Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

23 November 2021

0

Tempat Wisata Gratis di Jogja

Kalau ada yang gratis, kenapa harus bayar?

Yup, itu adalah pepatah pegangan orang Indonesia kebanyakan, gue salah satunya. Sebisa mungkin mendapatkan sesuatu dengan harga yang murah, malah kalau bisa gratis, termasuk tempat wisata.

Siapa si yang nggak mau jalan-jalan gratis? Bisa refresh pikiran tanpa ngeluarin uang sepeser pun? Gue rasa semua orang mau.

Jogja adalah salah satu destinasi wisata favorit orang Indonesia dan terkenal dompet friendly, alias murah. Makanan di Jogja murah-murah, oleh-olehnya murah, dan tiket tempat wisatanya pun, murah! Tapi, tau nggak kalian? Di samping murah, Jogja juga punya beberapa destinasi wisata yang gratis. Sekali lagi, GRATIS!

Kalian nggak salah baca, beneran gratis dan gue sudah membuktikannya. So, here we go! 5 tempat wisata gratis di Jogja, versi Farih Ikmaliyani asek~ :

1. Masjid Gedhe Mataram Kotagede

Aduh, ini favorit gue banget! Gue udah kesini 2 kali dan selalu excited. Tempatnya luas, sepi, estetik, banyak spot foto, dan tentunya bersejarah.

Masjid Agung Kotagede Jogja. Foto oleh Farih Ikmaliyani

Masjid Gedhe adalah masjid peninggalan Kerajaan Mataram yang dibangun tahun 1640 M oleh Sultan Agung Mataram bersama rakyatnya yang kebanyakan beragama Hindu dan Budha. Nah, udah kebayang kan gimana kerennya ni masjid? Rumah ibadah orang islam, tapi yang bangun orang-orang Hindu dan Budha.

Ornamen-ornamen dan arsitektur Hindu-Budha melekat di setiap sudut masjid. Pintu masuknya aja berupa gapura kecil kayak yang biasa kita temui di pura-pura Bali. Pelatarannya pun masih didominasi bebatuan bata merah arsitektur Hindu-Budha. Di dalam masjid, kita bakal disuguhi arsitektur Jawa kuno hasil karya Sultan Agung Mataram dan diteruskan oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X.

gerbang depan masjid

Yang paling unik dari Masjid Gedhe Mataram ini adalah adanya kolam pemandian dan makam kuno di kompleks masjid. Jadi, kompleks masjid ini sangat luas. Sebelum masuk ke dalam masjid, kalian bisa belok ke kiri dan akan memasuki kawasan seperti tempat pemandian dan juga makam kuno di paling ujung. Semua orang bisa memasuki area makam kuno ini namun dilarang membawa kamera dan wajib mengenakan pakaian adat Jawa. Untuk perempuan yang sedang menstruasi, dilarang masuk dulu ya bestie~

tempat kolam pemandian. dulu dipakai raja-raja

plataran depan makam kuno. sebelah kiri warna putih, itu gerbang masuk makam

Masjid ini masih aktif digunakan warga sekitar dan tentu saja siapa pun boleh masuk dan beribadah, gratis.

2. Masjid Gedhe Kauman

Masih tentang masjid, destinasi gratis di Jogja selanjutnya adalah Masjid Gedhe Kauman. Masjid cantik yang terletak di sisi kanan Alun-Alun Utara ini dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama), dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M.

tampak depan Masjid Gedhe Kauman. foto oleh Farih Ikmaliyani

Gue sering banget ke Alun-alun Utara Jogja tapi cuma sekali mampir ke masjid ini, itu pun nggak sengaja karena berniat untuk solat.

Dari luar, masjid ini nampak seperti bangunan biasa yang dikelilingi tembok besar. Nggak menarik. Tapi setelah masuk gerbang dan sampai di pelatarannya, gue terpesona. Masjid dengan latar luas dan disain kuno terlihat semakin cantik di jam-jam golden hour waktu gue kesana. Di halaman masjid juga banyak berjejeran street food sederhana ala Jogja alias warung kucingan yang siap memberi kalian asupan selama menikmati bangunan kuno Masjid Kauman Jogja.

pelataran masjid

Arsitektur di dalam Masjid Gedhe Kauman masih sangat kental dengan disain kuno. Lampu-lampu gantung jadul dan tiang-tiang dari kayu, bikin betah lama-lama buat anteng di dalam masjid.

suasana di kota santri. eh, dalam masjid

Dibanding masjid Gedhe Mataram, Masjid Kauman ini emang nggak terlalu luas dan banyak spot foto. Tapi gue merasakan vibes yang Jogja banget ketika mengunjungi Masjid Kauman ini. Worth to visit, sekalian solat, ya kan?

3. Malioboro & Titik Nol Kilometer

Berbeda dengan Masjid Gedhe Kauman, nggak kehitung berapa kali gue ke Malioboro dan Titik Nol Kilometer Jogja. Sering banget woy!


suasana Jalan Malioboro beserta senimannya

Ikon Kota Jogja ini udah sangat terkenal. Tempat ini gak pernah sepi didatengin pengunjung, selalu ramai. Malioboro dan Titik Nol Kilometer sebenernya hanya jalanan biasa yang terdapat banyak penjual makanan dan oleh-oleh khas Jogja, serta diramaikan dengan adanya beberapa seniman lokal yang pentas di sepanjang Jalan Malioboro. Kalian bisa nemuin pedagang batik, makanan, hingga aksesoris-aksesoris lucu di sepanjang jalan Malioboro. Seniman jalanan yang bertalenta pun ramai berkumpul di jalan ini sehingga membuat suasana semakin hangat.

