Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

22 Mei 2018

5

[Review Film] Coco - Lee Unkrick, Bikin Nangis di Bulan Ramadan

Setelah menimbang-nimbang hal apa yang akan dilakukan untuk menghabiskan hari Minggu jenuh di bulan Ramadan ini, akhirnya pilihan gue jatuh pada menonton film Coco. Film tahun 2017 yang nggak sempat gue tonton di bioskop dan kata temen-temen gue film bagus ini gue kira film tentang cokelat-cokelat gitu. Ternyata bukan tentang cokelat sama sekali.

https://cinelatinofilmfestival.com.au/films/coco
Awalnya gue meremehkan film Coco. Nggak tertarik sama sekali. Gue pikir film ini sama kayak kebanyakan film animasi lain, bakal ngebosenin apalagi ada bumbu musikal di dalamnya. Tapi ternyata gue salah. Negative thinking gue ke film, salah lagi. Film ini bagus dan berhasil bikin gue nangis di siang Ramadan.

Film Coco menceritakan tentang seorang anak laki-laki berusia 12 tahun bernama Miguel yang tinggal di salah satu desa di Meksiko bersama keluarga besarnya yang bekerja sebagai pembuat sepatu. Keluarga Miguel sangat anti terhadap musik. Ini yang jadi masalah, karena Miguel menyukai musik dan ingin menjadi musisi.

Saking antinya terhadap musik, keluarga Miguel akan memarahi siapa pun yang bernyanyi atau pun membunyikan alat musik di sekitaran rumah Miguel. Ketidak suka-an keluarga Miguel terhadap musik bukan tanpa alasan. Penyebabnya adalah kakek buyut Miguel, dulu, meninggalkan keluarga karena ingin mengejar karir sebagai musisi. Dari situlah, keluarga Miguel beranggapan bahwa musik adalah hal yang buruk dan harus dihindari.


Miguel nggak setuju dengan kepercayaan keluarganya yang menganggap musik adalah hal yang buruk.

Yang namanya mimpi harus dicapai ye kan... Miguel tetap ingin menjadi seorang musisi yang hebat seperti idolanya, Ernesto de la Cruz. Miguel berusaha menggapai mimpinya itu dengan sembunyi-sembunyi dari keluarga dan sampai pada akhirnya, dalam perjalanannya menggapai mimpi menjadi musisi, Miguel malah mendapatkan pelajaran hidup bahwa keluarga adalah hal terpenting di hidupnya lebih dari apa pun.

Dalam perjalanan Miguel menggapai impian menjadi musisi, secara tidak sengaja dia dibawa ke alam baka, bertemu keluarga-keluarganya yang sudah meninggal. Petualangan pun dimulai disana.


Gue nangis di bagian akhir. Film ini bener-bener bisa membawa gue masuk ke dunia Miguel, berpetualang bareng Miguel, dan membuat gue sadar bahwa iya, keluarga adalah yang paling penting.

Predikat 'maco' gue luluh lantah di depan film animasi berlatar Meksiko ini. Kurang ajar.

Film Coco mengangkat tradisi Dia de Muertos, yaitu hari peringatan bagi orang-orang yang telah meninggal di Meksiko. Orang Meksiko percaya bahwa di hari peringatan itu, roh anggota keluarga yang sudah meninggal akan mengunjungi rumah mereka jika mereka masih mengingat tentang anggota keluarga yang telah meninggal tersebut.

Alur film Coco ini sederhana, nggak muter-muter. Cocok ditonton untuk semua usia dan semua level kecerdasan.

Lee Unkrick sebagai sutradara berhasil membuat film animasi petualangan yang penuh makna dengan alur sederhana dan benang merah cerita yang sederhana juga. Gue sebagai penonton merasa dibawa ke Meksiko selama 1 jam 49 menit. Musik gitarnya yang khas, budaya Meksiko yang tergambar di setiap scene-nya, dan beberapa pembawaan bahasa Meksiko turut andil bagian menjadi alasan.

Untuk ukuran film animasi dengan target penonton anak-anak dan dewasa, film Coco menurut gue sudah keren. Konflik dan klimaksnya dapet meskipun nggak ribet.

