Tampilkan postingan dengan label Explore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Explore. Tampilkan semua postingan

30 November 2019

8

Bu Susi dan Wishlist di Pangandaran

Gue patah hati ketika kemarin Presiden Jokowi mengumumkan jajaran menteri di Kabinet Indonesia Maju. Bu Susi Pudjiastuti nggak dipilih lagi jadi menteri Kelautan dan Perikanan. Padahal Bu Susi adalah menteri favorit gue dan gue berharap beliau masih menjadi menteri di Kabinet Indonesia Maju.

Baca juga: Jokowi Bukan Atlet Tong Setan

Banyak hal yang gue suka dari Bu Susi. Mulai dari gayanya yang tomboy, ke-santuy-annya menenggelamkan kapal, pemikirannya yang out of the box, dan lain-lain. Sebagai cewek tomboy, gue seperti memiliki role model ketika melihat sosok Bu Susi ini. Bedanya mungkin beliau jago menenggelamkan kapal, kalau gue cuma jago menenggelamkan perasaan. Jiahh~

Soal pendidikan formal, Bu Susi bukan seorang yang berpendidikan tinggi. Ijazah terakhirnya cuma sampai SMP. Tapi hal itu nggak menutup kesempatan untuk beliau berkarir. Nggak tanggung-tanggung, Bu Susi sudah memiliki perusahaan yang go international!

Dari semua pencapaian yang diperoleh Bu Susi, yang bikin gue penasaran adalah: lingkungan seperti apa yang mampu membentuk sosok Susi Pudjiastuti menjadi sukses walaupun hanya dengan ijazah SMP?

Bu Susi Pudjiastuti lahir dan gede di Pangandaran, Jawa Barat. Kalau gue jadi Bu Susi, pasti gue akan jalan-jalan terus tiap hari setelah putus sekolah, bukan bangun usaha kayak beliau gitu. Gimana enggak? Setelah gue kepoin, Pangandaran ternyata memiliki banyak tempat wisata cantik yang selama ini kurang terekspos! Beberapa diantaranya sukses bikin gue pengen segera packing dan nyari hotel buat stay disana beberapa hari.

Ini adalah wishlist tempat cantik di Pangandaran favorit gue :

Pantai Pasir Putih Cagar Alam Pananjung

Sumber: tripadvisor.co.id
Sebagai pecinta pantai garis miring, Pantai Pasir Putih di Cagar Alam Pananjung Pangandaran adalah destinasi favorit nomor satu. Pantai ini letaknya di dalam cagar alam, jadi lingkungannya terjaga dan masih asli. Dari foto-foto yang gue pantau dari google, ada spot foto kapal karam juga di pantai ini yang sangat menarik dan bikin beda dari pantai-pantai kebanyakan.

Pantai Batu Karas

Sumber: jejakpiknik.com
Yang kedua masih pantai. Kali ini bukan pantai pasir putih. Namanya Pantai Batu Karas. Pasirnya berwarna cokelat gelap. Ombak di pantai ini gede, jadi banyak yang datang kesini buat berselancar.

Salah satu bagian yang gue suka dari pantai adalah suara ombak. Makanya Pantai Batu Karas berhasil menarik perhatian gue buat dijadikan destinasi impian di Pangandaran.

Green Canyon Cukang Taneuh

Ini yang paling bikin gue penasaran: Green Canyon-nya orang Sunda, Cukang Taneuh. Dekat dengan Pantai Batu Karas, Green Canyon menyuguhkan pemandangan alam luar biasa. Jurang dengan dasar sungai berair jernis bisa dirasakan di Green Canyon ini.

Sumber: idntimes.com
Nama Green Canyon diberikan oleh turis asal Perancis yang datang ke Cutang Taneuh tahun 1993 karena airnya berwarna hijau.

Di Green Canyon, banyak kegiatan asik yang bisa dilakukan. Misalnya menjelajahi goa, rafting, berenang, atau pun mengerjakan skripsi. Iya, saking menenangkannya tempat ini.