Titik Nol Kilometer adalah ujung dari jalan Malioboro yang berupa perempatan jalan. Di sekitar Titik Nol Kilometer ini, banyak terdapat bangunan kuno khas Eropa yang seperti membawa kita pergi kesana.

kawasan Nol Kilometer Jogja

Suasana di Malioboro dan Titik Nol Kilometer yang Jogja buanget ini mungkin yang jadi magnet wisatawan untuk selalu menghabiskan malam di sini. Jangan lupa untuk berfoto di samping plang nama Jalan Malioboro, ya! xD

4. Tugu Jogja

Lokasi yang sering gue lewatin tapi nggak pernah gue kunjungin, alias gue nggak pernah sengaja berhenti di Tugu Jogja untuk berfoto atau menghabiskan waktu disana. Gue masih ingat, dulu ada mitos jika foto bersama kekasih di Tugu Jogja, pasti hubungan nggak awet. Haha, entah.

sumber: suara.com

Tugu Jogja adalah sebuah monumen yang sering dipakai sebagai simbol Yogyakarta. Terletak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo, tugu Jogja memiliki nilai simbolis yang merupakan garis yang bersifat magis yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi.

Tugu Jogja dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Konon pada saat itu, Tugu Jogja digunakan oleh Sultan untuk patokannya bertapa menghadap puncak Gunung Merapi.

Saat gempa bumi besar yang terjadi pada 10 Juni 1867, Tugu Jogja ini pernah runtuh dan dibangun kembali oleh pemerintah Hindia-Belanda. Beberapa bagian diubah pada saat renovasi, namun warna putih khas tugu ini tetap dipertahankan.

Jujur, gue selalu ingin menepi ketika lewat Tugu Jogja ini. Suasananya nyaman banget, banyak lampu temaram di sekitar Tugu dan juga coffeeshop. Karena lokasinya di tengah jalan, orang bebas buat berkunjung dan gratis tentunya. Someday deh, gue mampir dan foto!

5. Pantai Seruni di Gunung Kidul

Oke, ini lokasi wisata gratis terakhir versi gue (untuk sekarang); Pantai di Gunung Kidul Yogyakarta.

Udah tau kan, kalau Jogja punya buanyak pantai pasir putih bersih dengan air sebening kristal? Yap, muka gebetan lo kalah beningnya.

Tahun 2013 gue baru tau kalau Jogja punya pantai pasir putih yang cakep-cakep. Banyak pilihan pantai pasir putih di Selatan Jogja ini. Mulai yang berbayar sampai yang gratis alias belum dikomersilkan oleh pejabat setempat.

pasir aslinya lebih cantik dari foto ini

Pantai Seruni adalah salah satu pantai yang masih alami dan masuknya gratis. Gue kesini 1 bulan lalu, saat PPKM. Beberapa pantai terkenal ditutup dan Pantai Seruni ini adalah salah satu pantai yang masih bisa dikunjungi.

chill ye ngga? padahal besoknya kerja

Beberapa vila terlihat mulai dibangun di sekitar pantai ini. Baliho-baliho rancangan pembangunan pantai juga berjejer sepanjang jalan menuju pantai Seruni. Jalannya masih jelek karena memang belum terbangun dengan baik.

Gue sampai di pantai Seruni sekitar jam 5 pagi. Hanya ada 2 tenda camping dan 3 warung berjejer di pantai. Sampai tengah hari, suasana pantai masih sepi, hanya ada beberapa kelompok pengunjung yang datang. Suasananya enak banget dan chill. Gue suka pantai pasir putih yang sepi gini.

ngopi di pinggir pantai yang sepi, kapan lagi?

Pasir putih, karang di tepi pantai, dan beningnya air laut, membuat gue betah berlama-lama di Pantai Seruni.

Kalau kalian nggak pengen ke Pantai Seruni, kalian bisa telusuri panta-pantai di selatan Jogja ini. Banyak pantai yang cantik dan masih belum terekspose.

11 Juli 2021

2

Bakso di Kereta Api Isinya Cuma 3 Biji

Gue suka naik kereta eksekutif malam. Selain suasananya boboable, naik kereta malam di tengah pandemi sangat leluasa karena 2 kursi cuma diisi satu orang. Jadi gue sendirian dan kursi sebelah kosong. Makin bebas tidur dan melakukan aktivitas apa pun. Termasuk makan tanpa takut risih sama orang di sebelah.

Kemarin, 3 Juli 2021, gue pulang ke Pekalongan dengan menggunakan kereta Sembrani eksekutif yang berangkat dari Stasiun Gambir jam 7 malam. Karena nawaitunya untuk tidur di kereta, jadi outfit yang gue pakai pun boboable: celana jeans longgar + hoodie tebel + sepatu dengan kaos kaki tinggi biar nggak dingin.

Baru jalan beberapa menit, gue sudah ngantuk. Setelah kursi gue senderin, gue pun mulai memejamkan mata dan tidur. Dua jam berselang, gue bangun dan laper. Kebetulan, ada 2 karyawan (pramugari) kereta api yang lewat dan menawarkan makanan. Di antara makanan-makanan yang mereka coba tawarkan, bakso kuah berhasil mencuri perhatian gue.

"Enak nih kayaknya malem-malem gini. Dingin, makan bakso panas." batin gue.

"Mau dong baksonya satu. Berapa?"

"Dua puluh lima ribu," jawab si pramugari. Kaget. Gue pikir harganya 15 ribu-an. Akhirnya gue pun membeli bakso itu. Si Mbak mencatat pesanan gue kemudian berjalan ke gerbong makan. "Tunggu sebentar ya, nanti kami antarkan pesanan ibu."


Selang beberapa menit, sebuah cup bertuliskan "Bakso Enak" mirip wadah pop mie sudah di depan mata. Saat gue terima, cup bakso "Bakso Enak" itu tertutup rapat. Ada sambel-kecap-saus dan sendok yang diberikan terpisah di dalam plastik. Kuahnya panas, terlihat dari asap yang keluar secara intens dari dalam cup. Gue penasaran, apakah rasanya benar-benar enak seperti tulisan yang di cupnya tersebut?

