Tampilkan postingan dengan label Ocehan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ocehan. Tampilkan semua postingan

13 Mei 2018

16

Tipe-tipe Pengguna Instagram Berdasarkan Akun Yang Difollow Dan Konten Yang Ditonton

Instagram adalah media sosial yang paling sering gue gunakan akhir-akhir ini dan paling populer. Menurut gue, wajar kalau instagram jadi sosial media paling populer ngalahin snapchat, facebook, twitter, bahkan primbon.com. Instagram fiturnya lebih lengkap dan tampilannya simpel. Jadi enak makenya.

sumber: https://socialpromo.pl/uslugi/

Hampir setiap hari main instagram, bikin gue bisa membaca dan mengelompokkan tipe-tipe pengguna instagram berdasarkan akun yang mereka follow dan konten apa yang sering mereka tonton.

Gue coba jelasin ke kalian wahai netijen yang budiman tentang tipe-tipe pengguna instagram berdasarkan akun yang mereka follow dan postingan yang mereka tonton. Perhatikan baik-baik.

Remaja Siap Berkeluarga

Pengguna instagram tipe ini didominasi kaum hawa, meskipun ada beberapa kaum adam yang nyelip di dalamnya. Mereka umumnya adalah remaja-remaja usia nyerah skripsi maunya nikah aja tapi pasangan belum punya.

Tipe ini gampang banget ditemui di akun-akun instagram milik artis yang sudah berkeluarga, apalagi jika si artis sudah memiliki anak. Yap, tipe pengguna instagram jenis ini suka ngeliatin postingan-postingan romantis pasangan artis dan kelucuan anak si artis kemudian menyukai postingan sang artis atau meninggalkan komentar gemas seperti di bawah ini :

Siap berkeluarga, meskipun dengan suami orang.

Gemes sih...

Nggak kuat ya?

Pemuja Makanan

Tipe pengguna instagram jenis ini kasihan, menurut gue. Mereka adalah kaum-kaum yang berencana diet namun gagal karena selalu nggak kuat nontonin video makanan tapi endingnya juga nggak bisa makan.

Berdasarkan kejadian lapangan yang banyak gue temui, tipe pengguna instagram jenis ini biasanya berselancar di instagram malam hari, di jam-jam krusial yang harusnya mereka nggak boleh makan jadinya laper gara-gara video makanan yang kelihatannya enak. Biasanya mereka nggak ngefollow akun makanan tersebut dan menanamkan motto, "jangan follow nanti pengen, jangan follow nanti pengen." Tapi ujung-ujungnya nge-search akun makanan dan ditontonin juga gambar makanannya.

Fotografer Pemula

Pengguna instagram tipe ini biasanya didominasi oleh adek-adek yang lagi kenal kamera dan getol banget pengen tau hal-hal tentang fotografi. Mereka biasanya ngefollow selebgram yang fotonya keren dan follow fotografer-fotografer di instagram yang feednya menarik.

Tipe ini menurut gue paling adem ya. Nggak ganggu pengguna instagram lain dan kegiatannya positif. Mereka cuma menikmati foto fotografer panutan, kemudian mempelajari hasil foto si panutan, dan mengaplikasikannya ke foto-foto mereka. Biasanya sih gitu.

Lagi Hijrah

Ini adalah tipe pengguna instagram yang ngagetin buat gue. Pengguna instagram jenis ini biasanya mengganti nama akun mereka menjadi yang lebih agamis dan menghapus foto-foto aib di instagram. Beberapa kali gue dibuat heran dengan akun-akun yang namanya asing buat gue, "ini siapa yak? Perasaan gue nggak pernah follow akun ini." Setelah scroll down, oalah akunnya si ini toh.

Tipe ini biasanya memfollow akun-akun dakwah, tokoh agama, dan quote-quote motivasi hidup yang agamis. Nggak jarang mereka juga suka merepost postingan-postingan tentang agama di instagramnya yang dicopy dari akun-akun panutan.

Big Fan

Tipe jenis ini adalah para pengguna instagram yang menggilai idolanya. Mereka follow, ngelike postingan, dan nontonin sang idola live di instagram. Apa pun yang sang idola upload, pasti dilike sama pengguna instagram jenis ini.

Mereka adalah jamaah dengan shaf paling depan jika sang idola update, merekalah orang pertama yang tau. Bagi mereka, salah satu bukti cinta kepada idola adalah dengan memfollow semua akun sosial media milik sang idola. Contohnya mereka ini, para penggemar Dina Ike Lestari :

big fan of @dinaikelestari.

Pengguna instagram jenis ini adalah yang paling disukai oleh pemilik konter pulsa. Mereka dengan mudah, rido, dan ikhlas menghabiskan kuota hanya untuk sang idola.

Pemuja Lambe-lambean

Pengguna instagram jenis ini adalah bibit-bibit netijen yang maha benar dengan segala komentarnya karena mereka merasa merekalah yang paling tau mengenai suatu berita karena follow akun-akun gosip. Mereka memfollow akun-akun nyinyir, gosip, berita tentang artis-artis, dan tak jarang pula ikut nimbrung di dalam lautan komentar nyinyir pengguna instgram yang lain.

