Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Galau. Tampilkan semua postingan

11 Desember 2018

8

Life is Walking -Ploy-

Move on adalah seni bertahan hidup tingkat dewa. Nggak semua orang bisa melewati ini dengan sempurna. Beberapa berhasil dan bertahan hidup, sementara beberapa lainnya mati sia-sia ditelan drama.

Mengenai move on, gue bukan jagonya. Jelas. Nggak usah ketawa.

Maka dari itu, mengenai move on ini, gue dapat ceramah singkat dari teman di Thailand, namanya Ploy. Analogi yang dia kasih mampu bikin gue senyum-senyum sendiri dan bergumam, "iya juga ya. Hidup memang seperti itu."

Alasan kenapa gue tanya soal move on ke Ploy adalah simpel: dia berhasil move on dari mantan pacarnya yang pacaran selama 7 tahun. Mantannya ini bukan cowok miskin muka pas-pasan hoby karokean, bukan. Mantannya dari keluarga kaya di Thailand dan serius ngajak Ploy ke pelaminan. Nggak tanggung-tanggung, mereka putus setelah si cowok selingkuh di depan mata si Ploy dan nggak lama kemudian dia nikah dengan si selingkuhan. Padahal keluarga dan teman-teman mereka saling kenal dengan baik satu sama lain.

Gue bayangin jadi Ploy rasanya mau mimisan.

Setelah itu Ploy pacaran dengan bule-bule. Ada yang LDR, ada yang memang tinggal di Thailand. Sampai akhirnya, sekarang Ploy berstatus pacar bule Jerman.

"How could you move on from your ex?" Gue tanya lewat telfon siang itu. "It must be so hard, bro."

"Yes, it was".

Ploy cerita panjang lebar dan gue cuma menimpali "really? OMG! WTF! What!?" sesekali. Memang gue tidak semutu itu gais ketika mendengarkan curhatan orang.

Dan di akhir Ploy bilang, "bro, life is walking. Sometimes we find a house and fall in love with the owner of that house. If they love us too, they will allow us to stay for long time. If they don't love us, they will kick us out and let us sit in front of the house, like a dog."

sumber: www.flickr.com
Makjleb. Mau mimisan.

"I don't wanna be a dog. I don't wanna just sit in front of the house that closed for me. I have to keep walking."

Makjleb. Mimisan beneran.

Gue cuma diem. Buka google translate, bingung mau jawab apa.

"Don't be a dog bro. You have to keep walking. Maybe you will find a better house that you can stay in for long time."

"If the owner of the next house doesn't like us too?"

"Just keep walking until you find the fit one for you to stay forever." Ploy memberi jeda. Gue bernapas. Mimisan lagi. "Believe, someday we will find a fit house for us. But we don't know which one yet."

Gue mulai paham.

Ploy melanjutkan,"who knows about the next house? The next people? We don't know about the new people we will meet there."

"But, it isn't easy to walk and leave the house that we love, right?" Gue kepo.

"Yes. It is not easy. But what can we do if they close the door? Would you just sit in front of the door like a dog?"

...

"No, bro."

"So, just keep walking. That's what I did."

Gue tertegun. Ada keheningan di antara gue dan Ploy untuk beberapa saat.

Gue memecah keheningan, "you are strong bro. I can't imagine if I were you."

Saat itu juga gue kagum. Sebelumnya, gue nggak pernah ngerti kalau apa yang sudah dilalui Ploy sesulit ini.

Kemudian gue tanya lagi, "what if they change their mind? Would you go back to the previous house?"

Ploy tertawa.

4 Maret 2018

12

Sunset, Beach, and Chocolate Ice Cream

[ hi. lets see sunset together tomorrow at 5.30 p.m ]
- you texted me -


Yesterday, you texted me and asked me to see sunset together. Now, I am sitting on the bench near the beach. It's 5.00 p.m now. I am too early to be here. Too excited to meet you.