Gue aduk-aduk isi cup itu sambil menghitung berapa biji bakso yang ada di dalam sana. Guys, menghitung jumlah biji bakso yang akan kita makan ini penting untuk menentukan berapa lama waktu untuk menghabiskannya. Adukan pertama, hasil hitung jumlah baksonya 3 biji + 1 tahu kulit mini. Nggak percaya, gue aduk lagi, dan hasilnya masih sama: 3 biji bakso kecil + 1 tahu kulit mini

Sepi bet ni cup isinya cuma 3 biji bakso + 1 tahu kulit yang nggak gede-gede amat?!

Tambahan mie kuning di dalamnya, belum cukup membuat cup bakso ini terlihat penuh.

Buat traveler low budget alias bokek kayak gue ini, 25.000 rupiah untuk seporsi bakso, harusnya bisa lebih banyak isinya.

Sudah dibeli, masa tidak dimakan? Ya, akhirnya gue makan bakso harga 25 ribu yang berisi 3 biji ini.

Setelah gue tiup-tiup, kuahnya gue cicipin. Asin, rasanya kayak kuah Indomie ayam bawang, pas buat gue yang emang suka asin dan nggak berekspektasi tinggi soal makanan. Tapi untuk kalian yang emang ngerti makanan, kuah bakso "Bakso Enak" ini bakal dinilai biasa aja. Cita-rasanya kurang. Terlalu sederhana, asin doang. Minimalis banget konsep kuahnya.

Untuk baksonya, meskipun kecil tapi lumayan kerasa dagingnya nggak cuma tepung doang. Baksonya nggak pelit urat, tapi juga nggak banyak-banyak amat. Ya.. tergolong niatlah untuk menjadi sebuah bakso.



Tahunya sendiri agak nggak niat ya, Bun. Terlalu kecil dan lemes. Kayak nggak semangat jadi tahu. Sekali caplok, tahu mini itu pun hilang di dalam mulut gue. Rasa tahunya standar banget kayak tahu pada umumnya.

Mie kuning yang ada di antara bakso dan tahu, rasanya biasa banget. Sedikit hambar, mirip mie kuning yang dijual abang gerobak bakso komplek.

Gue pecinta kecap dan nggak suka pedeas. Tapi untuk kali ini gue sedang nggak pengen menambah rasa manis dan pengen ngerasain sensasi pedes dikit di dalam bakso. Jadi gue tambahi sambel sebanyak sekitar 3 tetes. Gue pikir sedikit rasa pedas akan menambah cita rasa hangat di perut gue.

Karena gue lapar dan merasa kedinginan, bakso 25 ribu itu pun gue habiskan tanpa waktu lama. Lumayan, menghangatkan badan.

Oh iya, ini adalah kali pertama gue beli bakso di dalam kereta. Sebelumnya, menu yang sering gue nikmati di kereta api adalah nasi sapi lada hitam.

So far, bakso 'Bakso Enak' KAI ini nilainya: biasa aja, buat gue. Tapi cukup buat penghangat badan dan memenuhi mulut dengan rasa asin. Kuahnya enak, bikin gue ngerasa kayak lagi menikmati Indomie kuah ayam bawang.

Biar kayak blogger-blogger review yang lain, gue kasih nilai 'Bakso Enak' ini 6 dari skala 10.

Itu cerita gue menikmati bakso kereta api pertama kali. Kalian pernah makan bakso ini juga nggak? menurut kalian gimana rasanya?

24 Juni 2020

6

Rapid Test Sebelum Kembali Bekerja

Pandemi covid-19 bener-bener jadi mimpi buruk untuk sebagian besar masyarakat di seluruh dunia. Semua orang merasakan imbasnya, termasuk gue. Gue harus terpaksa mencoret list-list destinasi wisata yang ingin gue kunjungi tahun ini karena keadaan memaksa untuk stay at home.

Jangankan untuk jalan-jalan, untuk kerja balik ke tempat perantauan aja susah. Yang ada di kepala gue sekarang adalah; "stay at home atau mati?".

sumber: The Jakarta Post
Tepat 3 bulan lalu gue meninggalkan Jakarta karena keadaan yang mengkhawatirkan. Orang tua gue hampir nelpon tiap hari ketika gue WFH di kos Jakarta Barat karena kantor ditutup. Mereka khawatir anaknya terkena virus padahal di kos gue hanya anteng di kamar, paling banter ke warteg. Untuk menghindari kecemasan berlebih orang tua, akhirnya gue pulang kampung sampai sekarang.

Hal yang gue lakukan ini juga dilakukan oleh temen-temen gue yang merantau. Mereka pulang kampung ketika keadaan masih belum separah saat PSBB dan kendaraan masih boleh keluar masuk dengan leluasa. Mereka memanfaatkan WFH untuk pulang ke kampung halaman dan stay safe bersama keluarga di rumah.

Setelah tiga bulan menjalani hari-hari dengan anteng di rumah atau mati, pemerintah mulai melonggarkan PSBB di berbagai wilayah dan mulai mengkampanyekan 'new normal'. Katanya, new normal adalah hidup normal baru berdampingan dengan virus corona karena virus corona ini mustahil untuk hilang 100%. Fuck, berdampingan tu sama pasangan, bukan sama virus! Beberapa perusahaan pun mulai kembali membuka bisnisnya dan karyawan-karyawan yang tadinya WFH, harus kembali bekerja di kantor seperti biasa.

Nah, tapi sebelum masuk kantor, perusahaan-perusahaan ini sebagian besar mewajibkan karyawannya untuk menjalani rapid test covid-19 dan karantina mandiri selama 14 hari. Tujuannya biar ketika mereka masuk kantor, ada bukti yang menunjukan kalau mereka bebas dari virus corona dan aman. Gitu.

