Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

23 November 2021

0

Tempat Wisata Gratis di Jogja

Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?

Yup, itu adalah pepatah pegangan orang Indonesia kebanyakan, gue salah satunya. Sebisa mungkin mendapatkan sesuatu dengan harga yang murah, malah kalau bisa gratis, termasuk tempat wisata.

Siapa si yang nggak mau jalan-jalan gratis? Bisa refresh pikiran tanpa ngeluarin uang sepeser pun? Gue rasa semua orang mau.

Jogja adalah salah satu destinasi wisata favorit orang Indonesia dan terkenal dompet friendly, alias murah. Makanan di Jogja murah-murah, oleh-olehnya murah, dan tiket tempat wisatanya pun, murah! Tapi, tau nggak kalian? Di samping murah, Jogja juga punya beberapa destinasi wisata yang gratis. Sekali lagi, GRATIS!

Kalian nggak salah baca, beneran gratis dan gue sudah membuktikannya. So, here we go! 5 tempat wisata gratis di Jogja, versi Farih Ikmaliyani asek~ :

1. Masjid Gedhe Mataram Kotagede

Aduh, ini favorit gue banget! Gue udah kesini 2 kali dan selalu excited. Tempatnya luas, sepi, estetik, banyak spot foto, dan tentunya bersejarah.

Masjid Agung Kotagede Jogja. Foto oleh Farih Ikmaliyani

Masjid Gedhe adalah masjid peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun tahun 1640 M oleh Sultan Agung Mataram bersama rakyatnya yang kebanyakan beragama Hindu dan Budha. Nah, udah kebayang kan gimana kerennya ni masjid? Rumah ibadah orang islam, tapi yang bangun orang-orang Hindu dan Budha.

Ornamen-ornamen dan arsitektur Hindu-Budha melekat di setiap sudut masjid. Pintu masuknya aja berupa gapura kecil kayak yang biasa kita temui di pura-pura Bali. Pelatarannya pun masih didominasi bebatuan bata merah arsitektur Hindu-Budha. Di dalam masjid, kita bakal disuguhi arsitektur Jawa kuno hasil karya Sultan Agung Mataram dan diteruskan oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X.

gerbang depan masjid

Yang paling unik dari Masjid Gedhe Mataram ini adalah adanya kolam pemandian dan makam kuno di kompleks masjid. Jadi, kompleks masjid ini sangat luas. Sebelum masuk ke dalam masjid, kalian bisa belok ke kiri dan akan memasuki kawasan seperti tempat pemandian dan juga makam kuno di paling ujung. Semua orang bisa memasuki area makam kuno ini namun dilarang membawa kamera dan wajib mengenakan pakaian adat Jawa. Untuk perempuan yang sedang menstruasi, dilarang masuk dulu ya bestie~

tempat kolam pemandian. dulu dipakai raja-raja

plataran depan makam kuno. sebelah kiri warna putih, itu gerbang masuk makam

Masjid ini masih aktif digunakan warga sekitar dan tentu saja siapa pun boleh masuk dan beribadah, gratis.

2. Masjid Gedhe Kauman

Masih tentang masjid, destinasi gratis di Jogja selanjutnya adalah Masjid Gedhe Kauman. Masjid cantik yang terletak di sisi kanan Alun-Alun Utara ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama), dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M.

tampak depan Masjid Gedhe Kauman. foto oleh Farih Ikmaliyani

Gue sering banget ke Alun-alun Utara Jogja tapi cuma sekali mampir ke masjid ini, itu pun nggak sengaja karena berniat untuk solat.

Dari luar, masjid ini nampak seperti bangunan biasa yang dikelilingi tembok besar. Nggak menarik. Tapi setelah masuk gerbang dan sampai di pelatarannya, gue terpesona. Masjid dengan latar luas dan disain kuno terlihat semakin cantik di jam-jam golden hour waktu gue kesana. Di halaman masjid juga banyak berjejeran street food sederhana ala Jogja alias warung kucingan yang siap memberi kalian asupan selama menikmati bangunan kuno Masjid Kauman Jogja.

pelataran masjid

Arsitektur di dalam Masjid Gedhe Kauman masih sangat kental dengan disain kuno. Lampu-lampu gantung jadul dan tiang-tiang dari kayu, bikin betah lama-lama buat anteng di dalam masjid.

suasana di kota santri. eh, dalam masjid

Dibanding masjid Gedhe Mataram, Masjid Kauman ini emang nggak terlalu luas dan banyak spot foto. Tapi gue merasakan vibes yang Jogja banget ketika mengunjungi Masjid Kauman ini. Worth to visit, sekalian solat, ya kan?

3. Malioboro & Titik Nol Kilometer

Berbeda dengan Masjid Gedhe Kauman, nggak kehitung berapa kali gue ke Malioboro dan Titik Nol Kilometer Jogja. Sering banget woy!


suasana Jalan Malioboro beserta senimannya

Ikon Kota Jogja ini udah sangat terkenal. Tempat ini gak pernah sepi didatengin pengunjung, selalu ramai. Malioboro dan Titik Nol Kilometer sebenernya hanya jalanan biasa yang terdapat banyak penjual makanan dan oleh-oleh khas Jogja, serta diramaikan dengan adanya beberapa seniman lokal yang pentas di sepanjang Jalan Malioboro. Kalian bisa nemuin pedagang batik, makanan, hingga aksesoris-aksesoris lucu di sepanjang jalan Malioboro. Seniman jalanan yang bertalenta pun ramai berkumpul di jalan ini sehingga membuat suasana semakin hangat.

Titik Nol Kilometer adalah ujung dari jalan Malioboro yang berupa perempatan jalan. Di sekitar Titik Nol Kilometer ini, banyak terdapat bangunan kuno khas Eropa yang seperti membawa kita pergi kesana.

kawasan Nol Kilometer Jogja

Suasana di Malioboro dan Titik Nol Kilometer yang Jogja buanget ini mungkin yang jadi magnet wisatawan untuk selalu menghabiskan malam di sini. Jangan lupa untuk berfoto di samping plang nama Jalan Malioboro, ya! xD

4. Tugu Jogja

Lokasi yang sering gue lewatin tapi nggak pernah gue kunjungin, alias gue nggak pernah sengaja berhenti di Tugu Jogja untuk berfoto atau menghabiskan waktu disana. Gue masih ingat, dulu ada mitos jika foto bersama kekasih di Tugu Jogja, pasti hubungan nggak awet. Haha, entah.

sumber: suara.com

Tugu Jogja adalah sebuah monumen yang sering dipakai sebagai simbol Yogyakarta. Terletak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo, tugu Jogja memiliki nilai simbolis yang merupakan garis yang bersifat magis yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi.

Tugu Jogja dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Konon pada saat itu, Tugu Jogja digunakan oleh Sultan untuk patokannya bertapa menghadap puncak Gunung Merapi.

Saat gempa bumi besar yang terjadi pada 10 Juni 1867, Tugu Jogja ini pernah runtuh dan dibangun kembali oleh pemerintah Hindia-Belanda. Beberapa bagian diubah pada saat renovasi, namun warna putih khas tugu ini tetap dipertahankan.

Jujur, gue selalu ingin menepi ketika lewat Tugu Jogja ini. Suasananya nyaman banget, banyak lampu temaram di sekitar Tugu dan juga coffeeshop. Karena lokasinya di tengah jalan, orang bebas buat berkunjung dan gratis tentunya. Someday deh, gue mampir dan foto!