Then I buy 2 ice creams for us, chocolate and strawberry. Chocolate is for you and strawberry is for me. Chocolate is your favourite, right?

Ah, I think you will be hungry. I buy some snack for you too.

5.20 p.m.
I sit again. Wait again.

5.25 p.m.
I don't know why, I feel more excited to meet you. Fuck.

5.30 p.m.
I can see the yellow dim sunlight comes slowly. I smile.

Hey, you are late. Hahaha, always late.

5.45 p.m.
The ice creams melted.

5.50 p.m.
Sunset comes. So beautiful like always. Warm and so yellow. Always be my favourite thing so far.

Where are you?

6.00 p.m.
My hands gonna be wet because of ice creams.

6.15 p.m.
You don't come.

6.30 p.m.
The sunset goes away. Don't worry, I took the photos for you.

7.00 p.m.
You are not here.

7.30 p.m.
You are not here. You don't come.

8.00 p.m.
I know, I should back home.
I leave the melted ice creams and snack on the bench then walk away.

I know you will not come.

Where are you? Do you forget your promise to meet me at the beach to see sunset?

9.01 p.m.

[ Sorry, I forget to tell you. I'm going out with other. See ya ]
- you text me -

---

Hahaha, tulisan ini terinspirasi dari film Segala, film garapan gue yang entah jadinya kapan. Perasaan kayak gini pasti banyak yang ngerasain, kan? Gimana rasanya?

Feeling forgotten and unwanted is that bad, right?

---
Sorry for the bad grammar.

7 Januari 2018

4

Talking About 2017


Setiap hal yang datang dan pergi pasti meninggalkan bekas. Termasuk tahun. Ya, tahun 2017 sudah pergi hampir seminggu. Tapi bekasnya masih tersisa disini, sampai sekarang.


Agak berat sebenarnya melepas tahun 2017 dan berlanjut ke tahun berikutnya. 2017 terlalu cantik buat gue. Tapi bukannya manusia memang dituntut untuk melajar berkenalan dan melupakan?

Hahaha, belum apa-apa sudah ngaco.

Tahun 2017 mengajarkan gue banyak hal. Mengajarkan gue buat mengerti hidup yang lebih baik, mengajarkan untuk berdamai dengan diri sendiri ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, dan mengajarkan untuk memilih orang-orang yang tepat sebagai teman, bukan orang-orang yang hanya mencari untung tanpa mau rugi.

Harusnya semua hal itu bukan hanya gue temui di 2017, sih. Tapi itu yang signifikan gue rasain di 2017. Tahun drama.

Gue kehilangan kakek di tahun 2017. Yang paling gue ingat dari beliau adalah wejangannya tentang hidup. Beliau bilang, "kejar akhirat aja. Inshaallah dunia ngikutin." Sampai sekarang belum bisa 100% gue praktekin.

Gue kehilangan beberapa teman juga di tahun 2017. Awalnya sedih, bahkan sampai ganggu pikiran. Tapi lama-lama gue sadar, nggak semua yang hilang itu pantas untuk ditangisi. Beberapa hal bahkan lebih baik menjauh dari hidup kita. Apalagi ada teman yang bilang, "makin tua itu teman makin sedikit.". Gue setuju.

Ini hal drama banget sih. Sudah segede ini, sebentar lagi punya gelar sarjana, tapi masih marah-marahan sama teman sendiri. Bukan dengan mudah berdamai, malah sampai sekarang silaturahmi nggak sebaik sebelumnya.

Nggak dewasa.

Yang paling gue banggakan dari 2017 adalah gue bisa naik pesawat ke luar negeri! Hahaha. Norak. Tapi gue bangga. Meskipun nggak sepenuhnya pakai duit gue sendiri. Gue senang ketika bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah di Indonesia dan Thailand. Mereka datang dengan cerita masing-masing yang pada akhirnya membuat gue lebih dewasa.