Beberapa perusahaan memfasilitasi karyawan mereka dengan rapid test gratis dan hotel untuk karantina di dekat kantornya, seperti yang temen gue rasain. Sebelum masuk kantor, dia harus rapid test dan anteng di hotel yang disediain perusahaan karena selama berbulan-bulan ini dia pulang ke Jawa dan kembali kerja di Kalimantan.

Nah, tapi nggak semua perusahaan se'baik' itu untuk memfasilitasi karyawan mereka melakukan rapid test apalagi sampai hotel untuk karantina, padahal mewajibkan rapid test. Yang kayak gini, bikin karyawan mau nggak mau melakukan rapid test sendiri dengan dana pribadi mereka.

Jujur, kalau gue yang harus rapid test covid-19 sekarang, gue bingung harus kemana dan nggak tau bakal bayar berapa. Selama pandemi covid-19 ini gue menjauhi dokter dan rumah sakit. Takut ketularan aja gitu cuy, apalagi pakaian mereka APD gitu gue liatnya kayak astronot. :( mau ganti karet behel berasa ke luar angkasa.

Untungnya, di era modern seperti sekarang, kita dimudahkan dalam berbagai hal termasuk kesehatan. Semuanya bisa online. Cek kesehatan pun lebih mudah karena bisa online, termasuk rapid test covid-19. Yup, buat kita yang bingung tapi butuh rapid test, kita bisa memesan rapid test lewat aplikasi halodoc dan memilih fasilitasnya apa aja dengan harga berapa. Jadi bisa nyesuaiin kantong masing-masing.

Halodoc adalah aplikasi yang lahir di tahun 2016 dan fokus untuk memberikan solusi lengkap dan terpercaya dalam memfasilitasi kesehatan masyarakat secara luas. Beli obat dan vitamin, konsultasi dokter, sampai cari rumah sakit untuk kontrol bisa semua lewat aplikasi smartphone ini. Urusan kesehatan jadi gampang, ada di genggaman.

Di tengah pandemi ini, Halodoc memfasilitasi masyarakat untuk menjalani rapid test di berbagai daerah. Lokasi dan biaya rapid test beragam. Ada rapid test dengan metode drive thru, ada yang lengkap dengan konsultasi dokter, dan lain-lain. Cakep.

Jadi buat kalian yang harus rapid test untuk kembali bekerja atau sekedar memastikan bebas dari virus corona, udah nggak bingung lagi kan harus ngapain dulu?

Sehat selalu ya gais. Stay safe and tetep stay at home aja kalo kalian nggak butuh-butuh banget buat ke luar rumah. Jalan-jalan, pending tahun depan! xD

30 November 2019

8

Bu Susi dan Wishlist di Pangandaran

Gue patah hati ketika kemarin Presiden Jokowi mengumumkan jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju. Bu Susi Pudjiastuti nggak dipilih lagi jadi menteri Kelautan dan Perikanan. Padahal Bu Susi adalah menteri favorit gue dan gue berharap beliau masih menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju.

Baca juga: Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Banyak hal yang gue suka dari Bu Susi. Mulai dari gayanya yang tomboy, ke-santuy-annya menenggelamkan kapal, pemikirannya yang out of the box, dan lain-lain. Sebagai cewek tomboy, gue seperti memiliki role model ketika melihat sosok Bu Susi ini. Bedanya mungkin beliau jago menenggelamkan kapal, kalau gue cuma jago menenggelamkan perasaan. Jiahh~

Soal pendidikan formal, Bu Susi bukan seorang yang berpendidikan tinggi. Ijazah terakhirnya cuma sampai SMP. Tapi hal itu nggak menutup kesempatan untuk beliau berkarir. Nggak tanggung-tanggung, Bu Susi sudah memiliki perusahaan yang go international!

Dari semua pencapaian yang diperoleh Bu Susi, yang bikin gue penasaran adalah: lingkungan seperti apa yang mampu membentuk sosok Susi Pudjiastuti menjadi sukses walaupun hanya dengan ijazah SMP?

Bu Susi Pudjiastuti lahir dan gede di Pangandaran, Jawa Barat. Kalau gue jadi Bu Susi, pasti gue akan jalan-jalan terus tiap hari setelah putus sekolah, bukan bangun usaha kayak beliau gitu. Gimana enggak? Setelah gue kepoin, Pangandaran ternyata memiliki banyak tempat wisata cantik yang selama ini kurang terekspos! Beberapa diantaranya sukses bikin gue pengen segera packing dan nyari hotel buat stay disana beberapa hari.

Ini adalah wishlist tempat cantik di Pangandaran favorit gue :

Pantai Pasir Putih Cagar Alam Pananjung

Sumber: tripadvisor.co.id
Sebagai pecinta pantai garis miring, Pantai Pasir Putih di Cagar Alam Pananjung Pangandaran adalah destinasi favorit nomor satu. Pantai ini letaknya di dalam cagar alam, jadi lingkungannya terjaga dan masih asli. Dari foto-foto yang gue pantau dari google, ada spot foto kapal karam juga di pantai ini yang sangat menarik dan bikin beda dari pantai-pantai kebanyakan.

Pantai Batu Karas

Sumber: jejakpiknik.com
Yang kedua masih pantai. Kali ini bukan pantai pasir putih. Namanya Pantai Batu Karas. Pasirnya berwarna cokelat gelap. Ombak di pantai ini gede, jadi banyak yang datang kesini buat berselancar.

Salah satu bagian yang gue suka dari pantai adalah suara ombak. Makanya Pantai Batu Karas berhasil menarik perhatian gue buat dijadikan destinasi impian di Pangandaran.