Sumber: dakatour.com
Setelah menentukan tujuan wisata, biasanya gue mencari tempat menginap. Ada nggak tempat buat stay disana. Baru deh yakin buat jalan ke daerah tersebut. Biasanya gue numpang di rumah temen. Tapi karena nggak punya temen di Pangandaran, gue jaga-jaga dulu hunting hotel di Pangandaran.

Gue hunting pakai Pegipegi. Di tampilan depan Pegipegi, gue langsung disuguhi menu 'hotel'. Nggak perlu scroll atau cari-cari menu penginapan lagi. Pegipegi ngerti banget 4 menu yang sering gue pakai jalan-jalan: kereta api, pesawat, hotel, dan bus/travel.

Setelah klik gambar 'hotel', langsung aja masukin destinasi tujuan. Bisa nama kota atau nama landmark. Pegipegi loadingnya cepet, nggak berat.
Langsung nemu 'hotel' gais. Segampang itu
Selain langsung disodorin menu-menu favorit, Pegipegi juga memudahkan dalam memfilter fasilitas dan harga hotel yang gue cari. Tombolnya gede-gede jadi mantep gak bikin typo salah pencet. Filter hotelnya sendiri juga lengkap sih kata gue. Mau nyari room yang family friendly, buat kencan, atau bahkan kategori mewah juga ada.
Menu 'filter'nya mantep banget gue jari preman gue ini
Dari Pegipegi, gue jadi tau ternyata hotel di Pangandaran banyak yang murah dengan fasilitas nggak murahan. Duh makin mupeng gue main ke daerah idola gue yang satu ini, Bu Susi Pudjiastuti.

8 November 2019

6

Hampir Hilang di Thailand bagian 2: Hampir Sujud Syukur Gara-gara Paspor Indonesia

Bersambung...

G U E   H A R U S   L A R I ! ! !

Pikiran gue nyuruh lari. Jantung gue berdegup kencang seperti genderang mau perang (Ahmad Dani kali ah). Tapi kaki gue gak bisa digerakin, sama sekali. Akhirnya gue berdiri mematung dan pasrah membiarkan si ibu itu datang menghampiri. Apa pun yang ia lakukan, hamba serahkan semuanya hanya kepadaMu ya Allah ya Rabbi, Tuhan semesta alam.

"Trang tung tung tuk tuk tung lae lae?" Ibu itu nyerocos di depan gue. Jarak kami hanya satu langkah. Jarak yang tepat untuk si ibu membacok kepala gue yang kosong ini. "Trang tung tung mai?"

Gue membisu. Dahi mulai keriting. Keringat mengucur deras di dalam kaos yang gue pakai. "Tung tung tung krap to in to eng?" Ibu itu melanjutkan. Nada bicaranya seperti ia sedang bertanya, bukan ingin membunuh. Gue sedikit sadar. Jika ibu ini membunuh gue di tengah terminal, akan banyak orang yang membawa gue ke UGD dan melaporkan si ibu ke polisi.

Nggak mungkin ada pembunuh sebego ini, batin gue.

"Kin ken lew trung tung tung?" Ibu masih berucap.

Kalo emang si ibu ini nanya, gimana cara gue jawabnya? Orang pertanyaannya aja kaga paham.

Gue celingak celinguk berharap ada malaikat penolong untuk mentranslate apa yang ibu ini katakan, sayangnya nggak ada. Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing di terminal itu.

Si ibu memandangi gue dengan tatapan menagih jawaban dari pertanyaannya. Gue hanya bisa memandangi mukanya dengan raut muka memelas dan kebingungan. "Aku ki ra ngerti kowe ngomong opo ndes! Aku kon piye?!" teriak gue dalam hati.

Tiba-tiba gue inget paspor yang selalu gue bawa di tas selempang kecil. Gue ambil paspor dan angkat paspor itu tinggi-tinggi, persis wasit sepak bola pas ngeluarin kartu kuning. Bedanya, gue nggak pake peluit.
Bola mata si ibu mengikuti posisi paspor gue. Beberapa saat kemudian, ia tertawa kecil dan berkata, "oh...mai khon Thai! Hahaha."

"He-he-he," gue ikut tertawa, dipaksakan. Kenapa nggak dari tadi lo keluarin paspor, Farih?! Bego banget lo!