5. Pantai Seruni di Gunung Kidul

Oke, ini lokasi wisata gratis terakhir versi gue (untuk sekarang); Pantai di Gunung Kidul Yogyakarta.

Udah tau kan, kalau Jogja punya buanyak pantai pasir putih bersih dengan air sebening kristal? Yap, muka gebetan lo kalah beningnya.

Tahun 2013 gue baru tau kalau Jogja punya pantai pasir putih yang cakep-cakep. Banyak pilihan pantai pasir putih di Selatan Jogja ini. Mulai yang berbayar sampai yang gratis alias belum dikomersilkan oleh pejabat setempat.

pasir aslinya lebih cantik dari foto ini

Pantai Seruni adalah salah satu pantai yang masih alami dan masuknya gratis. Gue kesini 1 bulan lalu, saat PPKM. Beberapa pantai terkenal ditutup dan Pantai Seruni ini adalah salah satu pantai yang masih bisa dikunjungi.

chill ye ngga? padahal besoknya kerja

Beberapa vila terlihat mulai dibangun di sekitar pantai ini. Baliho-baliho rancangan pembangunan pantai juga berjejer sepanjang jalan menuju pantai Seruni. Jalannya masih jelek karena memang belum terbangun dengan baik.

Gue sampai di pantai Seruni sekitar jam 5 pagi. Hanya ada 2 tenda camping dan 3 warung berjejer di pantai. Sampai tengah hari, suasana pantai masih sepi, hanya ada beberapa kelompok pengunjung yang datang. Suasananya enak banget dan chill. Gue suka pantai pasir putih yang sepi gini.

ngopi di pinggir pantai yang sepi, kapan lagi?

Pasir putih, karang di tepi pantai, dan beningnya air laut, membuat gue betah berlama-lama di Pantai Seruni.

Kalau kalian nggak pengen ke Pantai Seruni, kalian bisa telusuri panta-pantai di selatan Jogja ini. Banyak pantai yang cantik dan masih belum terekspose.

11 Juli 2021

2

Bakso di Kereta Api Isinya Cuma 3 Biji

Gue suka naik kereta eksekutif malam. Selain suasananya boboable, naik kereta malam di tengah pandemi sangat leluasa karena 2 kursi cuma diisi satu orang. Jadi gue sendirian dan kursi sebelah kosong. Makin bebas tidur dan melakukan aktivitas apa pun. Termasuk makan tanpa takut risih sama orang di sebelah.

Kemarin, 3 Juli 2021, gue pulang ke Pekalongan dengan menggunakan kereta Sembrani eksekutif yang berangkat dari Stasiun Gambir jam 7 malam. Karena nawaitunya untuk tidur di kereta, jadi outfit yang gue pakai pun boboable: celana jeans longgar + hoodie tebel + sepatu dengan kaos kaki tinggi biar nggak dingin.

Baru jalan beberapa menit, gue sudah ngantuk. Setelah kursi gue senderin, gue pun mulai memejamkan mata dan tidur. Dua jam berselang, gue bangun dan laper. Kebetulan, ada 2 karyawan (pramugari) kereta api yang lewat dan menawarkan makanan. Di antara makanan-makanan yang mereka coba tawarkan, bakso kuah berhasil mencuri perhatian gue.

"Enak nih kayaknya malem-malem gini. Dingin, makan bakso panas." batin gue.

"Mau dong baksonya satu. Berapa?"

"Dua puluh lima ribu," jawab si pramugari. Kaget. Gue pikir harganya 15 ribu-an. Akhirnya gue pun membeli bakso itu. Si Mbak mencatat pesanan gue kemudian berjalan ke gerbong makan. "Tunggu sebentar ya, nanti kami antarkan pesanan ibu."


Selang beberapa menit, sebuah cup bertuliskan "Bakso Enak" mirip wadah pop mie sudah di depan mata. Saat gue terima, cup bakso "Bakso Enak" itu tertutup rapat. Ada sambel-kecap-saus dan sendok yang diberikan terpisah di dalam plastik. Kuahnya panas, terlihat dari asap yang keluar secara intens dari dalam cup. Gue penasaran, apakah rasanya benar-benar enak seperti tulisan yang di cupnya tersebut?

Gue aduk-aduk isi cup itu sambil menghitung berapa biji bakso yang ada di dalam sana. Guys, menghitung jumlah biji bakso yang akan kita makan ini penting untuk menentukan berapa lama waktu untuk menghabiskannya. Adukan pertama, hasil hitung jumlah baksonya 3 biji + 1 tahu kulit mini. Nggak percaya, gue aduk lagi, dan hasilnya masih sama: 3 biji bakso kecil + 1 tahu kulit mini

Sepi bet ni cup isinya cuma 3 biji bakso + 1 tahu kulit yang nggak gede-gede amat?!

Tambahan mie kuning di dalamnya, belum cukup membuat cup bakso ini terlihat penuh.

Buat traveler low budget alias bokek kayak gue ini, 25.000 rupiah untuk seporsi bakso, harusnya bisa lebih banyak isinya.

Sudah dibeli, masa tidak dimakan? Ya, akhirnya gue makan bakso harga 25 ribu yang berisi 3 biji ini.

Setelah gue tiup-tiup, kuahnya gue cicipin. Asin, rasanya kayak kuah Indomie ayam bawang, pas buat gue yang emang suka asin dan nggak berekspektasi tinggi soal makanan. Tapi untuk kalian yang emang ngerti makanan, kuah bakso "Bakso Enak" ini bakal dinilai biasa aja. Cita-rasanya kurang. Terlalu sederhana, asin doang. Minimalis banget konsep kuahnya.

Untuk baksonya, meskipun kecil tapi lumayan kerasa dagingnya nggak cuma tepung doang. Baksonya nggak pelit urat, tapi juga nggak banyak-banyak amat. Ya.. tergolong niatlah untuk menjadi sebuah bakso.



Tahunya sendiri agak nggak niat ya, Bun. Terlalu kecil dan lemes. Kayak nggak semangat jadi tahu. Sekali caplok, tahu mini itu pun hilang di dalam mulut gue. Rasa tahunya standar banget kayak tahu pada umumnya.

Mie kuning yang ada di antara bakso dan tahu, rasanya biasa banget. Sedikit hambar, mirip mie kuning yang dijual abang gerobak bakso komplek.

Gue pecinta kecap dan nggak suka pedeas. Tapi untuk kali ini gue sedang nggak pengen menambah rasa manis dan pengen ngerasain sensasi pedes dikit di dalam bakso. Jadi gue tambahi sambel sebanyak sekitar 3 tetes. Gue pikir sedikit rasa pedas akan menambah cita rasa hangat di perut gue.

Karena gue lapar dan merasa kedinginan, bakso 25 ribu itu pun gue habiskan tanpa waktu lama. Lumayan, menghangatkan badan.

Oh iya, ini adalah kali pertama gue beli bakso di dalam kereta. Sebelumnya, menu yang sering gue nikmati di kereta api adalah nasi sapi lada hitam.

So far, bakso 'Bakso Enak' KAI ini nilainya: biasa aja, buat gue. Tapi cukup buat penghangat badan dan memenuhi mulut dengan rasa asin. Kuahnya enak, bikin gue ngerasa kayak lagi menikmati Indomie kuah ayam bawang.

Biar kayak blogger-blogger review yang lain, gue kasih nilai 'Bakso Enak' ini 6 dari skala 10.