Green Canyon Cukang Taneuh

Ini yang paling bikin gue penasaran: Green Canyon-nya orang Sunda, Cukang Taneuh. Dekat dengan Pantai Batu Karas, Green Canyon menyuguhkan pemandangan alam luar biasa. Jurang dengan dasar sungai berair jernis bisa dirasakan di Green Canyon ini.

Sumber: idntimes.com
Nama Green Canyon diberikan oleh turis asal Perancis yang datang ke Cutang Taneuh tahun 1993 karena airnya berwarna hijau.

Di Green Canyon, banyak kegiatan asik yang bisa dilakukan. Misalnya menjelajahi goa, rafting, berenang, atau pun mengerjakan skripsi. Iya, saking menenangkannya tempat ini.

Sumber: dakatour.com
Setelah menentukan tujuan wisata, biasanya gue mencari tempat menginap. Ada nggak tempat buat stay disana. Baru deh yakin buat jalan ke daerah tersebut. Biasanya gue numpang di rumah temen. Tapi karena nggak punya temen di Pangandaran, gue jaga-jaga dulu hunting hotel di Pangandaran.

Gue hunting pakai Pegipegi. Di tampilan depan Pegipegi, gue langsung disuguhi menu 'hotel'. Nggak perlu scroll atau cari-cari menu penginapan lagi. Pegipegi ngerti banget 4 menu yang sering gue pakai jalan-jalan: kereta api, pesawat, hotel, dan bus/travel.

Setelah klik gambar 'hotel', langsung aja masukin destinasi tujuan. Bisa nama kota atau nama landmark. Pegipegi loadingnya cepet, nggak berat.
Langsung nemu 'hotel' gais. Segampang itu
Selain langsung disodorin menu-menu favorit, Pegipegi juga memudahkan dalam memfilter fasilitas dan harga hotel yang gue cari. Tombolnya gede-gede jadi mantep gak bikin typo salah pencet. Filter hotelnya sendiri juga lengkap sih kata gue. Mau nyari room yang family friendly, buat kencan, atau bahkan kategori mewah juga ada.
Menu 'filter'nya mantep banget gue jari preman gue ini
Dari Pegipegi, gue jadi tau ternyata hotel di Pangandaran banyak yang murah dengan fasilitas nggak murahan. Duh makin mupeng gue main ke daerah idola gue yang satu ini, Bu Susi Pudjiastuti.

28 Oktober 2019

10

Tahun Baru di Bali Pake Kartu Kredit BNI, Berani?

Nggak semua orang suka backpackeran. Alasannya nggak nyaman dan nggak bisa fokus menikmati wisata. Giliran ditawari liburan mewah dan nyaman, nggak mau juga. Alasannya mahal, nggak ada duit. Akhirnya batal jalan-jalan. Diem di rumah, rebahan. Gitu tuh, problematika manusia jaman now, termasuk temen-temen SMA gue yang merencanakan liburan tahun baru di Bali. Mereka nggak mau backpackeran, tapi juga nggak mau keluar duit banyak. huft! Akhirnya, gue yang kebagian tugas searching promo-promo hotel dan akhirnya gue nemu promo kartu kredit BNI.
Source: https://www.threesixtyguides.com

Promo Kartu Kredit BNI

Sewaktu SMA, gue punya geng ciwi-ciwi yang bertahan sampai sekarang. Kita merencanakan liburan bareng ke Bali sejak lama dan belum pernah terealisasikan hingga Jokowi jadi presiden dua kali dan Jan Ethes mulai sekolah. Kendala utamanya ada 2; soal waktu yang susah disamain karena punya kesibukan sendiri-sendiri dan duit.

"Kita jadi tahun baruan di Bali gak sih?"

"Gak tau nih gue gak libur."
"Gue lagi bokek banget anjirrr."
"Gue pengen jadi Anya Geraldine."

Itu obrolan kami di grup Line.

Masalah kesibukan, bisa diatasi dengan merencanakan cuti kerja bersamaan dari jauh-jauh hari. Jadi cuti bareng-bareng dan disamain waktu cutinya buat liburan.

Kalo masalah duit, semua orang juga bermasalah kecuali keluarga Bakrie. Tapi apa itu artinya cuma keluarga Bakrie yang boleh liburan tahun baru? Kan enggak. Banyak cara yang bisa dilakukan buat menghemat biaya liburan. Salah satunya adalah dengan liburan gaya backpacker hemat yang selama ini gue terapkan. Masalahnya adalah, temen-temen gue ini tipe yang nggak bisa tidur di musola atau pun bermalam di McD. Mereka pengennya tidur di hotel, ada kolam renangnya, dan viewnya langsung laut. Mampus.

"Gue pengen liburan kayak Siti Badriah gitu. Tahun baruan di Bali, breakfast di kolam renang." ucap salah satu temen gue, Anis.

"Duitnya ada?" tanya gue.

"Enggak." jawab Anis singkat.

"Sadar Nis, kita bukan Nia Ramadani. Tahun baru di Bali pasti mahal semuanya. Apalagi hotelnya. Gue gak berani." Nabila, temen gue yang lain coba menyadarkan Anis dari kehaluan.

"Nyari laki model Ardi Bakrie dimana sih?" Anis makin halu.

Gue kasian.

"Rih, lo kan biasanya nemu aja promo jalan-jalan murah dan segala isinya. Buat liburan di Bali ini, lo nggak ada ide apa gitu buat menghemat budget?" tanya Nabila.

"Harus hotel ya?" gue tanya.

"Iya."

"Harus yang ada kolam renangnya?"

"Iya."

"Harus yang kalo bangun tidur liatnya laut ya?"

"Iya!"

"Yaudah. Ngecamp aja di pinggir pantai yuk. Pake tenda gunung, bawa bekel dari rumah."

Gue digebug.

Akhirnya gue memutuskan untuk hunting promo liburan dulu yang ada sampai akhir tahun karena bakal dipake pas tahun baru.

