Tampilkan postingan dengan label Kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopi. Tampilkan semua postingan

27 September 2022

0

[Review Film] Miracle in Cell No. 7 - Nontonnya di Bioskop, Pikirannya di Rumah

Ada satu pertanyaan yang memiliki jawaban berbeda untuk setiap orang; siapa bapak terbaik di dunia?

Jawaban gue jelas bapak gue. Jawaban kalian, tetangga kalian, pasti beda.

Saat akan menonton film ini, gue sudah mewanti-wanti diri bahwa akan menangis dan harus siap dengan kacamata berembun. Dari sinopsis dan reviewnya aja, sudah jelas bahwa film garapan Hanung Bramantyo yang merupakan hasil remake film Korea ini akan memaksa emosi penonton pecah keluar dengan mengangkat isu hubungan anak dengan ayahnya.

Miracle in Cell No. 7 menceritakan kisah hubungan romantis ayah Dodo dan anak perempuannya, Kartika, yang diperankan oleh Vino G Bastian dan Graciella Abigail/Mawar De Jongh. Dodo merupakan seorang penjual balon baik hati dan memiliki keterbatasan mental. Ia seorang diri merawat putri cantiknya sejak ditinggal isterinya meninggal. Suatu hari, Dodo mendapat musibah berupa fitnah yang mengharuskannya masuk penjara dengan hukuman mati. Namun dengan segala upaya, Dodo hanya ingin selalu bersama Kartika, anaknya.

Dodo hanya ingin selalu bersama Kartika, anaknya. Kurang relate apa sama ayah-ayah kita di kampung sana hey?

Saat menonton film Miracle in Cell No. 7, gue malah berasa nonton film indie. Warna dan vibesnya yang disuguhkan selama 2,5 jam kental banget nuansa festival filmnya. Sound-sound yang dipilih di film ini juga jos banget menurut gue. Hanung berhasil narik keluar air mata gue dengan syair Al'Itiraf di dalam film. Gemetar dan rasanya pengen mudik, peluk nenek di kampung.

Di luar teknis film yang menurut gue ok banget, ada hal yang ramai dikritik netizen Indonesia, yaitu soal proses hukum yang dijalankan oleh ayah Dodo untuk memperjuangkan keadilan. Kata orang prosesnya nggak tepat dan nggak sesuai sama aturan di lapangan. Menurut gue, itu nggak masalah.

Ya, namanya juga film. Ada beberapa hal yang nggak perlu sesuai dengan dunia nyata.

Ayah Dodo dibantu oleh beberapa napi dalam sel dan kepala sipir (Denny Sumargo) berusaha untuk membuatnya bebas dan membuktikan kalau dia nggak bersalah. Alih-alih memilih hal itu, Dodo malah memilih tetap mendapat hukuman dan memastikan bahwa Kartika selamat. Di kacamata Kartika, ayahnya jahat karena nggak pengen ketemu dia lagi.

Persis apa yang dilakukan ayah kita, kan?

Ayah mati-matian melakukan apa pun untuk membuat anaknya aman dan bahagia. Meskipun kadang, dari point of view kita, yang ayah lakukan menyebalkan.

Di tengah-tengah film, gue jadi inget banyak hal yang bapak gue lakukan untuk kebahagiaan gue sejak kecil sampai sekarang. Air mata gue netes beberapa kali bukan karena filmnya. Melainkan karena pikiran gue di rumah, di momen-momen dimana gue mendapati bapak melakukan hal-hal untuk membahagiakan gue, tapi gue nggak menghargai hal itu karena gue nggak melihatnya langsung.

Gue sadar, terlalu banyak momen dimana gue melewatkan ucapan "terima kasih" atas usaha yang bapak lakukan.

Gue membayangkan andaikan hidup gue adalah sebuah film bioskop dan gue adalah penontonnya, gue pasti akan melihat banyak hal baik yang bapak lakukan, seperti apa yang dilakukan ayah Dodo ke Kartika tanpa dilihat oleh Kartikanya sendiri.

Hal-hal kecil yang bapak lakukan seperti memotong rambut gue dengan model-model lucu (paling favorit memotong poni gue selurus penggaris besi), menjahitkan gue pakaian dengan mesin jahit andalannya, membelikan alat musik tiup pianika merek Yamaha secara mendadak untuk kelas seni musik saat gue SD, tiba-tiba muncul di kepala saat gue menonton film ini.

Lagi-lagi gue gagal menahan air mata untuk nggak jatuh.

Vino G Bastian berhasil memerankan sosok ayah yang mencintai anaknya meskipun dengan segala kekurangan yang ia miliki. Sosok ayah Dodo juga berhasil membawa gue dan penonton lainnya melempar jauh pikiran masing-masing ke rumah dan membayangkan jika yang ada di layar bioskop itu adalah ayah kita yang sudah melakukan apa pun untuk anak-anaknya.

Film ini cocok ditonton bareng keluarga karena akan membuat kita bermuhasabah bersama. Film ini kurang etis ditonton bersama gebetan karena keluar dari bioskop, muka kalian pasti akan sedikit berantakan karena mata sembab.

Buat yang belum nonton, gih tonton! Ajak ayah kalian, pegang tangan ayah kalian saat nonton film ini. At least, dia tau kalau anaknya sayang sama dia.

-

Akhirnya gue nulis lagi setelah sekian lama. Thank you yang udah baca sampai selesai. Komen yuk, gimana pendapat kalian tentang film Miracle in Cell No. 7 ini atau cerita tentang pengalaman bersama ayah juga boleh!

Follow instagram gue di @farihikmaliyani dan mampir ke YouTube gue yaa!

17 Juli 2020

9

Sunset dan Gorengan

Hari itu Bapak pulang dari pasar lebih awal dari biasanya. Azan ashar selesai, Bapak sudah di rumah.