Berita perselingkuhan artis, artis pacaran diam-diam, atau apalah itu, mereka akan mengetahui terlebih dahulu ketimbang teman-temannya yang lain yang nggak follow akun-akun lambe.

Mereka ini adalah kaum-kaum haus akan berita.

Tipe ini biasanya berdalih "biar update", makanya mereka follow akun lambe-lambean.

Dalam dunia nyata, tipe pengguna instagram jenis ini sangat mudah dikenali. Ketika ada satu perkumpulan, misalnya sedang ngomongin perceraian Sule, pengguna instagram jenis ini akan segera muncul dengan kalimat saktinya :

"Ah lo telat. Gue udah liat berita itu di apdetan lambe turah kemarin."

Gitu.

Oke. Itu tipe-tipe pengguna instagram versi gue. Lo masuk tipe pengguna instagram yang apa?

7 Januari 2018

4

Talking About 2017


Setiap hal yang datang dan pergi pasti meninggalkan bekas. Termasuk tahun. Ya, tahun 2017 sudah pergi hampir seminggu. Tapi bekasnya masih tersisa disini, sampai sekarang.


Agak berat sebenarnya melepas tahun 2017 dan berlanjut ke tahun berikutnya. 2017 terlalu cantik buat gue. Tapi bukannya manusia memang dituntut untuk melajar berkenalan dan melupakan?

Hahaha, belum apa-apa sudah ngaco.

Tahun 2017 mengajarkan gue banyak hal. Mengajarkan gue buat mengerti hidup yang lebih baik, mengajarkan untuk berdamai dengan diri sendiri ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi, dan mengajarkan untuk memilih orang-orang yang tepat sebagai teman, bukan orang-orang yang hanya mencari untung tanpa mau rugi.

Harusnya semua hal itu bukan hanya gue temui di 2017, sih. Tapi itu yang signifikan gue rasain di 2017. Tahun drama.

Gue kehilangan kakek di tahun 2017. Yang paling gue ingat dari beliau adalah wejangannya tentang hidup. Beliau bilang, "kejar akhirat aja. Inshaallah dunia ngikutin." Sampai sekarang belum bisa 100% gue praktekin.

Gue kehilangan beberapa teman juga di tahun 2017. Awalnya sedih, bahkan sampai ganggu pikiran. Tapi lama-lama gue sadar, nggak semua yang hilang itu pantas untuk ditangisi. Beberapa hal bahkan lebih baik menjauh dari hidup kita. Apalagi ada teman yang bilang, "makin tua itu teman makin sedikit.". Gue setuju.

Ini hal drama banget sih. Sudah segede ini, sebentar lagi punya gelar sarjana, tapi masih marah-marahan sama teman sendiri. Bukan dengan mudah berdamai, malah sampai sekarang silaturahmi nggak sebaik sebelumnya.

Nggak dewasa.

Yang paling gue banggakan dari 2017 adalah gue bisa naik pesawat ke luar negeri! Hahaha. Norak. Tapi gue bangga. Meskipun nggak sepenuhnya pakai duit gue sendiri. Gue senang ketika bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah di Indonesia dan Thailand. Mereka datang dengan cerita masing-masing yang pada akhirnya membuat gue lebih dewasa.

Gue berterimakasih, 2017 berhasil membawa gue ke beberapa tempat untuk traveling. Itu memberikan gue semangat untuk makin banyak traveling. Dengan itu juga, gue bikin travel blog yang (recananya) bakal rutin gue tulis soal jalan-jalan.

Hmmm... Apalagi ya?

2017 is too hard to be told.
Dan untuk 2018, semoga gue bisa jatuh cinta ke lo ya, lebih dalam daripada tahun 2017.

Semoga semua hal makin baik untuk kita semua. Semoga semua jiwa makin mendewasa dan beruntung. Jangan lupa juga bahagia. Happy new year!

So,
Tahun 2017-mu gimana?

8 Januari 2017

26

Cewek Tomboy Nggak Boleh Nangis di Bioskop

Pas rambut gue cepak.
"Laki amat lu Rih! Panjangin dikit kek biar kayak cewek."
Pas rambut gue panjang.
"Gondrong amat rambut lu Rih! Kayak abang-abang ojek aja."

Akhirnya gue botak.

Enggak, sih. Enggak botak juga. TAPI KESEL! Salah mulu gue jadi cewek di mata temen-temen.

Lo tau nggak, jadi cewek tomboy itu susah, banyak aturannya. Gue nggak tau siapa yang bikin aturan tersebut, tapi aturan itu ada dan banyak yang meng-iman-i serta mengamalkan aturan tersebut.

Contohnya: cewek tomboy nggak boleh nangis di bioskop.


Jadi waktu itu gue nonton film The Fault in Our Stars saat bulan puasa bareng dua temen gue, Muti dan Tacik. Katanya, sekalian ngabuburit. Gue nggak tau kenapa waktu itu kami bertiga lebih milih nonton film daripada ngaji di masjid.

Kita bertiga nggak ada yang tau film The Fault in Our Stars isinya gimana. Asal nonton doang. Yang kita tau hanyalah: The Fault in Our Stars adalah film luar negeri dan bergenre romance, bukan kuliner. Pas scene adegan ena-ena si Hazel sama Augustus di ranjang, kita bertiga kaget. Kok ada adegan begini??? Reflek, kita saling tatap kemudian jatuh cinta.