Pesan yang ingin disampaikan melalui film Coco ini gampang dicerna oleh penonton males mikir kayak gue gini.

Cuma satu hal yang menurut gue 'miss' dari film Coco adalah, di bagian endingnya. Ketika semua keluarga kumpul di rumah Miguel, tanpa diceritakan dengan jelas, tiba-tiba mereka punya kucing peliharaan. Padahal sebelumnya nggak punya. Mungkin yang dimaksud sutradara adalah kucing itu sebagai bentuk hidup penjaga roh nenek buyut Miguel di alam baka yang digambarkan sebagai singa terbang. Tapi mungkin untuk beberapa orang bakal bingung, kenapa kucing itu bisa kembali ke dunia manusia yang masih hidup karena nggak diperlihatkan sama sekali di dalam scene.

Over all film Coco bagus dan cocok ditonton kalian bareng ponakan-ponakan. Bagi yang belum nonton, gih buruan nonton. Lumayan buat isi waktu luang sambil menunggu bedug magrib. Yang sudah nonton, gimana pendapat kalian? Coba tulis di kolom komentar.

Btw, selamat berpuasa ya bagi yang menjalankan. ^^

16 Oktober 2017

12

[Review Film] Pengabdi Setan - Joko Anwar

Sekali lagi, ngomongin film horor Indonesia sama dengan ngomongin film bokep. Gue selalu pesimis dan punya stereotipe negatif kalau lihat poster film horor Indonesia di bioskop.

"Halah. Paling juga isinya suster keramas atau suster mandi wajib."

Akhirnya gue nggak pernah mau nonton film horor Indonesia lagi.

Tapi stereotipe itu tanggal 3 Oktober kemarin terpatahkan. Setelah sekian lama nggak nonton film horor Indonesia (kayaknya yang terakhir film Badoet deh), akhirnya gue nonton juga dan literally impressed with that movie. Yap, film Pengabdi Setan, karya Joko Anwar.

Awalnya gue sama sekali nggak tertarik dengan judul film Pengabdi Setan. Gue pikir alay, nggak kekinian, nggak jaman now, terus paling isinya tetek-tetek nggak jelas. Cuma nama 'Joko Anwar' yang bikin gue agak penasaran. Film pendek horor Grave Torture (Silent Terror) menjadi film yang bikin gue jatuh cinta sama si om lulusan Teknik Penerbangan ITB ini dan membuat image "sutradara film horor" secara nggak sadar nempel di kepala gue. Tiap denger nama "Joko Anwar", ingetnya setan.

Masa iya Joko Anwar bikin film horor ada teteknya? Nggak mungkin. Pasti ini film bagus.
Pikir gue.

Ditambah lagi temen gue bilang, "Rih, lo harus nonton Pengabdi Setan! Harus! Filmnya keren banget!"


Film Pengabdi Setan (2017) adalah film re-make (Joko Anwar lebih suka bilang 'reboot') dengan judul yang sama di tahun 1980. Film Pengabdi Setan tahun 1980 garapan almarhum Sisworo Gautama Putra sukses menjadi film horor terbaik di masa itu dan berhasil menembus pasar film Internasional. Nggak heran sih, karena Sisworo Gautama Putra menurut gue emang spesialis film horor. Lebih dari 12 judul film horor sukses disutradarainya. Termasuk beberapa film Suzana.

Film Pengabdi Setan tahun 2017 dan 1980 memiliki premis yang sama: seorang ibu meninggal kemudian arwahnya datang kembali meneror rumah dan keluarganya untuk satu tujuan. Makanya tagline film ini "Ibu datang lagi".

Pengabdi Setan 2017 menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengalami krisis ekonomi setelah sang ibu (Ayu Laksmi) jatuh sakit kemudian meninggal. Keempat anak yang ditinggalkan yaitu Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nassar Anuz), dan anak terakhir Ian (M. Adhiyat). Ibu sebelum sakit adalah seorang penyanyi terkenal di tahun 1980an dengan lagu hitsnya berjudul Kelam Malam. Setelah ibu meninggal, banyak kejadian aneh dan misterius yang terjadi pada keluarga ini. Sampai pada akhirnya mereka menyadari bahwa hal-hal aneh yang terjadi di rumah mereka berhubungan dengan rahasia sang ibu semasa hidup.