"Bapak mau ajak kamu lihat matahari terbenam di atas bukit." Ucap Bapak ketika aku menanyakan soal kepulangannya ini. "Ayo! Mumpung lagi cantik. Mumpung ada waktu." Begitu bersemangatnya Bapak, hingga ia lupa berganti pakaian.

Melihat matahari terbenam di atas bukit di pinggir pantai adalah hal paling menyenangkan dan terakhir aku melakukannya Agustus lalu.

Aku bersiap. Topi rimba motif tentara ku pakai dan tentu talinya ku kencangkan. Bapak sudah di depan rumah, duduk tersenyum di atas sepeda tuanya, siap mengayuh. Aku pun buru-buru duduk di belakang Bapak. "Let's go Pak!"

"Kenapa pakai topi itu? Kan banyak topi yang lain?" Bapak bertanya di perjalanan.

"Topi ini banyak kenangan bahagianya Pak. Aku suka."

Sepeda kami berdenyit melewati jalan aspal murahan dan berbatu. Sawah dan kebun tebu bergantian menghibur kami selama perjalanan, sedikit meringankan perih di pantat gara-gara jalanan kurang ajar.

Setelah melewati belokan ke kanan terakhir, bukit yang kami tuju terlihat. Aku gagal menyembunyikan senyum bahagia yang terlalu lebar ini.

Jalanan mulai menanjak. Artinya, tempat cantik itu kian dekat. Bapak tetap mengayuh, walaupun lebih pelan dari sebelumnya. Pelan-pelan, terlihat beberapa orang berjalan menuju bukit yang sedang aku dan Bapak tuju.

Bapak memarkir sepedanya di samping warung yang hanya satu-satunya di bukit itu. Warung itu menjual kopi dan segala rupa gorengan hangat. Pemiliknya juga menyukai senja, seperti kami. Mungkin itu alasannya berjualan disini.

"Kamu kesana dulu ya. Bapak mau beli kopi sambil nunggu gorengan." Bapak menunjuk sudut di atas bukit yang menurutnya adalah lokasi paling pas untuk memandangi matahari terbenam.

Dengan perasaan bahagia luar biasa, aku duduk di tempat yang Bapak tunjuk tadi, sebuah batu yang seperti sudah ditata untuk diduduki manusia. Di sekitarku, banyak orang yang menunggu si cantik senja menampakkan dirinya. Mereka ada yang sendirian, berdua bersama kopi, dan berkelompok duduk mengelilingi sepiring gorengan.

sumber: jogjakartour.com/
Aku duduk termenung sendirian di antara riuhnya orang-orang yang bercengkrama dengan orang-orang terdekatnya. Senja sedikit mengintip, cahayanya terlihat tak sabar ingin keluar.

"Nih, cireng buat temen ngelamun, biar makin asik ngelamunnya." Bapak tiba-tiba muncul di sampingku, dengan membawa sepiring penuh gorengan berbagai rupa di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya terlihat sibuk dengan dua cangkir kecil kopi hitam yang terlihat sedikit tumpah.

"Nggak sabar Pak, kayaknya senja kali ini bakal cantik banget." kataku setelah meletakkan dua cangkir kopi di atas batu yang terlihat seperti meja di depan kami.

Bapak duduk di batu yang kami jadikan kursi di sampingku lalu menyeruput kopi di cangkirnya sedikit. "Kenapa kamu suka sekali dengan senja?".

"Ya, karena cantik, Pak." jawabku. "Indah sekali dipandang mata telanjang. Lagian, memang ada orang yang nggak suka senja, ya?"

"Bapak suka. Tapi nggak segila kamu."

"Kenapa?"

"Senja itu jahat Dik." Bapak mencomot singkong goreng dari piring. "Dia cantik tapi egois. Suka-suka sendiri mau datang kapan. Kadang datang tapi dengan mood jelek. Kadang malah nggak datang sama sekali, padahal sudah ditunggu lama."

Dahiku mengernyit.

"Jangan terlalu gila menyukai sesuatu atau kamu akan sering kecewa." Bapak melanjutkan. "Apa yang kita kejar, belum tentu menghargai kita."

"Iya Pak."

Kemudian suasana bapak-anak ini menjadi khidmat. Hanya terdengar mulut yang sama-sama mengunyah gorengan pilihan yang diselingi bunyi "sluurp" dari bibir cangkir kopi.

Sore itu senja sedang baik padaku dan Bapak. Dia memperlihatkan cantiknya. Setidaknya menghargai pantat kami yang ternaniaya jalanan kurang ajar saat menuju ke bukit ini.

Terimakasih ya.

---

Anjayy up juga nih tulisan setelah hampir setahun mendekam di 'draf'. Sore ini akhirnya selesai dan posted.

Btw, sunset-nya Jogja kenapa sering memikat ya?

4 Agustus 2018

26

Lo Ambisius Banget Sih Jadi Orang? Nggak Bagus Lho

Gue merasa mati. Bukan nggak napas lagi, bukan. Mati yang gue maksud adalah mati dalam berambisi.

Inget banget dulu tahun 2015, salah seorang teman gue bilang: "Lo ambisius banget sih jadi orang? Nggak bagus lho."

Bodohnya gue menelan ucapan itu dan akhirnya mengurangi kadar ambisius yang gue miliki. Dulu gue sangat aktif di kegiatan basket, bikin film pendek, teater, bisnis online shop tanpa kenal waktu, dan lain-lain. Akhirnya semua ikut berkurang intensitasnya karena gue nggak mau dikatain terlalu berambisi.

Sekarang baru nyesel. Hidup tanpa ambisi, rasanya seperti nggak hidup. Mati.