Pale lu jatuh cinta!

Kita bertiga bingung. Puasa kami batal apa enggak ya? Nonton adegan ena-ena gini di sore Ramadhan?

Di tengah bingung puasa kami batal atau enggak, kita tetep nonton. Ya kali keluar bioskop terus bilang ke mbak-mbaknya yang jaga, "kita nggak bisa lanjut nonton film porno ini mbak. Nggak bisa!"

Banyak adegan yang menyayat hati di film itu. Gue nggak tau, tapi buat gue adegan Hazel, Augustus, dan Isaac ngelemparin telur ke rumah orang itu nyentuh banget. Adegan itu kayak bilang, "ini lho bahagia kita sesederhana ini.". Gue senyum getir pas nonton bagian itu. HAHA. Padahal bukan adegan sedih tapi gue sedih.

Ya elah Rih.

Gue nangis ketika Augustus harus meninggal. Gue nggak bisa lagi nahan air mata, akhirnya netes juga.

"Rih, lu nangis?" Tacik tiba-tiba nanya.
"Ah, enggak." Gue berusaha nutupin.
"Lu nangis tau! Ih cemen banget sih cewek tomboy masa nangis gara-gara nonton film. Cih!"
"Nggak kok. Gue sedih aja magribnya masih lama."

Makin batal dah gue puasa. Nonton adegan ranjang + bohong.

Terus waktu itu, gue, Sofi, Jay, Resty, Baren, dan Zafar pergi ke bioskop buat nonton Ada Apa Dengan Cinta 2. Perjalanan dari daerah kampus ke bioskop lumayan jauh. 30 menit menggunakan motor. Gue boncengan sama Jay. Kita berdua ditugaskan untuk beli tiket dulu karena yang lain bisanya nyusul. Oke, amanah diterima.

Gue dan Jay ngantri beli tiket. Antriannya panjang bener sampe ke depan bioskop.

Gue: Jay lu bawa duit berapa?
Jay: 60 ribu doang Rih. Lu berapa?
Gue: Sama. Ini gimana caranya 120 ribu buat beli tiket bioskop 6 orang?

Akhirnya kita ngehubungin Sofi, ngomong kalo duit kita kurang. Kata Sofi: lu ngantri aja dulu, gue udah mau sampe ntar pake duit gue beli tiketnya.

Oke. Kita berdua tetep istiqomah ngantri.


Sampe gue dan Jay ada di urutan antrian nomer 2 dari depan, Sofi belum sampe bioskop juga. Mampus. Agar tidak malu mau-beli-6-tiket-bioskop-bawa-duit-120-ribu doang, akhirnya kita berdua melipir keluar dari antrean dan beli tiket beneran ketika yang lain udah dateng.

Akhirnya nonton AADC2 di barisan paling depan. Iya karena tinggal itu doang yang ada. Iya, depan layar persis. Sampe lubang hidungnya Rangga nyolok banget di mata saking deketnya.

Gue nangis deres ketika Cinta pada akhirnya memilih meninggalkan pacarnya, untuk cinta lamanya yang kembali muncul, Rangga. Itu tuh kayak nggak adil banget nggak sih buat si pacar baru? Mungkin di hati sang pacar, "hellooo selama ini lo kemana aja? Gue yang jaga Cinta dan lo dateng ngambil Cinta gitu aja!"

Saat lagi berbaper ria, Resty, yang duduk di sebelah gue nyeletuk, "lo nangis Rih? Ini nggak sedih banget gilak filmnya. Cengeng banget sih lu katanya tomboy?"

"Enggak Res. Sedih aja ini mata gue kecolok lobang idungnya Rangga."

Kalian pikir cewek tomboy nggak punya kelenjar air mata apa gimana?

Gue pernah mendengar kalimat ini, entah dari siapa: 'cewek tomboy itu hatinya lebih lembut daripada cewek yang menye-menye alias feminin'. Dan yap, itu bener, menurut gue.

Gue bisa nangis cuma gara-gara denger lagu Indonesia Raya saat Indonesia vs Thailand. Gue bisa nangis cuma gara-gara liat nenek-nenek jam 6 pagi lewat depan kosan keberatan gendung rumput sekarung penuh. Gue bisa nangis cuma gara-gara ada penjual mainan anak di pinggir jalan yang nggak mau disuruh ambil kembaliannya.

Tapi semua itu seringnya gue tahan pake cengengesan.

Yang paling susah adalah ketika nonton film bareng gebetan yang dia naksir gara-gara gue adalah cewek tomboy.

"Lo nangis?"
"Enggak lah anjir."
"Dih katanya tomboy, cengeng amat."
Terus dia ketawa, ngacak-acak poni yang telah tertata rapi. Uhh.

Cowok bajingan emang.

Nahan air mata di bioskop itu susah woy!

2 Oktober 2016

12

Patah Hati, Sesimpel Naik Motor Beda Arah

Gue nggak mau bahas ini sebenernya. Tapi, nggak sengaja dan entah kenapa gue baca tulisan kampretnya Kresnoadi dan Robby yang sama-sama bahas patah hati. Padahal gue jarang blog walking dan sekalinya blogwalking malah baca tulisan begituan. Rasanya tuh kayak Tuhan Yang Maha Esa mentitahkan gue buat bahas ini, dan menggalaui ini lagi.

