Tampilkan postingan dengan label Bioskop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bioskop. Tampilkan semua postingan

28 Mei 2018

16

Pengalaman Nonton Bioskop di Thailand

Salah satu alasan gue pengen traveling ke Thailand adalah karena gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand. Sederhana banget, kan?

Yang bikin gue penasaran pengen nonton film di bioskop Thailand adalah 'ritual' sebelum filmnya dimulai. Disana, sebelum film dimulai, kita sebagai penonton harus berdiri dan memberi hormat kepada raja Thailand kurang lebih 20 menit. Selama itu, layar bioskop akan menampilkan gambar-gambar tentang Raja Thailand dan penonton diwajibkan untuk berdiri serta menyanyikan lagu penghormatan untuk sang raja.

Beda banget kan sama di Indonesia yang sebelum film mulai cuma duduk nontonin mbak-mbak lalu lalang nawarin paket hemat popcorn sama soda?

Ini yang bikin gue tertarik dan akhirnya keinginan gue nonton bioskop di Thailand itu terwujud sebulan yang lalu.

Gue berangkat ke Thailand sendirian. Gue nggak khawatir karena gue punya beberapa temen yang tinggal di Thailand dan bisa menemani gue nonton bioskop disana.

sumber: twitter.com/imtaiki
Di Thailand, gue stay beberapa hari di Nakhon Ratachima. Nakhon Ratachima ini biasanya disingkat jadi "Korat". Kayak Yogyakarta jadi "Jogja" gitu. Korat adalah sebuah kota di wilayah barat laut Thailand. Kota ini merupakan ibuka provinsi Nakhon Ratchasima dan distrik Nakhon Ratachima.

Rabu, 18 April 2018, gue pergi ke Terminal 21 Korat (nama salah satu mall) buat nonton film Quiet Place. Gue pergi kesana sekitar jam 8 malem berdua sama temen gue orang Thailand dan kita nonton film yang jam 9 malem.

Gue pergi ke bioskop dengan perasaan sumringah penuh berkah senyum mengembang dengan indahnya. Sedangkan temen gue cemberut ogah-ogahan. Katanya ini terlalu malem dan dia nggak begitu suka filmnya. Bodo amat.

Dan inilah pengalaman gue nonton bioskop di Thailand!

Sepi

Ini bisa dijumpai dimana aja sih, nggak cuma di Thailand. Tapi waktu itu gue ngerasa sepinya berlebihan. Bioskop SF ini gedenya minta ampun (komentar orang kampung). Staf dan penonton yang ada disana berjumlah kurang dari 20 gue liat waktu itu. Sempat gue agak nggak yakin mau nonton karena gue pikir bakal nggak fun. Jauh-jauh ke Thailand buat nonton bioskop malah sepi gini. Tapi kepalang tanggung, akhirnya gue tetep beli tiket dan gue pilih duduk di tengah. Siapa tau ternyata ntar ramai.

Pas masuk teater, gue kaget. Teaternya kosong dan gelap. Cuma ada kursi-kursi + layar. Nggak ada petugas di pintu keluar atau yang bawa-bawa senter ngarahin penonton duduk dimana. Nggak ada petugas yang berdiri di pintu keluar juga. Penonton juga belum ada yang masuk. Sama sekali nggak ada orang. Cuma ada gue dan temen gue.

Sekosong ini cuy.
Rasanya pengen pulang ke Indonesia waktu itu.

Akhirnya, yakin nggak yakin gue duduk. Gue masih berusaha positif thinking. Bakal banyak yang nonton nanti.

Jam Masuk Bioskop di Thailand Beda

Setelah mendapatkan tiket, gue harus menukarnya dengan kertas kecil. Agak bingung gue waktu itu. Gue yang selalu ngoleksi tiket bioskop, merasa sedikit kecewa karena nggak bisa nyimpen tiket dan masa iya cuma nyimpen kertas kecil yang ditulisin pakai bolpen begini?

Ini tiketnya. Untung habis beli langsung gue foto buat update di instastory. Jadi ada kenang-kenangan.
Setelah menukar dengan kertas kecil, nggak tau kenapa karena temen gue yang ngomong pakai bahasa Thailand, gue dapat cash back per tiketnya 20 baht.

Setelah itu, gue dan temen gue langsung mencari teater yang dituju dan menunggu di depan teater.

Jam 20.45, gue ajak temen gue masuk teater. Katanya belum boleh. Oke, gue nunggu lagi.

Jam 20.55, gue ajak temen gue lagi masuk teater. Katanya masih belum boleh.

Gue heran. Gue nggak mau telat. Filmnya jam 9, gue harus masuk bioskop sebelum jam 9 dong. Seperti di bioskop-bioskop Indonesia.

Ternyata jam 9 yang tertera di tiket adalah jam penonton masuk ke teater bioskop. Hm. Oke. Beda banget.