Itu cerita gue menikmati bakso kereta api pertama kali. Kalian pernah makan bakso ini juga nggak? menurut kalian gimana rasanya?

15 April 2020

4

Cara Murah Terbang dari Semarang ke Bangkok

Selama 20 tahun hidup, gue nggak pernah naik pesawat terbang. Mobilisasi gue yang hanya di sekitar Jawa Tengah membuat gue hanya bepergian menggunakan kereta api atau motor. Ya kali Tegal-Semarang naik pesawat. Mendarat di Lawang Sewu atau Klenteng Sam Poo Kong, tuh?

Sampai di tahun 2017, gue akhirnya ngerasain naik pesawat untuk kali pertama dalam hidup. Naik pesawat pertama kali, sendirian, dan langsung ke luar negeri. Gue gugup parah waktu itu.

Tahun 2017 itu gue ada acara delegasi ke Thailand. Dari Semarang gue sendirian. Karena dana terbatas, gue mencari cara semurah mungkin. Bagian yang bisa dipress dananya, ya dipress. Salah satunya adalah transportasi.

Setelah mencari-cari, akhirnya gue menemukan cara paling murah untuk berangkat ke Thailand yaitu melewati Malaysia. Jadi rutenya adalah: Semarang-Kuala Lumpur. Lanjut Kuala Lumpur-Bangkok.

instagram: farihikmaliyani
Gue berangkat dari Semarang memilih tujuan Kuala Lumpur dengan pesawat Air Asia. Bukan pesawat transit, tapi bener-bener pesawat dengan tujuan akhir Malaysia.

Sampai di Malaysia, gue langsung menuju ke terminal keberangkan selanjutnya yang nggak berhubungan dengan pesawat yang pertama gue naikin. Triknya adalah dengan membeli tiket pesawat yang jamnya berdekatan. Jadi ketika sampai di Malaysia, gue hanya menunggu 2 jam sebelum pesawat gue selanjutnya Kuala Lumpur-Bangkok terbang. Mepet sih waktunya dan kalian nggak bakal bisa belanja-belanja uwu di bandara Kuala Lumpur dulu. Harus gerak cepat.

Total biaya perjalanan gue dari Semarang ke Bangkok adalah :

Semarang-Kuala Lumpur = Rp500.000,00
Kuala Lumpur-Bangkok = Rp400.000,00

Itu lebih murah daripada gue membeli tiket pesawat dari Semarang langsung ke Bangkok. Ada lagi sebenernya cara yang murah, yaitu dengan terbang dari Jakarta langsung ke Bangkok. Cara itu gue pakai di perjalanan ke Thailand gue berikutnya di tahun 2018. Tapi untuk orang-orang yang perginya terlalu mendadak dan nggak mau repot gonta-ganti transportasi menuju Jakarta, cara yang gue gunakan di atas lebih menguntungkan.

Ini adalah video dokumentasi gue selama perjalanan berangkat dan kegiatan di Thailand. Cuma 7 menit, gue bawa kalian ke Bandara Kuala Lumpur, naik grabcar Thailand, jalan-jalan ke Floating Market Damnoen Saduak, dan lain-lain! Tonton ya! Jangan lupa subscribe dan dukung gue mengembangkan channel youtube yaa~ \=D/


Subscribe channel youtube gue -----> Farih Ikmaliyani

24 Februari 2020

12

Percakapan Kecil di Depan Stasiun Pasar Senen Jakarta

Di setiap tempat yang gue sambangi, gue selalu berusaha mengenal orang-orang yang ada disana lewat obrolan singkat atau sekedar bertukar sapa. Menurut gue, itu bikin tempat tersebut terasa lebih hidup dan gue ingat terus nantinya. Kayak contohnya tempat yang gue lewati minggu lalu, Stasiun Pasarsenen, Jakarta.

Malam itu gue dan dua orang teman tiba di Stasiun Pasar Senen 2 jam lebih awal dari jadwal keberangkatan kereta ke Pekalongan, pukul 23.25 WIB. Dua teman gue ini sekedar mengantar dan membawakan tas-tas yang mirip koper haji. Hawa panas Jakarta malam itu, ditambah tas besar yang kami tenteng, sukses bikin haus luar biasa.

"Jangan beli minum di staisun, mahal. Beli di depan aja yuk, murah-murah cuy." kata teman gue, Baren, ketika gue mengajaknya beli minum. Bukan rahasia lagi memang, makanan dan minuman di area stasiun harganya nggak tau diri, nggak kompak sama es teh-es teh yang lain. Es teh lain harganya 3 ribu, di stasiun jadi 10 ribu. Jiwa miskin gue jelas nggak terima lah!

Setelah berjalan sebentar, sampailah kami di depan stasiun yang berisi deretan pedagang kaki lima yang kakinya cuma dua. Gue nggak nemu pedagang yang kakinya lima, sih.

"Mbak, es teh tarik satu ya." gue meletakkan tas besar di atas bangku kayu salah satu lapak pedagang minuman dan rokok yang dijaga oleh seorang perempuan bermasker. Dari gaya berpakaiannya, gue tau mbak itu seumuran sama gue. Tanpa sepatah kata pun yang keluar, Mbak itu segera membuatkan minuman instan yang gue pesan di gelas plastik.

"Gue juga mau dong Mbak, es teh tarik ya!" ucap Baren. Si Mbak langsung membuatkan minuman dan memberikannya ke Baren. Setelah itu, dia kembali duduk di belakang meja dagangan dan sibuk dengan HP-nya. Nggak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.

Penasaran, gue coba buka percakapan ke si Mbak.

Gue: mbak, harga minum di dalem stasiun mahal-mahal ya Mbak?
Si Mbak: Iya.
Gue: udah lama dagang disini Mbak?
Si Mbak: Iya.
Gue: gue cantik banget ya Mbak?
Si Mbak: Iya.

Jutek banget Mbaknya, mau nangis. :(

Ada masalah apa sih Mbak?

Menghindari darah tinggi akibat kesel sama Mbak jutek ini, gue beralih ngobrol dan bercanda dengan Baren dan Delsa, dua teman gue yang berbaik hati membawakan tas. Selama kami ngobrol, Si Mbak beberapa kali curi pandang ke arah kami bertiga, seperti memperhatikan percakapan kami.

"Kesel banget gue tadi bapak-bapak ojol cat-calling ke gue!" Delsa teman gue sedang berkeluh soal seorang supir ojol yang godain dia sewaktu dia berjalan di depan stasiun.

Tiba-tiba Si Mbak nyaut, "suka gitu emang Mbak supir ojek kalo sama orang baru.".

"Mbaknya kerja disini sampe malem sering digodain juga dong?" tanya Delsa.

"Kalo sama orang sini mah enggak Mbak, udah kenal soalnya." Si Mbak yang tadinya jutek pun berubah menjadi ramah dan baik hati. "Aku aja sama abang-abang ojek udah biasa ngobrol. Kita, pedagang gini, suka dibantuin abang-abang ojol kalo ada penertiban. Kadang juga informasi mau ada sweeping dari temen-temen disini. Jadi kita kenal. Mereka baik kok Mbak sebenernya. Kadang iseng aja itu sama orang baru."

Suasana pun menjadi cair. Si Mbak masih dengan maskernya, berubah posisi duduk. Yang awalnya menghadap ke depan, ke meja dagangan, jadi menyamping, ke arah kami bertiga.

"Jualan kayak gini untungnya lumayan ya Mbak? Apalagi di stasiun." Tanya gue makin sok akrab.