Disitu gue ngerti apa yang ibu itu katakan dan gue baru ingat kalimat tersebut, kalimat yang Ploy ajarkan ke gue sebelum gue mendarat di Thailand.

Mai = tidak / bukan.
Kon = orang.
Thai = Thailand.

Mai kon Thai = bukan orang Thailand! Ibu itu akhirnya ngerti gue bukan orang Thailand dan nggak paham apa yang dia katakan dari tadi.

"Dai dai, chan mai kon Thai na ka." gue menjawab dan membenarkan apa yang si ibu itu katakan. Gue langsung mengingat-ingat beberapa kalimat yang pernah gue pelajari dari teman-teman Thailand.

Raut muka si ibu berubah menjadi lebih ramah. Rasanya gue pengen sujud syukur di situ. Tapi sadar kalau sujud syukur di tengah terminal Thailand dengan kondisi sepanas itu, matahari tepat di atas ubun-ubun, akan terlihat aneh. Gue urungkan niat tersebut.

Si ibu berjalan ke salah satu loket yang berada di dekat kami berdua. Refleks, gue ikutin si ibu berjalan sambil masih mengangkat paspor tinggi-tinggi dan tangan kiri menarik tas koper warna hitam. Dari jauh, kami berdua terlihat seperti induk ayam dan satu anaknya yang lahir prematur.

"Mai kon Thai, mai kon Thai." ibu tersebut seperti ngasih tau orang-orang di sekitar loket kalau gue bukan orang Thailand.
Foto asli si Mbak penjaga loket
Gue menghentikan langkah ketika si ibu menghampiri mbak-mbak yang duduk di belakang loket. Beberapa orang di sekitar loket tersebut memandangi gue dengan tatapan heran, kasihan, sekaligus jijik. Orang-orang Thailand yang berkulit putih bersih ini mungkin berpikir, "udah item, dekil, jerawatan, ngangkat-ngangkat paspor begitu, gembel Indonesia stres ini ngapain sih di negara gue?"

Di tengah rasa canggung karena diliatin begitu, HP gue kembali berbunyi. Ploy menelpon lagi. "Hallo, where are you? Are you ok?" Suara Ploy khawatir di ujung sana.

"I am ok, bro. I am at the terminal now." Jawab gue. Kemudian gue ceritakan kejadian ibu-ibu tadi dan Ploy meminta untuk ngomong dengan si ibu tersebut. Tanpa kata-kata, gue sodorin HP gue ke si ibu yang sedang berbicara dengan mbak-mbak loket.

Gue hanya memandangi si ibu ngobrol dengan Ploy. Paspor sudah gue turunkan. Koper hitam masih gue pegang erat.

Lumayan lama, si ibu memberikan HP gue kembali dan berbicara dengan mbak loket seperti memberti tau sesuatu. "Bro, get a pen, and write my phone number." Ploy menginstruksikan gue untuk mengambil bolpoin.

Gue heran, kenapa harus pake bolpoin? Gue tanya ke Ploy, "Can I write your phone number on my phone?".

"How about if your phone died? How about if your battery is running out? Think smart! You can't do anything if your phone is off." Ploy merepet. "It needs 5 until 7 hours to get my home. It will be a long journey today. And I am not sure if you can charge your iphone after this."

Perjalanan 7 jam? Di negara orang tanpa tau jalanannya bakal kayak apa? Gue pengen balik langsung ke Semarang rasanya waktu itu.

Akhirnya, gue pun menulis nomor HP Ploy di sebuah kertas lalu gue simpan di saku jaket jeans yang gue pakai.

Selesai berbicara dengan Ploy, ibu itu memberikan gue karcis van (semacam suttle bus atau travel di Indonesia). Gue nggak paham tulisannya apa, gue cuma mengeluarkan uang sesuai dengan angka yang tertera di karcis tersebut dan memberikannya ke si ibu. Dari semua tulisan di karcis, gue cuma bisa ngerti "300 baht". Tulisan lainnya terlihat seperti aksara Jawa typo di mata gue.

Karcis van
"You wait, wait here." si ibu menunjuk bangku kayu panjang di sebelah loket untuk gue duduk dan menunggu van yang akan membawa gue ke Buayai, Nakhon Ratchasima.