Gue berterimakasih, 2017 berhasil membawa gue ke beberapa tempat untuk traveling. Itu memberikan gue semangat untuk makin banyak traveling. Dengan itu juga, gue bikin travel blog yang (recananya) bakal rutin gue tulis soal jalan-jalan.

Hmmm... Apalagi ya?

2017 is too hard to be told.
Dan untuk 2018, semoga gue bisa jatuh cinta ke lo ya, lebih dalam daripada tahun 2017.

Semoga semua hal makin baik untuk kita semua. Semoga semua jiwa makin mendewasa dan beruntung. Jangan lupa juga bahagia. Happy new year!

So,
Tahun 2017-mu gimana?

17 Desember 2017

12

Rindu Diri yang Dulu

Setuju atau tidak, hujan sering membuyarkan lamunan, menerbangkan percakapan, dan kadang menghadirkan kenangan. Setidaknya, itu yang gue rasakan kemarin, saat hujan deras di kantin kampus.

Pemancingnya adalah Anissa Dewi atau biasa gue panggil Depe, teman kampus yang sering memancing percakapan berat.

Obrolan tentang agama dari berapa jumlah sebenarnya isteri Nabi hingga "skripsimu sampai mana?", menghiasi sela-sela suara hujan jatuh di atas atap seng kantin siang itu. Yang paling kurang ajar adalah ketika muncul ucapan, "jujur ya, kamu itu berubah lho, Rih."

Pinterest
Romantis. Seketika itu gue merasa sebagai Ardina Rasti di FTV Pacarku Tukang Parkir Fotokopian.

Depe bilang gitu bukan tanpa alasan. Dia kenal gue dari pertama kali ospek. Dari awal, dia kenal gue sebagai orang yang independen. Maksudnya, gue adalah orang yang bisa kemana-mana sendiri, bisa berteman dengan siapa pun tanpa mengelompok, dan tidak membatasi diri menghabiskan waktu bersama siapa pun. Dan menurut dia, gue udah nggak kayak gitu lagi sekarang.

Gue juga merasakan hal itu. Gue sudah berubah, menjadi Power Ranger Pink.

Ehe.
Nggak lucu.
Maap.

Menurut gue ini wajar. Setiap orang berubah. Yang mengubahnya adalah lingkungan dan pengalaman.

Pinterest
Setiap detik kita dibentuk, tanpa kita sadari. Ke arah mana kita dibentuk, kita nggak sadar. Kita terus berjalan dengan arah yang diarahan keadaan. Kita baru sadar saat kita berhenti dan menoleh ke belakang. Menoleh ke arah 'kita yang dulu.'

Dan sekarang, gue sedang berhenti untuk menoleh ke belakang. Ada gue yang dulu, berdiri disana, jauh di belakang dengan arah yang tidak lagi sama. Melambaikan tangan dan berkata, "Apa kabar? Masih ingat saya?".

Kemudian dengan samar gue melihat teman-teman lama yang lain juga disana. Mereka mengajak bermain perosotan di TK kampung sebelah, mencari keong di sawah, menonton DVD bajakan bersama, merayakan ulang tahun bersama. Tapi sayang, gue sudah tidak dapat melihat dengan jelas, siapa teman-teman lama itu, karena terlalu jauh.

Hahaha. Lucu. Sudah sejauh ini gue berubah.

Gue ngerti, hidup ini nggak mengizinkan untuk gue putar balik dan menemui gue yang dulu itu. Gue harus tetap jalan ke depan dengan keadaan-keadaan yang sekarang. Ya, setidaknya, ini adalah pengalaman gue yang bisa mengubah arah hidup dan bagaimana gue dibentuk.

Bangsat, jadi ngelantur. Rindu memang sering kurang ajar, sih. Termasuk rindu diri yang dulu.

"Iya Dep. Gue juga tau. Sekarang gue lagi nyoba buat belajar dari pengalaman dan berusaha seperti gue yang dulu itu." Gue jawab sekenanya kalimat Depe. Meskipun gue tau itu nggak bisa.

