah muncul udah bikin dahi berkerut. Buat sebagian orang, suara musik dari kotak musik kuno ngeri, dan semakin ngeri di film ini.

Sebelum tayang, Film Badoet mendapat tawaran tayang di India dan Amerika. Two thumbs up! Keren banget! Belum tayang lho gaes, belum tayang! Darimana coba produser-produser bule itu tau kalo film Badoet bagus? Hah.

But, ada sedikit miss di film Badoet. Menurut gue aneh aja, 2 kejadian anak bunuh diri diperlihatkan. Cuma 1 kejadian anak bunuh diri aja yang nggak diliatin. Kenapa ya? Jeng jeng jeng! Dan, kalo kata temen gue sinematografinya kurang. Banyak kamera goyang. Tapi nggak papa, bukan pantat yang goyang.

Katanya film Badoet ini mirip film import The Clown ya? Gue belum nonton The Clown, jadi belum bisa bandingin. Coba dong, yang udah pernah nonton The Clown, reviewnya?

Yuk, yang belum nonton Badoet nonton gih. Film lokal kok, murah tiketnya. Support local movie, sekali-kali. Di bioskop ya nontonnyaaa. :p

Teman