"Iya Mbak, lumayan banget!" jawab Si Mbak antusias. "Apalagi waktu lebaran kemarin, yang lain libur, orang tuaku doang di trotoar ini yang jualan. Bisa dapet 10 juta sehari."

"Wih, gila. Gaji PNS lewat tuh Mbak..."

Percakapan pun berlanjut. Tanpa terasa, kita berempat menjadi seperti teman dekat yang lama nggak ketemu.

Waktu berlalu. Nggak kerasa, jam menunjukkan pukul 23.00. Gue pamit ke Si Mbak kemudian meminta Baren dan Delsa menemani gue kembali ke dalam stasiun.

Gue menyempatkan foto sebelum cabut dari lapak Si Mbak. (kiri ke kanan: Si Mbak, Baren, Delsa)
"Ada yang ketinggalan nggak Lay?" tanya Baren ketika kami bertiga berada di depan pintu masuk. 'Lay' adalah nama panggilan akrab gue dengan Baren dan beberapa teman-teman teater kampus.

"Enggak Lay, aman semua kok." jawab gue.

"Yaudah gih sono masuk kereta. Ati-ati ya lu!"

"Oke. Thanks ya udah bawain tas gue. Bye!". Gue pun beranjak masuk stasiun. Sesaat setelah berjalan masuk, gue memanggil Baren dan Delsa yang mulai melangkah meninggalkan pintu masuk stasiun. "Lay! Tanyain Si Mbak tadi, namanya siapa. Gue mau tulis cerita kita berempat malam ini di blog!". Teriak gue.

"Oke, ntar gue tanyain!" Baren menjawab teriakan gue dari kejauhan.

Setelah memastikan gerbong dan kursi dengan benar, gue duduk manis dan menghela napas. Tiba-tiba HP gue bergetar, ada sebuah notifikasi instagram;


Si Mbak follow gue di instagram dan ternyata dia nggak sejutek yang gue pikir sebelumnya.

Semua orang memang sepertinya akan ramah kepada siapa pun setelah percakapan kecil di awal. Karena pada dasarnya semua orang baik. Mungkin, si bapak ojol yang cat-calling ke Delsa juga akan lebih sopan setelah ngobrol bareng Delsa. Mungkin.

(Tulisan ini mulai gue tulis sebulan yang lalu, tapi baru gue publish hari ini karena banyak kesibukan yang menghambat gue untuk menyelesaikan tulisan ini.)

30 November 2019

6

Hampir Hilang di Thailand Bagian 3 (selesai): Senyuman Terakhir

Nggak lama, van yang gue tunggu datang. Pak supir turun dari mobil dan langsung mengangkut koper gue ke bagasi belakang tanpa ba-bi-bu.

Ketika gue masuk mobil, sudah ada sekitar 4 orang penumpang di dalamnya. Gue duduk di jok tengah, sebelah jendela. Di samping gue ada mbak-mbak berbaju pink dan memakai topi putih. Dari gayanya, dia terlihat seperti mbak-mbak salon yang suka nawarin rebonding rambut padahal rambut si tamu sudah lurus.

Gue senyumin si mbak baju pink. Dia senyum balik. Gue senyumin lagi. Dia senyum balik lagi. Akhirnya kita senyum-senyuman sepanjang perjalanan.

Eh, nggak gitu~

Gambaran van Thailand. Sumber: https://12go.asia
Gue duduk anteng di dalam mobil. Membuka HP dan membalas pesan Ploy yang memonitor gue tiap menit dari rumahnya. Setelah memberitahu Ploy kalau gue aman, gue mematikan internet untuk menghemat baterai. Dari sudut mata, gue bisa liat kalau mbak baju pink sesekali mencuri pandang ke arah gue.

Van yang gue tumpangi perlahan melaju ke arah Timur, meninggalkan Terminal Mochit, kemudian meninggalkan Kota Bangkok. Jalanan mulai lengang. Yang terlihat hanya truk-truk pengangkut sayur dan sesekali hamparan perkebunan. Gue capek, tapi nggak bisa tidur. Takut bablas ke Vietnam kalo tidur.

Baterai HP 10% ketika van berhenti dan menurunkan seorang penumpang di pinggir jalan. HP gue yang dibuat offline itu masih bisa menunjukan google maps. Perjalanan ke Bua Yai masih sekitar 3 jam lagi.

Perempuan di samping gue pun nggak tidur. Dia beberapa kali masih mencuri pandang ke arah gue dan ketika gue lihat ke arah dia, dia hanya tersenyum. Ada apa?

Gue memberanikan diri menyapa, "hi!". Gue pikir dia punya hal yang ingin disampaikan. Sapaan gue nggak dijawab. Dia cuma senyum. "Where do you go?". Lagi-lagi nggak ada jawaban selain sebuah senyuman. Ok, ada 2 kemungkinan: si mbak nggak bisa ngomong bahasa Inggris atau dia budeg.

Van masih melaju dengan tenang. Pemandangan danau dan temple khas Thailand menjadi pemandangan gue dari dalam van. Semua plang di pinggir jalan menggunakan bahasa dan aksara Thailand yang membuat gue migrain ketika mencoba mengartikannya.

Tiba-tiba van berbelok ke arah pom bensin. Semua penumpang turun dan berjalan menuju ke minimarket yang ada di pom tersebut. Bingung mau ngapain di dalam mobil sendirian, gue akhirnya ikut turun juga dan membeli beberapa cemilan kemudian duduk santai di kursi yang berjejer di depan minimarket.
Pom bensin tempat transit waktu itu
Saat sedang santai menikmati cemilan, mbak baju pink terlihat keluar dari mini market kemudian duduk di sebelah gue. Dia memberikan sebuah senyuman. Gue jawab dengan senyuman juga. Gue bener-bener pengen ngobrol sama dia. "You speak English?" tanya gue ketika dia sudah duduk. Si mbak baju pink hanya tersenyum lagi.

Ok, gue udah tau jawabannya: dia nggak bisa bahasa Inggris.

Semua penumpang kembali menaiki van ketika mobil mini bus itu selesai mengisi bahan bakar. Van melaju tenang lagi di jalanan Provinsi Nakhon Ratchasima. Google Maps menunjukan bahwa gue sudah memasuki Distrik Bua Yai.

Nggak lama, satu per satu penumpang turun di pinggir jalan dan ada juga yang di tempat ngetem bus. Tersisa gue, mbak baju pink, satu penumpang anak laki-laki di belakang, dan supir.

Seperti ada malaikat lewat, gue tersadar satu hal.
Hal yang sangat penting.
Dan krusial.

Ini gue turunnya kapan dan dimana?!

Bua Yai itu kabupaten, bukan lapangan futsal. Gue bisa aja salah turun di Bua Yai bagian utara, padahal rumah Ploy di Bua Yai Selatan.

"Trung tung tung tung ka ni tung." Mbak baju pink berbicara ke supir van kemudian memandang ke arah gue sebentar dan lanjut berbicara ke pak supir lagi. "Mai mai trung tung rap rap."

Jika ternyata mereka bertiga sekongkol mau merampok gue, gue pasrah saat itu juga. Toh, gue cuma seorang gembel yang lagi jalan-jalan di Thailand. Paling banter, mereka dapet batik yang gue bawa buat oleh-oleh Ploy.

Si mbak baju pink memandangi gue dan berkata, "trung tung tang tung tang ting tung.". Gue pun menjawab, "mai kon Thai ka." (saya bukan orang Thailand).