Ditinggal Sendirian, Mangap-mangap, dan Bego

Gue dan temen gue duduk anteng di bioskop menunggu film dimulai. Teater masih sepi. Nggak lama kemudian masuk satu rombongan keluarga yang duduk di kursi atas. Gue bersyukur. Nggak nonton sendirian.

Ini temen gue. Selama di bioskop nggak happy.
"I wanna go to toilet." Temen gue berdiri dan keluar menuju toilet. Gue duduk sendirian.

Sampai layar bioskop nampilin foto Raja Thailand. Musik yang ala-ala kerajaan juga mulai terdengar.

Gue harus ngapain nih?

Oke, calm down.

Gue lihat rombongan penonton di kursi belakang mulai berdiri dan bernyanyi dengan muka khidmat. Pandangan lurus ke depan. Gue celingukan sedikit panik.

Gue harus ngapain nih?

GUE HARUS NGAPAIN NIH?!

Akhirnya gue berdiri juga. Masih celingukan. Apa yang harus gue nyanyiin?! Di layar ada subtitle lagunya. Tapi pakai aksara Thailand yang di mata gue nggak jauh beda dari aksara Jawa tapi lebih keriting. Woy tolong!

OH TUHAN...

GUE HARUS NGAPAIN NEEEH?!

MANGAP-MANGAP DOANG GITU???

Ini momen yang gue cari tapi malah gue cengok begini. Bangsat.

Setelah 20 menit, akhirnya 'ritual' pun selesai. Fiuhhh. Lega. Temen gue masih belum dateng. Nggak jadi lega. Gue merasa dizolimi. Gue merasa gue dikerjain dan ditinggal sama dia.

Gue langsung kepikiran bakal tidur di mall ini.

Nggak. Gue nggak boleh nyerah sama keadaan. Gue harus berusaha. Akhirnya gue keluar teater, mencari keberadaan temen gue, dan menemukan dia lagi celingak-celinguk mondar mandir di lorong bioskop.

"I can't find our theater door. All the doors here are same."

Temen gue muter-muter nyari pintu masuk teater dari toilet. Pintunya emang sama semua sih tiap teaternya dan nggak ada petugasnya sama sekali disana. Pantesan temen gue tersesat.

---

Itu pengalaman gue nonton bioskop di Thailand. Benar-benar mengajarkan gue arti sebuah kemandirian yang hakiki di bioskop. Petugas nggak selalu ada di setiap sudut bioskop.

Walaupun gue nggak terlalu having fun, tapi pengalaman ini bakal unforgertable banget.

Nonton lagi yuk, ke Thailand!

16 Oktober 2017

12

[Review Film] Pengabdi Setan - Joko Anwar

Sekali lagi, ngomongin film horor Indonesia sama dengan ngomongin film bokep. Gue selalu pesimis dan punya stereotipe negatif kalau lihat poster film horor Indonesia di bioskop.

"Halah. Paling juga isinya suster keramas atau suster mandi wajib."

Akhirnya gue nggak pernah mau nonton film horor Indonesia lagi.

Tapi stereotipe itu tanggal 3 Oktober kemarin terpatahkan. Setelah sekian lama nggak nonton film horor Indonesia (kayaknya yang terakhir film Badoet deh), akhirnya gue nonton juga dan literally impressed with that movie. Yap, film Pengabdi Setan, karya Joko Anwar.

Awalnya gue sama sekali nggak tertarik dengan judul film Pengabdi Setan. Gue pikir alay, nggak kekinian, nggak jaman now, terus paling isinya tetek-tetek nggak jelas. Cuma nama 'Joko Anwar' yang bikin gue agak penasaran. Film pendek horor Grave Torture (Silent Terror) menjadi film yang bikin gue jatuh cinta sama si om lulusan Teknik Penerbangan ITB ini dan membuat image "sutradara film horor" secara nggak sadar nempel di kepala gue. Tiap denger nama "Joko Anwar", ingetnya setan.

Masa iya Joko Anwar bikin film horor ada teteknya? Nggak mungkin. Pasti ini film bagus.
Pikir gue.

Ditambah lagi temen gue bilang, "Rih, lo harus nonton Pengabdi Setan! Harus! Filmnya keren banget!"


Film Pengabdi Setan (2017) adalah film re-make (Joko Anwar lebih suka bilang 'reboot') dengan judul yang sama di tahun 1980. Film Pengabdi Setan tahun 1980 garapan almarhum Sisworo Gautama Putra sukses menjadi film horor terbaik di masa itu dan berhasil menembus pasar film Internasional. Nggak heran sih, karena Sisworo Gautama Putra menurut gue emang spesialis film horor. Lebih dari 12 judul film horor sukses disutradarainya. Termasuk beberapa film Suzana.