Meskipun memiliki premis yang sama, Joko Anwar membuat banyak perbedaan dalam film ini secara teknis dan penyampaian cerita. Misalnya; Pengabdi Setan 1980 tidak menceritakan hubungan anak dengan ibu sebelum meninggal. Scene awal langsung pemakaman sang ibu. Sedangkan 2017 diceritakan dulu bagaimana kondisi sang ibu ketika hidup dan bagaimana hubungannya dengan anak-anaknya.

Untuk teknis, jelas Pengabdi Setan 2017 lebih bagus daripada 1980. Teknologi sudah makin canggih, men. Gue paling suka scene ketika Hendra (Dimas Aditya) wajahnya terseret di atas aspal. Kayak asli. *spoiler*

Menonton film Pengabdi Setan, 107 menit mata gue dimanjakan dengan gambar, warna, dan nuansa kuno yang berhasil Joko Anwar bangun. Kesan tahun 1980an sukses digambarkan dengan baik didukung oleh pernak-pernik seperti jam dinding tua, sumur, telpon rumah, dan motor butut milik Tony. Rumah kosong di Pengalengan, Bandung peninggalan jaman Belanda juga berhasil menjadi ikon utama yang menunjukan kalau cerita di film ini memang terjadi 37 tahun yang lalu. Rumah kuno ini dan segala interiornya bikin gue lupa kalau lagi nonton film Indonesia. Artistiknya gue acungin jempol 4.

Gue bukan orang yang gampang takut dan teriak-teriak ketakutan kalau nonton film horor. Tapi Pengabdi Setan sukses bikin gue deg-degan di bagian awal. Jujur sebelum nonton, gue sudah punya mindset kalau film ini bakal ngeri. Bayangin aja, yang jadi setan ibunya, cuy. Kurang ajar. Sutradara durhaka. Dan beberapa aktifitas yang dekat denga kehidupan gue bikin gue makin masuk ke dalam film. Pemakaman, pocong, kuburan ala Indonesia, tahlilan, sumur tua, semua itu ada di kehidupan asli gue.

Menembus 2 juta lebih penonton hanya dalam 13 hari tayang, Pengabdi Setan masih punya beberapa 'miss'. Beberapa adegan banyak yang nggak nyambung. Aksen bahasa yang digunakan para pemain juga terkesan maksain. Bahasa yang digunakan Bondi dan Rini, nggak cocok. Bapak (Bront Palarae) yang diperankan aktor Malaysia juga kaku dalam berdialog.

Karakter para tokoh kurang kuat digambarkan. Tokoh yang berhasil dibangun cuma Ian, si anak bontot tuna rungu yang menggemaskan dan memberi sentuhan komedi di film ini.

Adegan yang bener-bener bikin gue bingung adalah ketika bapak bilang nggak mau tidur tiba-tiba muncul di layar doi sudah tidur pules aja. Itu...nggak nyambung.

Mulai masuk ending, kengerian film ini mulai berkurang. Setannya dan cara setan itu muncul jadi standar. Klimaksnya malah menurut gue di bagian munculnya Fachry Albar, scene paling terakhir. Beberapa penonton di sekitar gue bilang "apaan banget itu (scene Fachry) nggak nyambung. Bikin jelek." Tapi menurut gue malah itu yang bikin "anjir ini film kampret! Keren!".

But, over all, gue suka film Pengabdi Setan ini. Plotnya, sinematiknya, konsep ceritanya, joss. Untuk kelas film horor Indonesia, Pengabdi Setan ini bisa dibilang keren banget, bisa disejajarkan dengan film The Conjuring lah. Dan yang paling penting, Joko Anwar berhasil bikin gue nggak negative thinking lagi sama film horor Indonesia.