Okelah. Atas perintahMu ya Tuhan, hamba bahas ini.

Patah hati.

Bener kata Kresnoadi, kenapa namanya patah hati? Kenapa bukan hati menjret? Itu kan hati, organ lembek-lembek letoy, bukan kayu atau penggaris plastik yang bisa patah.

Apa pun namanya, patah hati adalah hal sulit yang semua orang pasti pernah mengalami, termasuk gue.

Patah hati nggak nunggu dewasa buat ngedatengin kita. Patah hati bahkan menyerang anak kecil juga. Sesimpel patah hati ketika di pasar malem, seorang anak pengen banget beli es krim tapi sang mama nggak beliin. Sesimpel ketika ada abang cilok lewat depan rumah, kita udah teriak "bang beli bang!!" dari dalem rumah, lari keluar rumah ngejar si abang cilok, tapi ketika sampe di luar, si abang ciloknya nggak denger dan udah jauh. Sesimpel itu gengs.

Bahkan di tulisannya, Kresnoadi patah hati cuma gara-gara gambar baliho model Erha ganti orang. Kan...konyol.

Termasuk patah hati mengenai hubungan kasih sayang antara kita, dengan si dia. Itu jelas, sakit.

Patah hati nggak mungkin terjadi di suatu hubungan kalo kedua pemilik hubungan itu tau, cara naik motor boncengan yang baik dan benar itu kayak apa.

Hahaha.


Waktu itu, beberapa minggu setelah patah hati, gue berdiri meneduh di depan toko pinggir jalan karena hujan. Banyak pasangan berseliweran di depan gue. Ada yang tetap melaju dengan atau pun tanpa jas hujan atau pun menuntun motor mereka bersama atau pun meneduh bersama atau pun si cewek lebih milih naik taksi ketimbang kehujanan bareng cowoknya. Semua itu lewat gitu aja di depan gue dan sesaat gue sadar sesuatu. Hubungan cinta mereka juga sama seperti kondisi mereka saat berboncengan di motor.

Sama kayak naik motor boncengan. Pasti ada supir dan ada penumpangnya. Cewek cowok, sama-sama boleh nyetir kan? Kalo salah satu capek, bisa kok gantian. Nggak harus bikin capek satu pihak aja buat ngebawa hubungan itu. Kalo si cowok capek, yang cewek bisa nyetirin, bisa ngarahin mau kemana hubungan mereka.

Naik motor, nggak selamanya mulus. Motor nggak bisa lewat jalan tol, cuy. Pasti ada waktunya stuck, berhenti di lampu merah, kemudian jalan lagi pelan-pelan.

Atau, tiba-tiba ada pedagang atau orang nyerang sembarangan di depan kita. Kita harus berehenti sebentar, biarin orangnya lewat, dan lanjutin hubungan lagi.

Jalanan juga nggak semuanya mulus semulus paha artis Korea. Pasti ada bolongnya, ada polisi tidurnya lah minimal. Sama kayak hubungan. Nggak semuanya mulus. Kalo ada lubang, hindarin lubangnya atau lewatin pelan-pelan. Si supir harus lincah dan si pembonceng harus pegangan yang erat. Biar nggak jatoh dan hubungan tetep bisa berjalan lagi, berdua.

Naik motor lewat jalan yang banyak lubangnya emang nggak enak. Sama persis kayak hubungan.

Hujan ibarat salah satu cobaan dalam hubungan. Lo bisa neduh, pake jas hujan, atau tetep melaju dengan basah kuyup. Kalo lo sabar, lo bisa neduh bareng pacar lo dulu, baru lanjutin hubungan.

Di jalan, mungkin kita disalip pasangan lain buat mencapai tujuan, nikah misalnya. Nggak masalah. Pelan yang penting pasti.

Di jalan, mungkin bakal tragedi ban bocor atau bensin habis. Disini bakal ketahuan, siapa yang sabar dan siapa yang enggak sabar. Kalo pasangan lo sabar, dia pasti dengan setia mau nungguin lo atau bahkan bantuin cari solusi dari masalah itu. Kalo dia nggak setia, dia bakal pergi ninggalin lo yang lagi benerin ban bocor.

Di jalan, mungkin pasangan kita tertarik ngebonceng motor lain yang lebih nyaman dari kita. Nggak papa. Berhenti. Biarin dia pindah motor sama orang lain. Kita cukup tau gimana setiaannya dia sama kita.

Dan yang paling penting dari naik motor boncengan adalah tujuannya. Kalo tujuannya nggak searah, nggak usah boncengan. Buang-buang waktu. Buang-buang bensin. Buang-buang duit. Kalo si supir maunya ke Semarang, penumpang maunya ke Medan, ya silakan cari tumpangan motor yang lain, yang searah. Sama kayak hubungan. Kalo lo pengennya ke pelaminan dan dia pengennya cuma main-main, ngapain masih ngejalanin hubungan? Nggak searah, nggak bakal bisa sampe ke tujuan. Bisa sih sampe tujuan. Lo nemenin dia ke Medan dulu, baru puter balik arah Semarang. Lo nemenin dia main-main dulu dengan resiko duit dan waktu habis, baru deh lo menuju pelaminan yang jadi tujuan utama lo.