Film Pengabdi Setan tahun 2017 dan 1980 memiliki premis yang sama: seorang ibu meninggal kemudian arwahnya datang kembali meneror rumah dan keluarganya untuk satu tujuan. Makanya tagline film ini "Ibu datang lagi".

Pengabdi Setan 2017 menceritakan tentang sebuah keluarga yang mengalami krisis ekonomi setelah sang ibu (Ayu Laksmi) jatuh sakit kemudian meninggal. Keempat anak yang ditinggalkan yaitu Rini (Tara Basro), Tony (Endy Arfian), Bondi (Nassar Anuz), dan anak terakhir Ian (M. Adhiyat). Ibu sebelum sakit adalah seorang penyanyi terkenal di tahun 1980an dengan lagu hitsnya berjudul Kelam Malam. Setelah ibu meninggal, banyak kejadian aneh dan misterius yang terjadi pada keluarga ini. Sampai pada akhirnya mereka menyadari bahwa hal-hal aneh yang terjadi di rumah mereka berhubungan dengan rahasia sang ibu semasa hidup.

Meskipun memiliki premis yang sama, Joko Anwar membuat banyak perbedaan dalam film ini secara teknis dan penyampaian cerita. Misalnya; Pengabdi Setan 1980 tidak menceritakan hubungan anak dengan ibu sebelum meninggal. Scene awal langsung pemakaman sang ibu. Sedangkan 2017 diceritakan dulu bagaimana kondisi sang ibu ketika hidup dan bagaimana hubungannya dengan anak-anaknya.

Untuk teknis, jelas Pengabdi Setan 2017 lebih bagus daripada 1980. Teknologi sudah makin canggih, men. Gue paling suka scene ketika Hendra (Dimas Aditya) wajahnya terseret di atas aspal. Kayak asli. *spoiler*

Menonton film Pengabdi Setan, 107 menit mata gue dimanjakan dengan gambar, warna, dan nuansa kuno yang berhasil Joko Anwar bangun. Kesan tahun 1980an sukses digambarkan dengan baik didukung oleh pernak-pernik seperti jam dinding tua, sumur, telpon rumah, dan motor butut milik Tony. Rumah kosong di Pengalengan, Bandung peninggalan jaman Belanda juga berhasil menjadi ikon utama yang menunjukan kalau cerita di film ini memang terjadi 37 tahun yang lalu. Rumah kuno ini dan segala interiornya bikin gue lupa kalau lagi nonton film Indonesia. Artistiknya gue acungin jempol 4.

Gue bukan orang yang gampang takut dan teriak-teriak ketakutan kalau nonton film horor. Tapi Pengabdi Setan sukses bikin gue deg-degan di bagian awal. Jujur sebelum nonton, gue sudah punya mindset kalau film ini bakal ngeri. Bayangin aja, yang jadi setan ibunya, cuy. Kurang ajar. Sutradara durhaka. Dan beberapa aktifitas yang dekat denga kehidupan gue bikin gue makin masuk ke dalam film. Pemakaman, pocong, kuburan ala Indonesia, tahlilan, sumur tua, semua itu ada di kehidupan asli gue.

Menembus 2 juta lebih penonton hanya dalam 13 hari tayang, Pengabdi Setan masih punya beberapa 'miss'. Beberapa adegan banyak yang nggak nyambung. Aksen bahasa yang digunakan para pemain juga terkesan maksain. Bahasa yang digunakan Bondi dan Rini, nggak cocok. Bapak (Bront Palarae) yang diperankan aktor Malaysia juga kaku dalam berdialog.

Karakter para tokoh kurang kuat digambarkan. Tokoh yang berhasil dibangun cuma Ian, si anak bontot tuna rungu yang menggemaskan dan memberi sentuhan komedi di film ini.

Adegan yang bener-bener bikin gue bingung adalah ketika bapak bilang nggak mau tidur tiba-tiba muncul di layar doi sudah tidur pules aja. Itu...nggak nyambung.

Mulai masuk ending, kengerian film ini mulai berkurang. Setannya dan cara setan itu muncul jadi standar. Klimaksnya malah menurut gue di bagian munculnya Fachry Albar, scene paling terakhir. Beberapa penonton di sekitar gue bilang "apaan banget itu (scene Fachry) nggak nyambung. Bikin jelek." Tapi menurut gue malah itu yang bikin "anjir ini film kampret! Keren!".

But, over all, gue suka film Pengabdi Setan ini. Plotnya, sinematiknya, konsep ceritanya, joss. Untuk kelas film horor Indonesia, Pengabdi Setan ini bisa dibilang keren banget, bisa disejajarkan dengan film The Conjuring lah. Dan yang paling penting, Joko Anwar berhasil bikin gue nggak negative thinking lagi sama film horor Indonesia.

Film Badoet dan Pengabdi Setan, gue rasa bakal jadi titik balik dan titik sadarnya produser atau sutradara film horor Indonesia bahwa: bikin film horor nggak harus ada sentuhan bokepnya.