Setelah berselancar di internet beberapa hari, nyari promo yang paling menguntungkan, gue ketemu sama promo kartu kredit BNI untuk hotel di Bali dari CekAja.com yang berlaku sampai Januari 2020! Bisa nih gue pake buat tahun baruan.

Gue langsung ngabarin temen-temen gue di grup.


"Ada diskon gede di Bali Niksoma Boutique Beach Resort tuh, lumayan." gue menawari dengan gaya sales kompor gas.

"Ada kolam renangnya gak disana?" tanya Anis.
"Ada."
"Bangun tidur bisa langsung liat laut?"
"Bisa."
"Bisa makan di atas kolam renang kayak Siti Badriah gitu gak?"
"Bisa. Request makan sambil nyelem juga bisa ntar gue bilangin ke yang punya hotel."
Sekarang waktunya nabung biar tahun baru nanti terealisasikan liburan bareng temen-temen di Bali pake promo kartu kredit BNI dari CekAja.com.

https://www.cekaja.com/banks/bni/kartu-kredit/promo

21 Juli 2019

6

Nekat ke Karimunjawa Cuma Bawa 400 ribu!

Kamis tengah malam itu, di saat orang-orang tidur nyenyak, gue dan tujuh teman sedang bersiap untuk berangkat ke Karimunjawa hanya dengan modal nekat tanpa persiapan matang. Jam 1 dini hari kami berangkat dari Semarang menuju Pelabuhan Kartini Jepara dengan mengendarai empat motor matic. Dinginnya udara tengah malam kerasa sampai ubun-ubun. Brr!

Kami sampai di Pelabuhan Kartini Jepara jam 4 pagi untuk selanjutnya menyebrang ke Pulau Karimunjawa. Kapal Siginjai yang akan menyebrangkan kami berangkat jam 6 pagi. Ada waktu tunggu 2 jam, gue gunain untuk tidur di salah satu warung di pelabuhan.
Setelah membeli tiket kapal seharga Rp57.000,- untuk penumpang (update 2018: Rp72.000,-) dan Rp25.000,- untuk tarif motor (update 2018: Rp27.000,-), jam 6 pagi kami naik ke Kapal Siginjai kelas ekonomi.

Secerah itu cuy cuacanya!

Ini tiket gue waktu itu. Agak kesel sih, gue ditulisnya "laki-laki". Mau protes juga sia-sia.
Perjalanan menggunakan Kapal Siginjai yang memakan waktu 4-5 jam ini kami gunakan untuk berfoto di beberapa spot menarik di atas kapal dan berkenalan dengan bule.

Sekitar jam 10 siang kami menginjakkan kaki di Pulau Karimunjawa dan langsung lanjut mencari masjid untuk solat Jumat. Sementara temen-temen cowok gue solat Jumat, kita-kita 4 orang cewek mencari penginapan.

Banyak tawaran penginapan dari warga sekitar. Mereka menyewakan rumahnya untuk dijadikan penginapan dengan fasilitas seadanya tapi harganya juga murah banget! Akhirnya kami memilih menginap di rumah warga yang memang disewakan untuk turis dengan harga Rp80.000,- per kamar untuk satu malam. Kami menyewa dua kamar untuk dua malam. Satu kamar diisi 4 cowok dan satu kamar lain untuk 4 cewek. Jatuhnya, per-malam, satu orang kena tarif Rp20.000,00. Murah kan?!

Setelah mandi dan membersihkan diri dari debu-debu jahat Semarang-Jepara, kami mencari makan siang di pinggir jalan dengan harga 10.000-an dan menuju ke Bukit Joko Tuwo untuk menikmati sunset. Tarif memasuki Bukit Joko Tuwo hanya Rp10.000,00 waktu itu. Bukit Joko Tuwo ini punya beberapa spot untuk dikunjungi. Kita harus menaiki anak tangga untuk menuju ke spot-spotnya. Kami memilih spot paling dekat karena waktu yang mepet.


Sunset cantik dengan background pulau-pulau kecil di sekitar Karimunjawa. Surga dunia!
Keesokan harinya, pagi hari kami mencari persewaan peraahu dan alat snorkeling untuk bersnokel ria di pulau-pulau sekitar Karimunjawa. Setelah mencari dan menawar, akhirnya kami mendapatkan kapal plus alat snorkeling plus guide plus solar plus makan siang dengan harga Rp100.000,- per orang.

Kami mengunjungi beberapa pulau seperti Pulau Menjangan Besar, Menjangan Kecil, Cemara Kecil, dan Tanjung Gelam. Di Pulau Menjangan Besar kami menikmati adrenalin dengan masuk ke kolam yang penuh dengan hiu di tempat penangkatan hiu. Seharusnya pengunjung harus membayar tiket masuk Rp40.000,- . Tapi karena gue berhasil sepik-sepik bapak syahbandar Karimunjawa, kami pun gratis masuk penangkaran hiu ini. Hahaha.

Terlihat tenang padahal deg-degan gais
Snorkeling di sekitaran Pulau Menjangan Kecil dan Tanjung Gelam adalah hal yang nggak bisa gue lupain. Airnya tenang, bersih, dan karangnya bagus-bagus. Dari atas perahu gue bisa melihat karang-karang di bawah air karena karang disini cuma ada di kedalaman setengah meter. Gue beruntung juga karena waktu itu buln Agustus air laut masih surut. Selama snorkeling pantat gue sering kena karang juga. Tapi buat kalian yang mau liburan kesini hati-hati ya. Jangan sampai ngerusak karang.


Cantik banget gak sih?!
Setelah puas dengan snorkeling di beberapa spot underwater dan menikmati sunbath di Tanjung Gelam dengan pasir putihnya, kami kembali ke Pulau Karimunjawa jam 4 sore. Kami langsung menuju ke Bukit Joko Tuwo lagi untuk mengunjungi spot yang lebih tinggi dari sebelumnya dan menikmati sunset. Spot ini namanya Bukit Cinta.