Suasana hening.

Gue memutuskan untuk menyalakan internet walaupun baterai tersisa 5% dan menelpon Ploy. Gue ceritakan secara singkat keadaan saat itu dan Ploy meminta bicara dengan Si Mbak. Gue berikan HP gue dan mereka berbicara.

"Tang ying yung ka pum." Mbak baju pink memberitahu sesuatu ke pak supir setelah mengembalikan HP gue. Si supir menjawab dengan memberikan tanda 'oke' ke arah gue. Gue gelagapan. Maksudnya apa?

Internet gue matikan kembali.

Di depan deretan rumah pinggir jalan yang terlihat sederhana, van berhenti. Mbak baju pink kemudian merapikan barang-barangnya dan bersiap turun. Sebelum benar-benar turun, dia memberi gue sebuah senyuman dan anggukan. Kayak kalo di Jawa tuh, "monggo..." gitu.

Setelah semua tas di bagasi belakang milik Mbak baju pink turun, gue memberanikan diri untuk meminta foto bareng Si Mbak. Mbak ini baik, gue harus punya kenang-kenangan sama dia, pikir gue. Walaupun tanpa percakapan, gue merasa nyaman selama perjalanan bareng dia.

"Photo, please."

Tutupin dikit ye muka gue bopung banget seharian jadi bolang di Thailand
"Thank you. Khop khun ka." Ucap gue setelah berfoto. "It was nice to meet you. I hope, we can meet again some day!" gue tetap melanjutkan. Meskipun terlihat di raut muka Si mbak bahwa dia nggak ngerti namun tetap tersenyum.

"Bye bye!" gue melambaikan tangan ketika Si Mbak mulai beranjak dan turun dari van.

"Bye bye!" Si Mbak menjawab disertai sebuah senyuman dan lambaian tangan. Belakangan gue tau bahwa itu senyuman terakhir Si Mbak setelah sekian banyak senyuman yang dia beri selama perjalanan.

Van kembali melaju tenang di jalanan. Sama seperti hati gue yang tenang meskipun nggak tau akan turun dari van ini kapan.

Roda van mulai melambat ketika memasuki komplek pasar tradisional dan kian melambat ketika memasuki area seperti terminal kecil namun bersih di ujung pasar. Van sepenuhnya berhenti di depan deretan ruko, di samping mobil-mobil van yang sudah terparkir disana lebih dulu.

Pak Supir membuka pintu van. Kemudian gue melihat sosok perempuan yang duduk di bangku depan ruko yang sudah nggak asing lagi. Wajahnya sering gue lihat melalui layar HP. Dia adalah Ploy.

Gue turun dan menghampiri Ploy. Dia melihat gue dan merekam momen itu. Momen dimana gue berjalan ke arah dia dan kita saling bertukar peluk. "Look! Who's coming!". Sayang videonya udah nggak ada lagi.

Ini adalah kali pertama gue bertemu Ploy, sahabat jauh gue yang berkenalan lewat online.

Setelah sampai rumah Ploy, gue ceritakan tentang Si Mbak baju pink dan Ploy bilang, "she was a kind person bro."

"Yeah, I think so. I hope we meet again someday and talk."

8 November 2019

6

Hampir Hilang di Thailand bagian 2: Hampir Sujud Syukur Gara-gara Paspor Indonesia

Bersambung...

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

Pikiran gue nyuruh lari. Jantung gue berdegup kencang seperti genderang mau perang (Ahmad Dani kali ah). Tapi kaki gue gak bisa digerakin, sama sekali. Akhirnya gue berdiri mematung dan pasrah membiarkan si ibu itu datang menghampiri. Apa pun yang ia lakukan, hamba serahkan semuanya hanya kepadaMu ya Allah ya Rabbi, Tuhan semesta alam.

"Trang tung tung tuk tuk tung lae lae?" Ibu itu nyerocos di depan gue. Jarak kami hanya satu langkah. Jarak yang tepat untuk si ibu membacok kepala gue yang kosong ini. "Trang tung tung mai?"

Gue membisu. Dahi mulai keriting. Keringat mengucur deras di dalam kaos yang gue pakai. "Tung tung tung krap to in to eng?" Ibu itu melanjutkan. Nada bicaranya seperti ia sedang bertanya, bukan ingin membunuh. Gue sedikit sadar. Jika ibu ini membunuh gue di tengah terminal, akan banyak orang yang membawa gue ke UGD dan melaporkan si ibu ke polisi.

Nggak mungkin ada pembunuh sebego ini, batin gue.

"Kin ken lew trung tung tung?" Ibu masih berucap.

Kalo emang si ibu ini nanya, gimana cara gue jawabnya? Orang pertanyaannya aja kaga paham.

Gue celingak celinguk berharap ada malaikat penolong untuk mentranslate apa yang ibu ini katakan, sayangnya nggak ada. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di terminal itu.

Si ibu memandangi gue dengan tatapan menagih jawaban dari pertanyaannya. Gue hanya bisa memandangi mukanya dengan raut muka memelas dan kebingungan. "Aku ki ra ngerti kowe ngomong opo ndes! Aku kon piye?!" teriak gue dalam hati.

Tiba-tiba gue inget paspor yang selalu gue bawa di tas selempang kecil. Gue ambil paspor dan angkat paspor itu tinggi-tinggi, persis wasit sepak bola pas ngeluarin kartu kuning. Bedanya, gue nggak pake peluit.
Bola mata si ibu mengikuti posisi paspor gue. Beberapa saat kemudian, ia tertawa kecil dan berkata, "oh...mai khon Thai! Hahaha."

"He-he-he," gue ikut tertawa, dipaksakan. Kenapa nggak dari tadi lo keluarin paspor, Farih?! Bego banget lo!

Disitu gue ngerti apa yang ibu itu katakan dan gue baru ingat kalimat tersebut, kalimat yang Ploy ajarkan ke gue sebelum gue mendarat di Thailand.

Mai = tidak / bukan.
Kon = orang.
Thai = Thailand.

Mai kon Thai = bukan orang Thailand! Ibu itu akhirnya ngerti gue bukan orang Thailand dan nggak paham apa yang dia katakan dari tadi.

"Dai dai, chan mai kon Thai na ka." gue menjawab dan membenarkan apa yang si ibu itu katakan. Gue langsung mengingat-ingat beberapa kalimat yang pernah gue pelajari dari teman-teman Thailand.

Raut muka si ibu berubah menjadi lebih ramah. Rasanya gue pengen sujud syukur di situ. Tapi sadar kalau sujud syukur di tengah terminal Thailand dengan kondisi sepanas itu, matahari tepat di atas ubun-ubun, akan terlihat aneh. Gue urungkan niat tersebut.

Si ibu berjalan ke salah satu loket yang berada di dekat kami berdua. Refleks, gue ikutin si ibu berjalan sambil masih mengangkat paspor tinggi-tinggi dan tangan kiri menarik tas koper warna hitam. Dari jauh, kami berdua terlihat seperti induk ayam dan satu anaknya yang lahir prematur.

"Mai kon Thai, mai kon Thai." ibu tersebut seperti ngasih tau orang-orang di sekitar loket kalau gue bukan orang Thailand.
Foto asli si Mbak penjaga loket
Gue menghentikan langkah ketika si ibu menghampiri mbak-mbak yang duduk di belakang loket. Beberapa orang di sekitar loket tersebut memandangi gue dengan tatapan heran, kasihan, sekaligus jijik. Orang-orang Thailand yang berkulit putih bersih ini mungkin berpikir, "udah item, dekil, jerawatan, ngangkat-ngangkat paspor begitu, gembel Indonesia stres ini ngapain sih di negara gue?"