Gue bakal terus menunggu karya-karya cerdas sutradara film horor Indonesia macem Pengabdi Setan ini. Joss!!

Anyway, gue mulai nulis ini sejak setelah nonton film Pengabdi Setan dan baru hari ini terposting. Sedih. :')

19 Juni 2017

11

[Review Film] The Mummy - Alex Kurtzman


Nonton film di bioskop adalah hal yang akhir-akhir ini sulit untuk gue realisasikan. Sibuk dan nggak ada duit adalah alasan utamanya. Rencana nonton film Fast and Furious 8 sampai film Ziarah, gagal semua. Mungkin baru bisa gue tonton setelah filmnya duet jadi "Fast and Furious Berziarah".

Kemarin, gue dan Sofi, main ke Java Mall dengan niat awal beli Thai tea Dum-dum. Thai tea yang hits banget di Semarang. Setelah beli Thai tea, kita berdua iseng ke bioskopnya, Cinemaxx. Bioskop ini masih baru, belum ada sebulan, makanya kita kepo. Niat awal cuma liat-liat, kita malah kepincut sama dua poster film disana: Zombie Fighters, film Thailand yang masih coming soon dan film The Mummy yang sedang tayang di bioskop.


Tanpa basa-basi, kita nonton film The Mummy. Dadakan. Karena jamnya mepet, kita dapet seat sisa, seat paling depan. Meskipun bola mata serasa nempel ke layar bioskop dan tulang belulang pegel semua, gue tetap berusaha menikmati muka ganteng Tom Cruise di depan mata.

The Mummy adalah film kedua yang disutradarai oleh Alex Kurtzman setelah film People Like Us (2012) dan istimewanya adalah: Alex Kurtzman jadi sutradara, sekaligus penulis (bukan utama), sekaligus produser di film The Mummy ini! BOOM!!

Nama Alex Kurtzman memang sering kedengeran di dunia film. Tapi dia lebih sering jadi penulis skenario atau produser, bukan sutradara. Film The Island (2005) dan Now You See Me 2 (2016) adalah beberapa film yang dia garap. Gue langsung inget, film The Island adalah film sci-fi yang pertama kali gue tonton dan bikin gue jatuh cinta sama film sci-fi sampai sekarang. Ternyata doi yang nulis.

Film The Mummy bercerita tentang Putri Mesir kuno yang hidup ribuan tahun lalu, Princess Ahmanet (Sofia Boutella, aktris Algeria), yang dikubur hidup-hidup setelah mencoba membunuh ayahnya karena berusaha mendapatkan tahta kerajaan. Kemudian, kuburan Princess Ahmanet ditemukan oleh Nick Morton (Tom Cruise), Annabelle Wallis (Jenny Hasley), dan Sgt. Vail (Jake Johnson) pada jaman modern sekarang ini dan menyebabkan mummy Princess Ahmanet bangkit kembali.

Seperti standar film mummy pada umumnya, mummy Princess Ahmanet bangkit dari kematiannya dan belajar giat untuk mengikuti tes SBMPTN. Eh ngaco. Maap. Mummy Princess Ahmanet bangkit membawa dendam kepada umat manusia dan berusaha menguasai dunia. Nick Morton dkk merasa bertanggung jawab atas bangkitnya mummy seksi ini dan berusaha 'menidurkan'nya lagi.

Film berbudget mencapai $125 juta ini merupkan film reboot The Mummy tahun 1999 dari Universal Monsters. Universal Monsters Universe series adalah genre atau pengelompokan film dari Universal Studio yang mengangkat tema horor, setan-setanan, mosnster-monsteran, dan science fiction.


Gue lupa-lupa inget sih sama film The Mummy 1999, tapi ceritanya mirip-mirip gitu. Mengesampingkan jerawat di pipi Tom Cruise yang terlihat jelas di depan mata, secara keseluruhan film ini bagus banget. Berkali-kali gue teriak-teriak sendiri waktu nonton karena saking menegangkannya. Bagian paling menegangkan adalah saat pesawat jatuh. Beberapa detik audio-visualnya bikin ada space kosong di jantung gue. haha. Spoiler.

Meskipun film bergenre mummy kayak gini ceritanya gampang ditebak, tapi alur dan gambar-gambar hasil DOP-nya Ben Seresin ini bikin penonton selalu tegang dan berpikir "abis ini apa nih? abis ini apa ya?".


Ngereview atau ngomongin film kelas hollywood emang susah. Hampir semuanya 100% sempurna. Intinya film The Mummy (2017) visualnya keren meskipun ceritanya membosankan. Beberapa kali scene no sound bikin jantung mencelos terus shock terus sound on lagi. Keren. Visual film The Mummy ini bisa bikin penonton (seenggaknya gue) nggak ngerasa bosen sama film tentang mummy yang "oh paling endingnya begitu".