2 Oktober 2016

12

Patah Hati, Sesimpel Naik Motor Beda Arah

Gue nggak mau bahas ini sebenernya. Tapi, nggak sengaja dan entah kenapa gue baca tulisan kampretnya Kresnoadi dan Robby yang sama-sama bahas patah hati. Padahal gue jarang blog walking dan sekalinya blogwalking malah baca tulisan begituan. Rasanya tuh kayak Tuhan Yang Maha Esa mentitahkan gue buat bahas ini, dan menggalaui ini lagi.

Okelah. Atas perintahMu ya Tuhan, hamba bahas ini.

Patah hati.

Bener kata Kresnoadi, kenapa namanya patah hati? Kenapa bukan hati menjret? Itu kan hati, organ lembek-lembek letoy, bukan kayu atau penggaris plastik yang bisa patah.

Apa pun namanya, patah hati adalah hal sulit yang semua orang pasti pernah mengalami, termasuk gue.

Patah hati nggak nunggu dewasa buat ngedatengin kita. Patah hati bahkan menyerang anak kecil juga. Sesimpel patah hati ketika di pasar malem, seorang anak pengen banget beli es krim tapi sang mama nggak beliin. Sesimpel ketika ada abang cilok lewat depan rumah, kita udah teriak "bang beli bang!!" dari dalem rumah, lari keluar rumah ngejar si abang cilok, tapi ketika sampe di luar, si abang ciloknya nggak denger dan udah jauh. Sesimpel itu gengs.

Bahkan di tulisannya, Kresnoadi patah hati cuma gara-gara gambar baliho model Erha ganti orang. Kan...konyol.

Termasuk patah hati mengenai hubungan kasih sayang antara kita, dengan si dia. Itu jelas, sakit.

Patah hati nggak mungkin terjadi di suatu hubungan kalo kedua pemilik hubungan itu tau, cara naik motor boncengan yang baik dan benar itu kayak apa.

Hahaha.


Waktu itu, beberapa minggu setelah patah hati, gue berdiri meneduh di depan toko pinggir jalan karena hujan. Banyak pasangan berseliweran di depan gue. Ada yang tetap melaju dengan atau pun tanpa jas hujan atau pun menuntun motor mereka bersama atau pun meneduh bersama atau pun si cewek lebih milih naik taksi ketimbang kehujanan bareng cowoknya. Semua itu lewat gitu aja di depan gue dan sesaat gue sadar sesuatu. Hubungan cinta mereka juga sama seperti kondisi mereka saat berboncengan di motor.

Sama kayak naik motor boncengan. Pasti ada supir dan ada penumpangnya. Cewek cowok, sama-sama boleh nyetir kan? Kalo salah satu capek, bisa kok gantian. Nggak harus bikin capek satu pihak aja buat ngebawa hubungan itu. Kalo si cowok capek, yang cewek bisa nyetirin, bisa ngarahin mau kemana hubungan mereka.

Naik motor, nggak selamanya mulus. Motor nggak bisa lewat jalan tol, cuy. Pasti ada waktunya stuck, berhenti di lampu merah, kemudian jalan lagi pelan-pelan.

Atau, tiba-tiba ada pedagang atau orang nyerang sembarangan di depan kita. Kita harus berehenti sebentar, biarin orangnya lewat, dan lanjutin hubungan lagi.

Jalanan juga nggak semuanya mulus semulus paha artis Korea. Pasti ada bolongnya, ada polisi tidurnya lah minimal. Sama kayak hubungan. Nggak semuanya mulus. Kalo ada lubang, hindarin lubangnya atau lewatin pelan-pelan. Si supir harus lincah dan si pembonceng harus pegangan yang erat. Biar nggak jatoh dan hubungan tetep bisa berjalan lagi, berdua.

Naik motor lewat jalan yang banyak lubangnya emang nggak enak. Sama persis kayak hubungan.