Di tengah rasa canggung karena diliatin begitu, HP gue kembali berbunyi. Ploy menelpon lagi. "Hallo, where are you? Are you ok?" Suara Ploy khawatir di ujung sana.

"I am ok, bro. I am at the terminal now." Jawab gue. Kemudian gue ceritakan kejadian ibu-ibu tadi dan Ploy meminta untuk ngomong dengan si ibu tersebut. Tanpa kata-kata, gue sodorin HP gue ke si ibu yang sedang berbicara dengan mbak-mbak loket.

Gue hanya memandangi si ibu ngobrol dengan Ploy. Paspor sudah gue turunkan. Koper hitam masih gue pegang erat.

Lumayan lama, si ibu memberikan HP gue kembali dan berbicara dengan mbak loket seperti memberti tau sesuatu. "Bro, get a pen, and write my phone number." Ploy menginstruksikan gue untuk mengambil bolpoin.

Gue heran, kenapa harus pake bolpoin? Gue tanya ke Ploy, "Can I write your phone number on my phone?".

"How about if your phone died? How about if your battery is running out? Think smart! You can't do anything if your phone is off." Ploy merepet. "It needs 5 until 7 hours to get my home. It will be a long journey today. And I am not sure if you can charge your iphone after this."

Perjalanan 7 jam? Di negara orang tanpa tau jalanannya bakal kayak apa? Gue pengen balik langsung ke Semarang rasanya waktu itu.

Akhirnya, gue pun menulis nomor HP Ploy di sebuah kertas lalu gue simpan di saku jaket jeans yang gue pakai.

Selesai berbicara dengan Ploy, ibu itu memberikan gue karcis van (semacam suttle bus atau travel di Indonesia). Gue nggak paham tulisannya apa, gue cuma mengeluarkan uang sesuai dengan angka yang tertera di karcis tersebut dan memberikannya ke si ibu. Dari semua tulisan di karcis, gue cuma bisa ngerti "300 baht". Tulisan lainnya terlihat seperti aksara Jawa typo di mata gue.

Karcis van
"You wait, wait here." si ibu menunjuk bangku kayu panjang di sebelah loket untuk gue duduk dan menunggu van yang akan membawa gue ke Buayai, Nakhon Ratchasima.

Ibu yang semula gue kira akan membunuh gue ini ternyata baik. Dari awal liat gue kebingungan di tengah terminal, dia cuma berniat menolong. Karena tampang gue yang keliatannya kayak orang lokal Thailand, makanya si ibu ngajak ngomong gue pake bahasa Thailand tadi.

"Thankyou so much for your help." Gue pengen peluk rasanya. Tapi si ibu keburu pergi dengan lambaian tangan dan cuma menjawab gue dengan senyuman.

Tas pinggang warna gelap lusuh yang si ibu pakai, menandakan kalo ibu itu di terminal buat kerja, cari uang. Gue cuma bisa mendoakan agar rejeki ibu itu lancar terus dan sehat selalu.

Gue memandangi punggung si ibu yang kian jauh meninggalkan gue dan meminta maaf dalam hati. Ada senyum getir yang nggak mampu gue sembunyikan.

Ibu baik banget sih. Andaikan kita bisa ngobrol, pasti kita jadi sohib.

Gue kemudian duduk dan menunggu van datang.

Ini baru sampai terminal. Perjalanan 7 jam menanti gue di depan mata. Gue deg-degan.

---

Bersambung ke bagian ketiga.

23 Oktober 2019

22

Hampir Hilang di Thailand bagian 1: Dikejar Ibu-ibu di Terminal Mo Chit Bangkok

Semenjak bisa ngomong bahasa Inggris, tingkat ke-pede-an gue solo traveling ke luar negeri meingkat. Gue selalu berpikir, "selow ae lah gue bisa minta tolong ntar disana”.


Sumber: iTravel Channel
Sampai akhirnya, Tuhan Maha Baik nyentil gue dan bilang, “baru bisa bahasa Inggris aja songong lu tong!”

Gue hampir hilang di Thailand.

Ceritanya gini...

Setelah check out dari Hotel Livotel Ladphrao Bangkok Senin pagi, gue memutuskan untuk pergi ke Distrik Bua Yai, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand buat ketemu temen online gue, namanya Ploy. Gue kenal Ploy lewat aplikasi HitMeUp. Iya, gue se-kesepian itu sampai main aplikasi begituan.
Rute Bangkok - Bua Yai
Aplikasi tuh nggak ada yang negatif. Semua tergantung pemakai, dipakai buat apa aplikasi itu, iya kan? Bisa aja lo main tinder buat dakwah dan menyebarkan agama islam. Kan bagus.

Ploy adalah temen online paling akrab gue so far. Dia punya pacar bule Jerman. Jadi bahasa Inggrisnya bagus dan aktif. Gue sering ngobrol dan diajari bahasa Thailand sama Ploy. Tapi karena kapasitas otak gue yang nggak seberapa, gue cuma ngerti "khop khun ka".
Ini Agum, waktu kita di lobi hotel.
"Lo serius mau kesana sendirian Rih?" tanya temen gue, Agum, di lobi hotel waktu kita nungguin grabcar bareng. Agum nunggu grabcar buat ke bandara dan pulang ke Indonesia, sedangkan gue nunggu grabcar buat ke terminal Mo Chit Bangkok, lalu lanjut naik suttle bus ke Bua Yai. "Nggak takut ilang?"

"Iya serius lah." Jawab gue singkat. "Kalo ilang, ntar gue halo-halo di pos satpam terdekat."

Beberapa menit kemudian grabcar yang gue pesan datang. Sebuah sedan Toyota Carmy. Drivernya seorang bapak-bapak bermuka sedikit garang. Gue cari tato mawar di kedua lengannya nggak ketemu. Lega.

Setelah memasukan tas-tas di bagasi, gue pun duduk di jok depan sebelah supir. Entah kenapa ya, gue selalu seneng duduk di sebelah supir kalau naik taksi online sendirian.

Aplikasi grab gue waktu itu
"To Mo Chit Terminal, sir. I wanna go to Bua Yai." Gue membuka kesunyian setelah beberapa saat mobil sedan itu meninggalkan hotel.

Si driver menjawab singkat, "krab."

Setelah itu hening lagi. Mobil melaju tenang menembus kepadatan jalanan Bangkok.

Gue berpikir, kok sepi banget? Nyalain musik enak kali ya.

"Sir, can you turn the music on? Dangdut maybe?" Gue sok akrab. Si om diem, memandang gue, dahinya mengkerut. "Dangdut sir, dangdut. Indonesia music."

Om supir masih diem dan memandang ke jalanan di depannya. Gue belum menyerah untuk akrab dengan si om. "You know Indonesia? Dance? Joget Om. Music, music!" Gue menunjuk-nunjuk music player di dashboard mobil dengan muka girang senyum lebar. Si om grabcar malah menggeser duduknya mepet ke jendela mobil, menjauhi gue. Kurang ajar.

Gue nyerah. Gue nggak berusaha lagi buat nyalain musik di dalam mobil. Tiba-tiba HP gue berbunyi. Ploy menelpon.

"Hallo?"