Note: postingan ini harusnya bisa gue post seminggu yang lalu. Karena kurang dikit tapi gue nggak ngelarin, jadi baru bisa dipost hari ini. PARAH.

17 April 2016

11

[Review Film] Nay - Djenar Maesa Ayu, edass!

Kami, para komunitas film sering ngadain pemutaran-pemutaran film. Biasanya film indie dan pendek. Beberapa waktu lalu, di grup komunitas film gue ada notif ajakan dateng ke pemutaran film di Universitas Dian Nuswantoro Semarang (Udinus). Gue, sebagai mahasiswa santai banyak nganggur, jelas langsung berangkat.


Awalnya gue nggak tau film yang gue mau tonton ini film apa, bahkan terkesan underestimate setelah liat poster filmnya. Poster dengan warna dasar kuning ngejreng dan ada gambar satu mobilnya ini bikin gue mikir, "ini cover film apa rambu lalu lintas?".

Yaudahlah yaa. Kalau pun ini film memang tentang kisah cinta antara rambu lalu lintas dengan polisi tidur, gue tetep nonton kok. Sebagai mahasiswa banyak nganggur, kisah cinta antara rambu lalu lintas dengan polisi tidur adalah kisah cinta yang penting dan patut diperhatikan.

Akhirnya gue sampai di Udinus bareng kedua temen gue. Kemudian gue duduk anteng di dalam ruang pemutaran dan masih dalam keadaan underestimate sama film berposter kuning itu. Namun ketika filmnya mulai dan berjalan, boom! Gue kebawa alur cerita film, terpesona sama setiap scenenya, gambarnya juga cakep, dan fix, gue jatuh cinta sama film ini!


Film berdurasi sekitar 80 menit, cuma ada satu pemain di film, latar tempat cuma di dalam mobil doang, dan latar waktu cuma malam hari aja.

Lo bayangin deh film begitu.

Gila kan? Ada film durasinya sejam lebih yang pemainnya satu orang itu-itu aja, tempatnya cuma di dalam mobil, dan bisa bikin gue jatuh cinta.

Adalah film Nay, karya Djenar Maesa Ayu.


Film Nay adalah film yang rilis tanggal 19 November 2015 dan ditulis sekaligus disutradarai oleh Djenar Maesa Ayu. Film yang mengangkat isu perempuan, identitas, dan seks ini diadaptasi oleh novel berjudul Nayla karya Djenar Maesa Ayu juga.

Film Nay menceritakan seorang wanita bernama Nayla atau Nay (Sha Ine Febriyanti) yang memiliki masalah hidup berhubungan dengan identitasnya sebagai wanita. Masa lalu Nay buruk. Ayah kandung Nay meninggalkan ibunya ketika dia belum lahir. Dan pacar ibunya memperkosa Nay ketika dia masih kecil. Bahkan ibu Nay tidak membela anaknya justru membuat posisi pacarnya aman.

Kini, Nay adalah seorang bintang baru yang sedang hamil di luar nikah dan pacarnya, Ben, tidak bertanggung jawab karena lebih mementingkan ibunya. Masalahnya semakin rumit ketika seorang produser memberitahu jika Nay terpilih menjadi pemeran utama. Nay semakin bingung, menggugurkan kandungan atau merawat anaknya dengan baik. Ia merasa ini semua akibat dari kesalahan ibu brengseknya.

Dalam rumitnya masalah, Nay mendapat banyak pelajaran dan mengerti sifat-sifat asli orang-orang yang di sekitarnya. Pram, laki-laki yang naksir padanya, ternyata menolak Nay ketika dia sudah hamil. Kemudian Ayu, produser Nay yang ternyata hanya mementingkan karir.


Menurut gue, film Nay adalah film yang cerdas. Film ini mampu membuat penontonnya nggak bosan padahal latar tempat cuma di dalam mobil dan cerdasnya lagi, film ini mampu membawa penontonnya pergi ke masa lalu Nay hanya dengan cerita-cerita yang diutarakan Nay. Film ini juga sukses membuat penonton terbawa emosi oleh si tokoh yang hanya duduk di mobil.

Gila gila.

Untuk masalah teknis seperti fotografi, suara, dan artistik, film Nay udah keren menurut gue. Cahaya-cahaya malam, warna kuning khas jalanan malam hari, bokeh-bokeh lampu mobil bikin film ini makin greget. Ya nggak salah sih. Kru film ini juga keren-keren. Penata kameranya mas Ipung Rachmat Syaiful yang juga garap film Habibie Ainun dan Janji Joni, artistiknya mbak Vida Sylvia yang ada di film 5cm dan Supernova, penata suaranya mas Khikmawan Santosa yang juga garap film The Raid.