Hujan ibarat salah satu cobaan dalam hubungan. Lo bisa neduh, pake jas hujan, atau tetep melaju dengan basah kuyup. Kalo lo sabar, lo bisa neduh bareng pacar lo dulu, baru lanjutin hubungan.

Di jalan, mungkin kita disalip pasangan lain buat mencapai tujuan, nikah misalnya. Nggak masalah. Pelan yang penting pasti.

Di jalan, mungkin bakal tragedi ban bocor atau bensin habis. Disini bakal ketahuan, siapa yang sabar dan siapa yang enggak sabar. Kalo pasangan lo sabar, dia pasti dengan setia mau nungguin lo atau bahkan bantuin cari solusi dari masalah itu. Kalo dia nggak setia, dia bakal pergi ninggalin lo yang lagi benerin ban bocor.

Di jalan, mungkin pasangan kita tertarik ngebonceng motor lain yang lebih nyaman dari kita. Nggak papa. Berhenti. Biarin dia pindah motor sama orang lain. Kita cukup tau gimana setiaannya dia sama kita.

Dan yang paling penting dari naik motor boncengan adalah tujuannya. Kalo tujuannya nggak searah, nggak usah boncengan. Buang-buang waktu. Buang-buang bensin. Buang-buang duit. Kalo si supir maunya ke Semarang, penumpang maunya ke Medan, ya silakan cari tumpangan motor yang lain, yang searah. Sama kayak hubungan. Kalo lo pengennya ke pelaminan dan dia pengennya cuma main-main, ngapain masih ngejalanin hubungan? Nggak searah, nggak bakal bisa sampe ke tujuan. Bisa sih sampe tujuan. Lo nemenin dia ke Medan dulu, baru puter balik arah Semarang. Lo nemenin dia main-main dulu dengan resiko duit dan waktu habis, baru deh lo menuju pelaminan yang jadi tujuan utama lo.

Waktu itu gue berboncengan dengan orang yang salah. Gue mau ke Bali, dia maunya ke Malang. Kita udah jalan bareng dari arah Semarang ke barat tanpa masalah. Dan ketika sampe di persimpangan, baru kita sadari kalo tujuan kita nggak sama. Kita sama-sama nggak mau buang waktu dan pada akhirnya saling meninggalkan.

Patah hati sesimpel itu.

Random banget. Hahaha. Jangan nyesel, ya, bacanya.

----------

Btw, postingan ini udah bersarang di draf lebih dari 2 minggu yang lalu. Baru kelar dan tulisannya berantakan gini.

1 Juli 2016

4

Ngomongin Banyak Temen

Ramadan itu banyak-banyakin nyari pahala, bukan banyak-banyakin bikin draf blog, Rih.

*openingnya aja garing*

Fail.

Hallo? Gimana puasa hari ke 25-nya? Masih aman?

Draf di blog gue udah banyak (lagi). Tapi masih lebih banyak draf di kepala gue, sih. Sama seperti kemarin-kemarin, banyak yang minta ditulis, tapi jari-jemari dan waktu belum jodoh buat nulis. Alasan klasik.

Nggak kerasa ini adalah penghujung bulan Juni, 26 menit sebelum bulan Juni habis, dan parahnya gue belum ngeposting satu pun tulisan di blog ini. Parah.

Banyak sebenernya yang pengen gue tulis. Saking banyaknya gue nggak yakin, bisa gue realisasikan semua atau enggak. But...here we go. Gue pengen ngebahas soal ini, soal yang akhir-akhir ini ganggu pikiran gue banget. Temen.


Ada yang bilang banyak temen banyak rezaki. Ada juga yang bilang, musuh satu terlalu banyak sedangkan teman seribu aja masih kurang. Dan many more omongan-omongan tentang "intinya kita harus punya temen banyak."

Tapi menurut gue, punya temen banyak juga ada ruginya, ada nggak enaknya.