Film Badoet dan Pengabdi Setan, gue rasa bakal jadi titik balik dan titik sadarnya produser atau sutradara film horor Indonesia bahwa: bikin film horor nggak harus ada sentuhan bokepnya.

Gue bakal terus menunggu karya-karya cerdas sutradara film horor Indonesia macem Pengabdi Setan ini. Joss!!

Anyway, gue mulai nulis ini sejak setelah nonton film Pengabdi Setan dan baru hari ini terposting. Sedih. :')

17 September 2017

2

Pada Sebuah Hati: Sarah (Part 4)

Gue menghampiri laki-laki cupu peminjam buku Feminist Thought yang sedang membaca buku di sudut perpustakaan. Kita janjian pagi ini.

"Hai." Gue mencoba menyapanya dengan ramah. "Gue sebel hari ini. Kena marah Bu Eni dan dia malah nyuruh gue nyari orang yang bernama Johan buat membantu gue mengembalikan buku yang gue ilangin. Johan? Kenal aja enggak."

Suasana hening. Laki-laki itu nampak syok. Lebay. Aneh.


"Lo kenal orang yang namanya Johan?"

Laki-laki itu masih diam kemudian membuka mulutnya. "Ya. Aku pernah sekelas sama Johan. Kenapa? Lagi pula semester ini aku satu kelas sama dia."

"Lo serius?" Gue girang.

"Enggak sih. Bohong aja." Laki-laki itu mulai menyebalkan lagi. Gue muak. Gue mulai curiga kalau dia nggak waras. "Kamu masih ada hutang denganku kan? Ceritain isi buku Feminist Thought."

Mati. Kan gue nggak baca sampai habis. Baru setengah dari buku itu yang masuk ke otak gue. Oke. Cara terbaik untuk lari dari situasi adalah: ngeles. "Gue bakal ceritain isi bukunya bahkan sampai ke riwayat si penulisnya. Tapi nanti. Sekarang lo anter gue ke kelasnya Johan dulu!" Gue memaksa. "Please anterin gue ketemu Johan itu. Kata Bu Eni dia yang nemuin buku yang gue ilangin."

Laki-laki itu nampak syok dan mengernyitkan dahi. Bodo. Gue tarik tangannya. "Lo kuliah di ruang mana hari ini?"

"D15."

Gue memasuki ruang D15 dengan masih menyeret laki-laki menyebalkan ini. Sampai sekarang pun, gue nggak ada rasa tertarik untuk menanyakan namanya.

Ruang D15 hanya ada 2 laki-laki dan 3 perempuan yang duduk terpisah menjadi dua kelompok seperti di masjid. Laki-laki berdua duduk di pojok kanan dan 3 perempuan duduk ketawa-ketiwi di bagian tengah ruangan.

"Disini ada yang namanya Johan?" Gue menghampiri dua laki-laki itu. "Kata mas ini dia sekelas sama Johan disini."

Hening. Dua laki-laki di hadapan gue hening. Tiga perempuan di tengah hening. Meja-meja di ruangan hening. Kompak.

"Eh anu. Johan ya Mbak? Johannya lagi nggak di kampus." Akhirnya laki-laki kurus menjawab pertanyaan gue meskipun masih dengan muka bingung. Hening lagi. "Tapi saya punya nomor HP-nya Mbak kalau mau."

Gue menelpon nomor yang dikasih si laki-laki kurus. "Kok nggak aktif ya Mas nomernya?"

"Mungkin dia lagi ada kegiatan. Lagian ngapain sih ribet banget nyariin Johan?!" Laki-laki menyebalkan di samping gue tiba-tiba membuka mulut. Ngeselin.

Gue mengacuhkan si laki-laki ngeselin dan mengucap terimkasih kepada orang-orang di dalam ruangan. Kemudian kita berdua pergi meninggalkan ruang D15.

"Gue pulang aja deh. Lo kalau ketemu Johan bilang ya, ada yang nyariin. By the way, makasih."

"Iya sama-sama. Dicariin siapa?"

"Eh iya lupa. Kita belum kenalan ya? Gue sarah." Gue mengulurkan tangan.