Kekurangan film ini paling di masalah pemasaran. Film sebagus ini harusnya lebih tenar dan daripada film-film lain yang cuma mengandalkan artis-artis sensasional main di dalamnya buat mendongkrak popularitas film.

Film Nay ini nggak lama nangkring di bioskop, mungkin juga karena masalah sensor yang nggak nerima film  banyak kata-kata kotor kayak film ini. Jadi nggak heran, sekarang film ini populer sebagai film indie yang sampai sekarang masih muter terus di pemutaran dan festival-festival film Indonesia.

Buat kalian yang mungkin di daerahnya ada pemutaran film Nay, nonton deh. Keren filmnya. Gue yang sebelumnya nggak tau apa itu feminisme jadi sedikit banyak tau dari film anti-mainstream-keren ini.

 Tontonlah film Nay ini. Gue udah membuktikan kalau film ini bukan film tentang kisah percintaan antara rambu lalu lintas dan polisis tidur, kok. Malah keren. Kalau kata temen gue, film Nay edass!

21 November 2015

10

[Review Film] Badoet - Awi Suryadi, keren!


Nonton film adalah salah satu obat yang sangat ampuh untuk menghilangkan badmood. Ramainya bioskop, suasana ketika sudah duduk di dalam bioskop, dan alur cerita film mampu bikin pikiran kita melayang ke dunia lain dan bikin mood membaik dalam hitungan menit.

Kemarin gue lagi badmood, ada sedikit masalah. Iseng gue cek aplikasi Cinema21 dan nemuin film Badoet udah tayang. Nggak ambil pusing, gue yang emang sedang sangat menunggu film ini langsung berangkat ke bioskop bareng temen yang kebetulan sedang nganggur berat.

Sampe bioskop, film Badoet udah berjalan 10 menit. Nggak masalah, tetep gass.

 

Film Badoet adalah film horor Indonesia yang memakai karakter badut sebagai tokoh hantu utamanya. Badut yang seharusnya lucu dibuat sedemikian seram di film ini. Hidung yang biasanya bulat merah besar, jadi cacat kepotong. Senyum lebar yang harusnya lucu, jadi serem. Menurut gue, Awi Suryadi sukses bikin badut jadi amat sangat serem disini. Kenangan mantan aja kalah seremnya.

Film yang disutradarai Awi Suryadi ini dibintangi oleh Daniel Topan, Ratu Felisha, Christoffer Nelwan, Marcel Chandrawinata, Aurelie Moeremans, Tiara Westlake, dan Ronny P. Tjandra. Mungkin banyak nama yang kurang familir di telinga pecinta film Indonesia, tapi itu nggak bikin film yang berlatar rumah susun sederhana ini kehilangan kekerenannya.

Film Badoet menceritakan tentang kehidupan di rumah susun yang awalnya hangat dan penuh kekeluargaan berubah menjadi penuh teror sadis. Anak-anak yang awalnya bermain ceria satu per satu tewas bunuh diri. Teror ini diawali dari penemuan kotak musik oleh anak kecil bernama Vino. Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurelie Moeremans), tetangganya Vino penasaran dan mencari tahu penyebab kematian anak-anak itu apa.



Dengan bantuan Nikki (Tiara Westlake), teman Donald yang indigo, akhirnya mereka bisa tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah susun itu. Teror itu berasal dari mana, apa penyebabnya, dan gimana cara mengatasinya. Sukses nggak Donald cs? Donald itu siapanya pemilik McD?

Secara keseluruhan film ini keren-abis! Meskipun telat 10 menit, 70 menit sisanya bisa bikin gue penasaran, deg-degan, geregetan pengen nikah. Sutradara asal Lampung ini mampu bikin setiap menit di film penuh arti. Nggak ada scene yang sia-sia apalagi scene bokep-bokep nggak jelas. 100% adegan di film ini yahud. No pantat, no belahan tetek, no setan keramas. Halal.

Sosok badutnya sendiri sangat sedikit tampil di dalam film. Sebagai pemeran utama, gue rasa badut kurang hits. Dia muncul sebentar-sebentar doang. Tapi teror-terornya itu, beh...nggak usah muncul udah bikin dahi berkerut. Buat sebagian orang, suara musik dari kotak musik kuno ngeri, dan semakin ngeri di film ini.

Sebelum tayang, Film Badoet mendapat tawaran tayang di India dan Amerika. Two thumbs up! Keren banget! Belum tayang lho gaes, belum tayang! Darimana coba produser-produser bule itu tau kalo film Badoet bagus? Hah.

But, ada sedikit miss di film Badoet. Menurut gue aneh aja, 2 kejadian anak bunuh diri diperlihatkan. Cuma 1 kejadian anak bunuh diri aja yang nggak diliatin. Kenapa ya? Jeng jeng jeng! Dan, kalo kata temen gue sinematografinya kurang. Banyak kamera goyang. Tapi nggak papa, bukan pantat yang goyang.