Punya temen banyak kadang bikin kita susah buat adil. Misalnya, temen SMA ngajak buka puasa bersama (bukber) tanggal 20, temen SMP juga sama ngajak bukber di tanggal 20. Ketika gue milih bukber bareng temen SMP, temen SMA bakal bilang "ohh jadi gitu, lebih milih temen SMP daripada temen SMA. Pilih-pilih nih sekarang.". Walaupun mungkin nada mereka itu bercanda, tapi masuk juga gitu ke otak gue. Iya juga ya, gue kenapa lebih milih ke temen SMP.

Kadang temen banyak juga berkoloni-koloni, sesuai jenis mereka masing-masing, kayak gue misalnya. Temen gue dari yang perokok (keep calm, I'm not a smoker) sampe anak pesantren ada. Ketika dalam waktu bersamaan mereka ngajak main, nggak mungkin dong gue ajak temen pesantren gue nongkrong bareng temen-temen gue yang ngerokok? Mungkin bisa, tapi temen gue? Nggak bakal nyaman, kayak make pembalut yang nggak cocok.

Gue pernah nongkrong bareng temen-temen gue yang doyan di kafe sampe pagi. Setelah itu gue ketemuan sama temen yang anak organisasi banget, S3 organisasi-lah. Dan setelah itu, temen gue yang hobi ngafe bilang, "temen lu alim banget, Rih?".

Hahaha.

Pernah gue cerita ke Ratna, salah satu temen gue di kampus. Dia ini anak organisasi, mahasiswa berprestasi. Waktu itu gue ngobrol berdua sama dia tentang banyak hal di dalam hidup. Dari agama sampe narkoba. Ngobrol macem-macem sampe selesai dia nanya, "lo dapet info begituan dari mana?" "Dari temen gue yang tatoan itu." Dia nggak habis pikir. Orang tatoan (bayangin anak-anak jalanan) bisa punya pemikiran yang wah.

Yang paling susah ketika kita punya temen banyak adalah saat bercanda. Hahaha ini adalah problem gue sekarang.

Bercanda sama si Arab beda caranya sama bercanda bareng si China.
Bercanda sama si ambisius nilai kuliah beda caranya sama bercanda bareng si tukang bolos kuliah.
Bercanda sama di Kpopers beda caranta sama bercanda bareng si pecinta film Thailand.
Dan lain sebagainya.

Hahaha.

Saat ini gue lagi kuliah. Otomatis punya temen di dunia perkuliahan. Gue bercanda sama mereka, beda banget sama gue bercanda bareng temen SMA. Ini bukan keseluruhan, tapi sebagian.

Gue bercanda sama temen SMA, ngomong anjing, fuck, bangsat, nggak masalah. Nggak ada yang tersakiti. Bahkan kita ketawa bareng ketika gue dikatain atau ngatain "brengsek". Tapi beda rasanya ketika gue bercanda yang sedikit 'kasar' itu ke temen kuliah. Gue malah dibilang udah melakukan "kejahatan verbal", gue kebanyakan bercanda dibilang kelainan.

Omaigat.
Suasana seketika berubah pilu. Mencekam.

Ada lagi kemaren. Gue ditag foto di instagram sama temen gue ini, namanya Queen, dan dia ngehina gue disana, kami pun hina-hinaan (ada kata yang lebih baik?). Iseng, gue personal chat. Dia malah minta maaf dan ngehapus komentarnya di instagram. What the... Kan niat gue bercandaaaaaa gitu. Kayak gini kan malah akward. Gue bingung harus ngapain.

Nama senagaja nggak disensor biar orangnya tau

Di luar itu, banyak lagi gaya bercanda antar temen yang harus gue sesuain ketika bareng mereka. Yah, mungkin dimana tanah dipijak, disana langit dijunjung pas buat keadaan sekarang. Gue harus nyesuaiin, bareng siapa, bercandanya kayak apa. Oh well, mungkin ini juga alarm buat gue biar rata main sama temen-temennya. Jangan itu-itu mulu. Ketika main sama itu-itu mulu, pas main sama ini-itu, jadi susah membiasakannya.