Waktu itu gue berboncengan dengan orang yang salah. Gue mau ke Bali, dia maunya ke Malang. Kita udah jalan bareng dari arah Semarang ke barat tanpa masalah. Dan ketika sampe di persimpangan, baru kita sadari kalo tujuan kita nggak sama. Kita sama-sama nggak mau buang waktu dan pada akhirnya saling meninggalkan.

Patah hati sesimpel itu.

Random banget. Hahaha. Jangan nyesel, ya, bacanya.

----------

Btw, postingan ini udah bersarang di draf lebih dari 2 minggu yang lalu. Baru kelar dan tulisannya berantakan gini.

1 Juli 2016

4

Ngomongin Banyak Temen

Ramadan itu banyak-banyakin nyari pahala, bukan banyak-banyakin bikin draf blog, Rih.

*openingnya aja garing*

Fail.

Hallo? Gimana puasa hari ke 25-nya? Masih aman?

Draf di blog gue udah banyak (lagi). Tapi masih lebih banyak draf di kepala gue, sih. Sama seperti kemarin-kemarin, banyak yang minta ditulis, tapi jari-jemari dan waktu belum jodoh buat nulis. Alasan klasik.

Nggak kerasa ini adalah penghujung bulan Juni, 26 menit sebelum bulan Juni habis, dan parahnya gue belum ngeposting satu pun tulisan di blog ini. Parah.

Banyak sebenernya yang pengen gue tulis. Saking banyaknya gue nggak yakin, bisa gue realisasikan semua atau enggak. But...here we go. Gue pengen ngebahas soal ini, soal yang akhir-akhir ini ganggu pikiran gue banget. Temen.


Ada yang bilang banyak temen banyak rezaki. Ada juga yang bilang, musuh satu terlalu banyak sedangkan teman seribu aja masih kurang. Dan many more omongan-omongan tentang "intinya kita harus punya temen banyak."

Tapi menurut gue, punya temen banyak juga ada ruginya, ada nggak enaknya.

Punya temen banyak kadang bikin kita susah buat adil. Misalnya, temen SMA ngajak buka puasa bersama (bukber) tanggal 20, temen SMP juga sama ngajak bukber di tanggal 20. Ketika gue milih bukber bareng temen SMP, temen SMA bakal bilang "ohh jadi gitu, lebih milih temen SMP daripada temen SMA. Pilih-pilih nih sekarang.". Walaupun mungkin nada mereka itu bercanda, tapi masuk juga gitu ke otak gue. Iya juga ya, gue kenapa lebih milih ke temen SMP.

Kadang temen banyak juga berkoloni-koloni, sesuai jenis mereka masing-masing, kayak gue misalnya. Temen gue dari yang perokok (keep calm, I'm not a smoker) sampe anak pesantren ada. Ketika dalam waktu bersamaan mereka ngajak main, nggak mungkin dong gue ajak temen pesantren gue nongkrong bareng temen-temen gue yang ngerokok? Mungkin bisa, tapi temen gue? Nggak bakal nyaman, kayak make pembalut yang nggak cocok.

Gue pernah nongkrong bareng temen-temen gue yang doyan di kafe sampe pagi. Setelah itu gue ketemuan sama temen yang anak organisasi banget, S3 organisasi-lah. Dan setelah itu, temen gue yang hobi ngafe bilang, "temen lu alim banget, Rih?".

Hahaha.

Pernah gue cerita ke Ratna, salah satu temen gue di kampus. Dia ini anak organisasi, mahasiswa berprestasi. Waktu itu gue ngobrol berdua sama dia tentang banyak hal di dalam hidup. Dari agama sampe narkoba. Ngobrol macem-macem sampe selesai dia nanya, "lo dapet info begituan dari mana?" "Dari temen gue yang tatoan itu." Dia nggak habis pikir. Orang tatoan (bayangin anak-anak jalanan) bisa punya pemikiran yang wah.

Yang paling susah ketika kita punya temen banyak adalah saat bercanda. Hahaha ini adalah problem gue sekarang.

Bercanda sama si Arab beda caranya sama bercanda bareng si China.
Bercanda sama si ambisius nilai kuliah beda caranya sama bercanda bareng si tukang bolos kuliah.
Bercanda sama di Kpopers beda caranta sama bercanda bareng si pecinta film Thailand.
Dan lain sebagainya.

Hahaha.

Saat ini gue lagi kuliah. Otomatis punya temen di dunia perkuliahan. Gue bercanda sama mereka, beda banget sama gue bercanda bareng temen SMA. Ini bukan keseluruhan, tapi sebagian.

Gue bercanda sama temen SMA, ngomong anjing, fuck, bangsat, nggak masalah. Nggak ada yang tersakiti. Bahkan kita ketawa bareng ketika gue dikatain atau ngatain "brengsek". Tapi beda rasanya ketika gue bercanda yang sedikit 'kasar' itu ke temen kuliah. Gue malah dibilang udah melakukan "kejahatan verbal", gue kebanyakan bercanda dibilang kelainan.