Katanya film Badoet ini mirip film import The Clown ya? Gue belum nonton The Clown, jadi belum bisa bandingin. Coba dong, yang udah pernah nonton The Clown, reviewnya?

Yuk, yang belum nonton Badoet nonton gih. Film lokal kok, murah tiketnya. Support local movie, sekali-kali. Di bioskop ya nontonnyaaa. :p

7 November 2015

31

[Review Film] Paranormal Activity The Ghost Dimension - Gregory Plotkin

Seperti yang sudah diutarakan di postingan sebelumnya, gue nungguin film Paranormal Activity dan akhirnya beberapa hari yang lalu gue nonton juga. Yeay!

Ekspektasi : teriak-teriak, kaget, deg-degan, minta nikah.
Realita : diem, doang.


Gue sendiri sebenernya nggak ngikutin film Paranormal Activity dan lupa-lupa film yang pertama gimana, kedua gimana, ketiga gimana. Yang gue tau, Paranormal Activity itu film horor yang nayangin gambar setan dari kamera CCTV. Ya. Pengetahuan gue secetek itu.

The Ghost Dimension adalah sekuel kelima dan film keenam dari deretan film Paranormal Activity yang beredar mulai tahun 2009. Film ini masih ngelanjutin film sebelumnya yang setannya belum jelas. Jika di Paranormal Activity sebelumnya kita cuma bisa liat aktivitas sang setan yang masih samar-samar, Gregory Plotkin bikin si setan keliatan di film yang mulai tayang tanggal 28 Oktober ini. Sesuai sama tagline filmnya: For The First Time You Will See The Activity, dan bener, kita bakal liat aktivitas setan yang sebenarnya.

Paranormal Activity The Ghost Dimension menceritakan tentang keluarga Ryan (Chris J. Murray), Emily (Brit Shaw), dan anak mereka Leila (Ivy George) yang menempati rumah baru. Awalnya mereka hidup bahagia, nggak ada masalah, kayak keluarga Raffi Ahmad Nagita Slavina. Sampai suatu hari Ryan dan saudaranya Mike (Dan Gill) nemuin kamera kuno beserta beberapa kaset di rumah itu. Gue sempet mikir, bakal kayak Sinister nih kayaknya. Ternyata enggak. Kamera yang ditemuin itu adalah kamera yang bisa ngerekam hal-hal astral dan kaset-kaset itu berisi dokumentasi kegiatan kelompok pemuja setan.

Setelah nemuin kamera dan kaset-kaset tadi, keluarga Ryan hidupnya jadi nggak tenang. Bukan karena mereka salah pakai pembalut, tapi karena mereka merasa diteror oleh orang-orang yang hidup di tahun 1988. Kaset yang ditemukan ternyata berisi video kegiatan supranatural yang dilakukan Katie dan saudaranya yang hidup di tahun 1988 dan anehnya mereka seperti melihat kehidupan keluarga Ryan pada tahun 2013.

Leila pun mulai bersikap aneh. Dia punya temen imajinatif. Ya, sudah bisa ditebak; anak kecil ngomong sendiri, dan ternyata dia ngomong sama hantu, dan ternyata hantunya mau bawa dia kabur. Standar film horor orang barat. Predictable banget, huh, nggak asik.

Leila menjadi sasaran setan yang digambarkan dengan bentuk asap (nggak macho banget) untuk memenuhi ritual agar si setan bisa nyata dan hidup di bumi. Sang asap hitam pekat jelek itu bernama Toby (makin nggak macho). Darah Leila cocok untuk ritual kebangkitan Toby, makanya Toby mengincar Leila. Orang tua Leila, Ryan dan Emily yang sadar anaknya ada dalam bahaya nggak tinggal diam. Mereka berusaha menarik Leila agar tidak terlibat dalam ritual kebangkitan Toby dan beralih mengikuti acara kebangkitan nasional.

Terus gimana? Leila akhirnya bisa lepas dari Toby nggak? Toby bukan yang di GGS itu?

Film yang bersekuel memang menjanjikan untung besar karena penonton pensaran kelanjutan film dan akan nonton. Apalagi jika film pertama sukses di pasaran. Meskipun penasaran, penonton menagih film yang lebih bagus dan lebih bagus lagi dari sebelumnya. Kalo si film maker nggak bisa bikin film yang lebih greget dari sebelumnya, yang ada penonton bakal bosen dan kecewa. Ini yang menurut gue terjadi di film Paranormal Activity The Ghost Dimension. Ngebosenin, no klimaks, dan gampang ditebak. Gregory Plotkin sebagai sutradara gagal membuat tiap-tiap scene di film ini menegangkan. Hanya bagian ending yang masih bisa dibilang keren. Pindah rumah, anak dihantui, sekte-sekte penyembah setan, adalah model film horor ala Hollywood yang paling sering digunakan dan sayangnya Paranormal Activity pake model ini jadi alurnya gampang ditebak.