"Aku Adi." Kita berjabat tangan sebentar. "Panggil mas lagi aja nggak papa."

"Rese banget sih lo baru kenal!"

"Resean mana sama yang baru kenal tapi udah narik-narik tangan seenak jidat?"

Bener-bener ngeselin. Tapi memang gue narik-narik tangan dia sih. "Oke, gue minta maaf."

"Kamu masih ada hutang denganku ya. Ceritain isi buku Feminist Thought. Yang bab 4 aja deh. halaman 312." Anjir. Dia masih aja ngotot.

"Duh!" Gue langsung kabur, berjalan cepat meninggalkan laki-laki ngeselin bernama Adi itu.

"Hei!" Adi meneriakiku.

"Gue mau nyelesaiin masalah sama Johan dulu baru setelah itu gue ceritain isi bukunya!" Gue melambaikan tangan.

Gue sudah sampai di area parkir. Sebelum masuk mobil, gue sempatin buat telfon Johan lagi. Siapa tahu diangkat.

"Tut...tutt...tuuuttt..." Nggak ada jawaban.

Gue kirim pesan aja kali ya. Biar kalau si Johan baca dan tahu kalau gue mau ketemu dia.

Selamat pagi mas, apakah ini nomornya mas Johan? Saya Sarah dari jurusan hukum. Kalau mas ada waktu bisakah kita bertemu sebentar? Saya ada perlu dengan anda. Terima kasih.

Semoga nanti malam Johan memberikan kabar baik soal buku yang gue ilangin.



Part 1 bisa dibaca di sini.
Part 2 bisa dibaca di sini.
Part 3 bisa dibaca di sini.
Pada Sebuah Hati: Johan, di https://wahyuimamrifai.blogspot.co.id
(BERSAMBUNG KE PART 5)

7 Agustus 2016

7

Gue Adalah Riley di Inside Out

Kenapa kebanyakan yang suka film animasi itu anak-anak?

Karena film animasi banyak berisi cerita-cerita fantasi khayalan yang imajinatif. Cocok sama dunia anak-anak yang penuh imajinasi. Sedangkan hidup gue, flat. Makan-tidur-kuliah-makan-tidur-nonton gosip Raffi Ahmad Ayu Tingting. Nggak menarik. Dunia gue nggak penuh imajinasi, makanya gue nggak suka sama film animasi.

Hingga suatu waktu...

Gue diajakin nonton film Inside Out. Awalnya gue menolak, namun karena gue butuh hiburan, akhirnya gue nonton Inside Out. Dan, BOOM! FILMNYA KEREN ABIS!

Keluar dari bioskop rasanya kayak ada yang meledak di diri gue dan gue bergumam sendiri "oh iya ya, bener juga."

Si pengendali emosi lagi megang setir di kepala Riley
Film Inside Out menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Riley dan dunianya yang sangat menyenangkan. Tapi yang disorot di film ini bukan tentang hidupnya Riley itu, melainkan isi kepala Riley.

Isi kepala Riley adalah lima karakter emosi yang mengendalikan mood Riley. Mereka adalah Joy, Sadness, Fear, Anger, dan Disgust. Sesuai namanya, Joy adalah si pembuat Riley bahagia, Anger yang bikin Riley marah, dan lainnya sesuai nama mereka.

Lima karakter itu ada juga di kepala orang lain seperti mama dan papa Riley. Diantara lima pengendali mood itu, setiap orang punya satu emosi yang dominan di kepalanya. Kayak misalnya Riley yang dominan dikendaliin sama Joy, hidupnya lebih banyak bahagia. Mama Riley yang banyak dikendaliin Sadness, hidupnya melo-drama-Korea .

Lima emosi itu juga mengatur memori ingatan di kepala Riley. Ingatan yang diinget digambarkan sebagai bola menyala warna-warni sesuai lima warna emosi di kenangan yang Riley. Kenangan sedih, bola memorinya berwarna biru. Kenangan ketakutan, bolanya warna ijo. Gitu. Dan, di kepala Riley bola yang paling banyak adalah warna kuning, Joy, memori kebahagiaan.