Inget banget dulu ketika SMA dan awal masuk kuliah, gue rajin bikin video atau pun berpergian mencari spot foto yang bagus untuk mengasah skill fotografi gue.

Mereka ini teman-teman yang dulu sama ambisinya bikin video. Jos kan?
Ketika ada waktu luang, gue mengajak teman untuk membuat video musik. Ada lagu asik, terus gue bikin deh videonya. Music video cover namanya.

Bahkan kalau lagi sendirian di rumah, gue sering bikin video stop motion. Beli kertas warna warni, gambar, gunting sana gunting sini, fotoin pakai tripod, jadi deh stop motion video.

Ada yang aneh nggak kira-kira?
Waktu itu yang ada di kepala gue cuma satu: mau bikin video, biar banyak yang suka. Karena ketika gue upload video dan banyak yang suka atau berkomentar positif, rasanya tuh segerrr banget. Macem es kelapa muda dikasih sirup marjan! Enak.

Itu yang bikin gue berambisi untuk terus bikin sesuatu atau nama lainnya konten.

Sekarang semua itu sudah nggak gue rasain lagi. Bahkan ambisi untuk segera lulus pun, nggak ada.

Apa gara-gara gue semakin tua juga ya? Hahaha.

Sekarang kalau gue scroll-scroll instagram, youtube, nontonin video jadul punya sendiri atau liat orang yang masih sangat berambisi bikin konten kreatif setiap hari, rasanya kangen...kangen pengen punya perasaan seperti itu lagi.

Kangen punya ambisi.

Hahaha.

Cuma bisa reuni. Reuni masa lalu dengan karya-karya yang walaupun jelek dan sekarang terlihat ketinggalan jaman dari segi kualitas, bisa bikin kenangan masa lalu muncul lagi dipikiran.

HIKS.

Dimana sih ambisi gue?

Ini beberapa video lama yang kemarin-kemarin gue tontonin lagi. Yang bikin gue akhirnya nulis tulisan ini juga.

Ini video music cover yang bikinnya fun banget. Ramai. Teman-teman gue sangat antusias ketika gue ajakin "eh ini lagu bagus nih. Bikin video yuk besok sore!" Atmosfer kebahagiaannya masih nempel erat di otak.

Ini behind the scenenya. Monmaap kalo mirip tukang pas foto.
Serius gue kangen.


Kalau ini video buat lomba sih dan akhirnya menang, alhamdulillah.

Waktu itu teman SMA, Anton, ngabarin kalau Acer lagi ngadain lomba video stop motion. Dia ngabarin gue karena tau gue hobi bikin stop motion. Akhirnya bikin dibantu dua teman dan voila! Jadi deh video ini.

Video ini gue bikin siang-siang di lapangan tenis. Gue sama sekali nggak merasa kepanasan. Yang ada cuma fun fun and fun.


Hahaha. Ini video yang memorable sih. Disaat siswa kelas 3 lain corat coret, gue masih rapi berpakaian OSIS putih abu-abu dengan kamera canon dikalungkan di leher sibuk merekam momen. Selama gue edit video ini, gue senyum-senyum sendiri inget betapa bahagianya hari kelulusan itu dan gue berpikir momen ini kudu gue dokumentasiin dengan baik nih. Dan ketika video ini jadi, teman-teman SMA gue memuji hasil videonya. Perasaan itu nggak bakal gue lupain.


Video stop motion yang gue bikin di kamar sendirian. Video ini gue bikin cuma gara-gara gue suka lagunya Afgan tanpa memperhitungkan timing yang pas buat pergerakan gambarnya. Jadilah...berantakan.

Itu sih beberapa video masa lalu ketika gue masih berambisi untuk selalu bikin dan bikin. Banyak video lain yang gue buat, ada di youtube gue kalau kalian mau nonton.

Gue juga dulu sering ke lapangan kompleks malem-malem bawa senter dan kamera buat bikin bulb. Teman setia gue bikin bulb si Izzun Abdussalam. Kalau lagi takut dikunciin Bapak karena pulang malem, gue bikin bulb di kamar biasanya.

Bulb yang dibikin di kamar
Gue bener-bener kangen masa-masa berambisi itu.

Sekarang gue benci kalimat Lo ambisius banget sih jadi orang? Nggak bagus lho.

Kalimat yang cuma bisa matiin semangat-semangat orang untuk 'hidup'.

Dimana ya, gue bisa temuin ambisi gue itu lagi? Ada yang tau?

"Ahh, skripsian dulu aja lah Rih"

4 Maret 2018

12

Sunset, Beach, and Chocolate Ice Cream

[ hi. lets see sunset together tomorrow at 5.30 p.m ]
- you texted me -


Yesterday, you texted me and asked me to see sunset together. Now, I am sitting on the bench near the beach. It's 5.00 p.m now. I am too early to be here. Too excited to meet you.

Then I buy 2 ice creams for us, chocolate and strawberry. Chocolate is for you and strawberry is for me. Chocolate is your favourite, right?

Ah, I think you will be hungry. I buy some snack for you too.

5.20 p.m.
I sit again. Wait again.

5.25 p.m.
I don't know why, I feel more excited to meet you. Fuck.

5.30 p.m.
I can see the yellow dim sunlight comes slowly. I smile.

Hey, you are late. Hahaha, always late.

5.45 p.m.
The ice creams melted.

5.50 p.m.
Sunset comes. So beautiful like always. Warm and so yellow. Always be my favourite thing so far.

Where are you?

6.00 p.m.
My hands gonna be wet because of ice creams.

6.15 p.m.
You don't come.

6.30 p.m.
The sunset goes away. Don't worry, I took the photos for you.

7.00 p.m.
You are not here.

7.30 p.m.
You are not here. You don't come.

8.00 p.m.
I know, I should back home.
I leave the melted ice creams and snack on the bench then walk away.