Omaigat.
Suasana seketika berubah pilu. Mencekam.

Ada lagi kemaren. Gue ditag foto di instagram sama temen gue ini, namanya Queen, dan dia ngehina gue disana, kami pun hina-hinaan (ada kata yang lebih baik?). Iseng, gue personal chat. Dia malah minta maaf dan ngehapus komentarnya di instagram. What the... Kan niat gue bercandaaaaaa gitu. Kayak gini kan malah akward. Gue bingung harus ngapain.

Nama senagaja nggak disensor biar orangnya tau

Di luar itu, banyak lagi gaya bercanda antar temen yang harus gue sesuain ketika bareng mereka. Yah, mungkin dimana tanah dipijak, disana langit dijunjung pas buat keadaan sekarang. Gue harus nyesuaiin, bareng siapa, bercandanya kayak apa. Oh well, mungkin ini juga alarm buat gue biar rata main sama temen-temennya. Jangan itu-itu mulu. Ketika main sama itu-itu mulu, pas main sama ini-itu, jadi susah membiasakannya.

Apa sih?

Ya, semoga pointnya bisa sampai di kalian yang (kalo ada) baca.

Tapi, gue amat sangat bersyukur masih punya banyak temen. Gue nggak bisa ngebayangin sesepi apa hidup gue ini yang nggak-asik-suram-jomblo-nggak-percaya-cinta tanpa mereka. You guys are my stars. I don't see everytime, but I know you're always there.

---

Awal Mei lalu gue berulang tahun dan terimakasih buat temen-temen gue yang ngucapin. Gue sengaja nggak berisik soal ulang tahun ke mereka karena gue pengen tau, siapa sih yang beneran care dan inget tanggal lahir gue. Hahaha, alay ya. Tapi kemaren emang gue lagi krisis kepercayaan sama temen-temen di sekitar jadi gue melakukan hal tersebut.

Banyak masalah yang bikin gue selalu negative thinking dan underestimate sama orang sekarang. Padahal, dulu Farih nggak gini.

Gue berharap bisa cerita tentang 'masalah-masalah' itu segara lewat tulisan di blog ini.

Btw, kalo bisa digambarin pake musik, perasaan gue lagi kayak gini sekarang:


Terakhir: maaf postingan kali ini tanpa gue edit. Ya mungkin besok atau lusa gue edit tapi tanpa edit malem ini gue posting. Semoga mata kalian, yang baca, sehat selalu!

30 Agustus 2015

0

Ini Hati

Perkara hati, semua manusia punya hati. Tanpa hati, manusia tidak akan punya cinta. Sejak dia pertama kali menangis saat lahir, dia dilahirkan oleh cinta dari sang ibu. Tanpa cinta, ibu tidak akan mampu mengandung calon manusia yang lain selama lebih dari 270 hari. Membawa-bawanya ke pasar, ke toilet, tanpa semenit pun ia tinggal. (ya kali perut bisa ditaro dulu di meja).

Jika memang manusia punya hati, seharusnya semua manusia bisa memperlakukan hati dengan benar. Hatinya sendiri maupun hati orang lain.

Ini hati bukan Dufan, bukan tempat buat main-main.

Ini hati bukan Gojek, yang kamu hubungin cuma pas butuh aja.

Ini hati bukan twitter, yang bisa kamu unfollow kapan aja.

Ini hati bukan karpet, yang bisa kamu gulung gitu aja.

Ini hati bukan rumput lapangan futsal, yang bisa seenaknya kamu injek-injek.

Ini hati bukan sate, yang seenaknya bisa kamu tusuk-tusuk.

Ini hati bukan martabak, yang seenaknya bisa kamu bolak-balik.

Ini hati bukan samsak tinju, yang bisa kamu tonjokin gitu aja.

Ini hati bukan piring plastik, yang gak bisa pecah meskipun kebanting.

Ini hati bukan bubur ayam, yang bisa kamu aduk-aduk.

Ini hati bukan TV, yang bisa kamu matiin sesuka hati.

Ini hati bukan kamar kos, yang kalau kamu bosen bisa kamu tinggalin dan pindah gitu aja.

Ini hati bukan struk indomaret, yang dengan gampang kamu buang.

Hatiku hampir sama seperti gelas kaca. Kamu jatuhkan, kemudian pecah. Kamu ucap maaf, tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Ya beda sih, kalau kamu pakainya gelas plastik murahan...

Silakan masuk atau kamu boleh keluar. Tapi tolong jangan berdiri di tengah-tengah hatiku, karena kamu akan menghalangi orang lain untuk masuk. nah. jleb. nusuk.

Punya hati kan? Bisa dong, memperlakukan hati orang lain seperti memperlakukan hati sendiri. cheers!!


21 Agustus 2015

2

Alasan Klasik tentang Ospek

Coba ngeblog lagi, semoga sampai ke tahap "publikasikan". Karena dari kemarin (kemarin = 2 tahun yang lalu) gue nulis di blog dan ujung-ujungnya cuma draf. Ada ide - nulis - draf. Ada ide - nulis - draf. Gitu mulu sampai babi bisa terbang.


Tahun baru 2015 udah lewat, lebaran juga udah lewat, Dijah Yellow udah tamat lewat, dan sekarang giliran masa OSPEK yang akan datang dan ramai dibicarakan.