Gue jadi mikir, kalo gue adalah Riley, emosi apa yang dominan megang setir di kepala gue selama ini dan memori apa aja yang paling menyala di kepala gue. Gue kemudian flashback beberapa memori yang gue inget dari kecil sampe sekarang.

Memori warna merah, anger.

Anger itu mungkin dari kata "angry" ya, artinya marah. Ingatan saat gue emosi atau marah. Bisa dibilang gue jarang marah. Tapi ketika gue marah, gue nggak bisa ngendaliin. Kayak misalnya waktu kelas 3 SMP.

Waktu itu, saat jam istirahat, gue lagi duduk-duduk santai di depan kelas. Kemudian, temen gue, Ida, bercandain gue dengan menarik gue ke belakang yang mengakibatkan gue jatoh. Pantatnya doang sih kena lantai. Tapi nggak tau kenapa gue marah banget. Terus tanpa ngomong apapun gue tarik Ida ke dalem kelas, gue remas kerah seragamnya si Ida, abis itu gue dorong atau tonjok dia (gue lupa) di depan kelas dan diliatin temen-temen yang ada di dalem kelas. Terus gue pergi gitu aja.

HAHAHA. Awkward.

Memori warna ijo, jijik.

Jijik. Apa ya? Entah apa ini jijik atau takut, tapi gue punya pengalaman nggak-sengaja-megang-kaki-tokek-di atas-pohon.

Jadi gue waktu SD pernah manjat pohon kersen buat ngambilin buahnya. Gue manjat dan ada temen gue yang nunggu di bawah. Saat lagi enak metikin buah di atas pohon, nggak sengaja tangan gue megang sesuatu yang hangat, empuk, dan agak kasar. Setelah gue liat, ternyata gue megang sebuah kaki warna biru motif orens. Pas gue sadar itu kaki tokek, gue langsung loncat dari atas pohon langsung ke bawah. Nggak peduli patah kaki atau landing di kepala temen.

Sampe di bawah gue liat ke atas dan bener. Itu tokek gede banget dan ganti warna jadi cokelat keiteman. Gue langsung ambil sepeda dan gowes ngebut ke rumah. Temen gue heran karena gue shock nggak ngomong apa-apa. Sampe rumah gue masuk kamar dan selimutan. Badan gue gemeter dua sampe tiga hari kalo inget kaki tokek yang gue pegang itu. Sampe sekarang masih kebayang warna kakinya.

Memori warna ungu, fear, takut.

Waktu itu gue kelas 1 SMP. Pelajaran fisika, gue duduk di kursi terdepan. Temen gue, kalo nggak salah Intan namanya, punya HP baru. Nokia flip warna putih-merah dan ada musiknya. Jaman dulu HP ada MP3nya udah mewah banget anjir. Hahaha.

Gue pinjem HP temen gue itu buat dengerin lagu lewat speaker, tanpa headset. Tiba-tiba guru fisika dateng. Semua langsung panik duduk di bangkunya masing-masing, karena guru itu terkenal killer. Namanya Bu Isdiana. Seketika kelas menjadi hening, hanya langkah kaki Bu Isdiana yang terdengar beradu dengan lantai kelas. Kemudian, muncul suara kampret bin sialan:

"kau membuat ku berantakan... kau membuat ku tak karuan... kau membuat ku tak berdaya, kau menolakku, acuhkan diriku..."

Kampret! HPNYA INTAN MASIH NYALA, D'MASIVE MASIH BERDENDANG, DAN ITU ADA DI LACI MEJA GUE!

Takut banget rasanya pas Bu Isdiana menghamipiri meja gue dan mengambil HP yang lagi asik bersyara itu. Tanpa ngomong apa-apa, beliau masukin HP mewah nan malang itu ke saku bajunya. Setelah itu gue dimarahin Bu Isdiana di kantor guru, di depan para guru yang lagi makan siang.

Memori warna biru, sadness.