I know you will not come.

Where are you? Do you forget your promise to meet me at the beach to see sunset?

9.01 p.m.

[ Sorry, I forget to tell you. I'm going out with other. See ya ]
- you text me -

---

Hahaha, tulisan ini terinspirasi dari film Segala, film garapan gue yang entah jadinya kapan. Perasaan kayak gini pasti banyak yang ngerasain, kan? Gimana rasanya?

Feeling forgotten and unwanted is that bad, right?

---
Sorry for the bad grammar.

17 Desember 2017

12

Rindu Diri yang Dulu

Setuju atau tidak, hujan sering membuyarkan lamunan, menerbangkan percakapan, dan kadang menghadirkan kenangan. Setidaknya, itu yang gue rasakan kemarin, saat hujan deras di kantin kampus.

Pemancingnya adalah Anissa Dewi atau biasa gue panggil Depe, teman kampus yang sering memancing percakapan berat.

Obrolan tentang agama dari berapa jumlah sebenarnya isteri Nabi hingga "skripsimu sampai mana?", menghiasi sela-sela suara hujan jatuh di atas atap seng kantin siang itu. Yang paling kurang ajar adalah ketika muncul ucapan, "jujur ya, kamu itu berubah lho, Rih."

Pinterest
Romantis. Seketika itu gue merasa sebagai Ardina Rasti di FTV Pacarku Tukang Parkir Fotokopian.

Depe bilang gitu bukan tanpa alasan. Dia kenal gue dari pertama kali ospek. Dari awal, dia kenal gue sebagai orang yang independen. Maksudnya, gue adalah orang yang bisa kemana-mana sendiri, bisa berteman dengan siapa pun tanpa mengelompok, dan tidak membatasi diri menghabiskan waktu bersama siapa pun. Dan menurut dia, gue udah nggak kayak gitu lagi sekarang.

Gue juga merasakan hal itu. Gue sudah berubah, menjadi Power Ranger Pink.

Ehe.
Nggak lucu.
Maap.

Menurut gue ini wajar. Setiap orang berubah. Yang mengubahnya adalah lingkungan dan pengalaman.

Pinterest
Setiap detik kita dibentuk, tanpa kita sadari. Ke arah mana kita dibentuk, kita nggak sadar. Kita terus berjalan dengan arah yang diarahan keadaan. Kita baru sadar saat kita berhenti dan menoleh ke belakang. Menoleh ke arah 'kita yang dulu.'

Dan sekarang, gue sedang berhenti untuk menoleh ke belakang. Ada gue yang dulu, berdiri disana, jauh di belakang dengan arah yang tidak lagi sama. Melambaikan tangan dan berkata, "Apa kabar? Masih ingat saya?".

Kemudian dengan samar gue melihat teman-teman lama yang lain juga disana. Mereka mengajak bermain perosotan di TK kampung sebelah, mencari keong di sawah, menonton DVD bajakan bersama, merayakan ulang tahun bersama. Tapi sayang, gue sudah tidak dapat melihat dengan jelas, siapa teman-teman lama itu, karena terlalu jauh.

Hahaha. Lucu. Sudah sejauh ini gue berubah.

Gue ngerti, hidup ini nggak mengizinkan untuk gue putar balik dan menemui gue yang dulu itu. Gue harus tetap jalan ke depan dengan keadaan-keadaan yang sekarang. Ya, setidaknya, ini adalah pengalaman gue yang bisa mengubah arah hidup dan bagaimana gue dibentuk.

Bangsat, jadi ngelantur. Rindu memang sering kurang ajar, sih. Termasuk rindu diri yang dulu.

"Iya Dep. Gue juga tau. Sekarang gue lagi nyoba buat belajar dari pengalaman dan berusaha seperti gue yang dulu itu." Gue jawab sekenanya kalimat Depe. Meskipun gue tau itu nggak bisa.

9 Agustus 2017

19

Alasan Gue Baca Blog Lo

"Kalau nggak pernah baca, nggak bakal bisa nulis."

Kalimat itu selalu terngiang di kepala gue ketika gue lama nggak baca buku atau at least artikel di internet. Gue suka ngeblog tapi kadang nggak suka baca. Dan itu jadi masalah. Kalau gue nggak baca, gue nggak bisa nulis.

Baca artikel blog lebih gue pilih daripada baca buku ketika bener-bener males baca atau nggak ada waktu luang banyak buat baca. Disamping lebih fleksibel bisa baca dimana-mana asal bawa hp doang, baca blog orang kadang lebih menarik karena tulisannya lebih pendek dan punya cara penulisan yang beda-beda di setiap blog milik orang.


Nah, tapi nggak semua blog gue kunjungin dan gue baca. Gue punya lima alasan yang biasanya bikin gue baca blog tersebut.

Pertama, gue bakal baca blog seseorang setelah dia komen di blog gue.
Nggak munafik, gue biasanya buka blog orang setelah namanya muncul di kolom komentar blog gue. Itu cara mudah buat blog-walking dan sebagai tanda terimakasih kalau dia sudah meluangkan waktunya untuk mengunjungi dan membaca blog gue, so gue kunjungi balik blognya. Lagian, kalau sesama blogger harus saling mendukung kan?

Kedua, gue baca blog orang karena tulisannya bagus. Cara dia menyampaikan cerita bagus.
Ini biasanya gue lakuin ketika punya waktu luang yang relatif lebih banyak. Sudah ada beberapa blog orang yang gue favoritkan. Jadi kalau gue online, gue langsung ke blog tersebut dengan menuliskan alamat blognya di google chrome. hehe.