Landmark Karimunjawa yang terkenal itu uwuwu

Malamnya, kami menikmati seafood di Alun-alun Karimunjawa yang penuh dengan pilihan makanan. Sebagai pecinta seafood berkantong tipis, gue benar-benar excited. Banyak banget pilihan seafood dan harganya murah. Gue cuma menghabiskan uang sekitar Rp25.000,- untuk makan seafood disini.

Penjual seafood di Alun-alun Karimunjawa menjual ikan, udang, lobster, dan lain-lain dalam keadaan mentah bahkan masih hidup. Kami bisa memilih sendiri hasil laut apa yang ingin kami makan dan si penjual akan segera mengolahnya menjadi masakan yang enak sesuai keinginan. Jadi benar-benar segar seafood di Alun-Alun Karimunjawa ini.

Minggu pagi jam 5 kami harus segera menuju dermaga untuk kembali ke Jepara dengan Kapal Siginjai. Harga tiket kapal sama dengan ketika kami berangkat.

Minggu siang gue dan teman-teman sampai di Jepara dan langsung pulang menuju ke Semarang dengan membawa pengalaman traveling yang menyenangkan dan kulit yang menghitam. Gue nggak masalah. Karena menghitamnya kulit ini sebagai bukti bahwa gue sudah pernah dan menikmati shirt trip di Karimunjawa.

Untuk trip Karimunjawa ini gue cuma menghbiskan uang Rp430.000,- aja. Rp30.000,- gue pakai buat beli celana pantai di Alun-alun. Hehe.

Gue selalu punya rencana kembali lagi ke Karimunjawa meskipun belum tau kapan. See you again Karimunjawa!

11 Juni 2019

14

Pagi Itu Kamu Cantik Dan Aku Suka, Jakarta

Macet, rusuh, mahal, berantakan, kotor, adalah kata-kata yang sering muncul di benak gue ketika mendengar nama "Jakarta". Beberapa bulan yang lalu, gue selalu bersumpah kepada diri sendiri untuk tidak tinggal di Jakarta sampai kapan pun. Tapi, sumpah itu sedikit kendur di awal Mei kemarin, ketika gue berada di Ibu Kota untuk beberapa hari.

Sedikit banyak, Ibu Kota berusaha dan berhasil bikin gue luluh.

Yap, Jakarta cantik pagi itu, dan gue suka.


Pagi itu belum genap jam 6 pagi, gue memesan ojek online dari Jakarta Selatan ke daerah Kemayoran. Agak jauh dan masih lumayan dingin, gue pikir susah buat dapet driver. Ternyata gampang.

"Biasa narik jam segini Mas?" Gue bertanya di ketika di atas motor yang melaju menembus jalanan lengang Ibu Kota.

"Iya Mbak." Jawab abang ojek singkat.

"Jakarta enak ya Mas, jam segini adem."

"Iya Mbak, enak, belum macet." Jawab si abang. "Saya juga seneng narik jam segini."


Obrolan selama perjalanan berlanjut mengenai damainya Ibu Kota di pagi hari dan basa-basi sederhana antara penumpang dan supir ojek. Sesekali, gue ambil ponsel di saku jaket dan mengabadikan gambar Jakarta pagi itu dengan jepretan seadanya karena motor masih tetap melaju. Ya kali, gue suruh abang ojeknya berhenti dulu buat poto-poto dan ngefotoin gue. "Bang potoin bang buat postingan di blog." Kan nggak mungkin.


 Kawasan Jalan M.H. Thamrin dan Jend. Sudirman paling cantik, sih. Gue akuin itu. Gedung-gedung berjejer rapi, pengendara dan pengguna jalan saling mengerti hak dan kewajibannya. Kawasan itu bikin gue yakin pemerintah Indonesia dan masyarakat sudah bangun tidur dan sadar bahwa Indonesia, terutama ibu kota, perlu lari buat kejar ketinggalan dari negara-negara tetangga sebelah yang sudah lebih dulu membangun.

Kata salah seorang teman, kawasan daerah Bundaran HI itu memang baru selesai direnovasi dan ditata rapi, jadi cantik. Apalagi MRT ada disitu.


Semoga, cantiknya Jakarta pagi itu bisa berkembang ke jam-jam setelah pagi, kemudian menular ke kota-kota lain di Indonesia. Kalau semua kota cantik, kan, kita juga yang bahagia. Kayak gue gini di pagi itu. Hehe.

25 Januari 2019

9

Cara Murah ke Bali dari Semarang PP

Kalau ngebayangin "Bali", yang ada di kepala gue adalah: mahal, ribet, mahal, ribet, miskin, busung lapar.

Berkali-kali gue diajak ngetrip ke Bali dan selalu gue tolak karena menurut gue Bali enggak menarik dan nggak bisa dinikmati kalau kita nggak kaya raya. Tapi ternyata anggapan gue itu salah dan gue sudah membuktikannya di awal tahun 2019 ini.

I love Bali even though I don't have much money!


Akhir tahun 2018, gue diajak salah satu teman gue, namanya Ayas, backpackeran ke Bali dan gue meng-iya-kan.

"Sejuta doang kok kak budgetnya, nggak lebih." kata Ayas waktu itu, dengan mimik muka layaknya sales kompor gas.

"Ciyus? Miapahh?" tanya gue. Karena jijik, Ayas membunuh gue.

"Serius Kak! Kita ikut Kadek mudik naik kereta. Di Bali-nya kita bisa pinjem motor dan nginep di rumah Kadek." Ayas masih dengan gaya salesnya.

"Iya Kak! Naik kereta ke Bali gampang dan murah banget!" Kadek menambahi. Mereka terlihat seperti dua sales kompor gas yang semangat.