Mungkin warna ini yang terbanyak di kepala gue. Gimana enggak? Nonton film Kabhi Khushi Kabhi Gham berulang-ulang aja mata gue masih berkaca-kaca. #TomboyStyleFailed

Mungkin memori sedih yang bisa gue ceritain adalah ketika gue kehilangan kelinci gue pas SD.

Jadi waktu itu, gue dikasih kelinci sama saudara, namanya Mbak Giyarsih. Dua kelinci putih itu belum sempet gue namain. Mereka tinggal di kotak kardus di teras rumah. Setiap hari gue kasih makan wortel, sayur, kadang juga janji manis. Setiap berangkat sekolah gue selalu menyapa dua makhluk itu dengan tatapan "hai, aku sekolah dulu ya. Nanti siang kita main lagi.". Begitu setiap hari hingga suatu siang, gue berasa disamber petir padahal nggak ujan. Berasa diputusin padahal nggak punya pacar.

Gue pulang sekolah dengan muka ceria bersiap main sama kelinci-kelinci putih lucu. Alangkah kagetnya ketika rumah gue rame, tanpa bendera kuning, tanpa tratak seng, tanpa penerima tamu. Tetangga-tetangga gue ngumpul di rumah dan pada bawa piring.

Salah satu tetangga menghampiri gue yang lagi bingung dengan keramaian itu.

"Mbak ini lho, sate kelinci kamu enak. Cobain nih!"

Kelinciku? KELINCIKU? K E L I N C I K U ???

Ternyata mereka menyate dua kelinci imutku. Kedua orang tua gue adalah pelopor utama hajatan batiniah ini. Mereka bilang, kelinci gue menuh-menuhin tempat, bau juga eeknya, mending disate aja.

Gue masuk rumah, duduk di sofa, dan cuma bisa diem. Gue bingung harus gimana. Kelinci yang gue anggep lucu, yang bikin gue semangat sekolah, dibunuh dan dimakan gitu aja, tanpa persetujuan gue sebagai pemiliknya yang tiap hari ngasih makan. Gue lupa waktu itu nangis atau cuma berkaca-kaca.

Memori warna kuning, joy, kebahagiaan.

Untuk manusia seumuran gue, jelas kebahagiaan banyak gue alamin. Apalagi yang berasal dari dunia cinta-cintaan, sayang-sayangan, gebet-gebetan. Liat doi dari kejauhan aja rasanya deg-deg ser nggak karuan bahagianya minta ampun. Apalagi disapa doi. Duh, apakah bahagia remaja sereceh itu?

Salah satu kenangan bahagia gue adalah ketika gue jadi top scorer pertandingan bola basket antar SMA se-Karisidenan Pekalongan. Meskipun tim gue kalah, gue seneng banget bisa point banyak apalagi dengan tembakan jarak jauh. Selama gue basket, itu adalah pertandingan paling beruntung gue karena biasanya gue nggak bisa shoot jarak jauh. Gue juga sempet dipuji pelatih basket yang nggak pernah muji gue. It made me fly higher. HAHAHA.

---

Gue salut sama Pete Docter yang bisa-bisanya kepikiran ide film "isi kepala manusia". Film yang general, yang semua orang bisa ngerasain ada di posisi Riley.

Sama seperti Riley yang selalu bahagia, akhirnya dia muak dan nangis sedih sejadi-jadinya. Gue nggak cuma butuh Joy. Gue juga butuh Sadness, Anger, Disgust, dan Fear buat nyeimbangin emosi. Gue nggak bisa bayangin, kalo hidup gue cuma diisi Joy dan kebahagiaan, hidup gue bakal sedatar apa. Gue bersyukur hidup gue seimbang. Gue sering ketawa lepas, tapi nggak lupa buat nangis sampe sesenggukan.

Gue butuh sedih buat ngerasain arti kebahagiaan, sama seperti Riley. Tanpa Sadness, Joy nggak ada artinya.

Buat yang baca, share juga ya, memori apa aja yang kalian inget, yang paling menyala di kepala kalian.

PS: ketika gue ngetik cerita memori sadness, gue jadi sedih lagi. Masih keinget jelas, kotak kardus kelinci yang tiap hari gue lewatin sebelum berangkat sekolah.

Teman