Ketiga, gue baca blog orang karena tulisannya pendek.
Jujur aja sih. Ketika gue mengunjungi blog seseorang, kemudian gue scroll ke bawah tulisannya nauzubillah panjang bener kayak insta-story-nya Awkarin, gue langsung 'close' page blog tersebut. Gue punya pemikiran negatif kalau tulisan-tulisan blog yang panjang, biasanya kebanyakan basa-basi dan bahasanya nggak efektif. Biasanya gue bosen baca tulisan yang kepanjangan.

Waktu buat baca satu tulisan panjang itu sama aja dengan gue baca tiga tulisan pendek dengan berbeda cerita. Jadi gue lebih memilih tulisan yang pendek buat dibaca. Tapi nggak semua tulisan yang panjang itu ngebosenin. 30% tulisan blog yang panjang isinya masih bagus dan nggak ngebosenin, kok.

Keempat, gue baca blog orang karena template-nya 'easy reading'.
Beberapa blogger menggunakan asas "bodo amat yang penting gue suka" saat menentukan template untuk blognya. Hal ini nggak masalah kalau template yang dia pilih aman buat kesehatan mata kita. Tapi kadang, blogger memilih template yang dia nggak tau kalau template tersebut dapat menyebabkan kerusakan mata permanen si pembaca blognya.

Kelima, gue baca blog orang karena gue mengerti topik yang dibahas.
Gue nggak mungkin baca blog yang ngebahas soal bagaimana alat reproduksi babi hutan di dataran tinggi.

Itu sih lima alasan gue biasanya baca atau mengunjungi suatu blog. Lima alasan itu juga sebisa mungkin gue terapin ke dalam blog gue sendiri, biar blog gue dibaca sama orang. Ya meskipun belum sempurna gue terapin.

Kalau kalian, gimana? Apa alasan kalian membaca atau mengunjungi suatu blog? Share ya alasan singkatnya di kolom komentar. :)

2 Oktober 2016

12

Patah Hati, Sesimpel Naik Motor Beda Arah

Gue nggak mau bahas ini sebenernya. Tapi, nggak sengaja dan entah kenapa gue baca tulisan kampretnya Kresnoadi dan Robby yang sama-sama bahas patah hati. Padahal gue jarang blog walking dan sekalinya blogwalking malah baca tulisan begituan. Rasanya tuh kayak Tuhan Yang Maha Esa mentitahkan gue buat bahas ini, dan menggalaui ini lagi.

Okelah. Atas perintahMu ya Tuhan, hamba bahas ini.

Patah hati.

Bener kata Kresnoadi, kenapa namanya patah hati? Kenapa bukan hati menjret? Itu kan hati, organ lembek-lembek letoy, bukan kayu atau penggaris plastik yang bisa patah.

Apa pun namanya, patah hati adalah hal sulit yang semua orang pasti pernah mengalami, termasuk gue.

Patah hati nggak nunggu dewasa buat ngedatengin kita. Patah hati bahkan menyerang anak kecil juga. Sesimpel patah hati ketika di pasar malem, seorang anak pengen banget beli es krim tapi sang mama nggak beliin. Sesimpel ketika ada abang cilok lewat depan rumah, kita udah teriak "bang beli bang!!" dari dalem rumah, lari keluar rumah ngejar si abang cilok, tapi ketika sampe di luar, si abang ciloknya nggak denger dan udah jauh. Sesimpel itu gengs.

Bahkan di tulisannya, Kresnoadi patah hati cuma gara-gara gambar baliho model Erha ganti orang. Kan...konyol.

Termasuk patah hati mengenai hubungan kasih sayang antara kita, dengan si dia. Itu jelas, sakit.

Patah hati nggak mungkin terjadi di suatu hubungan kalo kedua pemilik hubungan itu tau, cara naik motor boncengan yang baik dan benar itu kayak apa.

Hahaha.


Waktu itu, beberapa minggu setelah patah hati, gue berdiri meneduh di depan toko pinggir jalan karena hujan. Banyak pasangan berseliweran di depan gue. Ada yang tetap melaju dengan atau pun tanpa jas hujan atau pun menuntun motor mereka bersama atau pun meneduh bersama atau pun si cewek lebih milih naik taksi ketimbang kehujanan bareng cowoknya. Semua itu lewat gitu aja di depan gue dan sesaat gue sadar sesuatu. Hubungan cinta mereka juga sama seperti kondisi mereka saat berboncengan di motor.

Sama kayak naik motor boncengan. Pasti ada supir dan ada penumpangnya. Cewek cowok, sama-sama boleh nyetir kan? Kalo salah satu capek, bisa kok gantian. Nggak harus bikin capek satu pihak aja buat ngebawa hubungan itu. Kalo si cowok capek, yang cewek bisa nyetirin, bisa ngarahin mau kemana hubungan mereka.

Naik motor, nggak selamanya mulus. Motor nggak bisa lewat jalan tol, cuy. Pasti ada waktunya stuck, berhenti di lampu merah, kemudian jalan lagi pelan-pelan.

Atau, tiba-tiba ada pedagang atau orang nyerang sembarangan di depan kita. Kita harus berehenti sebentar, biarin orangnya lewat, dan lanjutin hubungan lagi.

Jalanan juga nggak semuanya mulus semulus paha artis Korea. Pasti ada bolongnya, ada polisi tidurnya lah minimal. Sama kayak hubungan. Nggak semuanya mulus. Kalo ada lubang, hindarin lubangnya atau lewatin pelan-pelan. Si supir harus lincah dan si pembonceng harus pegangan yang erat. Biar nggak jatoh dan hubungan tetep bisa berjalan lagi, berdua.

Naik motor lewat jalan yang banyak lubangnya emang nggak enak. Sama persis kayak hubungan.

Hujan ibarat salah satu cobaan dalam hubungan. Lo bisa neduh, pake jas hujan, atau tetep melaju dengan basah kuyup. Kalo lo sabar, lo bisa neduh bareng pacar lo dulu, baru lanjutin hubungan.