"Hey, where are you?!" Ploy ngegas di ujung sana. "Why don't you tell me? I worry about you!"

"I am on my way to Mo Chit Terminal now by grabcar. Don't worry. I am still alive." Gue coba menenangkan Ploy.

"Let me talk with the driver. Mo Chit Terminal is not small, Bro. You may be lost there!"

Astgafirullah mulutnya dijaga woy! Jangan doain gue ilang.

HP gue berikan ke om driver. Ploy dan driver berbincang dengan bahasa Thailand. Mendengarkannya membuat kepala gue pening. Kunang-kunang. Vertigo. Kemudian pingsang.

Enggak lah!
Gue nggak selemah itu.

Gue memperhatikan si om driver dari kursi penumpang dengan kepala berasap karena menerka-nerka, "mereka ngomongin apa ya? Jangan-jangan lagi ngomongin kejelekan gue."

Setelah selesai, om grabnya balikin HP ke gue. Ploy masih tersambung.

"Bro..." suara Ploy diujung sana. "The driver cannot speak English at all. Maybe just Yes or No. Take care. I've told him your direction in Mo Chit."

Mak tratap! Bakal sepi dong ini mobil sedan selama perjalanan ke terminal? Si Om-nya nggak bisa ngomong bahasa Inggris. Huhu.

Mobil sedan om grab masih melaju, membelah jalanan Kota Bangkok yang padat dan kadang macet di beberapa titik. Gue duduk diam sambil memandangi google maps yang sedari tadi gue buka. Perjalanan masih beberapa menit lagi. Taksi-taksi berwarna pink yang lalu lalang di luar jendela mobil menghibur gue di tengah kesunyian antara gue dan om grab. Imut banget taksinya woy.. Kasih pita di bagian atas, udah jadi mobil lamaran tuh. hehe. Sesaat, gue merasa kayak lagi marahan sama pacar di dalam mobil.

Laju mobil menjadi pelan ketika memasuki palang pos parkir. Gue sampai di Terminal Mo Chit. Setelah mengambil karcis parkir, mobil melaju lagi menuju sudut terminal yang ternyata luas banget.


Mirip di Indonesia, terminal Mo Mchit berisi loket-loket pembayaran bis atau pun suttle bus dengan tujuan masing-masing yang ditulis besar di setiap loket dengan huruf Thailand dan ada nomor di setiap loketnya.

Mobil yang gue tumpangi berhenti di salah satu sudut terminal. Gue pun membayar tarif grab sesuai yang tertera di aplikasi ditambah biaya parkir. Kalau nggak salah tarif parkirnya 10 baht (5 ribu rupiah).

Setelah selesai menurunkan tas-tas gue yang cuma 2 biji, gue mengucapkan "thankyou. Khop khun ka." ke si om driver.


Gue berada di depan loket bus yang penampakannya sama semua: loket berwarna dominan putih-orens dengan petugas berseragam di dalamnya dengan tulisan Thailand gede-gede. Itu bacanya apa ya Tuhaaan???

Panasnya Thailand bikin gue makin panik, "gue harus ke loket mana ya Tuhan???"

Gue berdiri sambil nenteng tas di bawah terik matahari jam 12 siang. Gue lingung dan bingung. Gerah juga. Apakah ini azab karena riya bisa bahasa Inggris?

Di tengah kelinglungan, gue melihat dari kejauhan ada seorang ibu-ibu yang agak subur badannya teriak-teriak ke arah gue dengan bahasa Thailand.

"Trang tung tung tung kap kap pung pung ... !!!"

Gue nggak ngerti.
Makin linglung.
Matahari terasa makin panas.

Ya Allah Gusti...

"Trung tung tung tang tang tung lew lew krap kun trung tung tung tung!!!" Ibu-ibu itu melambaikan tangan ke arah gue dan berlari mendekat. Iya gais, berlari ke arah gue dan teriak-teriak pakai bahasa Thailand. :(

Astagfirullahalazim.

Gue dikejar.

Gue cuma bisa diem mematung. Bingung harus ngapain.

"Trang tung tung tang tang tung khap khap nai lew krung tang tung tang tang tang tung tung !!!" Ibu itu semakin dekat dengan gue.

Gue mulai berpikir macem-macem.
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah seorang pembunuh?
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah isterinya om grab tadi yang dendam suaminya semobil sama gue?
Gimana kalau ternyata ibu itu adalah gubernur Bangkok yang nggak ridho kotanya ini didatengi gue, backpacker gembel yang tidak turut serta memajukan perekonomian Bangkok?

ASTAGFIRULLAHALAZIM !!

Gue harus lari.

GUE HARUS LARI!

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

---

Bersambung ke bagian ke dua...

28 Juli 2019

4

Insto Dry Eyes atau Naik Unta?

Source: Flying Carpet Tours
Ada banyak cara untuk menghemat budget ketika traveling. Salah satu dan yang paling sering gue lakukan adalah memangkas biaya transportasi.

Yep!
Menurut gue, biaya transportasi adalah yang paling fleksibel untuk diatur-atur dalam budgeting traveling. Gampang digoyang, cuy.

Soal transportasi, buat gue saat ini yang paling hemat, gampang, dan efisien adalah motor.

Kira-kira begini gambaran gue kalau lagi naik motor. Normal bukan?
Hampir semua perjalanan yang gue lakukan, kendaraan roda dua ini selalu jadi andalan. Bahkan ketika gue di Thailand tahun lalu, gue menggunakan motor untuk keliling kota di Nakhon Ratchasima. Gue berkendara layaknya warga lokal Thailand dan bahkan mendapat sapaan beberapa orang Thailand ketika bersisipan di jalan dengan bahasa mereka. Ofcourse, gue cuma senyum kecut sambil ngangguk-ngangguk sok ngerti. Nggak tau aja mereka yang disapa ini wong Jowo.

Selain lebih hemat, traveling naik motor membuat gue lebih mengenal tempat yang gue kunjungi. Misalnya waktu liburan tahun baru kemarin di Bali, gue jadi lebih ngerasa feel-nya Bali dibanding dengan menggunakan bus pariwisata atau mobil pribadi. Berkat mengendarai motor, gue bisa dengan mudahnya mampir di warung nasi jinggo pinggir jalan, parkir dengan leluasa, tanpa takut kendaraan gue nutupin jalan orang lain. Secara nggak langsung, gue jadi lebih nyaman nongkrong di warung nasi jinggo dan ngobrol banyak bareng si penjual.

See? Banyak keuntungan yang gue dapat ketika traveling naik motor. Meskipun begitu, naik motor apalagi jarak jauh punya beberapa kekurangan, terutama soal dampak langsung ke kesehatan badan. Yang paling gue sering rasakan adalah mata jadi pegel, sepet, dan perih akibat terlalu lama kena angin jalanan. Segala asap debu jahat masuk ke mata.


Hal ini sudah gue rasakan sejak lama. Sempat ingin mengganti motor dengan seekor unta jantan, namun gue urungkan. Gue belum siap ke pura di Bali dan nitipin unta ke tukang parkir dulu. "Pasti ada solusi yang lain!" kata hati gue waktu itu.

Setelah mencari tau, akhirnya gue ngerti bahwa mata gue yang sering pegel, sepet, dan perih ini adalah gejala dari mata kering. Wedew. Ternyata nggak cuma hati aja yang kering, mata juga bisa.

Setelah konsultasi ke beberapa pihak, akhirnya gue menemukan sahabat baik untuk mata kering gue ini nih. Kecil-kecil cabai kampus! Eh maap, cabai rawit maksudnya. Hiyaaa.