Ada pihak yang mendukung adanya ospek dan ada yang tidak. Gue ada di tengah-tengah mereka. Di pesimpangan. Gelisah, galau, merana, tak sanggup bangkit, tak mampu berdiri.

Setiap universitas bentuk ospeknya gak sama. Setiap fakultas di satu universitas pun punya ospek mereka masing-masing. Bahkan ada universitas yang tiap jurusannya punya ospek sendiri-sendiri dan berbeda dari jurusan lain. Sudah bukan rahasia lagi kalau ada satu fakultas, terkenal dengan ospeknya yang "sadis". Kalian tau sendiri lah ya... Beberapa institut juga terkenal dengan ospek yang gak manusiawi.

Tapi bukan masalah institut mana dan fakultas apa yang gue bahas soal ospek kali ini. Disini gue mau cuma mau membahas alasan-alasan klasik senior ngeospek junior yang menurut gue kurang masuk akal.

Ospek untuk melatih kekuatan fisik calon mahasiswa.
Alasan ini adalah alasan yang paling ling ling ling sering diucapkan senior saat sedang mengospek mahasiswa baru. Dan parahnya, banyak juior yang setuju sama pendapat ini. Hellooowww...Dijahyellow ke Manado! Mbok ya mikir mas mbak. Emang ada orang yang sukses dapetin kekuatan fisik yang bagus dalam waktu sesingkat ospek? Apalagi gak teratur. Pagi push up, malem ngelembur tugas ospek sampai pagi lagi. Lagian, gak semua orang punya kekuatan fisik yang sama. Jadi, si A bisa push up 100x, belum tentu si B bisa push up 100x. Catet!

Ospek dapat meningkatkan rasa kekeluargaan satu angkatan.
Om, tante...emang gak bisa ya, ospeknya yang push up bareng-bareng diganti ngadain bakti sosial bareng-bareng atau piknik ke kebun binatang bareng-bareng gitu? Kan enak tuh. Bareng-bareng bantuin orang yang kurang mampu atau foto-foto di kebun binatang satu angkatan di kandang singa. Bikin saling kenal juga kan?

Ospek ngajarin junior hormat sama senior.
Bro, ditakuti sama dihormati itu beda lho bro. Kalau dihormati, prosesnya lama. Lu orang harus punya sikap atau prestasi yang baik sehingga orang respect dan hormat sama lu, jadi orang bakal hormat tanpa lu orang minta. Sedangkan ditakuti, gampang. Sehari dua hari jadi. Tinggal lu orang bersikap buruk aja ke orang lain. Ngebentak kek, ngatain, ngebully, ngancem, atau nonjok orang. Selesai.

Ospek ngelatih mental lo menghadapi dunia kerja kelak.
Psikolog mana yang udah meng-iya-kan pendapat itu? Perusahaan mana yang ngasih hukuman push up 100x atau nonjok karyawannya kalau karyawannya ngelakuin kesalahan? Di dunia kerja itu, asal kita kerja dengan baik pasti semua baik-baik aja. Mental bakal terbentuk oleh pengalaman, bukan bentakan kakak senior. Ehem.

Itu adalah empat alasan klasik senior ngeospek junior yang sering banget gue denger dan gue belum bisa terima. Menurut gue cuma ada satu alasan senior ngeospek junior yang paling masuk akal : kakak mencari dedek, dedek mencari kakak, kakak dan dedek akhirnya bertemu... cieee.

Di luar itu semua, gue amat sangat mendukung ospek yang diadakan secara baik dan benar. Contohnya kampus gue, FISIP. Kita diospek selama 1 minggu yang isinya cuma pembekalan mahasiswa baru, pengenalan tentang lingkungan kampus, game, tugas-tugas ringan, dan sesi instrospeksi diri. Senior men-share pengalaman mereka tentang kuliah di kampus tersebut. Senior mengarahkan junior tentang tugas ospek. Mereka membimbing kita. Dari situ, gue secara pribadi respek sama senior dan menghormati mereka. Gak perlu kasar atau keras biar dihormati, kan?

Gue berharap, di Indonesia mulai tahun ini gak ada lagi yang namanya ospek pakai kekerasan dan sia-sia. Stop ngasarin junior, stop ngebully junior, stop nyuruh junior ngelakuin hal-hal yang gak berguna, stop mencuci otak junior dengan mainset "ospek keras karena dunia kerja lebih keras". Mari kita ciptakan ospek yang baik dan benar, ospek yang berpendidikan, dan ospek yang peri ke-junior-an.

MERDEKA!!!

halah

*share yuk pengalaman ospek kalian di kampus maupun di sekolah dengan komen postingan ini. :)

29 Februari 2012

0

29 Februari

Siang semuaaa :)
lagi pada ngapain??? makan? bbm'an? melototin dompet? jagain jemuran? atau makan-sambil-bbm'an-sambil-melototin-dompet-di bawah-jemuran?? oke, bukan urusan gue juga lo lagi ngapain sekarang. lo mau salto di atas tumpeng juga, gue bukan urusan gue. apa pun yang lo lakuin hari ini, itu terserah.
tapi ada satu kegiatan yang gak boleh lo lakuin hari ini. yap, hari ini, tanggal 29 Febuari yang masuk dalam kategori tanggalan langka. kegiatan ini amat sangat mematikan, membahayakan, dan MEMATIKAN!