Di jalan, mungkin kita disalip pasangan lain buat mencapai tujuan, nikah misalnya. Nggak masalah. Pelan yang penting pasti.

Di jalan, mungkin bakal tragedi ban bocor atau bensin habis. Disini bakal ketahuan, siapa yang sabar dan siapa yang enggak sabar. Kalo pasangan lo sabar, dia pasti dengan setia mau nungguin lo atau bahkan bantuin cari solusi dari masalah itu. Kalo dia nggak setia, dia bakal pergi ninggalin lo yang lagi benerin ban bocor.

Di jalan, mungkin pasangan kita tertarik ngebonceng motor lain yang lebih nyaman dari kita. Nggak papa. Berhenti. Biarin dia pindah motor sama orang lain. Kita cukup tau gimana setiaannya dia sama kita.

Dan yang paling penting dari naik motor boncengan adalah tujuannya. Kalo tujuannya nggak searah, nggak usah boncengan. Buang-buang waktu. Buang-buang bensin. Buang-buang duit. Kalo si supir maunya ke Semarang, penumpang maunya ke Medan, ya silakan cari tumpangan motor yang lain, yang searah. Sama kayak hubungan. Kalo lo pengennya ke pelaminan dan dia pengennya cuma main-main, ngapain masih ngejalanin hubungan? Nggak searah, nggak bakal bisa sampe ke tujuan. Bisa sih sampe tujuan. Lo nemenin dia ke Medan dulu, baru puter balik arah Semarang. Lo nemenin dia main-main dulu dengan resiko duit dan waktu habis, baru deh lo menuju pelaminan yang jadi tujuan utama lo.

Waktu itu gue berboncengan dengan orang yang salah. Gue mau ke Bali, dia maunya ke Malang. Kita udah jalan bareng dari arah Semarang ke barat tanpa masalah. Dan ketika sampe di persimpangan, baru kita sadari kalo tujuan kita nggak sama. Kita sama-sama nggak mau buang waktu dan pada akhirnya saling meninggalkan.

Patah hati sesimpel itu.

Random banget. Hahaha. Jangan nyesel, ya, bacanya.

----------

Btw, postingan ini udah bersarang di draf lebih dari 2 minggu yang lalu. Baru kelar dan tulisannya berantakan gini.

1 Juli 2016

4

Ngomongin Banyak Temen

Ramadan itu banyak-banyakin nyari pahala, bukan banyak-banyakin bikin draf blog, Rih.

*openingnya aja garing*

Fail.

Hallo? Gimana puasa hari ke 25-nya? Masih aman?

Draf di blog gue udah banyak (lagi). Tapi masih lebih banyak draf di kepala gue, sih. Sama seperti kemarin-kemarin, banyak yang minta ditulis, tapi jari-jemari dan waktu belum jodoh buat nulis. Alasan klasik.

Nggak kerasa ini adalah penghujung bulan Juni, 26 menit sebelum bulan Juni habis, dan parahnya gue belum ngeposting satu pun tulisan di blog ini. Parah.

Banyak sebenernya yang pengen gue tulis. Saking banyaknya gue nggak yakin, bisa gue realisasikan semua atau enggak. But...here we go. Gue pengen ngebahas soal ini, soal yang akhir-akhir ini ganggu pikiran gue banget. Temen.


Ada yang bilang banyak temen banyak rezaki. Ada juga yang bilang, musuh satu terlalu banyak sedangkan teman seribu aja masih kurang. Dan many more omongan-omongan tentang "intinya kita harus punya temen banyak."

Tapi menurut gue, punya temen banyak juga ada ruginya, ada nggak enaknya.

Punya temen banyak kadang bikin kita susah buat adil. Misalnya, temen SMA ngajak buka puasa bersama (bukber) tanggal 20, temen SMP juga sama ngajak bukber di tanggal 20. Ketika gue milih bukber bareng temen SMP, temen SMA bakal bilang "ohh jadi gitu, lebih milih temen SMP daripada temen SMA. Pilih-pilih nih sekarang.". Walaupun mungkin nada mereka itu bercanda, tapi masuk juga gitu ke otak gue. Iya juga ya, gue kenapa lebih milih ke temen SMP.

Kadang temen banyak juga berkoloni-koloni, sesuai jenis mereka masing-masing, kayak gue misalnya. Temen gue dari yang perokok (keep calm, I'm not a smoker) sampe anak pesantren ada. Ketika dalam waktu bersamaan mereka ngajak main, nggak mungkin dong gue ajak temen pesantren gue nongkrong bareng temen-temen gue yang ngerokok? Mungkin bisa, tapi temen gue? Nggak bakal nyaman, kayak make pembalut yang nggak cocok.

Gue pernah nongkrong bareng temen-temen gue yang doyan di kafe sampe pagi. Setelah itu gue ketemuan sama temen yang anak organisasi banget, S3 organisasi-lah. Dan setelah itu, temen gue yang hobi ngafe bilang, "temen lu alim banget, Rih?".

Hahaha.

Pernah gue cerita ke Ratna, salah satu temen gue di kampus. Dia ini anak organisasi, mahasiswa berprestasi. Waktu itu gue ngobrol berdua sama dia tentang banyak hal di dalam hidup. Dari agama sampe narkoba. Ngobrol macem-macem sampe selesai dia nanya, "lo dapet info begituan dari mana?" "Dari temen gue yang tatoan itu." Dia nggak habis pikir. Orang tatoan (bayangin anak-anak jalanan) bisa punya pemikiran yang wah.

Yang paling susah ketika kita punya temen banyak adalah saat bercanda. Hahaha ini adalah problem gue sekarang.