Yup, Insto Dry Eyes adalah solusi untuk masalah mata kering yang sering dialami pengendara motor macam gue ini.

Super cute
 Setelah sadar akan -nggak enaknya- mata kering dan -nggak enaknya- naik unta ke pura, gue memutuskan untuk selalu siap sedia Insto Dry Eyes kemana pun gue traveling. Bentuknya yang imut cocok di kantong, membuat gue mudah untuk membawanya.

Saku celana jeans juga masih sisa banyak!
Kadang, kalau pas di jalan mata gue lelah, gue tetesin 1-2 tetes Insto Dry Eyes ini. Jadi gejala mata kering seperti mata sepet, mata pegel, dan mata perih gampang dan cepat diatasi.

So, pilih bawa Insto Dry Eyes pas jalan-jalan atau ganti motor dengan naik unta?


Bye mata kering! :p

21 Juli 2019

6

Nekat ke Karimunjawa Cuma Bawa 400 ribu!

Kamis tengah malam itu, di saat orang-orang tidur nyenyak, gue dan tujuh teman sedang bersiap untuk berangkat ke Karimunjawa hanya dengan modal nekat tanpa persiapan matang. Jam 1 dini hari kami berangkat dari Semarang menuju Pelabuhan Kartini Jepara dengan mengendarai empat motor matic. Dinginnya udara tengah malam kerasa sampai ubun-ubun. Brr!

Kami sampai di Pelabuhan Kartini Jepara jam 4 pagi untuk selanjutnya menyebrang ke Pulau Karimunjawa. Kapal Siginjai yang akan menyebrangkan kami berangkat jam 6 pagi. Ada waktu tunggu 2 jam, gue gunain untuk tidur di salah satu warung di pelabuhan.
Setelah membeli tiket kapal seharga Rp57.000,- untuk penumpang (update 2018: Rp72.000,-) dan Rp25.000,- untuk tarif motor (update 2018: Rp27.000,-), jam 6 pagi kami naik ke Kapal Siginjai kelas ekonomi.

Secerah itu cuy cuacanya!

Ini tiket gue waktu itu. Agak kesel sih, gue ditulisnya "laki-laki". Mau protes juga sia-sia.
Perjalanan menggunakan Kapal Siginjai yang memakan waktu 4-5 jam ini kami gunakan untuk berfoto di beberapa spot menarik di atas kapal dan berkenalan dengan bule.

Sekitar jam 10 siang kami menginjakkan kaki di Pulau Karimunjawa dan langsung lanjut mencari masjid untuk solat Jumat. Sementara temen-temen cowok gue solat Jumat, kita-kita 4 orang cewek mencari penginapan.

Banyak tawaran penginapan dari warga sekitar. Mereka menyewakan rumahnya untuk dijadikan penginapan dengan fasilitas seadanya tapi harganya juga murah banget! Akhirnya kami memilih menginap di rumah warga yang memang disewakan untuk turis dengan harga Rp80.000,- per kamar untuk satu malam. Kami menyewa dua kamar untuk dua malam. Satu kamar diisi 4 cowok dan satu kamar lain untuk 4 cewek. Jatuhnya, per-malam, satu orang kena tarif Rp20.000,00. Murah kan?!

Setelah mandi dan membersihkan diri dari debu-debu jahat Semarang-Jepara, kami mencari makan siang di pinggir jalan dengan harga 10.000-an dan menuju ke Bukit Joko Tuwo untuk menikmati sunset. Tarif memasuki Bukit Joko Tuwo hanya Rp10.000,00 waktu itu. Bukit Joko Tuwo ini punya beberapa spot untuk dikunjungi. Kita harus menaiki anak tangga untuk menuju ke spot-spotnya. Kami memilih spot paling dekat karena waktu yang mepet.


Sunset cantik dengan background pulau-pulau kecil di sekitar Karimunjawa. Surga dunia!
Keesokan harinya, pagi hari kami mencari persewaan peraahu dan alat snorkeling untuk bersnokel ria di pulau-pulau sekitar Karimunjawa. Setelah mencari dan menawar, akhirnya kami mendapatkan kapal plus alat snorkeling plus guide plus solar plus makan siang dengan harga Rp100.000,- per orang.

Kami mengunjungi beberapa pulau seperti Pulau Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Kecil, dan Tanjung Gelam. Di Pulau Menjangan Besar kami menikmati adrenalin dengan masuk ke kolam yang penuh dengan hiu di tempat penangkatan hiu. Seharusnya pengunjung harus membayar tiket masuk Rp40.000,- . Tapi karena gue berhasil sepik-sepik bapak syahbandar Karimunjawa, kami pun gratis masuk penangkaran hiu ini. Hahaha.

Terlihat tenang padahal deg-degan gais
Snorkeling di sekitaran Pulau Menjangan Kecil dan Tanjung Gelam adalah hal yang nggak bisa gue lupain. Airnya tenang, bersih, dan karangnya bagus-bagus. Dari atas perahu gue bisa melihat karang-karang di bawah air karena karang disini cuma ada di kedalaman setengah meter. Gue beruntung juga karena waktu itu buln Agustus air laut masih surut. Selama snorkeling pantat gue sering kena karang juga. Tapi buat kalian yang mau liburan kesini hati-hati ya. Jangan sampai ngerusak karang.


Cantik banget gak sih?!
Setelah puas dengan snorkeling di beberapa spot underwater dan menikmati sunbath di Tanjung Gelam dengan pasir putihnya, kami kembali ke Pulau Karimunjawa jam 4 sore. Kami langsung menuju ke Bukit Joko Tuwo lagi untuk mengunjungi spot yang lebih tinggi dari sebelumnya dan menikmati sunset. Spot ini namanya Bukit Cinta.

Landmark Karimunjawa yang terkenal itu uwuwu

Malamnya, kami menikmati seafood di Alun-alun Karimunjawa yang penuh dengan pilihan makanan. Sebagai pecinta seafood berkantong tipis, gue benar-benar excited. Banyak banget pilihan seafood dan harganya murah. Gue cuma menghabiskan uang sekitar Rp25.000,- untuk makan seafood disini.

Penjual seafood di Alun-alun Karimunjawa menjual ikan, udang, lobster, dan lain-lain dalam keadaan mentah bahkan masih hidup. Kami bisa memilih sendiri hasil laut apa yang ingin kami makan dan si penjual akan segera mengolahnya menjadi masakan yang enak sesuai keinginan. Jadi benar-benar segar seafood di Alun-Alun Karimunjawa ini.

Minggu pagi jam 5 kami harus segera menuju dermaga untuk kembali ke Jepara dengan Kapal Siginjai. Harga tiket kapal sama dengan ketika kami berangkat.

Minggu siang gue dan teman-teman sampai di Jepara dan langsung pulang menuju ke Semarang dengan membawa pengalaman traveling yang menyenangkan dan kulit yang menghitam. Gue nggak masalah. Karena menghitamnya kulit ini sebagai bukti bahwa gue sudah pernah dan menikmati shirt trip di Karimunjawa.

Untuk trip Karimunjawa ini gue cuma menghbiskan uang Rp430.000,- aja. Rp30.000,- gue pakai buat beli celana pantai di Alun-alun. Hehe.

Gue selalu punya rencana kembali lagi ke Karimunjawa meskipun belum tau kapan. See you again Karimunjawa!

Teman