Ibu yang semula gue kira akan membunuh gue ini ternyata baik. Dari awal liat gue kebingungan di tengah terminal, dia cuma berniat menolong. Karena tampang gue yang keliatannya kayak orang lokal Thailand, makanya si ibu ngajak ngomong gue pake bahasa Thailand tadi.

"Thankyou so much for your help." Gue pengen peluk rasanya. Tapi si ibu keburu pergi dengan lambaian tangan dan cuma menjawab gue dengan senyuman.

Tas pinggang warna gelap lusuh yang si ibu pakai, menandakan kalo ibu itu di terminal buat kerja, cari uang. Gue cuma bisa mendoakan agar rejeki ibu itu lancar terus dan sehat selalu.

Gue memandangi punggung si ibu yang kian jauh meninggalkan gue dan meminta maaf dalam hati. Ada senyum getir yang nggak mampu gue sembunyikan.

Ibu baik banget sih. Andaikan kita bisa ngobrol, pasti kita jadi sohib.

Gue kemudian duduk dan menunggu van datang.

Ini baru sampai terminal. Perjalanan 7 jam menanti gue di depan mata. Gue deg-degan.

---

Bersambung ke bagian ketiga.

20 November 2017

16

Mau Naik Gunung Apa di Jawa Timur?

Mahasiswa tingkat akhir tanpa piknik, sama kayak Marsha-bengek tanpa ngik-ngik. Nggak asik.

Skripsi dan teror pertanyaan kampret “mau ngapain setelah lulus?”, sangat mengganggu kesehatan jiwa raga kami. Untuk menyeimbangkannya, gue butuh piknik. Tapi lagi-lagi, masalah duit jadi problem klasik.

Gue nggak bisa piknik yang menghabiskan duit banyak. Piknik yang bisa gue lakuin harus yang efisien dari segi duit dan waktu.

Temen gue, Resti, kemarin ngajakin ke Jawa Timur, Malang dan sekitarnya. Dia bilang Jawa Timur cocok buat jadi destinasi liburan rakyat jelata kayak gue gini. Pantai, museum, kuliner, sampai laut, semua ada dan jaraknya nggak jauh. Jadi bisa ngerasain banyak spot dan menghemat biaya transport.

Gue tertarik.

“Ke Jawa Timur nggak lengkap kalau kita nggak ke gunungnya Rih.”

“Ada gunung yang anget nggak? Gue nggak suka dingin.” Serius, cuy. Gue nggak pernah naik gunung karena nggak suka hawa dingin. Hidup di Semarang aja, gue nggak punya kipas angin apalagi AC di kosan.

“Ada. Kawahnya Bromo tuh, panas.”

“Sialan. Gue serius ini.”

“Yaudah. Lo mau naik gunung apa? Cari tau gih, gunung-gunung di Jawa Timur sebelum lo naik."

Gue pun membuka google dan mulai mencari informasi tentang gunung-gunung cantik di Jawa Timur. Cocok nih buat referensi manusia cemen macem gue gini sebelum mendaki.


Gunung Bromo

sumber: www.pesonaindo.com
Ini adalah satu-satunya gunung yang pernah gue datangi. Gue pernah kesini tahun 2014 lalu bareng temen-temen dari Kampung Inggris, Kediri.

Keindahan Gunung Bromo, nggak perlu diragukan lagi. Sudah go inernasional cuy. Ibarat artis, ini Agnes Monica nih, versi gunung.

Untuk yang mageran kayak gue gini, Gunung Bromo adalah pilihan yang tepat. Puncak Gunung Bromo gampang dicapai, bahkan bisa lihat kawahnya secara langsung dengan jelas. Kalau kurang jelas, silakan lakukan roll depan ke arah kawah.

Yang paling menarik tentang liburan di Bromo adalah pemandangan saat matahari terbit. SUMPAH KEREN! Dan emang ini yang paling terkenal dari Bromo.

Gunung Bromo terletak di empat kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Tingginya 2.300 meter di atas laut. Sebelum menuju kawah, kalian bakal disuguhi pemandangan lautan pasir yang luas. Tiap tahun ada ritual suci suku Tengger disini.