Bercanda sama si Arab beda caranya sama bercanda bareng si China.
Bercanda sama si ambisius nilai kuliah beda caranya sama bercanda bareng si tukang bolos kuliah.
Bercanda sama di Kpopers beda caranta sama bercanda bareng si pecinta film Thailand.
Dan lain sebagainya.

Hahaha.

Saat ini gue lagi kuliah. Otomatis punya temen di dunia perkuliahan. Gue bercanda sama mereka, beda banget sama gue bercanda bareng temen SMA. Ini bukan keseluruhan, tapi sebagian.

Gue bercanda sama temen SMA, ngomong anjing, fuck, bangsat, nggak masalah. Nggak ada yang tersakiti. Bahkan kita ketawa bareng ketika gue dikatain atau ngatain "brengsek". Tapi beda rasanya ketika gue bercanda yang sedikit 'kasar' itu ke temen kuliah. Gue malah dibilang udah melakukan "kejahatan verbal", gue kebanyakan bercanda dibilang kelainan.

Omaigat.
Suasana seketika berubah pilu. Mencekam.

Ada lagi kemaren. Gue ditag foto di instagram sama temen gue ini, namanya Queen, dan dia ngehina gue disana, kami pun hina-hinaan (ada kata yang lebih baik?). Iseng, gue personal chat. Dia malah minta maaf dan ngehapus komentarnya di instagram. What the... Kan niat gue bercandaaaaaa gitu. Kayak gini kan malah akward. Gue bingung harus ngapain.

Nama senagaja nggak disensor biar orangnya tau

Di luar itu, banyak lagi gaya bercanda antar temen yang harus gue sesuain ketika bareng mereka. Yah, mungkin dimana tanah dipijak, disana langit dijunjung pas buat keadaan sekarang. Gue harus nyesuaiin, bareng siapa, bercandanya kayak apa. Oh well, mungkin ini juga alarm buat gue biar rata main sama temen-temennya. Jangan itu-itu mulu. Ketika main sama itu-itu mulu, pas main sama ini-itu, jadi susah membiasakannya.

Apa sih?

Ya, semoga pointnya bisa sampai di kalian yang (kalo ada) baca.

Tapi, gue amat sangat bersyukur masih punya banyak temen. Gue nggak bisa ngebayangin sesepi apa hidup gue ini yang nggak-asik-suram-jomblo-nggak-percaya-cinta tanpa mereka. You guys are my stars. I don't see everytime, but I know you're always there.

---

Awal Mei lalu gue berulang tahun dan terimakasih buat temen-temen gue yang ngucapin. Gue sengaja nggak berisik soal ulang tahun ke mereka karena gue pengen tau, siapa sih yang beneran care dan inget tanggal lahir gue. Hahaha, alay ya. Tapi kemaren emang gue lagi krisis kepercayaan sama temen-temen di sekitar jadi gue melakukan hal tersebut.

Banyak masalah yang bikin gue selalu negative thinking dan underestimate sama orang sekarang. Padahal, dulu Farih nggak gini.

Gue berharap bisa cerita tentang 'masalah-masalah' itu segara lewat tulisan di blog ini.

Btw, kalo bisa digambarin pake musik, perasaan gue lagi kayak gini sekarang:


Terakhir: maaf postingan kali ini tanpa gue edit. Ya mungkin besok atau lusa gue edit tapi tanpa edit malem ini gue posting. Semoga mata kalian, yang baca, sehat selalu!

13 Desember 2015

31

Tulisan Random Antara Gue dan Stasiun

Siapa yang tau kapan orang datang, singgah, dan pergi dari hidup kita? Kadang gue pengen ke rumah Tuhan, pinjem jadwal orang yang dateng ke kehidupan gue dan gue liat durasi mereka singgah di hidup gue ini berapa lama.


Gue ada di stasiun saat itu. Terik siang hari Minggu bikin penglihatan makin samar meskipun gue udah pake kaca mata.

Ramai, itu yang gue liat. Gerombolan orang berkumpul di pintu masuk stasiun. Ada yang sibuk memperhatikan jam tangan, beli tiket, dan buka tutup menu HP-nya secara nggak jelas biar keliatan sibuk. AGB gaul.

Silih berganti kereta datang dan pergi. Datang, berhenti sejenak di stasiun, kemudian jalan lagi ke tujuan selanjutnya.

Ada hal yang bikin gue mikir sejenak. Gue ngerasa ada hubungan antara gue, stasiun, kereta, dan orang-orang di kehidupan gue.

Gue ngerasa seperti stasiun dan orang-orang yang ada di hidup gue ini sebagai keretanya. Mereka datang, singgah, lalu pergi lagi. Silih berganti kereta datang dan pergi. Sama kayak orang yang ada di kehidupan gue. Datang, singgah, dan pergi bergantian tanpa bisa gue larang.

Meskipun sang stasiun menyukai satu kereta, kereta tersebut nggak bisa berada di satu stasiun itu selamanya.

Siapa yang ngatur jadwal kedatangan, singgah, dan kepergian orang-orang yang ada di kehidupan gue ini? Tuhan. Dan sayangnya, Tuhan nggak ngasih tau jadwalnya itu.

Andaikan gue tau sampai kapan orang yang gue sayang singgah di hidup gue. Andaikan gue tau dua tahun lagi hidup gue bakal kedatangan siapa. Andaikan gue tau orang-orang nyebelin di hidup gue ini perginya kapan. Hahaha.

Orang tua juga termasuk salah satu kereta. Kita nggak tau dua manusia tersayang itu pergi dari hidup kita kapan. Tapi pasti pergi. Atau kita yang pergi ninggalin mereka.

Ada kereta yang pergi untuk selamanya karena masa, ada yang pergi untuk singgah di stasiun lain. Intinya pergi dari kita.