Penawaran menarik. Akhirnya gue, Kadek, dan satu teman lagi berangkat ke Bali tanggal 29 Desember 2018. Sayangnya, Ayas batal ikut karena urusan pekerjaan.

Backpacker-an gue kali ini termasuk over budget karena kurang persiapan. Tapi nggak masalah, masih termasuk 'murah' dan semoga cerita gue ini bermanfaat buat kalian.

---

Gue dan teman-teman berangkat ke Bali lewat Surabaya menggunakan kereta api Maharani dengan harga tiket Rp49.000,00. Kereta kami berangkat jam 11.40 WIB dan tiba di Surabaya Pasarturi jam 16.27 WIB.

Gue pesan tiket kereta langsung melalui aplikasi KAI Access
Sampai Stasiun Pasarturi, kami bertiga bingung harus naik apa ke Banyuwangi karena kereta yang biasa dinaikin Kadek dari Surabaya ke Banyuwangi waktu itu habis. Ya gimana, trip ini memang trip dadakan. #GakNekatGakBerangkat

Opsi terakhir, akhirnya kami berangkat ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menggunakan suttle bus (travel) dengan harga tiket Rp150.000,00. Padahal kalau lebih prepare, kita bisa naik kereta dari Stasiun Surabaya Gubeng ke Banyuwangi dengan harga tiket cuma Rp56.000,00. RUGI BANYAK!

Sampai di Pelabuhan Ketapang Minggu pagi, gue dan teman-teman langsung menuju loket pembayaran, kemudian bergegas menuju kapal. Biaya penyebrangan ke Pelabuhan Gilimanuk Rp6.500,00 dan harus menggunakan kartu e-toll.

Sesampainya di Bali, kami menuju rumah Kadek yang berada di Jembrana untuk beristirahat dengan menumpang angkot seharga Rp10.000,00. Kalau kalian mau langsung ke Denpasar, bisa menggunakan bus kota dengan tarif Rp30.000,00.

Dari Jembrana, gue menuju Tabanan, rumah Om-nya Kadek menggunakan bus. Biaya bus ini Rp30.000,00 juga. Dari Tabanan kami ke Denpasar menggunakan motor milik Om-nya Kadek.

---

Karena terlalu asik menikmati Bali, gue selesai jalan-jalan tanggal 2 Januari jam 9 malam. Padahal bus yang ingin kita tumpangi cuma beroperasi sampai jam 8 malam. Tarif bus (rencana gue) itu Rp30.000,00.

Pilihan terakhir adalah menggunakan bus malam dari terminal Mengwi menuju Pelabuhan Gilimanuk dengan biaya Rp150.000,00! Mahal gila. Oknum tiketing bus menaikan harga tiket bus malam itu. Penumpang lain di bus itu banyak yang protes. Mereka bilang, normalnya tarif bus malam yang gue naikin itu berkisar antara 90.000 sampai 100.000 rupiah per orang.

#GakNekatGakBerangkat
Nekat malah jadi miskin.

Jam 4 pagi tanggal 3 Januari gue menyebrang dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Banyuwangi dengan harga tiket sama seperti ketika gue berangkat, Rp6.500,000.

Sampai di Pelabuhan Ketapang, gue berjalan kaki sekitar 10 menit menuju Stasiun Banyuwangi Baru. Jarak antara Pelabuhan Ketapang dan Stasiun Banyuwangi deket banget. Untuk backpacker gue saranin jalan kaki aja. Teguhkan pendirian karena bakal banyak supir-supir angkot dan ojek menawarkan angkutan mereka dengan segala macam rayuan.

Dari Banyuwangi, gue menggunakan kereta api menuju Solo Stasiun Purwosari dengan kereta Sri Tanjung. Kereta ini berangkat jam 6.30 pagi dan sampai Solo jam 18.30 dengan tarif Rp94.000. 

Iya, kalian nggak salah baca. 12 jam penuh gue di kereta!
Dari Solo menuju Semarang, banyak opsi transportasi yang bisa gue gunakan: bus dan beberapa kereta. Gue memilih menggunakan kereta api baru KAI yaitu kereta Joglosemarkerto. Selain ingin mencoba kereta baru, kereta jadwal keberangkatan kereta Joglosemarkerto adalah yang paling dekat dengan jam kedatangan gue di Solo. Jadi nunggunya nggak terlalu lama. Harga tiket untuk kereta ini adalah Rp48.000,00.

Gue nunggu di stasiun sekitar 1.5 jam
Sampailah gue di Stasiun Tawang Semarang tengah malam.

Gitu cuy,cara jalan-jalan pulang pergi dari Semarang ke Bali. Untuk lebih jelasnya gue rangkum biaya perjalanan dengan tabel di bawah ini ya.


Total biaya berangkat gue = Rp265.500,00 seharusnya bisa dihemat menjadi Rp141.500,00.

Total biaya pulang gue = Rp298.500,00 seharusnya bisa dihemat menjadi Rp178.500,00.

Ada dua opsi rute ke Bali dari Semarang naik kereta :
  • Semarang - Surabaya - Banyuwangi
  • Semarang - Solo - Banyuwangi
Jadi itu pengalaman pertama gue backpackeran ke Bali. Semoga bermanfaat buat kalian. Maaf kalau penjelasan gue masih membingungkan. Gue bakal belajar buat nulis cerita budgeting gini ke depannya.

Cheers!

Jangan lupa tulisan ini dishare ya.. Siapa tau berguna buat orang lain juga.

---

Update: gue bikin Cara Murah ke Bali dari Semarang PP ini versi video juga kemarin. Kalian bisa tonton di https://www.youtube.com/watch?v=m_oOHMyS0M8&t=278s

Dan, untuk video selama gue jalan-jalan ke Bali, gue upload juga di https://www.youtube.com/watch?v=16L3tzIPrUQ&t=4s

Teman