Overall film ini lumayan. Untuk kalian yang memiliki tingkat kecemenan tinggi, film ini bisa dijadiin latihan nonton film horor. Nggak ada darah-darahan, bunuh-bunuhan, setan bermuka ancur, aman kok.

Gimana film Paranormal Activity The Ghost Dimension menurut kalian yang udah nonton? Mungkin pendapat kita beda. Karena jujur aja gue adalah orang yang nggak gampang kaget kalo nonton film horor. Jadi belum tentu film ini cemen sebenernya.

Gue agak bingung mau nulis apa. Karena banyak bagian di film ini yang nggak berkesan.

Btw, pas nulis postingan ini gue ngerasa lebih merinding daripada pas nonton filmnya di bioskop. Kenapa ya?

3 Oktober 2015

24

[Review Film] The Martian - Ridley Scott



Nonton film di bioskop adalah salah satu hiburan paling manjur untuk kepenatan mahasiswa. Saking manjurnya, banyak mahasiswa berkantong kering nekad merogoh kantongnya dalam-dalam untuk sekedar menghilangkan penat di bioskop. Gue adalah salah satu mahasiswa nekad tersebut.

Semalem gue ke bioskop. Niatnya mau nonton film 3 Dara, garapan sutradara Usmar Ismail. Tapi sampai sana realita berubah. Setelah nonton trailer di layar belakang mbak-mbak kasir XXI dan tertarik sama covernya, gue langsung melenceng beli tiket film The Martian.

www.screenrelish.com
The Martian adalah film fiksi ilmiah yang disutradarai oleh Ridley Scott. Film The Martian ini diadaptasi dari novel laris yang berjudul sama, The Martian, karangan Andy Weir. Beberapa nama besar seperti Matt Damon, Jessica Chastain, Kate Mara, Kristen Wiig, Sebastian Stan, Sean Bean, berperan di dalam film ini.

The Martian menceritakan tentang kisah bertahan hidup di planet Mars. Astronaut Mark Watney (Matt Damon) bersama 5 rekan satu timnya melakukan misi di planet Mars, namun mereka mengalami musibah badai. Pada musibah tersebut, Mark Watney dihantam batu besar dan dianggap tewas. Mereka pun meninggalkan jasad Mark Watney dan meneruskan misi selanjutnya meninggalkan planet Mars.
voyagershift.com
Mark Watney yang dianggap telah tewas ternyata masih hidup. Dia mengalami luka-luka di tubuhnya. Setelah menyadari bahwa rekan kerjanya telah meninggalkannya sendirian di Mars, Mark memeras otak dan mencari cara agar dia tetap bisa hidup disana. Mark yang merupakan ahli botani merekayasa sebuah kebun kentang di Mars dengan menggunakan kotoran manusia sebagai pupuknya. Bagian ini emang menjijikan dan sialnya bioskop nggak menyediakan kantong plastik. Mark pun akhirnya berhasil bertahan hidup berbulan-bulan di Mars sebatang kara dengan terus mengkonsumsi kentang hasil kebun mininya.

NASA sebagai organisasi yang mengirim Mark ke Mars tidak tinggal diam dengan kejadian ini. NASA didesak mencari cara tercepat untuk menjemput Mark, apalagi setelah meledaknya kebun mini buatan Mark di Mars sana. Nggak gampang meluncurkan pesawat jemputan ke Mars, apalagi banyak konflik internal di NASA.

Film ini cocok ditonton untuk semua kalangan, meskipun bukan penggemar film fiksi ilmiah. Ridley Scott berhasil memberi sentuhan kemanusiaan dan humor di film ini, jadi kita bakal ketawa-ketiwi pas nonton. Ada juga bagian ngilunya. Bagian Mark ngobatin lukanya ini bener-bener keliatan real. No sensor banget bolongan lukanya. Dizoom malah! Ngilu deh. Tapi jadi asik.

by Farih Ikmaliyani
Meskipun terkesan agak sedikit datar tanpa klimaks yang mengesankan, film ini mampu membawa penontonnya masuk ke dalam alur cerita dan ikut berpikir bagaimana Mark dapat diselamatkan. Selama 140 menit, penonton akan dibuat berperasaan nano-nano. Deg-degan, ketawa, ngilu, dan mikir. Apalagi buat anak IPA.

Secara keseluruhan menurut gue film ini bagus, standar film-film sience-fiction tema luar angkasa lainnya. Kesan datar di film ini malah bikin film ini realistis. Nggak banyak khayalnya. Masuk akal.

Terus gimana akhirnya? Mark bisa diselametin nggak? Emang Mark betah makan kentang doang? Kenapa Mark nggak beli saus kacang biar jadi siomay?

Nonton aja filmnya! Baru rilis kok, masih fresh from the oven. hehehe.

Teman