Kalau kalian berangkat ke Bromo lewat kabupaten Malang, kalian bisa dapat banyak penerbangan ke Bandara Abdul Rahman Saleh, termasuk penerbangan milik Batik Air, terus lanjut perjalanan pakai transportasi darat ke Gunung Bromo.
Gunung Lawu

sumber: www.penabiru.com
Nah gunung ini yang cocok buat pendaki pemula. Walaupun tingginya sampai 3.200 mdpl, tapi medan menuju puncak gunung relatif mudah. Letaknya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, jadi gampang buat gue kalau dari Semarang. Gunung Lawu ini ramai dikunjungi pendaki maupun penziarah, khususnya di bulan Suro.

Gunung Arjuno

sumber: upload.wikimedia.org
Nama Gunung Arjuno pasti sudah nggak asing buat para pendaki, khususnya buat yang aktif di dunia maya. Gunung dengan tinggi 3.300 meter ini terletak di perbatasan antara kabupaten Malang dan Mojokerto. Ada empat jalur pendakian yang bisa dipilih. Masing-masing jalur punya karakteristik dan daya tariknya sendiri.

Kalau kalian mendaki Gunung Arjuno, nggak ada salahnya lanjut naik ke Gunung Welirang yang letaknya bersebelahan. Kedua gunung ini ada di satu punggungan yang sama. Di Gunung Welirang kalian bisa menjumpai para penambang belerang.

Gunung Raung

sumber: www.phinemo.com
Gunung Raung bisa pilihan cocok buat yang suka tantangan nih. Letaknya di Banyuwangi dan gunung ini adalah gunung stratovolcanik aktif. Untuk mencapai puncaknya, kalian harus melalui medan pendakian ekstrem sepanjang 17 km yang sebagian besar berupa bebatuan terjal. Yang lebih menantang adalah, gunung ini tidak memiliki sumber air sehingga para pendaki harus membawa setidaknya 10 liter air untuk tiap pendaki. Disarankan bawa galon, bersama dispensernya, dan kopi satu renteng. Maka kalian akan jadi warung kopi dadakan. Perlu persiapan fisik, mental, kemampuan, dan pengalaman pendakian untuk bisa menaklukkan gunung ini. Jadi kalau kalian cuma pendaki amatir atau kayak gue yang mendaki gunung cuma buat foto-foto doang, mending jangan naik ke gunung ini.

Gunung Semeru

sumber: http://indosurflife.com
Gunung yang hits gara-gara dijadiin latar novel dan film ini adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 meter di atas permukaan laut). Untuk mencapai puncaknya, kalian perlu melalui beberapa medan pendakian. Karena ketinggiannya, gunung ini bisa menguras tenaga. Tapi nggak usah khawatir karena ada pos-pos peristirahatan sebagai tempat berkemah selama pendakian.


Ranu Kumbolo. sumber: rizkirahmatia.files.wordpress.com
Satu spot paling terkenal dari Semeru adalah Ranu Kumbolo. Disini kalian bisa bikin tenda kemah dan beristirahat sambil menikmati keindahannya. Terus lanjut ada medan menanjak yang disebut tanjakan cinta. Di ujung tanjakan ini, padang bunga lavender Oro-Oro Ombo bisa bikin kalian lupa sama tugas kuliah sejenak.

Nah, untuk mengakses gunung-gunung di atas, beberapa alternatif transportasi bisa kalian pertimbangkan. Kalian bisa naik kereta api dan berhenti di stasiun-stasiun terdekat atau bisa menggunakan transportasi udara seperti Batik Air dan mendarat di bandara Malang atau Surabaya, kemudian lanjut perjalanan dengan transportasi darat. Beberapa maskapai termasuk Batik Air sudah melayani penerbangan dengan intensitas cukup tinggi ke Bandara Malang dan Surabaya.

Untuk kalian pengguna naga terbang, mohon maaf, belum bisa mendarat di Jawa Timur.

---

Sesuai kemampuan dan kemapanan, kayaknya gue bakal milih Gunung Bromo deh buat merefresh otak ini. Kalau kalian?

Teman