Mematikan!

Kegiatan itu adalah... NGUPIL PAKE GARPU.

Kedengarannya emang konyol & gak meyakinkan. tapi sumpah demi apa pun, nyawa lo + bentuk hidung lo bakal terancam banget kalo lo ngelakuin kegiatan itu hari ini. gue gak terlalu paham ya, ada hubungan kekerabatan apa antara hidung dan garpu. yang gue tau (hasil pencarian google lokal), ngupil pake garpu hari ini sama dengan ngumpet di dalem sumur 200 meter. mati gelagepan dan perlahan...
intinya, jangan ngupil pake garpu hari ini. plis jangan! gue gak mau kalian yang pernah baca blog gue ini dapet petaka gara-gara ngupil pake garpu. plisss...

ngomongin tanggal unik, menurut gue hari ini termasuk dalam kategori tanggal unik itu. gak unik gimana? tanggal lain tiap tahun mesti ada. cuma tanggal ini doang yang sok sibuk. datengnya empat tahun sekali. tapi gue gak se-alay orang-orang di luar sana kok. yang tiap tanggal unik pasti diperingatin. kayak misalnya kemaren. tanggal 11 bulan 11 tahun 2011. temen gue yang udah lama PDKT sama cewek, dibela-belain NUNGGU SAMPE TANGGAL UNIK ITU BARU NEMBAK SANG GEBETAN. itu maksudnya apa??? nyiksa diri sendiri gitu??? penting???
yang lebih absurdnya lagi, gue seringgg banget denger berita "ibu tersebut memang berniat melahirkan anak pertamanya di tanggal cantik ini." gila stadium SMA Taruna Nusantara bos! ngelahirin aja nunggu pas tanggal unik? gimana kalo sang jabang bayi udah ditakdirin lahir dua hari sebelum tanggal unik itu dateng? ditahan? disumpel pake kapas, biar gak ngebrojol sebelum tanggal unik itu dateng? ebuset..., dikira nahan bayi lahir kayak nahan boker kali ya? nahan boker aja kadang sakitnya minta duit, apalagi NAHAN BAYI LAHIR! itu maksudnya apa??? nyiksa diri sendiri gitu??? penting???
nyatain cinta kudu pas tanggal unik. ngelahirin seorang anak manusia kudu pas tanggal unik. kawin kudu pas tanggal unik. bangun rumah kudu pas tanggal unik. nabrak orang kudu pas tanggal unik.
mikirin itu gue jadi parno sendiri. gimana kalo ada temen kelas gue yang ngomong "gue pengen mati pas tanggal 12 bulan 12 tahun 2012. keren banget kayaknya. bisa dipamerin. mati di tanggal unik..." gue kudu ngapain? *makan balon*

menurut gue, semua tanggal itu bagus. semua tanggal itu baik. gak ada judul tanggal unik. tergantung kita ngejalanin harinya aja. sama aja, kalo pas tanggal 12 bulan 12 tahun 2012 yang katanya unik (bagus) kita ngejalanin harinya cuma buat tidur, smsan, bbm'an, pantengin TimeLine twitter yang gak penting-penting banget. makna 'tanggal unik'nya dimana...?
bedain dengan tanggal 7 bulan 6 tahun 2012 yang secara diliat pake mata itu tanggal gak ada unik-uniknya. di hari yang gak unik itu kita berangkat sekolah dengan cium tangan orang tua, tebar senyum ke semua orang dengan senyum yang tanpa dibuat-buat, trus ulangan dapet nilai sempurna. pasti bakal ada makna tanggal bagus dan unik dibalik tanggal biasa itu.

gue gak tau kenapa hari ini gue pengen banget ngeblog. mungkin gue juga terperngaruh dengan virus 'tanggal unik' itu atau mungkin ada sebab yang lain. gue gak tau. yahhh, semoga gue gak masuk dalam kategori anak-anak alay yang -sesuatu banget- pas tanggal unik dateng. semogaaa....



@farihikmaliyani
twitter.com/farihikmaliyani 

16 Mei 2011

0

Welcome to Blog!!! :D

Hallo!!
Farih 'bebe gila' Ikmalyani ngeblog again! (prokk...prokkk...)

Sebenernya udah dari dulu gue tau yang namanya blog dan dari dulu juga gue udah punya blog. Mulanya cuma buat tugas sekolah sampai blog yang isinya nggak penting, yaa kayak gini ini.
Tapi, semua blog-blog gaje itu sudah hilang, musnah, entah kemana (kesedot mobil tinja kalo nggak ya black hole).

Well, setelah baca novel berbagai jenis & blognya Raditya Dika, mata hati gue jadi tergugah buat ngegila di muka umum dengan cara ngeblog lagi, nulis lagi. Moga blog yang satu ini nggak tumbang di tengah jalan seperti blog-blog gue sebelumnya.

Blog ini bakal gue isi tentang kegilaan gue sehari-hari dan tentang artikel-artikel gila gue.

Today I write again.
see youuuuuuuuu..... ... .

Teman