Apa sih?

Ya, semoga pointnya bisa sampai di kalian yang (kalo ada) baca.

Tapi, gue amat sangat bersyukur masih punya banyak temen. Gue nggak bisa ngebayangin sesepi apa hidup gue ini yang nggak-asik-suram-jomblo-nggak-percaya-cinta tanpa mereka. You guys are my stars. I don't see everytime, but I know you're always there.

---

Awal Mei lalu gue berulang tahun dan terimakasih buat temen-temen gue yang ngucapin. Gue sengaja nggak berisik soal ulang tahun ke mereka karena gue pengen tau, siapa sih yang beneran care dan inget tanggal lahir gue. Hahaha, alay ya. Tapi kemaren emang gue lagi krisis kepercayaan sama temen-temen di sekitar jadi gue melakukan hal tersebut.

Banyak masalah yang bikin gue selalu negative thinking dan underestimate sama orang sekarang. Padahal, dulu Farih nggak gini.

Gue berharap bisa cerita tentang 'masalah-masalah' itu segara lewat tulisan di blog ini.

Btw, kalo bisa digambarin pake musik, perasaan gue lagi kayak gini sekarang:


Terakhir: maaf postingan kali ini tanpa gue edit. Ya mungkin besok atau lusa gue edit tapi tanpa edit malem ini gue posting. Semoga mata kalian, yang baca, sehat selalu!

30 Agustus 2015

0

Ini Hati

Perkara hati, semua manusia punya hati. Tanpa hati, manusia tidak akan punya cinta. Sejak dia pertama kali menangis saat lahir, dia dilahirkan oleh cinta dari sang ibu. Tanpa cinta, ibu tidak akan mampu mengandung calon manusia yang lain selama lebih dari 270 hari. Membawa-bawanya ke pasar, ke toilet, tanpa semenit pun ia tinggal. (ya kali perut bisa ditaro dulu di meja).

Jika memang manusia punya hati, seharusnya semua manusia bisa memperlakukan hati dengan benar. Hatinya sendiri maupun hati orang lain.

Ini hati bukan Dufan, bukan tempat buat main-main.

Ini hati bukan Gojek, yang kamu hubungin cuma pas butuh aja.

Ini hati bukan twitter, yang bisa kamu unfollow kapan aja.

Ini hati bukan karpet, yang bisa kamu gulung gitu aja.

Ini hati bukan rumput lapangan futsal, yang bisa seenaknya kamu injek-injek.

Ini hati bukan sate, yang seenaknya bisa kamu tusuk-tusuk.

Ini hati bukan martabak, yang seenaknya bisa kamu bolak-balik.

Ini hati bukan samsak tinju, yang bisa kamu tonjokin gitu aja.

Ini hati bukan piring plastik, yang gak bisa pecah meskipun kebanting.

Ini hati bukan bubur ayam, yang bisa kamu aduk-aduk.

Ini hati bukan TV, yang bisa kamu matiin sesuka hati.

Ini hati bukan kamar kos, yang kalau kamu bosen bisa kamu tinggalin dan pindah gitu aja.

Ini hati bukan struk indomaret, yang dengan gampang kamu buang.

Hatiku hampir sama seperti gelas kaca. Kamu jatuhkan, kemudian pecah. Kamu ucap maaf, tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Ya beda sih, kalau kamu pakainya gelas plastik murahan...

Silakan masuk atau kamu boleh keluar. Tapi tolong jangan berdiri di tengah-tengah hatiku, karena kamu akan menghalangi orang lain untuk masuk. nah. jleb. nusuk.

Punya hati kan? Bisa dong, memperlakukan hati orang lain seperti memperlakukan hati sendiri. cheers!!


Teman