Kadang hidup memang butuh kejutan.

Sama seperti stasiun yang cuma bisa diem menerima kedatangan atau kepergian kereta, kita juga sama. Gue dan kalian, cuma bisa pasrah ketika ada yang datang atau pergi dari hidup kita. Kita nggak bisa nolak, karena semua itu udah diatur Tuhan.

Yang bisa kita lakuin adalah memperlakukan orang yang sedang singgah di hidup kita sebaik mungkin. Kita harus pandai menggunakan waktu singgah mereka yang kita nggak tau durasinya seberapa lama ini. Mau memperlakukan mereka seperti apa, itu pilihan.

Kita nggak bisa iri ketika kereta yang kita suka berhenti di stasiun lain. Itu adalah bagian dari perjalan kereta yang sudah dijawalkan.

Tapi yakin. Kereta yang datang dan pergi udah dijadwalkan secara tepat dan memiliki tujuan yang jelas, pun sama seperti orang di hidup kita. Tuhan telah mengatur waktu datang dan pergi mereka sedemikian sempurna dan pasti memiliki tujuan.

Ya gitu. Orang datang, singgah, dan pergi dari hidup kita tanpa kita ketahui waktunya kapan.

Hemmm.
Random banget postingan gue kali ini. Kejadian di stasiun ini sebenernya udah beberapa minggu yang lalu. Tapi baru sempet gue selesaiin. Eh malah makin random hasilnya. Hahaha.

Btw akhir-akhir ini gue kehilangan mood dan gairah dalam menulis. Entah apa alasannya. Mungkin di hidup gue sedang ada kereta yang mulai beranjak pergi?

25 September 2015

29

Makin Tua, Hidup Makin Nggak Asik


Makin tua, hidup makin nggak asik. Itu adalah kalimat kampret paling bener dan paling gue benci, seumur hidup. Gue pengen mengelak, tapi kalimat itu nggak salah.

Dulu, pas masih kecil, Idul Adha adalah salah satu hal yang ditunggu-tunggu. Seneng banget rasanya bisa godain, nanyain kabar, say hi, dan ngasih makan kambing-sapi di depan rumah yang dicancang buat disembelih keesokan harinya. Bahkan kegiatan sesadis dan sesepele -menyembelih hewan kurban- aja rasanya asik dan nggak mau ketinggalan. Atau paling absurd lagi: bercandain temen pake jokes 'kayak kambing'.

Jokesnya gini : misalnya gue punya temen namanya Tejo.

Gue : (deketin kambing) Tejo kayak??
Kambing : Embek...
Sekomplek : Hahahahaha...

Krik krik...
Garing.
Tapi percayalah, guyonan itu lucu pada waktu dulu.

Beda banget sama sekarang. Tahun ini, tepatnya kemarin, saat Hari Raya Idul Adha gue cuma diem di kamar kos, sendirian. Cuma ditemenin tv yang nayangin film animasi Upin Ipin. Semakin miris ketika gue sadar akan satu hal : Upin Ipin hidupnya rame, asik. Cerah ceria setiap hari. Mereka masih kecil, mereka hidup bodo-amat yang penting seneng-seneng sama temen, yang mereka tau adalah main, main, dan seneng. Udah.

Gue bisa aja pulang kampung, ngerayain Idul Adha di rumah bareng keluarga. Tapi hari Jumat masih tetep ada kuliah, jadi nggak bisa pulang kampung dulu. Dan ada perkataan temen gue yang bikin gue sadar akan hal "Makin tua, hidup makin nggak asik".

Gue : Gue pengen pulang ah. Pengen liat kambing disembelih.
Temen : Yaelah alay banget ngeliat kambing disembelih sampe pulang kampung segala.
Gue : ...

Makin tua, hidup makin terbatas. Makin tua, makin banyak aturan. Makin tua, hal sepele yang nyenengin dikatain alay.

---

Gue sedang duduk di kereta api kelas ekonomi sore ini. Bau keringat penumpang di sebelah jadi parfum pengharum. Berisiknya obrolan penumpang sebelah jadi latar belakang musik mengiringi perginya matahari ke ufuk barat. Nggak banyak yang bisa dilakuin. Kegiatan yang paling lumayan hanya menjadi saksi matahari tenggelam dan menulis isi pikiran di blog ini. Suntuk.

Diantara berisiknya suara di dalam kereta, terdengar lagu anak-anak dinyanyikan. Suara khas anak-anak. Dua anak. Keras, percaya diri, lantang. Tidak peduli dengan yang lain. Setelah lagu Naik Kereta Api selesai, mereka tertawa lepas. Kemudian lanjut ke lagu-lagu yang lain tanpa ada jeda.

Seketika itu juga kalimat pertama dari tulisan ini menggema lagi.

Makin tua, hidup makin nggak asik.

Gue pengen kayak mereka. Bernyanyi sesuka hati, bahagia naik kereta, tertawa lepas melihat pantai utara pulau Jawa. Gue pengen kayak mereka.

Tapi coba kalo gue nyanyi-nyanyi sendiri kenceng dengan suara false di kereta kayak gini? Bukannya bahagia malah dikeroyok massa. Dibilang ganggu kenyamanan penumpang lain atau paling ringan; mendapat tatapan sinis penumpang lain.

Gue masih terus memandang matahari yang mulai tenggelam dari balik jendela kereta. Lagu anak-anak itu masih terus dinyanyikan. Sekarang malah semakin kencang. Seakan nggak peduli dengan wajah-wajah lelah orang dewasa di sekitarnya, wajah-wajah rindu masa bahagia waktu kecil, anak-anak itu terus bernyanyi.

Btw, Selamat Ngerayain Idul Adha, ya.

Picture : https://horrorpediadotcom.files.wordpress.com

Teman